
Fire dan Ice menatap bangunan menjulang tinggi di kejauhan. Istana Demon terlihat jelas dari tempat mereka berdiri saat ini. Sebuah tebing dengan dasar tidak berujung saking dalamnya. Lembah di depan mereka berwarna hitam. Menggambarkan kedalaman yang tidak mungkin diselami oleh siapapun.
Sementara di depan sana, sebuah bangunan kokoh dengan dominasi warna hitam. Terlihat begitu menyeramkan. Bagian depan istana Demon terbuat dari dinding batu alam yang membentuk benteng alami bagi istana Demon. Istana itu tersusun bertingkat dengan sebuah bangunan utama yang berdiri kokoh di puncak tertinggi istana itu. Istana Demon dilengkapi dengan satu gerbang utama yang tidak pernah terbuka sama sekali.
Kredit Pinterest.com
Tapi hal itu tidak menyurutkan tekad Fire untuk menerobos masuk istana itu. Pria itu datang dengan satu tujuan, menjemput Amor. Wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya.
"Kau siap?" tanya Ice. Pria itu terlihat tenang, tidak terlihat cemas sama sekali. Raut wajahnya datar.
"Tentu saja. Aku hanya mencemaskan satu hal. Dia tidak ingat padaku. Dan tidak mau ikut denganku," jawab Fire sendu.
"Haiii, kenapa kau jadi pesimis begini. Biasanya kau begitu percaya diri," seloroh Ice. Fire tidak membalas perkataan Ice. Mata birunya mulai memindai masuk ke istana Demon. Mencoba mencari keberadaan Amor.
Pria itu tersenyum melihat Amor yang tidur di kamar utama. "Dia tidur," gumam Fire.
"Itu bagus. Kita tidak perlu bertengkar dengannya," kekeh Ice. Setelahnya, dua pria itu menghilang. Melayang transparan, masuk ke istana Demon tanpa diketahui siapapun atau membunyikan alarm peringatan adanya penyusup di istana besar itu.
Keduanya langsung masuk ke kamar utama. Di mana sebuah kamar mewah menyambut penglihatan mata dua dewa itu. "Dia benar-benar tidak menempatkan penjaga atau apapun di sini. Dia benar-benar tidak takut dengan penyusup," ucap Ice. Lantas berjalan ke arah ranjang.
Fire ingin membawa Amor yang tengah terlelap. Tapi belum sempat pria itu menyentuh tubuh Amor, wanita itu terbangun lantas menyerang Fire. "Aaaargghhh" Fire meringis ketika serangan Amor melukai lengannya.
"Tidak ada penjaga, karena aku...mampu menjaga diriku," detik berikutnya Amor sudah melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Fire dan Ice. Dua pria itu jelas kelabakan, menghindari serangan Amor. Tanpa berani membalas.
"Booommmmmm,"
"Duaaaarr,"
__ADS_1
Serangan Amor berhasil menghancurkan dinding di belakang Fire dan Ice. Keduanya saling memandang, tidak percaya jika Amor mampu menyerang dengan kekuatan seperti itu.
"Apa aku bilang. Dia tidak ingat padaku. Pada kita," Fire berkata sendu. Detik berikutnya, dua pria itu melompat ke samping. Menghindar dari serangan Amor.
"Lumpuhkan dia! Itu satu-satunya cara membawa dia keluar dari sini," Ice berkata pada Fire melalui pikirannya. Sesaat kemudian, dua dewa itu mulai bergerak maju. Mulai menyerang Amor yang malah semakin bersemangat meladeni serangan Fire dan Ice.
Tapi Amor bukanlah tandingan dua dewa itu, jika mereka memadukan kekuatan mereka. Terbukti, tak berapa lama, Amor jatuh terduduk sambil memegangi dadanya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," Ice langsung bergerak maju ke arah Amor, yang kini juga memuntahkan darah.
"Kau brengsek!" Maki Amor. Ice sesaat tertegun mendengar sang adik mengatainya brengsek. Dalam hidupnya, belum pernah sang adik mengucapkan hal buruk soal dirinya.
"Lakukan!" Fire berteriak dari arah belakang. Secepat kilat, Ice menempelkan telunjuknya ke dahi Amor. Menekannya perlahan. Dalam hitungan detik, tubuh wanita itu sudah jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan sang kakak.
"Beraninya kalian menyusup masuk ke mari!" suara Demon menggelegar di kamar itu. Bersamaan dengan tubuh pria itu melayang turun dari ketinggian di tengah kamar.
"Pergilah. Aku yang akan menghadapinya," Ice berkata pada Fire. Dengan cepat Fire meraih tubuh Amor. Lantas membawa tubuh Amor dalam gendongannya.
"Kau tidak akan bisa ke mana-mana." Demon mengibaskan jubahnya. Bersamaan dengan itu, sihir pelindung dengan cepat menyebar mengelilingi kamar itu. Melihat hal itu, Fire hanya tersenyum.
"Apa kau belum tahu? Kalau kekuatan kita boleh dikatakan setara?" Fire berkata dengan wajah dingin dan datar. Pria itu melayang dengan Amor dalam dekapannya. Dengan satu gerakan tangannya, Fire mulai membuat pola sihir untuk membuka sihir pelindung yang Demon buat.
"Tidak mungkin," Demon membulatkan matanya, melihat sihir pelindungnya perlahan memudar.
"Aku Fire, Dewa Api. Mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," dalam hitungan detik, tubuh Fire menghilang bersama Amor. Disusul dengan Ice. Saat ini, Ice tidak ada waktu untuk melayani Demon. Karena ada hal lebih penting yang harus mereka kerjakan.
Melihat dua dewa itu hilang didepan matanya bersama Amor. Kemarahan Demon langsung meledak. Dia memaki dan mengumpat Fire dengan Ice.
"Apa kau sudah mulai melakukannya?" tanya Demon geram.
__ADS_1
"Aku sudah mulai melakukannya," jawab sebuah suara tanpa rupa.
****
Sementara itu, di sebuah tempat yang hampir sama dengan villa Cedric kemarin. Sebuah pernikahan sederhana tengah digelar. Mika sudah berganti pakaian dengan sebuah gaun sederhana berwarna putih. Tatapan mata Mika terlihat kosong. Gadis itu hanya berdiri, tidak bergeming di samping Cedric yang kali ini memakai kemeja putih, jas hitam dan celana panjang hitam sederhana.
Di depan Mika dan Cedric, berdiri Ice dengan pakaian manusianya. Berperan sebagai orang yang akan mengesahkan pernikahan Mika dan Cedric. Di kiri dan kanan Ice, berdiri Re dan Ri. Re membawa nampan yang berisi sepasang cincin pernikahan untuk dua pengantin itu. Sedang Ri membawa dokumen yang harus ditandatangani oleh sepasang pengantin baru itu.
Bagaimanapun, pernikahan Mika dan Cedric harus sah secara hukum dunia manusia. Hingga keduanya akan tetap menjadi suami istri meski Amor dan Fire telah kembali ke dunia langit.
"Baik, mari kita mulai upacara pernikahannya," ucap Ice. Cedric perlahan menggenggam tangan Mika. Saat pengucapan sumpah pernikahan, secara ajaib, Mika mampu melakukannya dengan baik. Meski tatapan mata kosong dan tubuhnya seolah tidak berjiwa. Tapi gadis itu bisa melalui prosesi pernikahan itu dengan lancar. Bahkan ketika Re mengulurkan baki berisi cincin pernikahan itu. Mika tanpa ragu mengambilnya lantas memasukkannya ke jari manis Cedric.
Semua tersenyum puas melihat hal itu. "Okay, dengan ini kalian dinyatakan sudah sah sebagai pasangan suami istri," kata Ice berikutnya. Re dan Ri bersorak gembira. Tugas mereka akhirnya selesai.
"Sesuai aturan dunia manusia, kau bisa mencium istrimu," kali ini ada keraguan dalam ucapan Ice.
Cedric menatap Mika yang ekspresi wajahnya masih kosong. Perlahan, tangan pria itu meraih pipi Mika, satu tangannya bergerak menyentuh tengkuk Mika. "Aku mencintaimu, Mikayla Theresia Hermawan," ucap Cedric. Detik berikutnya sebuah ciuman hangat sudah berlabuh di bibir Mika. Pria itu mencium Mika lembut. Sedikit menekan tengkuk sang istri hingga ciuman keduanya semakin dalam. Pagutan demi pagutan Cedric berikan.
Tanpa mereka sadari, keduanya sudah berpindah tempat. Mereka kini berada di sebuah kamar dengan ranjang besar di belakang Mika.
Ketika ciuman Cedric semakin dalam, tanda lily di dahi Mika perlahan muncul. Warna hitamnya mulai memudar, berganti dengan warna aslinya yang berwarna putih.
"Cedric...." bisik Mika. Keduanya kini sudah berada di atas ranjang. Dua tubuh itu sudah setengah polos. Dengan tubuh topless Cedric terpampang nyata di depan mata Mika. Kali ini, gadis itu sudah sadar sepenuhnya. Jiwa iblis dalam tubuh Mika perlahan mampu ditekan oleh aura Fire yang masih menjadi satu dengan tubuh Cedric.
"Ya....Nyonya Van Gouh. Sudah siap untuk terbang ke angkasa bersamaku?" tanya Cedric. Tubuh pria itu kini tepat berada di atas tubuh Mika. Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan Cedric. Detik berikutnya, sebuah ciuman Mika berikan sebagai jawaban.
"Bawa aku pergi ke tempat yang paling tinggi," senyum Cedric merekah mendengar jawaban Mika. Setelahnya tanpa ragu, Cedric mulai mencumbu tubuh Mika, memulai ritual malam pertama mereka. Ritual yang akan jadi akhir perjalanan Fire dan Amor di dunia manusia.
*****
__ADS_1