
Mika tampak berlari masuk ke sebuah restoran. Dia mengumpat marah, karena Cedric sengaja menahannya lebih lama di ruang meeting. Agar dirinya gagal bertemu Daniel malam ini.
"Cedric gila! Maniak!" Makian itu yang terus saja dia lontarkan dari bibir tipisnya. Belum lagi kekesalannya belum hilang akibat Cedric yang kembali menciumnya waktu itu.
Meski akhirnya hari itu. Dia bisa shopping sepuasnya dengan black card milik Cedric. Membeli banyak pakaian dalam. Karena Mika memang hobi berganti pakaian dalam. Lembab sedikit auto risih. Minta ganti.
Cedric mengerutkan dahinya begitu mendapat notifikasi penggunaan black cardnya melalui ponselnya.
"Dia benar-benar berniat merampokku," gumam pria itu sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat begitu seksi. Cedric teringat bagaimana manisnya bibir Mika yang sempat dilumatnya waktu itu.
"Sial!" Cedric mengumpat lalu berlari masuk ke kamar mandi. Menuntaskan hasratnya yang tiba-tiba meroket naik gegara mengingat ciumannya dengan Mika.
"Maaf Kak, aku sedikit terlambat," Mika berucap penuh rasa bersalah. Pada pria yang duduk di depannya, yang waktu itu masih memainkan ponselnya. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian formalnya. Menandakan kalau Daniel juga dari kantor langsung ke sini.
"Kamu sih menolak aku jemput. Begini kan akhirnya. Ngos-ngosan sampai ke sini," jawab Daniel dingin. Meski sudah berusaha bersikap ramah dan hangat. Nyatanya sikap Daniel masih cenderung dingin dan datar. Tapi justru di sinilah yang menarik menurut Mika. Menurut Mika, Daniel jadi terkesan eksklusif karena tidak semua bisa bebas bicara padanya.
"Itu sombong nek bukan eksklusif" celetukan Elli terlintas di kepala Mika. Gadis itu tersenyum dibuatnya.
"Kenapa?" Heran Daniel melihat Mika tersenyum.
"Tidak ada. Aku hanya senang, Kakak mau mengajakku makan malam," jawab Mika dengan wajah sumringah.
"Kau suka makan malam denganku? Kalau begitu aku akan sering mengajakmu makan malam mulai sekarang. Jika aku tidak sibuk tentunya,"
Senyum Mika merekah di wajah ayu gadis itu. Mendengar ucapan Daniel padanya.
"Mulai sekarang aku harus bisa merebut hatimu. Dan menghancurkan segel milikmu. Dengan begitu. Tujuanku akan semakin dekat untuk terwujud," batin Daniel. Melirik gelang dari batu giok yang melingkar di tangan kiri Mika.
__ADS_1
Gelang giok berwarna hijau itu adalah segel dari Dewi Bunga untuk Amor. Daniel pikir akan sangat mudah untuk menghancurkan segel itu. Tanpa dia tahu, ada aturan untuk membuka segel tersebut.
Cedric meremas berkas yang ada di tangannya, begitu tahu kalau Mika tengah makan malam dengan Daniel.
"Dia benar-benar mengajakku perang," gumam Cedric pelan.
Ha? Perang? Satu sisi dari jiwa Cedric bertanya. Kenapa kamu begitu marah karena Mika dekat dengan Daniel. Padahal mereka kan cuma teman.
"Iya juga ya, kenapa aku jadi marah. Mereka kan memang dekat dari dulu," ucap Cedric lirih.
"Eh tapi tunggu, mereka tidak boleh dekat-dekat..karena Mika hanya milikku," sahut Cedric lagi. Pria itu malah terdengar seperti orang gila bicara pada diri sendiri.
Hingga akhirnya, Cedric keluar dari ruang kerjanya. Berjalan menuju ke arah mobilnya di basement apartemen mewah itu. Melajukannya menuju restauran tempat Mika dan Daniel makan malam.
Begitu sampai di sana, dilihatnya Mika dan Daniel yang tengah keluar dari restauran itu. Mika tampak senang sekali. Terlihat dari senyum yang tidak pernah lekang dari bibir manisnya.
Senyum Mika semakin lebar, saat mendengar perkataan Daniel. Keinginannya untuk berduaan dengan Daniel lebih lama akan terwujud. Hingga suara Cedric langsung membuyarkan angan indah Mika.
"Mika akan pulang denganku," satu kalimat tegas dari Cedric membuat tangan Daniel terkepal marah. Seiring dengan wajah Mika yang langsung berubah masam.
"Dia akan pulang bersamaku," Daniel pun tidak mau kalah. Dia ingin cepat mendapatkan hati Mika.
"Kami tinggal di gedung yang sama. Lantai yang sama. Jadi akan lebih efisien jika Mika pulang denganku, lagipula aku ini atasannya." Cedric menarik tangan Mika. Membuat tubuh gadis itu berpindah tempat. Berdiri di sebelah Cedric. Detik berikutnya, perdebatan antara dua pria tampan itu tidak terelakkan. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Ingin mengantarkan Mika pulang.
Pada akhirnya Mika merasa kesal sendiri dengan tingkah keduanya. Angan-angan ingin menikmati waktu berdua dengan Daniel hancur sudah. Semua gara-gara ulah Cedric, bos casanovanya.
"Diam!" Raung Mika. Teriakan gadis itu sempat menarik perhatian orang yang berada di sekitarnya. Tapi Mika tidak peduli. Rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Melihat dua pria dewasa yang berdebat gara-gara dirinya. Seperti sedang berebut mainan.
__ADS_1
"Aku pulang sendiri!" Putus Mika akhirnya. Gadis itu berlalu. Meninggalkan Cedric dan Daniel yang saling pandang.
"Mika....tunggu!" Cedric langsung berlari mengejar Mika. Sedang Daniel hanya berdiri mematung. Dia jelas tidak tahu harus berbuat apa.
"Pergi sana! Jangan pedulikan aku!" Marah Mika. Gadis itu terus saja berjalan tanpa tahu arah. Hingga sebuah tarikan membuat Mika berbalik. Dan membentur dada bidang Cedric. Sejenak hembusan angin yang sangat kencang menerpa tubuh Mika. Gadis itu membeku seketika.
"Woiiii, lihat-lihat kalau mau menyeberang!" sebuah suara penuh kekesalan terdengar di belakang Mika.
"Maaf, dia sedang marah padaku. Jadi tidak memperhatikan jalan," suara Cedric yang menyahut. Pelan Cedric membawa tubuh Mika menepi. Gadis itu masih terlihat shock. Dia hampir tertabrak jika Cedric tidak menariknya. Sesaat dua orang itu hanya diam. Dengan Mika yang berada dalam pelukan Cedric. Hangat dan nyaman. Aroma maskulin dari Cedric benar-benar menenangkan Mika.
Cedric juga hanya diam. Membiarkan tubuh Mika memeluk erat tubuhnya. Sementara dari atas sana. Daniel menggeram marah. Maksud hati ingin menghabisi Cedric tapi malah berakhir dengan Mika yang berada dalam bahaya. Ya, pria itulah yang menggerakkan mobil itu. Awalnya target Daniel adalah Cedric. Tidak dia sangka justru Mika yang berjalan ke tengah jalan raya tanpa melihat kiri dan kanan.
"Sial! Kau berhasil lolos kali ini," batin Daniel geram. Terlebih melihat Mika yang terlihat nyaman dalam pelukan Cedric. Dalam satu kedipan mata, tubuh melayang Daniel menghilang di tengah pekatnya malam. Meninggalkan Cedric dan Mika yang masih betah berpelukan.
"Minumlah," Cedric mengulurkan satu cup teh hangat pada Mika. Gadis itu duduk bersandar di kursi mobil Cedric. Begitu mendengar suara Cedric, Mika perlahan membuka matanya. Memandang wajah tampan Cedric yang tengah menunduk di hadapannya.
"Ini akan mengurangi shockmu," lagi suara Cedric mengalun di telinga Mika. Ada nada cemas dalam tutur kata pria itu.
Mika meraih cup minuman itu. Rasa hangat langsung menjalar melalui telapak tangannya. Lalu menyebar melalui tenggorakan. Kala Mika mulai meminum minuman itu. Gadis itu menghabiskan hampir separuh dari minumannya. Ketika Cedric menarik nafasnya. Wajah pucat Mika berangsur memudar. Berganti dengan rona merah yang mulai terlihat di wajah Mika.
"Kadang aku berpikir kalau Cedric pastilah pria brengsek. Tapi terkadang pria itu bisa jadi dewa penolong untukku. Ahh entahlah, rasa apa yang kupunya untuk bos casanovaku ini," batin Mika bingung dengan perasaannya sendiri. Menatap dalam wajah Cedric yang kalau keadaannya begini bak malaikat dari langit tanpa tahu watak aslinya yang seperti iblis dari neraka. Tukang making out dengan banyak wanita.
Cedric sendiri merasa semakin aneh dengan perasaannya. Baru kali ini dia begitu khawatir dengan keadaan seseorang. Apalagi Mika seorang gadis. Dan hanya Mika saja yang membuat Cedric untuk pertama kalinya, menginginkan seorang wanita untuk disentuhnya lebih dari sekali.
"Apa aku sudah mulai berubah. Mengapa aku begitu menginginkan Mika untuk selalu dekat denganku. Kenapa aku begitu tidak suka saat melihatnya bersama Daniel. Kenapa aku begitu ingin memiliki Mika," batin Cedric dalam hatinya.
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Cedric mengenai perasaannya pada Mika. Tanpa Cedric sadari, itu adalah awal dari perjalanan panjangnya. Perjalanan tidak masuk akal yang mungkin akan membuat Cedric berpikir, kalau dia mulai gila. Perjalanan yang akan membuka jati dirinya sebagai Dewa Api. Dewa dengan kekuatan yang mampu melenyapkan kekhawatiran seluruh penghuni dunia langit.
__ADS_1
****