
Ice menggebrak mejanya, marah. Pria itu marah pada dirinya sendiri. Karena tidak bisa menghalangi Demon membawa pergi Black Dragon. Bisa dibayangkan bagaimana kekacauan yang akan terjadi di masa depan. Ice merasa tidak berguna.
"Sudahlah...pasti ada solusi untuk ini semua," Wind sedikit menghibur Ice. Meski dia tahu kalau kata-katanya tidak akan didengar oleh Ice. Pria itu terlalu keras pada diri sendiri. Ice seperti tidak sayang pada dirinya.
Saat Ice tengah sibuk dengan pikiran dan rasa bersalahnya. Dewa Matahari masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya yang biasa tegas. Dingin dan angkuh, kini tidak ada lagi. Berganti dengan wajah takut juga cemas. Pria dengan rambut berwarna emas dan manik mata berwarna merah itu, langsung bersujud di depan Ice. Padahal seharusnya sebaliknya.
"Apa ada tambahan lagi? Leon," tanya Ice. Dia sudah tahu soal kehilangan Black Dragon. Tapi kenapa Leon masih mencarinya.
"Ada satu benda lagi yang hilang Ice," ucap Leon terbata.
"Apa itu berbahaya?" tanya Wind pelan.
"Sangat. Dia mengambil naskah kuno soal Black Rune," Leon berkata pelan. Ice dan Wind saling pandang. Mereka cukup tahu apa itu Black Rune, sebuah sihir hitam, yang sangat kuno. Kekuatannya sangat dahsyat. Belum ada yang mampu mematahkan sihir Black Rune sampai sekarang.
Ketiga pria itu menarik nafasnya bersamaan. Ini gawat sekali. Jika Demon bisa melatih Black Rune dengan baik. Bisa dipastikan bersama Black Dragon, Demon bisa menguasai empat dunia dengan mudah.
"Bagaimana ini?" gumam Ice. Saat itulah terdengar suara nyaring dari langit di luar sana. Ketiga pria itu saling menatap.
"Dia sudah membebaskan Black Dragon?" tanya Wind.
"Tidak mungkin, untuk membuka prisma Black Dragon. Demon perlu darah ratu Iblis, dengan kata lain. Dia harus membangunkan separuh dari jiwa Iblis yang masih tidur dalam diri Amor," Leon memberi penjelasan. Baik Ice dan Wind, saling pandang.
"Kita hanya bisa berharap Fire segera menghapus sisa jiwa Iblis dalam tubuh Amor secepatnya," Leon menambahkan.
"Tapi bagaimana mereka mau bersatu, jika Re dan Ri saja bilang mereka itu seperti musuh bebuyutan. Berdebat saja tiap hari. Destiny ini bagaimana sih? Kenapa dia membuat takdir Fire dan Amor sangat rumit kali ini," Wind berkata pelan.
"Apalagi Demon ikut campur dalam hal ini, makin susah saja jadinya,"
__ADS_1
"Dan parahnya lagi, kita tidak bisa ikut campur dalam hal ini." Ice mengepalkan tangannya marah. Andai dia mampu, dia akan melanggar aturan langit. Dan membuka ingatan kedewaan milik Fire.
"Sayangnya kita tidak bisa melakukan apa-apa," sahut Wind sendu.
"Yang bisa kita lakukan hanyalah mengawasi agar Demon tidak membuat kekacauan terlalu banyak," tambah Leon.
Keadaan hening sejenak. Hingga tiba-tiba, Ice mengutarakan sebuah ide yang membuat Wind dan Leon melirik penuh kode. Bersama Fire, keempat orang itu adalah sahabat dekat. Hingga terkadang mereka juga terlibat dalam hal yang sedikit nakal.
Seperti sekarang ini, ketika Ice memberitahu ide di kepalanya. Dua sahabatnya itu bukannya melarang. Malah menyambut antusias ide Ice.
"Jadi kapan kita akan melakukannya?" tanya Leon bersemangat. Meski Leon terkenal akan kedewasaannya dalam berpikir, tapi jika sudah berkumpul dengan Ice dan Wind. Sifat pria itu bisa berubah menjadi anak kecil yang menggemaskan. Tidak sesuai dengan tubuh tinggi, besar, berotot yang dimilikinya.
"Kita tunggu sampai dia sibuk dengan Cedric dan Mika," Ice menjawab wajah antusias Leon, yang seketika raut wajahnya berubah malas.
"Tidak ada Fire, tidak asyik," gerutu Leon.
"Sabarlah, sebentar lagi. Kali ini saja. Setelah ini kita bisa main lagi sampai puas. Oh iya bagaimana urusan mate-mu? Sudah ketemu?" tanya Wind mengalihkan pembicaraan.
"Kalau saja boleh aku ingin membuka ingatan masa kecilnya, menyebalkan sekali," imbuh Leon.
"Sudahlah, bagaimana kalau kita mencari hiburan?" Ice bertanya sambil menaikkan satu alisnya.
"Caranya?" Tanya Wind dan Leon bersamaan. Ice tersenyum mendengar pertanyaan dua sahabatnya itu. Sejurus kemudian, tiga dewa itu sudah berada di tengah jalanan dunia manusia yang sangat ramai. Sangat ramai hingga orang-orang itu tidak sadar dengan kemunculan tiga dewa, yang telah berubah wujud menjadi tiga pria dengan penampilan modern. Yang tentu saja membawa satu ciri khas mereka yaitu ketampanan yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Jelas saja, spek dewa dilawan 🤣🤣
Tiga pria itu tersenyum satu sama lain, mulai berjalan menikmati suasana malam di dunia manusia itu. Tidak lama, kehadiran ketiganya menarik perhatian banyak orang. Terutama para wanita. Mereka menatap takjub pada Ice, Wind dan Leon.
"Jadi begini rasanya jadi Fire, kalau sedang jadi playboy," seloroh Wind dan sukses memancing tawa ketiganya.
__ADS_1
"Ini kalau ayahmu tahu, kita bisa dihukum membersihkan alun-alun selatan ini," sambung Leon yang disambut kekehan dari dua sahabatnya.
Meninggalkan tiga dewa yang sedang turun ke dunia manusia. Di istana Raja Iblis, Demon menggeram kesal. Dia bisa membuka segel Black Rune. Tapi dia sama sekali tidak menemukan apapun di dalamnya. Gulungan naskah itu kosong, tanpa tulisan sama sekali.
"Apa mereka menipuku? Apa ini palsu?" Demon bergumam sendiri. Menatap lembaran kertas yang melayang tanpa tulisan di hadapannya. Beberapa kali, pria itu mencoba memunculkan tulisan di naskah itu, dengan bermacam cara yang dia tahu. Tapi tetap saja, tidak ada apapun yang muncul dalam naskah Black Rune.
"Aaaarrgggghhhh"
Demon berteriak marah. Pria itu merasa dipermainkan. Demon sejenak terdiam. Sejurus kemudian, dia teringat sebuah cara untuk membaca naskah yang tidak terlihat. Seulas senyum terukir di bibir Demon. Pria itu teringat soal Hidden Spell, mantra tidak terlihat. Mantra yang tersembunyi. Dan Black Rune termasuk dalam Hidden Spell. Tidak sembarangan orang yang bisa membacanya. Mempelajarinya. Bahkan menguasainya.
"Katakan kau menolak untuk kukuasai, tapi kau harus tahu siapa aku. Aku adalah Raja Iblis, Demon. Ketika aku menginginkan sesuatu. Aku akan memilikinya. Termasuk kau!" Ucap Demon.
Selanjutnya, tanda api di dahi Demon bersinar. Bukan sinar merah yang memancar seperti biasanya. Tapi sinar terang berwarna putih. Pria itu langsung mengarahkannya ke naskah Black Rune. Sesaat tidak terjadi apa-apa. Namun tak lama kemudian, teriakan seorang wanita yang mengerikan, terdengar menggema di ruangan itu.
"Aaaaaaa, kau seorang wanita rupanya," Demon bergumam senang. Tidak berapa lama, sesosok wanita memakai hanfu berwarna hitam muncul di hadapan Demon. Cantik, sangat cantik. Seolah dia memiliki pesona salah satu dewi dari dunia langit.
"Siapa yang berani mengusikku?!" tanya wanita itu kesal. Menatap marah pada Demon. Sementara Demon tersenyum samar mendengar pertanyaan wanita itu.
"Aku adalah Tuanmu yang baru. Jadi kau harus tunduk padaku," jawab Demon dingin. Sementara wanita pemilik Black Rune itu tampak memicingkan mata.
"Untuk menjadi Tuanku, kau harus bisa memberikan apapun yang aku mau," perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Demon. Hingga belahan dada wanita itu terlihat.
"Aku bisa memberikan apapun yang kau mau, tapi begitu juga sebaliknya. Jika aku bisa memuaskanmu, kau dan seluruh isi dirimu adalah milikku. Kau harus tunduk di bawah perintahku," ucap Demon penuh arti.
Black Rune sesaat menatap Demon. Seolah meneliti pria itu. Hingga kemudian, wanita itu tersenyum.
"Kita sepakat kalau begitu," jawab Black Rune segera.
__ADS_1
"Mudah sekali untuk mendapatkanmu," batin Demon
****