
Lao Yang seketika mengalihkan pandangannya pada The Lord. Pria itu pun tengah memandang lurus padanya. Lao Yang menarik nafasnya, lalu berkata, "Izinkan aku...."
Belum sempat Lao Yang menyelesaikan kata-katanya, The Lord sudah memberinya kode untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Mata Fire berkaca-kaca, setelah ribuan tahun dia akhirnya bisa melihat wajah ayah dan ibunya. Lao Yang dan Dewi Angin menatap haru pada sang putra.
"Ibu....." Dewi Angin memeluk Fire hangat.
"Fire, putra ibu." Dewi itu mengusap wajah tampan Fire. Keduanya kembali berpelukan dengan tangis mewarnai moment itu.
"Maafkan Ayah. Karena Ayah kalian semua menderita."
Lao Yang meminta maaf pada Fire, bahkan pria itu menunduk di hadapan Ice dan Amor. Ice seketika membeku di tempatnya. Tangannya memeluk erat tubuh Amor yang masih belum mau membuka matanya.
"Keegoisanku membuat bencana ini timbul. Hingga melukai putrimu, maafkan aku, Nuwa."
Fire tidak mempedulikan perkataan sang ayah. Dia hanya fokus pada sang ibu. "Tinggallah bersamaku, Bu." Lirih Fire.
Tangis haru kembali terdengar dari bibir dewi angin itu. "Ibu ingin sekali tinggal, Nak. Tapi....wanita itu melirik Lao Yang....waktu kami benar-benar habis. Kami harus kembali dan tidak akan bisa melihatmu lagi."
"Ibu...."
"Dengarkan aku, putraku. Meski ibu tidak ada di sini, tapi percayalah kasih dan cinta ibu hanya untukmu....hanya untukmu. Ibu tidak akan membaginya dengan yang lain. Hanya kamu yang ibu punya di semesta ini."
Lao Yang seketika menundukkan wajahnya. Dia tahu benar arti ucapan sang istri. Fire kembali memeluk sang ibu. Tidak ada lagi Fire, dewa api yang gagah dan berkharisma. Yang ada hanyalah seorang anak yang ketakutan karena akan ditinggal oleh sang ibu.
"Berjanjilah pada ibu, kamu akan hidup dengan baik. Cintai dia sepenuh hatimu. Buat dia bahagia. Kesabaranmu akan membuahkan hasil. Percaya pada ibu."
Lao Yang semakin merasa bersalah. Pria itu mendekat ke arah Fire, lantas ikut memeluk Fire dan sang istri. "Maafkan semua kesalahan, Ayah. Aku akan menebusnya. Dalam hidup kalian hanya bahagia yang akan kalian rasa. Kecuali jika dia membuat ulah lagi."
Ketiganya mulai mengurai pelukan mereka. "Kau tidak ingin menemuinya?" Lao Yang bertanya pada dewi angin.
Wanita cantik itu lantas mendekat ke arah Ice. Perlahan dia menunduk. "Dia cantik, semua yang ada padanya adalah milik Nuwa."
Dewi angin itu lalu mengusap pelan pipi Amor. Perlahan tubuh wanita itu pulih. Hingga sebuah kalung dengan permata berwarna biru berada di leher Amor. "Berikan pada cucu perempuanku kelak. Itu akan sedikit meredam sifatnya yang keras kepala."
Ice melongo mendengar perkataan dewi angin itu. Pria itu jelas tidak paham kemana arah pembicaraan ibu Fire itu.
"Sekali lagi maaf. Aku harus membuatmu kehilangan sekali lagi." Lao Yang berkata sembari menatap lurus pada Ice. Pria itu semakin bingung dibuatnya.
The Lord seketika melihat sepasang suami istri itu. "Kau siap?"
Lao Yang mengangguk. Dibelakang Fire, Wind terdengar berbisik, "Apa yang akan dia lakukan?" Yue hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Hingga pria terhenyak. Saat Lao Yang menunjukkan simpul merah di pergelangan tangannya.
"Tunggu, dia...."
Dalam sekali tarik, simpul itu terbuka. "Selamat tinggal, Nuwa." Perlahan Lao Yang menggenggam tangan dewi angin. "Terima kasih, sudah bersabar menghadapiku."
"Dia memutus benang merah antara dia dan Nuwa." Pekik Yue.
Di kejauhan terdengar suara air yang bergolak. Air danau di sekitar makam Nuwa, bergejolak. Air terjun yang selama ini berbentuk butiran es, kini berubah menjadi air sepenuhnya. Cahaya putih berpendar terlihat langsung melesat dengan cepat ke langit malam dunia langit. Nuwa sudah terbebas dari kekangan benang merah.
__ADS_1
Di ujung tangga, jiwa dewi bunga itu tersenyum. Melihat Chao yang mengulurkan tangan padanya. Seolah tengah menantinya. Pria itu menatap penuh kerinduan pada sang istri. "Maaf membuatmu menunggumu terlalu lama."
"Ya...kita bisa menyalahkan Lao Yang nanti."
Keduanya terkekeh, berjalan bersama menaiki tangga menuju alam surgawi.
"Giliran kita." Kata Lao Yang setelah melihat pendar cahaya putih itu.
"Jangan pergi!" Fire tiba-tiba berteriak.
"Kami harus pergi, Nak. Maafkan kami."
Fire terisak melihat dua orang tuanya akan meninggalkannya. Pertemuan ini adalah yang pertama dan terakhir untuknya. "Ayah yakin, jutaan kata maaf tidak akan mampu menebus kesalahan Ayah. Jadi biarkan kami pergi agar tidak ada lagi kesalahan di alam ini."
Lao Yang semakin erat menggenggam tangan Dewi Angin. Lalu keduanya melayang tinggi dan semakin tinggi. Hingga mata Phoenix Fire tidak mampu lagi melihat ayah dan ibunya.
"Ibu.......Ayah!!!!" teriak Fire pilu.
"Ibu....." Saat itu juga Ice bisa merasakan kepergian sang ibu. Pria itu pun ikut menangis sembari memeluk tubuh Amor yang perlahan bergerak dalam dekapan Ice
"Ya....beginilah akhir dari kisah mereka." The Lord berucap santai. "Setidaknya mereka bersama. Meski cinta belum tentu ada di antara mereka. Dan kau bisa belajar dari mereka." tambah The Lord sambil melirik ke arah Demon. Yang malah mana, pria itu malah sibuk memandangi Amor yang mulai bangun.
"Bisa tidak kau tidak menatapnya seperti itu."
Demon berjengit, sebab kalimat tadi seperti diucapkan tepat di telinganya.
"Dia seharusnya jadi milikku. Kenapa kau dengan enteng menyetujui permintaan ibunya." Protes Demon mode on lagi.
Demon mendengus kesal. "Lalu aku harus bagaimana?" Dia bertanya, tapi matanya menatap Amor yang kini memeluk Fire erat. Saat dewa api itu masih menangisi kepergian ayah dan ibunya.
"Lepaskan dia, pulang dan lanjutkan hidupmu. Ingatlah putramu yang akan memiliki putrinya. Itu janjiku padamu."
Demon langsung memandang wajah The Lord.
"Kenapa? Kau tidak percaya. Cobalah. Tapi ingat jika waktunya tiba, kalian akan saling berhadapan lagi. Dia tidak akan menyerahkan putrinya dengan mudah pada putramu."
Kali ini Demon langsung mengalihkan pandangannya pada Fire yang juga tengah menatapnya. Seolah dewa api itu juga mendengar perkataan The Lord.
"Akan kutunggu duel kami selanjutnya."
"Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu!"
Dua pria itu saling membatin.
"Oh my Lord, terus dendam mereka kapan selesainya. Masak iya kami harus mengurusi dua orang ini terus." Keluh Wind.
"Mereka akan akur jika mereka bisa berdamai." The Lord menjawab enteng.
"Pertanyaannya kapan itu terjadi?"
"Jika waktunya tiba."
__ADS_1
Semua langsung mendengus kesal mendengar jawaban asal dari penguasa empat alam itu. The Lord Yang Agung terkekeh.
"Dan untuk menjaga keamanan, ini akan kuambil lagi darimu."
Demon berteriak ketika sebuah tarikan menarik sebagian energi dalamnya.
"Kenapa kau mengambilnya? Kalau Black Rune kau ambil. Ambil Tapak Limbo miliknya juga." Protes Demon.
"Apa hubungannya denganku?!" Protes Fire.
"Diam! Black Rune jelas terlarang. Sedang Tapak Limbo tidak. Kau seharusnya belajar dari Chao, lihat hidupnya."
Chao, The Sky? Semua saling pandang. Hingga suara Yue mengejutkan semua. "The Sky mempelajari Black Rune."
Ha? Semuanya melongo, tak terkecuali Demon. "Tuanku yang sebelumnya tidak bisa aku beberkan siapa dia."
Ucapan Ling Er terngiang di kepala Demon. "Jadi The Sky adalah tuanmu."
"Black Rune memang aku ambil, tapi Ling Er tidak. Jadi kau masih bisa memilikinya." Senyum The Lord penuh arti.
Demon berdecih kesal.
"Masalah kalian cukup sampai di sini. Kau, jaga sikapmu. Dan kalian, waktu kalian untuk menarik nafas sebentar. Sebelum, kekacauan datang lagi. Yang pergi, memang seharusnya pergi. Jadi relakan mereka. Yue tugasmu belum selesai. Dan Ice, sesuai peraturan. Kaulah, pemimpin dunia langit sekarang."
Sosok The Lord Yang Agung perlahan menghilang. Meninggalkan dua kubu yang untuk sesaat akan masuk dalam masa damai.
"Ini belum usai!"
Fire dan Demon saling menatap tajam. Bersamaan dengan itu, mentari terbit di sisi timur. Sinarnya membawa harapan baru dan hari baru untuk semua.
*
*
"Akan kunikmati hukumanku."
Demon membatin pelan, sembari melihat pintu istananya yang tertutup secara perlahan. Pria itu duduk di singgasanya. Dengan Ling Er yang setia menemaninya.
*
*
"Aku akan menjaganya dengan baik ibu."
Fire membatin, melihat Amor yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Keduanya menikah setelah Ice resmi naik menjadi pemimpin dunia langit.
Di sisi mereka tampak Yue bersanding dengan Luna. Leon dengan Rain. Dan Wind yang masih harus bersabar menunggu mate-nya datang. Di ujung sana, Yuan terlihat cantik dengan hanfu pastelnya. Hingga mata Kaisar Langit yang baru itu, tidak lepas dari wajah gadis itu.
Sementara di luar sana, Tao dan Chai bergerak mengelilingi langit dunia itu. Salah paham dan dendam di antara mereka juga sudah selesai
END
__ADS_1
******