Pengantin Raja Iblis

Pengantin Raja Iblis
Mimpi Terindah Fire


__ADS_3

Demon membawa Amor ke sebuah ruangan. Ruangan yang di dominasi oleh warna hitam, namun ketika Amor masuk ke dalamnya. Di sana sangat terang. "Ini apa?" tanya Amor heran.


"Bantu aku membuka segelnya," pinta Demon pada wanita itu. Demon mengeluarkan prisma Black Dragon. Lantas meletakkannya di atas sebuah meja. Ruangan itu sangat luas. Dengan langit-langit menjulang tinggi seperti sebuah kubah. Sejauh Amor memandang, dia tidak bisa menerka, seberapa tinggi kubah ruangan itu.


"Berikan tanganmu," Demon mengulurkan tangannya. Yang langsung disambut oleh tangan Amor. Sebuah belati tiba-tiba muncul di tangan Raja Iblis itu. Tanpa ragu, pria itu langsung menggores telapak tangannya dan telapak tangan Amor. Hingga tidak berapa lama, dua tetes darah mengalir dari luka itu. Mengalir tepat di atas pola prisma Black Dragon tersebut. Perlu beberapa waktu hingga sebuah sinar merah memancar, tapi hanya terlihat redup di atas pola itu. Detik berikutnya sinar itu memudar lantas menghilang.


Demon tertegun. Lalu menatap Amor bingung. Dia pikir, seharusnya darahnya dan darah Amor bisa membuka segel Black Dragon. Tapi ternyata tidak.


"Tidak mungkin, jika dia bukanlah ratuku," batin Demon.


****


Di sisi lain, Ice tampak bicara serius dengan The Sky. Pria itu melaporkan soal keadaan dunia langit saat ini. Termasuk beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Menyangkut Demon yang mencuri Black Rune dan juga Black Dragon. Juga penyerangan yang Demon lakukan ke istana Dewa Bulan.


The Sky hanya mendengarkan semua laporan Ice sambil terdiam. Buku-buku jemarinya mengetuk pelan meja kerjanya. Seolah sedang memikirkan tindakan apa yang akan ia ambil atas semua perbuatan Demon.


"Pria itu semakin hari, semakin membuat repot saja," The Sky akhirnya berkomentar setelah Ice selesai memberikan laporannya.


"Aku pikir, dia tidak akan berhenti sebelum Amor bisa bersatu dengan Fire secara penuh. Dalam hal ini pernikahan mereka bisa jadi jalan keluar dari masalah tiga orang itu," Ice memberikan sarannya.


"Setelah urusan dunia manusia mereka selesai. Aturlah sebuah pernikahan untuk adikmu," perintah The Sky. Ice seketika mengembangkan senyumnya. Sembari mengangguk penuh semangat. Pria itu lantas undur diri dari hadapan sang Ayah.


****


Ling Er dan Amor saling menatap sengit. Keduanya sedang berada di sebuah paviliun. Mereka tidak sengaja bertemu.


"Wanita berhati dua!" desis Ling Er benci.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Amor tajam.


"Kau sendiri tahu artinya. Kenapa masih bertanya. Berlari ke sana ke mari. Mencari perhatian tuanku dan Dewa Api. Murahan!" cibir Ling Er. Mendengar cibiran Ling Er, Amor kesal.


"Siapa yang mencari perhatian siapa. Setidaknya aku tidak perlu berakting agar Demon memperhatikanku," Amor menyindir balik Ling Er. Wanita pemilik Black Rune itu menggeram marah.


"Dia adalah mate-ku. Berani-beraninya kau menggodanya!"


"Kalau dia memang mate-mu, kenapa dia menempel terus padaku? Dan lagi satu, aku bukan seorang penggoda sepertimu,"


"Kurang ajar!" Ling Er langsung menyerang Amor, yang juga tanpa ragu langsung membalas serangan Ling Er. Kedua wanita itu saling memukul, menendang. Saling menangkis dan menyerang balik lawannya.


Amor memutar tubuhnya, ketika sebuah bola api mengarah ke arahnya. Secepat kilat Amor menghindar, lantas membalikkan serangan Ling Er. "Aarrgghhh" Ling Er mengerang ketika serangan Amor tepat mengenai dadanya.


"Kita tahu pasti siapa yang diinginkan oleh Demon. Jadi jangan banyak bertingkah di hadapanku," desis Amor sambil mencengkeram wajah Ling Er. Wanita itu meringis ketika kuku Amor terasa menusuk wajahnya.


Amor berlalu dari hadapan Ling Er dengan wajah sombongnya. Meninggalkan Ling Er yang wajahnya memerah menahan marah.


"Kau bukanlah milik tuanku. Mate-mu adalah orang lain," teriak Ling Er sebelum Amor keluar dari tempat itu. Sepeninggal Amor, Ling Er langsung mengepalkan tangannya. Dia tidak akan pernah menyerahkan Demon pada Amor.


Dan satu-satunya cara untuk membuat Amor pergi adalah dengan membuat Dewi Cinta itu ingat pada mate-nya. Dewa Api.


Di tempat lain, Demon sedang bicara serius dengan seseorang di ruang kerjanya. Dia punya rencana untuk membuat Amor dan Fire saling membenci satu sama lain. Dia tahu, dengan keadaan Amor sekarang. Ada kemungkinan kalau wanita itu bisa kembali pada Fire. Tapi Demon tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena itu sebuah rencana sudah terpikirkan olehnya. "Jika aku tidak bisa memiliki Amor.....maka kalian juga tidak akan kubiarkan bahagia. Aku ingin kalian saling membenci akhirnya," batin Demon. Sambil menatap seorang pria di hadapannya yang tengah memejamkan matanya.


Tak berapa lama, manik mata kuning keemasan itu terbuka. Pemiliknya tersenyum samar pada Demon. "Itu soal ibunya," kata pria dengan rambut berwarna merah menyala itu.


"Kalau begitu tanamkan kalau mate-nya adalah pembunuh ibunya. Dengan begitu, perlahan dia akan mencurigainya lalu lambat laun akan membencinya," perintah Demon.

__ADS_1


"Kau pandai sekali mengadu domba," balas pria itu. Tak berapa lama, pria itu menghilang dari hadapan Demon.


"Aku tahu, dalam hatimu yang paling dalam. Dia masihlah yang terkuat. Tapi aku, tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan menahanmu selama mungkin untuk berada di sisiku," lirih Demon sambil mencium kening Amor. Wanita itu tampak tertidur dengan pulas di ranjang Demon.


Sepeninggal Demon, Amor perlahan membuka matanya. Dia dengar semua yang diucapkan oleh Raja Iblis itu. Wanita itu merasa kalau tempat ini bukanlah tempat dia seharusnya berada. Dalam tidurnya ada suara seorang pria yang terus memanggilnya. Suara yang sangat familiar bagi Amor. Suara yang membuat kerinduannya membuncah, sehingga dadanya serasa sesak.


Bersama Demon Amor merasa dicintai, tapi wanita itu juga merasa, kalau ada hal lain yang pria itu sembunyikan dari dirinya. Demon selalu bersikap manis padanya. Selalu memperlakukannya bak ratu di istana itu. Tapi semua itu tidaklah cukup. Ada sesuatu yang hilang dalam diri Amor selama bersama Demon.


Amor pikir beberapa waktu berada di sisi Demon, akan membuat wanita itu berhenti memikirkan soal lain, nyatanya tidak. Sikap Demon padanya justru membuat wanita itu berpikir kalau Demon bukanlah pria yang tepat untuknya.


Dan semakin ke sini, perasaan curiga Amor semakin menjadi. Dia bingung dengan sikapnya sendiri.


"Apa kau mulai merasakannya?" suara Ling Er membuyarkan lamunan Amor.


"Jangan menggangguku!" desis Amor penuh peringatan.


"Tidak masalah jika kau tidak mau mendengarkanku. Tapi aku....hanya ingin memberitahumu satu hal. Demon tidak pernah mencintaimu. Dia hanya terobsesi padamu," bisik Ling Er sambil berlalu dari sana.


Amor membeku di tempatnya. Kata-kata Ling Er sangat tepat dengan perasaannya. "Kalau Demon hanya terobsesi padaku. Lalu siapa mate-ku? Kenapa suara itu semakin lama semakin menggangguku!" Amor berteriak marah pada dirinya sendiri.


"Dia kenapa?" Fire tersentak bangun dari tidurnya. Mimpi yang sama, yang akhir-akhir ini dia alami. Fire merasa kalau Amor tidaklah bahagia seperti terakhir kali dia melihatnya saat dibawa pergi oleh Demon.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Fire lagi. Menunggu tiga hari dengan waktu dunia manusia ternyata sangat lama.


"Aku tidak sabar untuk menjemputmu pulang, Amor. Besok aku akan membawamu pergi dari sana. Menyelesaikan urusan kita di dunia manusia, lalu kita akan kembali ke dunia langit. Menikahimu sungguhan. Lalu kita bisa menikmati waktu kita berdua," Fire tersenyum, sembari merangkai mimpi indah bersama Amor. Tidak, sebentar lagi itu semua bukanlah sekedar mimpi indah. Tapi Fire akan mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Bersama Amor dia akan hidup bahagia selamanya. Itulah mimpi terindah Fire bersama sang pujaan hati.


****

__ADS_1


__ADS_2