Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 16


__ADS_3

"Lepaskan tangan kalian! Apa kalian tidak tau siapa aku? Aku adalah tunangan pemilik mansion ini," teriak wanita itu begitu keras hingga menggema di mansion itu.


"Merusak mood ku saja," seru Shine menghentikan acara makannya. Dia melihat ke arah Dadnya.


"Apa sesusah itu anak buah mu mengurus seorang wanita? Lemah!" seru Shine.


Wanita itu yang adalah Lili terus saja menerobos pengawal Rhadika. Awalnya mereka tidak membiarkan Lili masuk, namun mereka juga tidak berani melakukan kekerasan karena mereka tau posisi wanita itu bagi tuan mereka.


Rhadika yang sudah panas kupingnya mendengar perdebatan itu meletakkan sendok yang ada di tangannya.


Dia mengambil ponselnya. "Biarkan dia masuk!" perintah Rhadika.


Shine menatap malas ke arah Dadnya.


"Ingat Dad, meskipun kau dan aku sudah dekat, bukan berarti Shine memaafkan kesalahan Dad pada mommy. Ingat itu!" ucap Shine. Tiba-tiba moodnya jadi berantakan karena mendengar wanita itu di perbolehkan masuk.


"Dan satu lagi, pengasuh ku harus datang menemui ku hari ini. Jangan mengecewakan permintaan pertama ku Dad," seru Shine melanjutkan acara makannya. Dia juga sudah mendengar tapak kaki khas heels seorang wanita sudah mendekat. Tak lain dan tak bukan adalah Lili.


"Halo Sayang," ucap Lil hendak duduk di pangkuan Rhadika. Namun pria itu langsung menatap tajam ke arah nya membuat dia lebih memilih duduk di kursi samping Rhadika. Lili mengalihkan perhatiannya ke anak kecil yang berada di sana.


"Shine, are okay. Tante sudah lama tidak bertemu dengan mu," seru Lili berusaha mencairkan suasana dan berusaha mengambil perhatian Shine agar jalannya menjadi seorang Nyonya Browns di permudah.


Shine hanya diam tidak menanggapi. Wajahnya dingin dan terlihat tidak tersentuh sama sekali. Khas seorang Shine, dingin kepada orang tertentu.


"Aku tidak mengenal mu,' seru Shine berhenti sejenak dari makannya.


Seorang pria tampak memasuki ruangan itu. Lili semakin di buat tidak betah berada di sana. Dia berhadapan dengan tiga orang yang bersifat seperti kulkas dan hati ketiganya seperti sudah beku.


"Tuan, rapat akan segera di mulai. Sebaiknya kita mempercepat waktu kita," seru Max datar. Dia menunduk hormat sedikit sebelumnya ke pada Shine yang sedang makan. Meskipun tidak di tanggapi Shine, Max sama sekali tidak merasa tersinggung.


Kenapa? Jelas saja karena turunan seorang Rhadika Browns. Like father like Son. Max sudah biasa menghadapi tingkah Rhadika yang seperti itu.


Sedangkan Lili hanya di anggap angin lalu saja oleh Max membuat wanita itu panas hatinya dan mencari cara agar dia ikut terlibat dengan percakapan itu.


"Apa kau tidak bisa memberikan waktu sebentar untuk makan Max, mengganggu saja," ucap wanita itu.


"Maaf Nona, saya tidak ada urusan dengan anda," jawab Max datar tanpa menoleh ke arah Lili.

__ADS_1


"Max, di mana bunda? Bukan kah akan datang ke sini?" tanya Shine mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya.


Max tampak diam. Dia tidak tau ingin mengatakan apa-apa. "Maaf Tuan kecil, saya lupa menghubungi bunda anda," jawab Max.


Rhadika, dia sudah tau alasan Max tidak menghubungi Clasy. "Cih, dasar laki-laki pengecut," batin Rhadika.


"Kenapa kau jadi pikun Max, dasar bodoh," ucap Shine tanpa filter.


"Shine tidak boleh seperti itu ke pada orang yang lebih tua dari kita!" Suara lili memecahkan suasana tak bersahabat itu. Dia berpura-pura seperti ibu yang sayang anak.


"Saya tidak mengenal anda dan lebih baik anda diam!" seru Shine membuat Lili skakmat.


"Sial, ank kecil ini, akan ku bunuh kau perlahan jika aku sudah menjadi istri Rhadika. Lili tampak tersenyum sinis menatap ke arah Shine.


"Shine, apa yang kau katakan sayang?" tiba-tiba Clasy muncul dan langsung berbicara pada Shine, anak yang sudah di asuhnya sejak bayi.


"Sekertaris Max sudah menghubungi bunda kemaren, tapi bunda lupa dan telat datang ke sini," jelas Clasy. Shine tampak menunduk di sana.


"Minta maaf sekarang pada sekertaris Max!" perintah Clasy.


"Clasy jangan berlebihan, kau tidak pantas mengatakan itu pada tuan Kecil,' seru Max. Rhadika juga menatap aneh pada Clasy. Dari mana sejarahnya seorang Browns meminta maaf pada bawahan nya.


Namun tidak dengan Lili yang berada di sana. Dia merasa sangat senang karena melihat pertunjukan dimana wanita yang di klaim menjadi rivalnya sedang dalam posisi tersudut dan sama sekali tidak menguntungkan.


Clasy juga merasa tidak enak karena pendapat dari dua orang pria di sana. Namun sebenarnya hal ini sudah sering di lakukan oleh Clasy agar Shine tidak salah langkah di luaran sana dan harus meminta maaf untuk kesalahan yang dia perbuat.


"Maaf," seru Shine memecahkan suasana. Max terkejut bukan main, si iblis kecil dengan mudahnya meminta maaf pada orang lain. Malaikat dari mana yang turun ke atas kepala anak ini? Itulah isi pikiran Max.


"Clasy, Max tunggu aku di ruang kerja. Ada sesuatu yang ingin ku bahas," ucap Rhadika. Dia ingin mengakhiri satu persatu drama pagi hari yang panjang ini.


Max dan Clasy menurut saja. Lagi pula siapa yang bisa membantah perintah pria itu?


Max sejak tadi sama sekali tidak terlalu respon pada Clasy. Begitu juga dengan Clasy, wanita itu tampak biasa saja dan tidak terlalu mempedulikan Max.


Bahkan saat berjalan ke ruang kerja, Clasy tampak fokusnya hanya pada ponsel yang di pegangnya. Hal itu membuat Max merasa terganggu.


Bahkan baru saja Clasy hampir menabrak pintu ruang kerja Rhadika yang masih tertutup. Dengan sigap Max yang acuh tak acuh namun tetap memperhatikan Clasy langsung membuat tangannya sebagai temeng agar kepala wanita itu tidak terantuk pada pintu.

__ADS_1


Clasy yang sadar, dia menatap ke arah Max, namun sama sekali tidak di tanggapi oleh pria itu. Sesampainya di ruang kerja Rhadika, Max tampak duduk santai di sofa yang panjang. Dia mengambil iPad yang berada di meja itu. Max tampak beraktivitas dengan iPad itu.


Clasy, dia lebih memilih duduk di sofa tunggal yang ada di depan Max. Wanita itu merasa tidak nyaman di samping Max.


"Siapa?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari mulut Max. Namun fokusnya tetap pada iPad itu. Clasy yang awalnya merasa di ajak bicara kembali bertukar pesan dengan orang yang sejak tadi berkomunikasi dengannya.


Max yang merasa di acuhkan melempar kasar iPad itu ke meja. "Apa karena kau bukan bawahan ku lagi, kau tidak mau menanggapi pertanyaan ku?" sontak Clasy yang awalnya masih serius bermain ponsel sebelumnya kaget mendengar pernyataan Max.


"Maaf Tuan, maksuda anda apa?" tanya Clasy. Dia bingung dan tidak tau maksud dari Max.


Max yang sudah panas hatinya karena lagi lagi bunyi pesan ponsel Clasy terdengar di telinga nya.


Max maju dan ingin mengambil ponsel Clasy. "Tuan anda tidak berhak memaksa untuk mengetahui privasi saya," seru Clasy mempertahankan ponselnya.


"Aku tidak peduli," seru Max kembali memegang ponsel itu dan berhasil merebutnya. Karena ketidak seimbangan Max, di jatuh ke arah belakang sofa di barengi dengan Clasy.


Posisi ini begitu di sukai oleh Max. Namun tidak dengan Clasy yang merusak segalanya. Dia kembali menggapai ponselnya yang sudah di jauhkan oleh Max ke arah kepalanya.


**


"Apa tujuan mu datang ke sini?" tanya Rhadika mengeluarkan aura dinginnya. Tidak ada sama sekali raut wajah hangat di wajah pria itu. Suaranya yang begitu datar membuat orang tidak nyaman berbicara dengannya.


"Dad, aku bosan di sini. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan bunda," seru Shine. Tanpa menunggu jawaban dari Rhadika, anak itu nampak pergi meninggalkan suasana yang membosankan itu menurutnya.


"Apakah salah jika seorang wanita datang ke rumah tunangannya?" Lili balik bertanya.


"Apa dengan ke datangan mu suasana rumah ini akan baik. Apa kau tidak melihat Shine merasa tidak nyaman dengan kehadiran mu? Ku rasa, aku tidak perlu menjelaskan semuanya bukan?"


Lili terdiam. "Bagaimana aku bisa dekat dengan Shine jika ke rumah ini saja aku di larang?" tanya Lili kembali.


"Bukan urusan ku! Ingat, aku mau bertunangan dengan mu bukan karena aku mencintai mu, tapi karena pengorbanan mu saat itu," seru Rhadika bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Lili di sana.


Wanita itu tampak marah. Ingin sekali dia melampiaskan amarahnya seperti biasanya dengan menghancurkan barang-barang di sekitarnya. Namun ini bukanlah areanya. Dia bisa di cap buruk lagi jika mengamuk di sini.


"Kenapa di tahan? Lakukan seperti biasanya,"


Lili melihat ke arah sumber suara yang selalu melawan dan tidak menganggap nya.

__ADS_1


Jangan lupa likenya 😊😊😊👍👍


Horas ✋


__ADS_2