
Rhadika dan Tuan Zevano yang sejak tadi sedang berdiskusi, kini harus terhenti ketika melihat ada kepulan asap dari dinding transparan ruang kerja Rhadika.
Mereka tentu saja tidak mendengar suara dari ledakan itu karena ruangan itu kedap suara.
"Apa yang terjadi?" seru tuan Zevano.
Rhadika menggeleng dan mengambil ponsel nya yang terletak di meja kerja nya. Dia langsung menelpon Max.
"Halo Tuan," jawab Max di seberang sana.
"Ada sedikit kendala Tuan, tapi sudah di tangani," jawab Max.
"Datang ke ruang kerja ku!" perintah Rhadika.
"Berhati-hati lah, musuh mu tidak akan berhenti sampai melihat lawan nya hancur berkeping-keping, terutama Shine dia adalah keturu ku satu-satu nya. Jangan sampai kecolongan seperti pada putri ku.
Jika aku mendengar segores pun cucu ku terluka, aku akan membawa nya dan ku harap kau menepati janji mu," seru Tuan Zevano kemudian pergi meninggal kan ruangan itu.
Rhadika nampak mengusap rambut nya dengan kasar, dia kembali melihat kepulan asap itu. Dia juga sebenar nya takut, takut ke hilangan orang yang dia sayang untuk kesekian kali nya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Max nampak masuk dengan memegang sebuah panah.
"Apa itu?" tanya Rhadika.
Max membuka kertas yang di selip kan di dalam panah. Max memberikan surat itu ke pada Rhadika.
"Berhati-hati lah, musuh mu sudah mulai mendekat," itu adalah isi surat itu.
"Apa kalian mendapat kan jejak nya?' tanya Rhadika.
"Tidak, ledakan itu berada di luar gerbang Tuan, saat saya sampai di sana sebuah panah langsung meluncur ke arah saya."
"Apa kau mendapat kan jejak pemanah itu?"
"Ya, tapi sayang nya orang itu adalah seorang anak SMA yang di perintah kan oleh seseorang dengan imbalan uang, tidak ada jejak apa pun." Max menjelaskan secara detail apa yang terjadi di sana.
"Periksa CCTV di sekitar kejadian, semua!" perintah Rhadika.
"Baik Tuan," Jawab Max kemudian dia undur diri.
**
Ella yang sedang melihat orang yang di roof top terlihat santai berjalan santai dan melihat kejadian itu semua.
Berpikir sebentar, Ella mengingat bahwa itu memiliki sebuah teleskop kecil bergegas mengambil nya.
Ia mengamati pria itu dengan benda ke il yang ada di tangan nya. Tidak nampak sedikit pun, Hoodie yang di gunakan begitu besar, ditambah kaca hitam, hanya hidung ke wajah yang terlihat. Seperti nya sudah tua, tapi Ella benar-benar tidak pernah melihat bentuk wajah seperti itu.
__ADS_1
Ella beralih ke sekitar pria itu, dia tidak melihat apa pun yang mencurigakan, lalu ia melihat ke arah sesuatu yang bisa di jadikan penanda siapa pria itu.
Ella menurun kan teleskop nya hingga ke bawah, "Dapat, hmmm edisi terbatas. Sepatu putih dengan hiasan awan hitam," seru Ella. Kemudia dia melihat pria itu berjalan dan seperti nya akan pergi dari sana.
Si burung besi tiba-tiba terbang ke arah orang itu dan langsung menurun kan tali. "Seperti nya bukan orang biasa," batin Ella karena melihat pria itu di jemput secara langsung dengan helikopter.
"Tunggu, awan hitam? Bukan kah itu simbol klan mafia suami ku? Ya benar, siapa pria tadi?" Ella berbicara pada diri nya sendiri.
Mengetahui tidak ada jawaban, Ella lebih memilih untuk mengobati lukanya agar tidak nampak seperti baru di siksa suami nya sendiri.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar dan menghentikan kegiatan Ella. Dengan cepat wanita itu langsung mempercepat membersih kan lukanya agar tidak ada yang menyadari luka itu.
Setelah itu, Ella bergegas membukakan pintu. "Kenapa lama sekali membuka pintu nya Tante?" tanya Shine.
"Ah maaf Tuan kecil, saya tadi dari kamar mandi, setelah saya mendengar ada yang mengetuk pintu, saya langsung membuka kan nya,' seru Ella tersenyum tipis.
Shine tampak biasa saja menanggapi Ella. "Aku tidak bertanya,' jawab Shine dengan wajah datar nya.
Shine menatap sebentar ke arah wajah Ella yang di balut dengan perban kecil.
"Kenapa?" tanya Shine menatap dahi dan telinga Ella yang sedang di hiasi kain putih.
"Ahhh, ini tadi saya tidak sengaja jatuh di kamar mandi."
"itu?" tunjuk Shine pada telinga Ella. Kebetulan saat itu Ella menggulung begitu saja rambut pendek tak seberapa nya.
"Tahan emosi mu Ella. Kau tau anak kecil ini ulah daddy mu yang gila itu, cih dan ternyata adalah suami ku juga," batin Ella.
Wanita itu juga melihat wajah Shine yang tidak bersemangat. Ella yang mengetahui mood si kecil sedang buruk, dia langsung mencari cara untuk menyenangkan anak kecil itu.
"Silahkan masuk dulu tuan Kecil, apa yang ingin kau tanyakan tadi?" tanya Ella setelah menduduk kan Shine.
"Tidak ada, hanya memastikan Tante masih di sini atau tidak," jawab Shine malas.
"Owhhh," jawab Ella sambil berpikir apa yang bisa mengembalikan mood si kecil. Dia melihat dari ujung sampai bawah tubuh Shiene. "Got it," batin Ella.
"Shine, apakah tidak membosan kan dengan bajuh putih ini? Kenapa pakaian mu semuanya serba putih dan hitam. CK sangat membosan kan. Kau tau anak anak seumuran mu biasa memiliki baju yang berwarna, gambar spider man, Bat man, hahaha bahkan si Spongebob." Ella sudah berceloteh begitu panjang tapi tidak di tanggapi Shine sama sekali.
"Aku bukan anak-anak," jawab Shine.
"Ah ya, ya benar, kau bukan anak-anak," jawab Ella. Hening beberapa menit, Ella kembali membuka percakapan.
"Apakah Shine ingin ikut Tante berbelanja? Kita akan membeli baju yang membuat Shine terlihat tampan. Shine tidak pernah keluar rumah bukan?" Ella mencoba cara lain.
Shine menatap Ella dengan intens.
__ADS_1
"Baik, tapi Dad harus ikut!" jawab Shine.
"Ah, Tuan kan sangat sibuk Shine, pasti tidak bisa ikut," jawab Ella. Tentu saja Ella tidak ingin Rhadika ikut, mengganggu kedekatan nya dengan putra nya saja bukan?
"Dad tidak membiar kan aku ke luar jika dia tidak ikut," jawab Shine. Dia juga berharap bisa keluar rumah, terutama saat ini ada wanita dewasa di sisi nya, jika berjalan dia tengah orang banyak dia tidak perlu merasa iri lagi.
Yah, saat dia ajak oleh Ella tadi keluar, Shine langsung berpikir tentang anak-anak yang selalu berjalan bersama dengan keluarga lengkap nya.
"Aku hanya ingin mencoba bagaiman rasa nya berjalan dengan keluarga lengkap. Seorang anak yang meminta mommy nya di belikan sesuatu oleh putranya, Daddy tidak pernah mau berjalan dengan wanita lain," jawab Shine dengan pelan. Baru kali ini anak itu bicara dengan wajah sedih nya.
"Mommy ku sudah pergi setelah aku lahir, aku tidak pernah merasa kan kasih sayang seorang ibu. Daddy juga selalu menyuruh Shine untuk memilihkan seorang mommy, Daddy siap untuk menikah dengan siapa pun, tapi Dad mengatakan hanya mommy lah yang bisa mengisi hati nya." Shine bicara panjang lebar.
Baru kali ini seorang Shine mau bercerita ke pada orang lain bahkan Shine terlihat lebih berekspresi saat ini.
Ella yang mendengar itu merasa begitu bersalah. Yah, salah satu sumber kesedihan Shine adalah diri nya, dia lah sumber dari kasih sayang yang tidak di dapat kan oleh Shine.
Ella tidak dapat menahan air mata nya lagi.
"Maaf kan mommy Shine," batin Ella
"Apa kau terharu mendengar cerita ku? Tante adalah orang yang pertama kali mendengar cerita ku," seru Shine tersenyum miris.
Ella menghapus air mata nya. "Baik, Tante akan mengajak Dad mu ikut dengan kita belanja, Tante janji," seru Ella menghapus air mata nya sambil tersenyum manis.
"Semoga berhasil," seru Shine. Kini dia sudah lebih berekspresi dari sebelum nya.
"Mmm, Tante apa Shine boleh meminta sebuah permintaan?" tanya Shine.
Sebenarnya ini bukan lah diri nya yang sebenar nya, tapi dia adalah seorang ank kecil yang tidak bisa di hilang kan sifat ke kanak-kanak nya untuk tetap bertindak seperti seorang dewasa.
"Silahkan sayang, Tante akan mengabulkan permintaan Shine," jawab Ella.
"Boleh kah shine tidur malam ini bersama Tante?" Anak kecil itu terlihat menunduk. Shine yakin pasti akan menerima penolakan, karena dia bukan lah siapa-siapa yang meminta untuk di terima tidur.
"Sure, why not?" jawab Ella tanpa ragu. Malahan dia sangat senang. Shine menatap Ella dengan wajah senang bukan main.
Di sinilah Shine tampak sebagai seorang anak kecil.
"Terimakasih Tante," ucap Shine sambil bangkit memeluk kaki Ella.
"Apa shine mau menden omongan Tante sebentar?" tanya Ella dengan pelan sambil berjongkok di depan Shine
Anak kecil itu mengangguk pertanda setuju dan diam seperti kucing penurut di depan nya.
"Meski pun Shine menganggap Tante orang asing, Tante tidak apa-apa. Tapi jika Shine punya permintaan, punya keinginan, ingin bermain, Shine ada masalah, bahkan shine mengingin kan sesuatu minta saja hmmm, Shine boleh minta apa pun pada Tante selagi Tante bisa mengabul kan nya, seru Ella sambil mengelus kepala Shine.
Entah kenapa anak itu tidak menghindar sama sekali seperti biasa nya. Biasa nya anak kecil itu akan menghindar jika kepala nya di sentuh bahkan tatapan tajam nya adalah jurus utama nya untuk membuat orang tidak nyaman.
__ADS_1
Seorang pria yang sejak tadi berada di depan pintu menarik napas dalam ketika mendengar semua perkataan anak kecil dan wanita itu.
"Sial, apa sebenar yang di incar oleh wanita itu?" batin nya.