Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 24


__ADS_3

Pagi harinya saat Camella bangun dia merasa asing dengan keberadaannya saat ini.


"Dimana ini?" batin Rosaline.


Dia bangkit berdiri dan dan turun dari ranjang.


"Ah, kepala ku sangat pusing," ucapnya sambil memegang kepalanya.Dia hampir terjatuh lagi. Dia pusing dan tapi berusaha untuk berdiri.


Dia akhirnya bisa berdiri dan berjalan menuju balkon. Dia berusaha memutar otaknya. "Pertama aku ke bar dan bertemu Dika, dan ke dua aku minum dan aku.... Jangan bilang aku mengatakan identitas ku, oh tidak-tidak, tidak semudah itu," batin Rosaline.


"God, semoga aku tidak melakukan hal bodoh," seru Camella.


Dia langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Dia mencari ke beradaan pria yang semalam membawanya ke mansion.


Dia melihat Rhadika bersama Shine dan Aurora sedang duduk di meja makan bersama dengan pria yang di carinya.


Kesan pertama Aurora melihat Camella tentu saja tidak suka, dia memberikan tatapan sinis dan malas pada wanita dewasa di depannya.


Dia dengan jelas di depan semua orang menunjukkan wajah tidak sukanya. Aurora tampak meneliti tubuh Rosaline dari bawah sampai ke atas.


Sama seperti Rhadika, Aurora tidak menyukai cara berpakaian Camella sama sekali. "Dad, who is this. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya," seru Aurora menatap sinis ke arah Camella.


Wanita itu tampak datar dari luar tapi tersenyum dalam hati. "Kau sudah besar Rora," batin Camella.


Tanpa di undang dan tanpa di perintahkan Camella mengambil tempat duduk di samping Rhadika. Tempat itu merupakan tempat duduk Rosaline biasanya.


Awalnya Camella memperhatikan ekspresi Rhadika, namun jika di lihat, sepertinya dia tidak melakukan hal bodoh semalam.


BRAK

__ADS_1


Bukan Rhadika yang marah ataupun Shine melainkan Aurora. "Berdiri! Kau tidak Layak menempati tempat duduk mommy kami,' seru Aurora.


Dia sudah berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya sudah memerah karena sakin marahnya. Shine dia juga awalnya oke-oke saja, tapi dia melihat tingkah berani Camella menjadi kurang enak.


"Maaf, ku pikir aku bisa duduk di mana saja," seru Camella. "CK, Aurora biasa saja, Apakah orang-orang di sini sangat sensitif jika berhubungan dengan Rosaline?" batin Camella.


"Duduk di sebelah sana, setidaknya sebagai seorang tamu kau bisa bertanya terlebih dahulu tentang aturan rumah yang kau datangi. Tidak sopan." Aurora berbicara dengan datar tanpa menatap ke arah Camella.


Camella merasa gadis di depannya begitu menohok perkataan nya. "Sadis," batin Camella. Kemudian dia menatap ke arah pria paruh baya yang sedang berdiri di sampingnya.


"Paman Vill, boleh kah aku meminta makanan, aku sangat lapar," seru Camella. Tiba-tiba semua orang yang ada di meja makan itu serentak mengalihkan pandangan mereka ke arah Camella.


Ella yang sebelumnya menunduk merapikan cara duduknya mendongak karena dia merasa ada yang menatapnya. Dan benar saja Rhadika, Shine, dan Aurora menatap nya.


Sesaat dia bingung kenapa mereka semua menatapnya. "Sial, kenapa aku selalu keceplosan?" batin Camella .


"Dari mana kau tau namanya paman Vill." Rhadika meletakkan peralatan makan nya dan bertanya pada Camella. "Semakin hari semakin banyak kesamaan," batin Rhadika.


Shine dan Camella juga menunggu jawaban dari Camella. Kenapa mereka begitu menunggu jawaban Camella? Tentu saja, karena ini pertama kali wanita itu ke mansion dan sudah mengetahui nama kepala pelayan yang ada di mansion.


"Itu, itu aku...,"


"Jawab dengan benar, bukankah kau sudah dewasa," Aurora si gadis paling datar langsung menekan Ella


"Anak ini," batin Ella.


"Itu karena kemarin Clasy sempat bercerita pada ku tentang mansion ini karena aku sedang mempertimbangkan pekerjaan yang di tawarkan oleh Tuan kecil Shine," jawab Ella. Dia berhasil memutar otaknya dan mengatakan jawaban logis.


Shien dan Rora sama sekali tidak curiga, Rhadika juga wajahnya tidak datar. Namun dia menyimpan satu pion, dia mengingat dengan jelas bahwa kemarin Clasy mengatakan bahwa Ella sama sekali tidak pulang ke apartemen nya.

__ADS_1


Semua orang kembali melanjutkan makannya termasuk Ella. Shine, makanan penutup terakhirnya adalah stroberi miliknya.


Saat stroberi tersebut di bawa oleh paman Vill , Ella langsung senang. "Apa itu makanan penutup tuan kecil? Aku juga suka," seru Camella. Di hadapan Shine , Ella selalu ceria namun tidak di hadapan Rhadika.


Tapi bukan itu ya g menjadi pusat perhatian dari pria itu, dia kembali di buat terkejut ketika Ella juga menyukai stroberi. "Sial, apa yang ku pikirkan," batin Rhadika.


Dia lagi-lagi membayang kan bahwa Camella adalah sosok istri nya. Tapi dia bukanlah manusia yang mempercayai reinkarnasi.


"Jika Tante mau ambil saja," seru Shine. Dengan senang hati dan ceria, Ella mengambil sebagian stroberi itu.


"Jadi bagaimana, kau menerima tawaran putra ku?" tanya Rhadika. Ella masih tampak berpikir.


"Aku akan memberikan gaji mu sesuai permintaan mu," tambah Rhadika lagi.


"Tidak ada salah nya bukan, gaji tinggi dan pekerjaan hanya mengasuh Shine kecil, sekali mendayung dua pulau terlampaui," batin Ella.


"Deal, kau harus mampu membayar ku. Bayaran nya akan ku pikir kan nanti," seru Ros.


"Cih, jika dia memang istri ku, dia tidak akan tertarik dengan uang," batin Rhadika.


"Tapi aku punya syarat lain sesuai topik kita kemarin, aku harus menjadi sekertaris mu meskipun hanya sesekali. Aku langsung mengiyakan pertanyaan mu bukan karena tertarik dengan uang mu, tapi menyenangkan Shine. You got it Tuan Rhadika?" seru Ella mendekat dan berbisik ke telinga Rhadika.


"Sial, ternyata wanita ini sangat licik," batin Rhadika. Namun wajah nya tetap datar.


"Tapi tidak semudah itu, kau harus melewati ujian yang ku berikan," seru Aurora dengan tegas. Shine ingin berbicara namun segera di potong oleh Aurora.


"Tidak ada penolakan Shine, ini demi kebaikan mu. Apa dad ada masalah dengan keputusan ku?" tanya Aurora ke pada Rhadika. Rhadika hanya menggeleng pelan dan Shine juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


"Baik, sesuai permintaan mu tuan putri," jawab Camella dengan senyuman manisnya. Dia sudah tau kepribadian Aurora, untuk apa dia takut.

__ADS_1


"Kita lihat Nona cantik, apa kau akan berhasil melewati tantangan dan ujian berat dari ku. Jika di lihat dia memang cantik, tapi untuk apa cantik jika tidak bisa menjaga adik ku," batin Aurora sambil meneliti tubuh Camella.


__ADS_2