
Subuh sekitaran jam 2 Shine bangun dari tidur nya. Sejak tadi sebenar nya anak kecil itu tidak tidur, hanya berpura-pura saja. Situasi ini, bagi nya tentu saja sangat berat, tapi dia memilih diam saja.
Dia masih bisa mendengar sisa-sisa Isak tangis dari mommy nya. Shine melihat Ella memegang perut nya kuat.
Shine bingung, tapi dia ingat cerita Bunda nya Clasy bahwa dulu mommy Rosaline ada penyakit mag karena sering terlambat makan.
"Apakah mommy juga begitu?" batin Shine. Dia baru mengingat mereka belum makan malam.
Otak kecil Shine selalu berputar lebih cepat.
Dia menggoyang tubuh mommy nya.
"Mom,' seru Shine hingga beberapa kali. Ella terbangun dari tidur nya.
"Ada apa Sayang?" tanya Ella bangun sambil mengucek ke dua mata nya.
"Shine lapar, bisakah makan sebentar?" tanya anak itu. Ella memegang perut nya yang sebenar nya juga meminta di isi sejak semalam.
"Baik, ayo kita ke dapur," seru Ella dengan di buat pura-pura tak ada beban.
"Yah, aku bisa," batin Ella membuat bibir nya menarik satu sama lain dan tersenyum getir.
"Mommy, Apa karena daddy sudah pergi mommy akan pergi juga dari Shine?" tanya anak kecil itu ketika Ella membuat nasi goreng sederhana untuk mereka makan
Ella sebenar nya juga tidak tau memasak, tapi tentang rasa itu urusan belakangan.
Para pelayan juga sudah tidur, Ella tidak tega membangun kan paman Vill, jadi berusaha sendiri.
Setelah selesai memasak, Ella menyiap kan makanan mereka. Shine tidak menyentuh makanan yang di masak oleh Ella.
"Apa tidak enak?' tanya Ella.
"Apakah mommy mencuntai Daddy? Jika ia sejak kapan?" tanya Shine mengalih kan pembicaraan.
"Ap...a maksud Shine?" Ella bingung kenapa Shine bertanya tentang itu lagi.
"Apa mommy sedih karena kepergian Daddy? Jawab saja pertanyaan Shine mom. Shine hanya ingin mendengar jawaban itu saja."
"Mommy... mommy sebenar nya sudah jatuh cinta pada daddy mu, dan itu sudah sangat lama," jawab Ella tanpa menatap Shine. Kemudian dia dengan cepat memasuk kan makanan ke mulut nya.
"Makan lah, nanti makanan nya dingin," ucap Ella. Shine yang tau mommy nya kurang nyaman, dia memakan makanan nya juga.
Setalah itu, mereka kembali ke kamar dan tidur bersama lagi.
Ella sama sekali tidak bisa tidur lagi. Dia memilih untuk memeluk dan menepuk punggung Shine.
**
Sedang kan Max dan anggota Blac Sky sedang berjuang untuk melimpah kan lawan. Anggota dari Ghost Lion lumayan banyak dan hampir imbang dengan anggota Black Sky. Namun jumlah bukan masalah bukan?
Ternyata rencana mereka sudah di ketahui musuh saat setelah akan ke markas besar Ghost Lion, banyak jebakan menuju hutan itu yang memakan cukup banyak anggota Black Sky, tidak mati melain kan luka-luka parah yang tidak bisa di andal kan dalam berperang nanti nya. Mereka sudah berusaha, namun
Dan sial nya mereka harus kekurangan anggota dan kalau saat ini di tanya, Kelompok Max sudah mulai kewalahan dan kehabisan amunisi karena sakin banyak nya jumlah anggota Ghost Lion.
Max dan anggota lain nya langsung menuju rumah inti setelah mereka membabat habis anggota Ghost Lion yang berada di depan.
Namun saat akan membuka pintu, dua kali lipat dari sebelum nya musuh datang kembali membuat semua warga black Sky menarik napas.
"Tuan, kita kalah jumlah. Amunisi kita juga semakin menipis," ucap salah satu pengawal di sana.
"Apa itu kode yang kau beri kan untuk menyerah? Dasar bodoh," seru Max menatap tajam pria di samping nya.
"Si si alan itu, dia membiar kan ku berperang sendiri,' batin Max.
Para anggota Ghost Lion mulai maju dengan suara serentak bersorak kegirangan untuk membunuh Black Sky. Peluru kembali di muntah kan di mana-mana.
Max melihat ke arah belakang, hampir imbang dari yang di depan mereka tadi nya, Max melihat ada yang kembali datang.
"Sial, kenapa banyak sekali," seru Max. Dia mulai mengarah kan pistol nya ke arah sana.
Dan aneh nya yang di belakang mereka tidak menyerang mereka melain kan anggota Ghost Lion.
"Siapa?" batin Max Karana orang-orang yang berada di belakang ada di pihak mereka.
Earphone yang sejak tadi melekat di telinga max berbunyi.
"Bantuan sudah datang bukan? ," seru seseorang melalui earphone nya.
"Breng sek, sia lan, kenapa kau tidak memberi tahu ku sejak awal. Kenapa mereka datang tidak lebih awal. Jika aku sampai di Spanyol nanti aku akan membunuh mu," seru Max melepas earphone itu dengan kesal.
Jalan Max saat ini di permudah. Dia harus bisa segera menemu kan pria tua si Wesly itu. Biang masalah sejak dulu yang selalu mengganggu rutinitas kantor dan di markas.
Max masuk secara diam-diam dengan menghindari CCTV mencari keberadaan pria tua itu. Peta tentang markas ini sudah berada di tangan nya. Pistol yang ada di tangan Max selalu menjadi senjata paling depan.
BUG
Satu tendangan melayang di dada Max ketika akan membuka sebuah pintu mewah.
Dia di hadiahi kejutan yang lumayan oleh pria tua itu. Senjata yang ada di tangan nya terpental begitu saja
Dia melihat musuh melemas kan otot-otot nya. Dia mengerti bahwa itu adalah kode untuk berperang dengan tangan kosong. Max membiar kan begitu saja senjata nya jatuh di sana.
Max bangun dan tersenyum tipis.
"Lumayan," seru Max membersih kan debu yang menempel di baju nya.
Max mengintip ke arah salah dan ternyata si pria tua sasaran nya itu berada di sana dan duduk di kursi roda.
"Ternyata kau masih setia duduk di sana Wesly. Apa kau tidak bosan?" tanya Max dengan mengejek.
"Habisi dia!" perintah Wesly si pria tua dengan nada tinggi.
Lawan Max saat ini adalah seorang pria bertubuh besar penuh dengan tato. Otot-otot pria itu menunjuk kan kekuatan pria bertubuh besar itu.
Max mulai memasang kuda-kuda nya.
"Semoga bukan hanya tubuh mu saja yang besar," ucap Max memancing emosi musuh.
Dan benar saja pria bertubuh besar itu langsung marah dan menyerang Max membabi buta. Itu adalah tujuan Max, pria itu mengeluar kan serangan nya
Max bisa dengan mudah mengetahui tehnik yang di guna kan oleh pria bertubuh besar itu.
"Bodoh!" batin Max.
__ADS_1
Max melaku kan gerakan elakan berputar ketika pria itu dengan berlari cepat memberi kan bogeman mentah pada Max. Tepat sasaran, kaki Max mengenai wajah prai bertubuh besar itu.
Darah segar mulai terlihat di wajah lawan.
Pria bertubuh besar itu juga sudah mulai ke habisan tenaga.
"Wesly, suruhan mu terlalu mudah ku tumbang kan. Bagaimana ini?" seru Max di baut dengan suara khwatir nya.
Hal itu semakin membuat pria bertubuh besar semakin emosi. Namun sayang, tenaga tinggal sedikit tidak mampu mengimbangi Max.
Pria bertubuh besar itu mendekati Max hendak mengangkat tubuh Max, namun Max bergerak cepat dan melompat tinggi. Sasaran Max adalah kepala pria bertubuh besar itu, dia sudah mulai bosan dengan permainan ini.
KRETAK
Max melakukan gera kan mengunci di kepala pria bertubuh besar. Kepala pria itu langsung patah tulang dan mati.
Wesly tetap tenang di sana melihat anak buah nya mati di depan mata nya sendiri dengan mudah.
Max membersih kan tangan nya sebagia bentuk penutupan dari kegiatan yang lumayan menguras tenaga nya. Dia berdiri sambil Merapi kan kameja nya.
Di luar ekspektasi satu tembakan peluru di muntah kan
DOR
Satu temba kan meleset ke arah kaki Max.
"Kau terlalu meremeh kan pria tua ini Max! Kau pikir diri mu sudah menang? Tentu saja belum!" seru pria tua itu.
Seseorang kembali muncul dari salah satu ruangan yang berada di ruangan itu.
"Pengecut," seru Max. Saat ini sedang berlutut untuk mengurangi rasa sakit nya.
"Habisi dia," pinta pria tua itu.
Seorang wanita berlari ke arah pertempuran Ghost Lion dan Black Sky, dia mengendap-endap agar tidak di ketahui keberadaan nya.
"Sial, markas ini terlalu besar untuk ku periksa tiap sudut," batin wanita itu.
Kemudian dia berlari kecil, dia mencari ruangan CCTV.
"Tidak mungkin bukan masih ada yang menjaga CCTV di markas besar yang penuh darah ini.
Wanita berlari kecil menyusuri ruangan yang di temui nya, sudah hampir sepuluh ruangan dia cari namun tidak menemu kan satu pun tempat yang di cari nya sejak tadi.
Dia terduduk di lantai karena sudah lelah sejak tadi berlari ke sana ke mari. Dia menyandar kan tubuh nya entah di mana itu.
Tubuh nya terjatuh ke belakang.
"Sial, ternyata ini pintu," seru wanita itu mulai berdiri. Dia menendang pintu di depan nya.
Dia ingin keluar dari sana, namun mata menangkap benda yang ada di sana.
"CCTV," seru nya langsung mencari keberadaan orang yang ingin di bantu nya.
Tepat, dia melihat pria itu.
"Sial," batin nya ketika melihat Max tertembak dan di hadiahi satu pria lain nya untuk beradu dengan pria itu.
"Yah, aku bisa. Aku sudah sering melihat Kakak melakukan nya," batin wanita itu.
Dia berlari ke tempat yang di tuju nya berdasarkan lokasi yang di catat nya barusan.
Max mengambil taplak.meja yang ada di sana, dia merobek nya dan membungkus kaki nya yang tertembak untuk mengurangi pendarahan.
Sangat di sayang kan pria lawan Max lebih ganas dari pria sebelum nya. Pria lawan Max saat ini lebih matang jiwa pembunuh nya dari sebelum nya.
Max beberapa kali mendapat kan luka di bagian wajah maupun bagian lain.
Begitu juga dengan lawan, Max juga memberi kan luka pada pria itu.
Bisa di kata kan mereka menjadia imbang. Pukulan lawan Max lumayan berisi.
Kini mereka sedang beradu tinju, Max yang fokus untuk menyerang kelemahan lawan tiba-tiba kaki nya yang tertembak di tendang oleh lawan.
Max meringis dia langsung berjongkok. Kesempatan bagus untuk lawan, Wajah Max di tendang hingga terpental jauh ke arah dinding.
Darah segar keluar dari hidung Max. Belum lagi luka tembak yang di miliki nya mulai terasa perih dan panas karena di tendang sebelum nya. Seperti nya peluru masuk lebih dalam.
"Hahaha, ternyata hanya sebatas ini kekuatan asisten iblis itu. Ah, aku lupa dia saja sudah mati," seru pria tua itu dengan tertawa keras.
Max menyandar kan tubuh nya ke arah tembok, nafas nya sudah mulai nampak kelelahan. Bukan karena berpwa.lama dia bertarung, namun karena kami nya yang kembali mengeluar kan darah membuat dia lemas.
Namun ini bukan lah akhir dari segala nya, Max sudah biasa mendapat kan ini di pertempuran. Dia mengambil napas sejenak, dengan mulus mata nya melirik ke sebelah kanan. Tangan nya secara perlahan dan tidak di lihat oleh Wesly dan musuh nya mengambil benda yang berada di kegelapan itu. Dia memasuk kan benda itu ke pinggang nya.
Kemudian dia menarik napas dan berdiri. Kaki nya mulai pincang membuat lawan tersenyum sinis.
Sasaran lawan kali ini adalah kaki lah Max. Namun sayang, kesempatan itu tidak di beri kan oleh Max, tangan nya dengan lihai menangkis semua serangan yang di beri kan oleh lawan.
Ma w ada
NoKini, jiwa mafia itu mulai sepenuh nya keluar.
Max menyerang titik utama dari kekuatan pria itu. Pertama max menyerang otot-otot lengan lawan hingga mematah kan nya. Sebelah tangan lawan menjadi lemas tidak berdaya.
"Kita imbang bukan sobat?" seru Max melihat tangan lawan nya sudah lemah. Tangan lebihl penting buka ketika bertarung melindungi diri.
"Now, let see who is the winner," seru Max.
Dia melemas kan kau nya yang terkena tembakan untuk mendapat kan posisi yang nyaman untuk kaki nya yang sedang terluka.
"Let's start," seru Max.
Lawan Max dengan bebas mengguna ka kaki untuk menyerang diri nya. Max tidak melaku kan perlawanan sama sekali.
Sampai beberapa pukulan, Max tetap tidak melaku perlawanan namun selalu menangkis pukulan itu, jika ke arah kaki, tangan Max selalu menjadi alat utama.
Terakhir, Max yang sudah bosan memaksa kaki nya untuk bertahan dan kaki satu nya menendang dengan kuat dada pria itu.
tendangan itu bahkan terdengar oleh telinga karena sakin kuat nya.
Pria itu muntah darah dan jatuh ke lantai. Namun kembali bangkit dan meludah ke arah Max.
Max tersenyum miring.
__ADS_1
Pria itu kemudian maju lagi dan menyerang Max. "The end," batin Max mengambil ancang-ancang dan melakukan bela diri kyokushin yanh mematikan dengan tangan kosong. Max langsung meninju dengan kuat bagian jantung dari lawan nya.
BUG
Pria itu langsung tumbang dan tidak bangun lagi.
"Bagiamana pria tua?" tanya Max. Dia melihat gerakan tangan pria itu, Max mengambil pistol yang ada di pinggang nya ,namun terlambat.
Dor
Satu peluru menembus perut Max, pria itu tetap berdiri dan menekan perut nya, tangan satu nya memegang pistol dan di arah kan ke Wesly.
Wesly juga tetap mengarah kan pistol nya ke arah Max siap meluncur kan peluru nya lagi.
Zep
Sebilah pisau melayang dan tepat mengenai pergelangan tangan Wesly. Pistol yang ada di tangan nya terjatuh ke lantai.
Dor
Satu tembakan mengenai perut Wesly.
Max melihat ke arah pintu siapa yang turut serta membantu nya.
Seseorang wanita dan pria yang seumuran Wesly datang. Wanita itu berlari dan langsung memapah Max.
"Hiks, Hiks sakit kah," seru wanita itu ikut menekan perut Max yang tertembak.
"Tidak, aku bisa sendiri," ucap Max melepas kan tangan wanita yang membantu nya.
Sedangkan pria yang tadi datang bersama dengan wanita itu menggeleng kan kepala nya melihat Max yang sok jual mahal.
**
Di pagi hari yang cerah, Ella bangun dengan tidak semangat, dia tidak tidur sejak Meraka makan subuh tadi. Dia terus memikir kan suami nya. Apa se tak terduga ini semua nya terjadi. Diri nya sangat menyedih kan saat ini.
Shien juga ikut bangun membuyar kan lamunan Ella.
"Sudah bangun Son?" tanya Ella sambil mengusap punggung Shine.
Shine mengangguk, dengan serempak mereka bangun dan membersih kan ranjang kecil dengan kamar besar dan luas itu.
Hal pertama yang di lihat Ella tadi adalah foto pernikahan diri nya dengan sang suami.
Tepat pukul sepuluh pagi Ella melihat ke arah luar kaca transparan, terlihat jauh di sana banyak orang yang berbaris di dekat gerbang mansion, kemudian terdengar keributan di luar mansion yang begitu heboh.
Lama kelamaan, banyak peluru bertebaran, namun tetap masih di luar gerbang mansion mereka.
"Wahat happening mom?" tanya Shine.
"Nothing!" jawab Ella dengan tenang.
Odion dan Mike juga datang ke arah Ella dan Shine.
"Nona, Tuan kecil silah kan ikut saya, kita akan ke tempat yang persembunyian mansion. Ada sedikit masalah di luar mansion," ucap Odion.
Mereka harus terlebih dahulu mengaman kan orang-orang penting ini terlebih dahulu.
Ella langsung mengingat bahwa Rhadika pernah menunjuk kan salah satu kamar rahasia pada nya.
Dia tau pasti ada masalah besar ketika penghuni mansion mengatakan tempat persembunyian.
"Shine dengar mommy, please pergilah bersama dengan paman Odion, berdiam lah di tempat sampai mommy datang hmmm," seru Ella sambil berjongkok dan memegang hlwajah putra nya.
"How about, you mom. Shine tidak mau di tinggal sendirian lagi mom," seru Shine memeluk Ella.
"Mommy hanya membantu pasukan mansion Sayang, please," seru Ella penuh mohon pada Shine.
"Don't leave me, please," seru Shine memegang tangan Odion. Dia menurut saja ketika mommy nya sudah berjanji. Ella menunduk dan mencium kening putra nya.
Tiba-tiba dari kaca jendela transparan yang berada di samping mereka berdiri pecah karena pukulan kuat dari sebuah benda yang di gantung di helikopter.
Mike dan Odion yang melihat itu langsung melindungi ke dua nya dari pecahan kaca yang melayang di mana-mana.
Seorang pria turun dari helikopter dan mengayun ke arah mansion di mana Shine dan yang lain nya ada di sana.
Pria itu mendarat sempurna di sana.
Beberapa orang lain yang seperti nya anggota dari pria itu juga turun dari beberapa helikopter.
"Mau ke mana Nona cantik," ucap pria yang pertama masuk ketika melihat Ella hendak berlari membawa Shine.
"Stop it mom, kenapa kita harus pada nya?" ucap Shien berhenti dan tidak terima pria itu seperti merendah kan diri nya. Darah mafia yang tidak kenal takut dan pantang di rendah kan muncul dalam diri anak itu.
"Wow, anak kecil, kau sangat bijak. Tapi mungkin besok atau bahkan se puluh menit lagi kau tidak akan bisa mengucap kan nya lagi," ucap pria itu.
"Siapa kau?" tanya Ella.
"Ah Nona cantik suara mu sangat merdu. Perkenal kan nama saya Xavier," jawab pria itu.
"Apa tujuan mu?" tanya Ella lagi.
"Simpel saja, aku ingin mengambil nyawa anak kecil yang sedang kau jaga. Kau pengasuh nya bukan?" tanya pria itu.
Ella tersenyum sinis.
"Dalam mimpi mu," seru Ella dengan senyum miring nya.
"Singkir kan dua pria itu," seru Xavier menatap dingin ke arah Odion dan Mike. Pengawal itu tidak satu pun mengeluar kan senjata nya.
Mereka bermain secara gentleman.
Odion dan Mike dengan senang hati melayani para sampah yang berani nya keroyokan. lima lawan satu, lumayan lah.
Sedang kan Ella dia menyembunyi kan Shien di belakang nya.
"Beri kan anak kecil itu Nona, maka nyawa mu akan aman," seru Xavier Semakin mendekat.
"Langkahi dulu mayat ku," seru Ella.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋
__ADS_1