
"Rhadika, sialan," seru Camella di tengah rasa mabuknya. Dia masih sempat-sempatnya mengumpati Rhadika.
Rhadika mengabaikan umpatan wanita itu dan mengangkat Camella ke dalam pelukannya. Jika bukan karena putranya, Rhadika tidak akan peduli dengan Camella wanita pembuat onar di hadapannya.
"Jika bukan karena Shine sudah ku tinggalkan wanita ini," batin Rhadika. Dengan sabar, Rhadika mengangkat Shine ke dalam pelukannya.
Mengingat hal ini, Ini baru pertama kalinya setelah sekian lama Rhadika mengangkat seorang wanita dalam pelukannya.
Dia tersenyum masam ketika mengingat bagaimana manjanya sang istri ketika berada di dalam pelukannya.
Rhadika membawa Camella yang sedang mabuk ke dalam mobilnya. Entah apa yang di katakan oleh wanita itu sejak tadi Rhadika hanya abai saja.
Max yang sejak tadi memperhatikan tingkah Camella hanya menarik napas. Dia ikut serta membantu tuannya yaitu membawa tas kecil milik Camella.
Max melihat ada sesuatu yang familiar yang menggantung di tas Camella. Tas kecil itu terbuka dan membuat sebagian isinya terbuka dan sebagian lagi ada yang masih di dalam.
Max berhenti sebentar untuk merapikan tas itu, dia ingin melihat benda yang sedang menggantung di tas itu.
"Max, apa Selama itu aku harus menunggu mu?" teriak Rhadika yang sudah berjalan ke arah pintu. Tanpa pikir panjang lagi, Max langsung m masukkan seluruh isi tas Camella dan berjalan cepat masuk ke kursi kemudi.
Camella bangun dari pelukan Rhadika. Wanita itu nampak duduk di sempoyongan di samping pria itu.
Mata Camella yang masih samar mencoba menebak siapa orang yang ada di sampingnya. "Ck, kenapa selalu wajah mu yang ku lihat," sinis Camella.
"Apa masalah mu dengan ku," tanya Rhadika. Orang-orang mengatakan bahwa orang yang sedang mabuk akan lebih jujur. Itulah isi pikiran Rhadika.
__ADS_1
Camella tersenyum tipis. "Bodoh, kau masih bertanya," seru Camella. Rhadika tentunya di buat bingung, salah nya di mana? Kenapa wanita ini mengatakan dia bodoh.
"Apa yang di bandara bukan pertemuan pertama kita?" tanya Rhadika lagi. Setidaknya dia harus bisa memanfaatkan waktu sempit ini untuk mengetahui info tentang wanita ini.
"Tentu saja bukan, apa kepala mu sudah mulai rusak dan tidak bisa di berpikir lagi. Ck, otak mu kau taruh di mana," ejek Camella.
Rhadika tentunya merasa geram, namun dia masih butuh informasi yang lebih jauh dari Camella.
"Apa motif mu mendekati keluarga ku?" tanya Rhadika kembali.
"Kau pikir aku ingin mendekati mu, cih menjijikkan. Aku hanya ingin dengan Shine, catat sebenarnya aku muak melihat wajah bajingan mu. But, demi Shine aku akan bertahan untuk melihat wajah mu itu," seru Camella.
"Ada apa dengan Shine, kenapa kau bertahan demi Shine?" tanya Rhadika. Namun sia-sia, Camella langsung muntah di kameja formal yang sedang di gunakan oleh Rhadika.
"Sial, kau?" Rhadika hanya bisa menarik napas dalam. "Bukan kah wanita ini sudah minum dari tadi Max?" tanya Rhadika.
"Cih, baru minum segelas saj sudah tumbang," seru Rhadika. Namun hatinya berdetak cepat. "Bagaimana bisa sama?" batin Rhadika.
Dia juga teringat istri kecilnya yang tidak tahan dengan minuman beralkohol. Tapi Rhadika menepis prasangka yang ada dalam hatinya. "No, itu hanya kebetulan saja," batin Rhadika.
Sesampainya di mansion, Max langsung menghubungi Clasy. Max menunggu lama, dia menelepon menggunakan nomor pribadinya dan tidak di terima sama sekali oleh Clasy di seberang sana.
Max memilih cara lain yaitu menggunakan telepon mansion. Clasy yang di seberang sana tentu saja langsung mengangkat telepon itu. Dia berpikir ada sesuatu yang terjadi di mansion.
"Halo Paman Vill, apa ada masalah dengan Shine?" Clasy langsung mengklaim bahwa itu adalah paman Vill karena yang biasanya pelayan yang bisa menggunakan itu hanya paman Vill saja.
__ADS_1
"Nona Camella sedang di mansion, dia tadi mabuk dan di bawa Tuan ke sini. Tuan meminta agar kau datang ke sini dan menangani nona Camella," jelas Max.
Clasy yang sudah mengenal suara itu tanpa basa-basi hanya mengiyakan perkataan Max.
Clasy sebelumnya masih mencari benda silver miliknya, tapi dia sudah menyerah karena sudah hampir seluruh mansion di bongkar nya.
Terakhir dia melihat CCTV dan melihat bahwa wanita yang sudah dia anggap nya sebagai kakak kandung nya itu lah yang mengambil benda silver miliknya. Seperti biasa, rasa penasaran Camella sangatlah tinggi.
Dia juga sebelumnya sudah tau Camella di mana dan bersama siapa. Tapi dia harus bermain cantik untuk menghindari kecurigaan dari para mafia itu. Camella juga tau bahwa Thomas sudah pernah bertemu dengan Camella.
Yah dia harus bermain cantik tanpa mengorbankan siapapun lagi.
Clasy langsung bergegas, menggunakan mantel nya. Tujuan utamanya bukan lah Camella, tapi kalung silver itu.
Tentang Camella, dia yakin bahwa Rhadika akan menjaganya, biar bagaimana pun firasat seorang Rhadika tidak mungkin tidak peka sedikit pun sebagai seorang suami yang sangat mencintai Camella sebelumnya.
**
Rhadika membawa Camella ke salah satu kamar ruang tamu. Dia membaringkan wanita itu begitu saja di sana tanpa menyelimuti atau memperbaiki posisi Camella yang tengkurap dan masih memakai sepatu.
Dia bergegas ke kamar mandi. Dia ingin segera membersihkan kamejanya yang di muntahi oleh Camella tadi.
Dalam waktu beberapa saat, Rhadika sudah keluar dari kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi begitu saja. Tatapannya kemudian beralih ke arah ranjang.
Tiba-tiba jantungnya berpacu lebih cepat ketika melihat cara tidur Camella.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋