
Rhadika bergegas menuju markas utama. Bukan nya merasa khawatir karena penyerangan itu, namun Rhadika ingin mencari pelampiasan.
Dia tau saat ini diri nya tidak boleh dekat dengan sang istri, dia benar-benar merasa sesak hati nya.
Dika yang melihat beberapa bagian markas ada yang rusak semakin mendidih darah nya. Aura pembunuh nya itu begitu terlihat. Dengan pelan namun mata tajam nya menatap setiap musuh yang sedang melawan anggota nya.
Sedang kan Max, pria itu melipat tangan dan melihat permainan di depan nya, dia tidak akan turun tangan sebelum musuh menginja kan kaki di pintu markas utama itu.
Pria itu mulai mengangguk-angguk Kepala nya saat melihat Dika membasmi musuh seperti mencabut diri dari bunga mawar saja, hati-hati tapi selalu berhasil mencabut diri itu dari batang nya.
Para musuh sudah mulai tumbang, banyak yang sudah mati dan hanya tinggal beberapa. Rhadika melihat salah satu pria yang seperti nya adalah pemimpin perang ini lebih dominan dari yang lain.
Dika langsung menuju ke sana dan menghadapi pria itu, tidak ada banding nya. Dika langsung menggores sebuah simbol di perut pria itu. Awan, Dika langsung mengukir awan di perut pria itu satu tahap demi tahap.
Para musuh yang melihat aksi gila Rhadika merasa ngilu. Perlahan satu persatu dari mereka mulai melari kan diri, namun merak kalah cepat dari Anggota Black Sky, peluru dan pisau berlarian ke jantung dan kepala mereka.
Pemimpin musuh dari lawan mulai tumbang dan muntah darah. Dika tertawa iblis melihat penderitaan pria itu, "di mana pemimpin mu?" tanya Dika dengan dingin.
Pria itu dengan perlahan mengeluar kan sebuah surat dari dalam tubuh nya, Rhadika membaca isi surat itu. Setelah membaca surat itu, dia melempar kan kembali pisau nya pada jantung pria di bawah kaki nya.
Dika tersenyum tipis dan meremas kertas itu.
"Mereka menantang ku Max!" ucap Dika tersenyum smirk.
"Kirim hadiah ini ke pada tuan nya. Kado sebelum kita berpesta," ucap Dika.
Max hanya menunduk mendengar ucapan Rhadika, dia tau perang akan segera datang dan semoga ini lah puncak nya. Dia malas mencari tikus yang selalu bersembunyi di lubang nya dan mengorban kan anak-anak nya.
"Max, lepas kan pria tau itu! Letak kan di jalanan, beri kan hadiah di tubuh pria tua itu," perintah Rhadika dengan senyum smirk nya.
Setelah itu Rhadika kembali memasuki markas di ikuti oleh Max.
"Apa kau sudah mengirim Vidio yang ada di hotel De Luna?" tanya Rhadika.
"Sudah Tuan, tapi...," ucapan Max terhenti ketika melihat gerakan tangan Rhadika yang menyuruh nya pergi.
"Bawa saja wanita itu dan selesai kan urusan pria tua itu. Satu lagi, kirim Lily pada putri nya!" perintah Dika mulai memasuk kan disk ke laptop yang sudah ada di depan nya. Dia harus mengetahui kronologi kejadian di hotel De Luna itu.
__ADS_1
Max mengangguk dan undur diri dari sana.
"Jika Tuan ada sesuatu yang di tanya kan saya berada di ruangan depan Tuan," ucap Max kemudian undur diri.
Perhatian Dika berlatih ke ponsel yang sedang tergeletak di meja. Ingin rasa nya mendengar suara sang istri, namun dia mengurung kan niat nya dan mulai menonton salinan rekaman CCTV.
Pria itu mulai menonton detik per detik, menit per menit Vidio itu. Dia mempause kan Vidio itu ketika melihat siapa yang memukul Rosa saat itu, dia tidak bisa menebak siapa pria itu namun perawakan sangat berbeda jauh dengan Thomas.
Hal yang sama terjadi pada istri nya Ros, pertama dia melihat seorang pelayan bar menawar kan minuman lalu pingsan dan di bopong oleh orang yang sama yang membawa Rosa.
Dika kembali melanjut kan Vidio itu. Dika yakin Vidio itu terpotong karena melihat pria yang masuk bersama istri nya tidak terlihat keluar sama sekali dari kamar itu.
Dika langsung memanggil Max untuk mengetahui di mana potongan Vidio itu.
Max masuk setelah mendapat kan telepon dari Rhadika.
"Di mana potongan Vidio ini?" tanya Rhadika.
"Sudah ku duga," batin Max.
"Apa kau sudah memeriksa nya?" tanya Dika lagi.
"Sudah Tuan, saya sendiri sudah menginterogasi petugas nya. Dia benar-benar tidak mengetahui apa pun. Seperti nya ada pihak asing yang menguasai bar itu," ucap Max.
Rhadika menyandar kan kepala nya sebentar. Dia kemudian menghirup udara dengan pelan. Dia sedang memikir kan siapa yang berani mengambil rekaman itu.
Semua pihak hotel de Luna tau bahwa Max adalah salah satu pemegang saham terbesar di sana. Mereka juga tau bahwa max adalah anggota mafia yang paling di segani di Spanyol. Yah, dan mereka tau resiko nya jika melawan sedikit saja permintaan dari pria itu.
Pikiran konyol Rhadika tiba-tiba terbang ke pada Dad nya, di mana ketika dia bisa mendapat kan apa pun yang dia mau, tapi jika sudah campur tangan Dad nya segala nya tidak akan bisa dia dapat kan.
"CK, bodoh," batin Dika.
Ponsel Max berbunyi, ada notifikasi yang masuk.
"Tuan Nona Rosa sudah di berada dalam pantauan anggota kita. Saat ini berada di salah satu club," ucap Max.
"Bagus, kita ke sana," ucap Dika ucap pria itu. Wajah nya terlihat seperti manusia yang haus darah.
__ADS_1
**
Seorang wanita yang sedang tertidur perlahan membuka mata nya. Samar, wanita itu melihat ruangan yang lain dari biasa nya.
Dia langsung bangkit berdiri ketika mengingat bahwa diri nya saat ini sedang di culik. Bukan nya merasa siaga, namun wajah bingung Ros terlihat ketika melihat tempat dia di culik begitu bagus dan mewah.
"Apa-apa ini, kenapa ruangan nya sangat bagus?" tanya Ros pada diri nya sendiri. Dia teringat novel yang di baca nya yang isi nya, seorang wanita yang di culik dan di jadi kan budak nafsu, bah kan ada yang di ambil organ nya dan dia di jual atau di lelang ke orang-orang.
"Tidak, tidak aku harus kabur dari sini. Aku tidak boleh terlena dengan kemewahan ini," batin Ros. Dia melihat sekeliling nya, dia merasa sial ketika melihat dia di lantai paling atas, mustahil untuk melompat.
Ros menelusuri ruangan itu, ada satu foto yang membuat wanita itu terpaku. Ada sebuah foto yang berada di meja, seorang anak kecil yang sangat mirip dengan suami nya dan seorang pria muda yang mirip dengan anak itu.
Ros tersentak ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke di sekitar itu. Ros langsung berlari ke arah belakang pintu kamar itu.
Dia harus mengambil kesempatan untuk lari dari tempat itu.
Ros menahan napas ketika gagang pintu mulai bergerak.
Pintu mulai di buka, satu sepatu pantofel tampak memasuki ruangan itu. Ros langsung bergerak dan menendang orang itu ketika orang itu akan melangkah kan kaki nya ke dalam kamar.
Ros yang sudah mengetahui setidak nya sedikit bela diri, langsung mengangkat satu kaki nya dan menendang punggung orang itu. Di pasti kan itu adalah seorang pria karena sudah memakai sepatu pantofel.
Ros tidak memberi kan jeda, dia langsung maju dan menginjak punggung pria itu dengan kuat.
"Habis lah kau pria sialan, kau tidak akan bisa mengambil organ ku!" teriak Ros sambil memukuli kepala pria itu.
"Stop...stop it Rosaline, akh akan membalas mu!" teriak pria itu.
Ros tidak menghirau kan ucapan pria itu dan terus memukuli kepa nya. Namun Ros sadar tentang teria kan pria tadi. Dia berhenti sebentar, tapi untuk berjaga-jaga dia mengunci tangan pria itu di punggung nya.
"Rosaline? Kenapa dia bisa tau nama ku? Suara nya juga terdengar familiar," ucap Ros.
"Tentu saja familiar, lepas kan. Ah sial, kepala ku ingin pecah," ucap pria itu berteriak.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋
__ADS_1