Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 41


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa orang itu berjalan ke arah Ella. Setelah sampai di depan Ella, otnav itu diam sebentar dan menatap tajam ke arah Ella dan dengan berani mulai mengangkat tangan nya untuk menampar wajah mulus wanita di depan nya.


Tap


"Kau salah orang Lili, kau terlalu berani mengangkat tangan mu pada orang yang tidak kau kenal," seru Ella langsung berdiri dan memegang erat tangan Lili.


"Paman Vill, bawa Shine menjauh dari sini, anak anak tidak perlu melihat keakraban wanita dewasa," seru Ella tanpa mengalihkan perhatian nya dari Lily si pembuat onar.


Setelah melihat Shine sudah hilang dari pandangan nya, Ella tersenyum smirk pada Lili. "Sudah saat nya," batin Ella.


Plak


"Aku tidak mengenal mu, tapi kau berani mengangkat tangan kotor mu itu ke wajah ku. Kau pikir kau siapa?" seru Ella.


Lili merasa di injak harga diri nya di sini. Dia memegangi wajah nya yang terkena tamparan panas itu.


"Berani nya kau,,," seru Lili.


Ella tersenyum lagi. Dia benar-benar sudah keluar dari comfort zone nya yang dulu yang lembut, penyayang manja dan kekanak-kanakan nya.


Plak


"memang nya ku siapa? Apa yang harus ku takuti dari diri mu?"


"Dasar wanita gila," teriak Lili.


"Berhenti berdebat di mansion ku!" seru Rhadika. Pengawal yang melihat wajah tidak suka tuan nya langsung menyeret Lili pergi dari sana. Tidak ada pembelaan sedikit pun yang keluar dari mulut Rhadika untuk Lili.


Shine terlihat turun dari tangga setelah di ijinkan oleh paman Vill. Awal nya Shine meminta paman Vill untuk berhenti mengawasi nya meski pun di kamar, tapi setelah di rasa sudah aman tempat nya, paman Vill membiar kan si kecil keluar dari kamar nya.


"Dad, apa sudah selesai permasalahan nya. Bis Akita pergi sekarang?" tanya Shien terlihat tidak sabaran. Ella terlihat membelakangi Shine sebentar kemudian berbalik setelah menetralkan wajah nya.


"Sure, ayo sayang," seru Ella sambil memegang tangan kecil Shine dengan penuh sayang.


"Sini, biar Tante mandiin dan ganti baju Shine," seru Ella.


"Tidak, tidak. Shine bukan ank kecil lagi. Shine sudah besar dan bisa mandi sendiri," ucap Shine. Ella hanya tersenyum dan mengusap kepala anak kecil itu.


Setelah Shine pergi bersama paman Vill, tinggal Ella dan Rhadika yang berada di sana. Suasana nampak canggung, namun tidak untuk Ella.


"Cepat lah berpakaian, Shien nampak sudah tidak sabaran," seru Ella kemudian berjalan meninggal kan pria dewasa itu.


"Terimakasih," seru Rhadika menghenti kan langkah Ella di sana.


"Terimakasih karena sudah memenuhi permintaan putra ku," ulang Rhadika lagi. Baru kali ini seorang Rhadika mengatakan terimakasih pada orang yang baru di kenal nya.


"Sudah menjadi tanggung jawab ku," jawab Ella. "Karna aku adalah mommy nya," tambah Ella dalam hati nya.


Rhadika tentu mengerti akan kalimat itu bahwa memang Ella harus bertanggung jawab karena dia adalah pengasuh Shine.


**


Max sedang berkutat dengan laptop di depan nya, dia sedang dalam mode serius. Dia sebenar nya tidak terlalu tau tentang dunia peretasan, tapi yang sedang di teliti nya adalah hal sensitif yang menyangkut pemimpin klan dan calon pewaris klan pemimpin nya.


"Sial, kenapa kode nya sangat susah untuk di pecah kan," ucap Max mulai mendapat kan jalan buntu.


"Tidak mungkin bukan aku meminta bantuan Tuan? Sial," batin Max. Dia benar-benar tidak bisa memecahkan kode-kode itu karena data di dalam nya di lindungi secara berlapis-lapis.


Suara dering telepon membuat perhatian Max teralih kan. Dia melihat paman Vill menelepon nya. Max merasa was-was , jika paman Vill menelepon pasti ada sesuatu yang terjadi di mansion, memang itu adalah hal biasa.


Sebelum mengangkat telepon, Max sudah berdiri dan mengambil jas nya. Dia mengangkat telepon sambil berjalan dengan cepat


Ada apa, apa ada masalah di mansion?" tanya Max dengan cepat.


"Bukan, bukan Tuan Max, Ini tentang nona Ella pengasuh tuan kecil," jawab Paman Vill.


Langkah Max langsung terhenti.


"Katakan!" ucap Max.

__ADS_1


"Saya tadi di perintah kan oleh Nona Ella untuk memasak, dan aneh nya resep itu sama persis dengan yang pernah Nyonya Rosaline perintah kan. Memang bisa saja takaran itu sama, tapi setiap detail bumbu dan cara masak nya semua sama. Bahkan tata letak makanan di meja semua nya sama," seru paman Vill.


"Apa saya salah jika nona Camella adalah nyonya Rosaline," seru paman Vill.


"Apa kau sudah memberi tahunya pada Tuan?" tanya Max


"tidak."


"Ya, jangan beri tau siapa pun," seru Max langsung menutup telepon.


"Jika dia benar-benar Nyonya Rosaline, kenapa dia memiliki wajah yang berbeda, dan apa tujuan nya menyamar menjadi orang lain," batin Max. Dia juga saat ini merasa bingung harus meminta bantuan siapa untuk memecah kan kode pengaman identitas Camella.


**


"Tante, cepat lah. Shine sudah bosan menunggu Tante," teriak Shine dari luar pintu kamar Ella.


"Sebentar," teriak Ella dari dalam. Ella yang sudah selesai memakai make up buru-buru mengambil tas nya dan langsung berlari keluar kamar.


"Ayo,' ajak Ella ke pada dua pria beda usia di sana. Ella melangkah terlebih dahulu namun tidak dengan Shine.


"Ada apa Sayang?" tanya Ella melihat shine yang menetap di tempat nya, dia juga melihat ke arah Rhadika sebagai kode bertanya ada apa. Anak kecil itu tidak menjawab pertanyaan Ella dan terus menatap nya. Rhadika tetap diam tidak ingin melakukan apa pun.


"Bisakah Tante menggunakan pakaian yang lebih tertutup?' tanya Shine sambil melihat gaun tali spaghetti dan betap pendek nya gaun itu.


Ella melihat ke arah diri nya sendiri. Memang ini bukan lah style seorang Rosaline, tapi style Camella agar tidak mudah di kenali orang. Namun, sang anak sudah memperingati nya, itu arti nya dia sudah harus kembali ke style awal nya.


"Berikan Tante lima menit," ucap Ella lagi dan berjalan memasuki kamar nya. Beberapa saat kemudian, Ella memasuki berteriak dari dalam.


"Tuan Rhadika, bisa kah anda masuk sebentar?" teriak Ella dari dalam.


Rhadika awalan nya diam, tapi melihat Shien yang sudah mulai berubah mood nya, dia langsung masuk.


Di depan pintu Ella sudah membelakangi Rhadika agar mengancing kan gaunn nya. Tangan nya tidak sampai untuk menarik kancing tersebut.


"Tuan, tolong bantu aku menarik kan ing baju ku," seru Ella. Dengan malas Rhadika menarikz kancing itu dengan pelan.


Dia sangat enggan karena melihat punggung mulus itu.


"Tuan, saya meminta anda untuk menarik kan ing gaun saya bukan menjadi otak mesum," seru Ella setelah gaun nya sudah di bersih kan.


"Habis manis sepah di buang," batin Rhadika.


"Shine ato sayang, kita akan. menikmati Hari kita," seru Ella. Shine pun tersenyum melihat betapa bahagia nya wanita yang mulai membuat nya merasakan rasa kasih sayang seorang ibu.


"Dad, cepat lah. Berhenti menjadi seekor siput yang berjalan sangat lambat," teriak Shine juga tanpa menoleh ke belakang dan terus berjalan bersama Ella sambil tersenyum.


Ella dan Shien tampak memasuki mobil secara bersamaan. Sopir mereka adalah si max sekertaris dingin. Rhadika tampak masih berbicara dengan Odion di depan pintu mansion.


"Hai pria kutub es yang tidak pernah mencair," seru Ella menyapa Max.


"Hahaha, gelar nya sangat bagus Tante," seru Shine sambil tertawa mengejek Max. Max terdiam dan hanya fokus saja melihat Shine dan Rhadika di sana. Namun pikiran nya teralih kan oleh tawa Ella dan Shine. Dia melihat perubahan Shine yang dulu nya selalu diam dan diam kini berubah menjadi lebih berekspresi.


Ella tampak memperbaiki pakaian Shien. Mulai dari rambut nya yang hitam hingga pakaian polos nya. Dia saat ini memang benar-benar seperti seorang ibu yang selalu menjaga anak nya.


Rhadika juga melihat itu ketika berjalan dari arah sana. Dia memasuki mobil dan Shine di tengah. mobil mulai di lakukan oleh Max.


Sebuah pesan singkat masuk melalui ponsel Rhadika, dan ternyata itu dari Max. "Tuan, saya butuh bantuan dari anda setelah kalian selesai meghabiskan waktu kalian hari ini," isi pesan Max.


Rhadika menatap ke arah Max yang tetap fokus mengemudi. Hanya sebentar perhatian Rhadika teralih oleh interaksi dua orang yang di samping nya.


"Nanti, jika di mall tetap pegang tangan Tante hmm, di sana banyak pencuri anak-anak yang akan mengambil kesempatan. Mengerti!" seru Ella.


"CK, Shien sudah besar Tan, buka anak kecil lagi," jawab Shien.


"Pokok nya Shien harus tetap memegang tangan Tante," ucap Ella memegang tangan Shine.


Selama beberapa menit di jalan, isi mobil itu hening saja. Ella mulai bernyanyi dan juga di ikuti oleh Shine. Kedua orang itu tertawa bersama dan sambil bernyanyi membuat pria di samping nya merasa iri. Yah jelas iri, Rhadika tidak pernah tertawa bersama putra nya sendiri.


Setelah sampai di mall besar itu dan tentu nya milik Rhadika. Ella keluar dari mobil dan dengan cepat Shine keluar juga dan memilih menggenggam tangan Ella terlebih dahulu. kemudian memegang tangan Rhadika.

__ADS_1


Ketiga orang itu sudah terlihat seperti keluar utuh saja. Pengunjung mall sudah di kurang sebanyak tujuh puluh persen. Ingin menutup mall tidak mungkin bukan, karena itu akan mengurangi tingkat profesional mall.


"Dad, aku ingin Tante Ella menjadi Mommy ku, apakah boleh?" tanya Shine. Ella tmaapk memilih-milih pakaian ank kecil di sana.


Rhadika tampak diam dan menatap Shine.


Belum di jawab satu pertanyaan, Shien sudah bertanya lagi


"Apakah aku boleh memanggil Tante Ella mommy ku?" tanya Shien Shine lagi penuh harap. Orang tua mana yang bisa menolak permintaan anak nya yang sudah sangat berharap seperti ini.


"Lakukan sesuka mu," jawab Rhadika. Shine tersenyum dan berlari ke arah Ella.


"Mommy, tunggu Shine," teriak anak itu berlari ke arah Ella.


Ella hanya samar mendengar suara itu, namu dia melihat shine berlari dan langsung berjalan ke arah anak itu.


"Hati-hati sayang, bagaiman jika terjatuh dan terluka," seru Ella berjongkok dan mengelus kepala Shine.


"Mom, aku bukan anak kecil lagi," seru Shine dengan cemberut. "Mom," batin Ella. Hati nya merasa terharu mendengar kat situ keluar dari mulut putra nya sendiri. Dia semakin semangat untuk melakukan kegiatan hari ini.


"Dad, cepat lah," teriak Shine sambil merentangkan tangan nya ke belakang pertanda ingin di genggam tangan itu. Mau tidak mau Rhadika harus mengikuti tingkah konyol ini.


Setelah berkeliling selama dua jam, Shine memilih banyak baju dan tentu semua itu berwarna sesuai rekomendasi dari mommy nya. Sedangkan Ella hanya memilih dua pieces saja.


Kini mereka akan melakukan pembayaran. "Mom, hanya dua pieces saja selama dua jam?" tanya Shine menggeleng kepala nya. Anak kecil itu begitu heran melihat tingkah wanita dewasa di depan nya.


Ella mengangguk-anggukkan kepala nya, namun matanya membola ketika melihat banyak paper bag di depan meja kasir.


"Sayang, Jangan bialng ini semau milik mu," tanya Ella. Shine hanya mengangguk saja.


"No, no." Ella berjongkok di depan Shine.


"Sayang, dengar kan mommy, meskipun uang mu banyak bukan berati harus boros seperti ini. Ambil tiga atau empat yang kmu sukai di antara semua ini. Jika kurang kita akan beli lagi, di lemari masih banyak pakaian mu yang belum di gunakan," ucap Ella.


"Terulang lagi, ini adalah nasehat yang di berikan istri ku pada Levi ketika dia berbelan ja banyak," batin Rhadika.


Max juga mendengar hal itu. Keyakinan max semakin tinggi tentang jati diri Camella. Namun sial nya itu meretas masih sangat rendah.


Terpaksa Shine memilih beberapa paper bag saja. Namun dia tetap tersenyum karena di temani mommy nya.


Pandangan Rhadika ke pada Ella saat Inis udah semakin curiga. Namun dia tidak memiliki dasar apa pun.


Setelah mereka berbelanja, akhir nya rombongan itu menuju ke arah mansion. Ditengah jalan, mobil bagian depan yang mengawal mobil Rhadika tiba-tiba meledak.


Bom


Mobil di depan tiba-tiba meledak dan membuat puing-puing mobil itu hancur lebur.


Rhadika hanya beberapa pengawal saja. Ella juga menjadi panik dan langsung memeluk Shine untuk menenangkan anak itu.


Beberapa peluru juga di muntah kan ke arah mobil merak, dan untung nya mobil milik Rhadika adalah anti peluru. Max juga dengan cepat menyalakan pengaturan mobil untuk mematikan bom jika ada di tempat kan di dalam mobil itu. Yah semua pengawal yang ada di belakang juga menyalakan mobil anti bom itu.


"Max, Kuta akan mengelabui mereka, bawa Shine dan Ella Kemabli ke mansion, aku bisa mengatur semua ini," seru Rhadika dengan tenang.


"Tidak, aku ikut bersama mu. Max aku percaya kan Shien pada mu," seru Ros.


"Sayang, apa kau takut?" tanya Ella pada Shine.


"Tidak mom, aku bersama paman Max, untuk apa takut," jawab Shien dengan tenang.


"Maju ke depan, duduk di samping paman Max," seru Ella sambil membantu anak itu untuk duduk di depan.


"Aku tidak mengijinkan siapa pun untuk ikut dengan ku," tegas Rhadika.


"Dan aku tidak peduli," jawab Ella. Dia harus mengetahui siapa musuh-musuh klan suami nya agar bisa mengetahui siapa sebenar nya dalang di balik ini semua.


Jangan lupa like nya 😊👍👍


Panjang pun bab ini

__ADS_1


horas ✋✋✋


__ADS_2