
Camella tampak menarik tangan Clasy ke arah sudut. "Shine, mommy, eh maksudnya Tante eh, Nona, ah terserah lah. Aku ada kepentingan sebentar dengan bunda mu."
Shine menatap aneh pada Camella, wanita itu tiba-tiba seperti terkena sindrom kebodohan.
"Kenapa tidak di sini saja? Apa itu sesuatu yang berbahaya?" Apa aku tidak ada hak untuk mengetahuinya?"
"Bukan begitu Tuan kecil, ini urusan orang dewasa, dan tidak perlu di ketahui anak kecil!" seru Ella dan menarik tiba-tiba tangan Clasy tanpa mendengar jawaban Shine.
Camella tampak mencolok kepala Clasy dengan tangannya, seperti seorang mommy ke pada putrinya.
"Ahhh, sakit Camella," seru Clasy dengan keras sambil mengusap kepalanya yang di pukul oleh Clasy.
"Kapan hah? Kapan itu terjadi, kenapa kau menutupi semuanya dari ku." Ella menginterogasi Clasy yang sudah dia anggap nya sebagai adik itu dengan wajah marah.
"Sudah lama, sebelum aku masuk ke dalam mansion Tuan Rhadika. Tidak perlu di bahas lagi. Bye, aku ada urusan," seru Clasy ingin meninggalkan Ella di sana.
"Tunggu, aku belum selesai bicara. Dengan siapa?" Clasy hanya menggeleng.
"Bodoh, kau tidak tau dengan siapa pertama kali melakukannya, dan kau dengan santainya menjalani hidup mu! Bodoh."
"Apa boleh buat Kak, waktu itu aku sendiri tidak tau kronologi nya. Sudah, aku ingin ke kantor lagi Kakak ku tersayang," seru Clasy.
Ella terlihat diam sebentar seperti terlihat memikirkan sesuatu.
"Sudah, apa ada hal lain," wajah Clasy terlihat semakin kesal.
"Satu lagi, hmmm, kenapa Tuan Rhadika memanggil mu?" tanya Clasy sambil menunjuk wajah provokasinya.
"Kenapa kau bertanya? Apa kau sudah memiliki bunga bunga rasa untuk tuan Rhadika?" Clasy tampak mengalihkan pembicaraan.Tapi Clasy juga berpikir lebih jauh, bagaimana nanti jika identitas Ella terbongkar.
"Tidak, otak mu terlalu pendek. Kau pikir aku wanita yang se murahan itu? Aku ini adalah wanita jenius dan memiliki level yang tinggi."
"Cih, level tinggi. Tapi pekerjaannya hanyalah seorang pengasuh," ejek Clasy.
PLAK
Lagi-lagi Ella menokok kepala Clasy.
__ADS_1
"Diam kau, aku bisa meminta gaji ku lebih dari gaji yang kau terima, dan aku juga merupakan pemilik perusahaan tempat kau bekerja," bantah Ella tak terima di katakan sebagai orang yang lebih rendah ke dudukan nya, apa lagi orang itu adlah wanita di depannya.
"Tetap saja," jawab Clasy.
"Apakah masih lama?" Suara kecil yang sedikit di besarkan dari arah ranjang terdengar.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku sebelum nya Clasy?"
"Next time ka, aku harus pergi," seru Clasy dengan santai dan langsung pamit pada Shine.
Ella menarik napas dalam. Dia benar-benar penasaran apa isi percakapan Rhadika dan Clasy sebelumnya di ruang kerja tadi. Tapi Clasy selalu saja cari masalah dengannya. Dia juga tidak boleh terlalu menonjol Karana itu nanti bisa membuat dirinya juga dalam masalah.
**
Di sebuah mansion yang besar, seorang pria
sedang membuat Laporan ke pada atasannya.
"Ada dua kabar yang saya bawa Tuan, satu kabar buruk dan satu kabar baik."
"Kabar buruk atau kabar kabar baik. Tuan memilih yang mana."
"Semakin lama, sepertinya kau semakin kurang ajar."
Pria itu tampak sedang bercanda dengan tuannya. Jika di lihat mereka sudah seperti saura saja, bukan atasan dan bawahan.
paruh baya begitu senang dan bahagia ketika mendengar bahwa ada cucu nya saat ini tinggal di mansion Browns.
"Apa benar informasi yang kau dapatkan? Bagaimana bisa? Apakah dia benar putra dari putri ku? Bersiap! Kita akan ke mansion Browns saat ini juga."
Pria paruh baya itu tampak begitu semangat ketika mendengar bahwa dia memiliki seorang cucu yang sedang tinggal di rumah menantu satu satunya sekaligus pria yang sudah di anggap anak nya itu.
Setelah masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh pria paruh baya itu, pria paruh baya itu tampak membaca laporan yang di berikan oleh asisten nya.
"Jadi cucu ku sudah berumur empat tahun?"
"Benar Tuan."
__ADS_1
"Bagaimana dengan putri ku, apa dia juga berada di mansion itu?" Pria paruh baya itu bertanya sebelum dia membuka laporan halaman berikutnya.
"Tentang itu, anda bisa membaca di laporan halaman berikutnya Tuan." Asisten sekaligus supir yang sedang mengemudi itu merendahkan suaranya seperti ada sesuatu yang menjadi bebannya.
"Kenapa suara mu tiba-tiba seperti itu?" tanya pria paruh baya itu sambil membuka lembaran berikutnya.
"Apa? Kenapa Putri ku bisa meninggal setelah melahirkan? Bagaimana bisa? Bagaimana kronologi nya?" tanya pria tua itu dengan menggebu-gebu.
"Maaf Tuan, untuk masalah itu saya belum mendapatkan informasi," jawab sang asisten.
"Percepat, aku ingin bertemu cucu ku," seru pria itu. Dia tetap bersyukur meskipun tidak bisa bertemu dengan putrinya lagi setidaknya dia bisa bertemu cucu nya.
Pria paruh baya itu tampak merenung memikirkan kehidupannya. Yah sebelumnya dia kehilangan istrinya, dia tidak tau bahwa putrinya masih hidup, hingga kematian sang putri membuka kembali kejadian masa lalu.
Dan juga saat ini, dia mendengar masih ada keturunan yang di tinggalkan untuk nya yaitu cucu nya. Dia berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kedua kali untuk memiliki keluarga lagi.
Wajah pria paruh baya itu tampak mengeras. Yah, meskipun dia harus berhadapan dengan ketua mafia black Sky, dia tidak akan takut ataupun semacamnya.
"Sudah cukup putri ku sebagai korban nya, cucu ku tidak akan," seru nya dengan suara rendah dan dingin. Asisten sekaligus supir yang berada di depan tidak ingin buka suara lagi. Dia tau, meskipun sudah dekat dengan tuannya, dia tidak boleh sembarangan buka suara di waktu tertentu.
Tak terasa sudah melewati beberapa waktu dalam perjalanan, pria paruh baya itu nampak memasuki mansion dengan wajah garangnya. Tidak ada wajah ramah sedikit pun yang tercetak di wajah itu.
Max yang baru saja turun dari ruang kerja Rhadika melihat kedatangan orang yang paling di hormati tuannya terdiam. Yah, dia sudah bisa menebak apa tujuan pria paruh baya itu.
"Halo Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Max bergerak l big dulu, bukan dia takut atau ingin cari muka, tapi dia ingin mengawali permasalahan atau apa pun itu dengan kepala dingin. Dia adalah seorang anggota mafia yang bisa menghadapi musuh-musuh dengan startegi apa pun, tapi ini dalam keadaan yang berbeda.
"Aku tidak butuh celotehan mu Max, tanpa ku jelaskan kau pasti sudah tau apa maksud kedatangan ku bukan? Apa perlu ke jelaskan pada betapa bodohnya aku baru mengetahui ini semua?"
Max hanya tak bisa buka suara lagi, dia tau posisi ini adalah salah untuk ikut campur dengan urusan kekeluargaan keluarga Browns.
Bertepatan dengan itu paman Vill datang dan menyapa Tuan Zevano.
"Panggil tuan mu sekarang," seru Zevano.
Paman Vill tanpa pikir panjang langsung undur diri dan pergi menuju ruang kerja.
"Max, di mana cucu ku? Aku akan membawanya!"
__ADS_1