Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 27


__ADS_3

"Beritahu aku apa masalahmu! Jika kau diam seperti ini, bagaimana aku menemukan solusinya?" Inilah seorang Radika orang yang tidak pernah merendahkan dirinya di depan orang lain tapi di depan putranya dia seperti orang lemah yang tidak memiliki kekuatan dan kuasa dan satu lagi Radika akan seperti ini di depan istri kecilnya Rosaline.


Shine terlihat mengeluarkan beberapa lembar kertas dari bawah bantal tempat tidurnya. Dia melempar beberapa kertas itu begitu saja di depan dad nya.


Beberapa lembar kertas itu berhamburan di kaki Radhika. Dia awalnya bingung kenapa Shine lagi-lagi marah kepadanya dan ternyata itu tentang istri kecilnya. Dia menunduk dan mengambil kertas itu dia membaca secara sekilas.


Yah, itu adalah surat yang di tinggalkan oleh Rosaline. Rhadika lupa untuk menyimpan surat itu dan akhirnya di temukan oleh Shine


"Apa kau pantas disebut sebagai seorang Dady? Lagi-lagi kau membuatku kecewa Dad. Aku sudah berusaha menerima diri mu sebagai suami dari mommy ku tapi semakin hari semakin membuatku muak saja," seru Shine. Aura dingin dan tatapan tajam di layangkan anak kecil itu pada daddy nya sendiri.

__ADS_1


"Berhentilah membahas orang yang sudah tidak ada Shine, lihat ke depan dan berkembang lah. Jangan selalu melihat ke belakang, karena orang yang selalu katakan dan selalu kau singgung sudah tiada dan seberapa besar apapun usaha mu untuk mengingat dia, menangisi dia, dia tidak akan kembali. Dan sebesar apapun kau menyalahkan ku, lagi-lagi itu tidak akan membuat dia kembali dan tidak akan merubah apapun.


"Apa kau pikir hanya kau yang sakit setelah kehilangan istri ku, kau masih memiliki ku sebagai daddy mu, kau masih memiliki bunda mu Clasy dan ayah mu, sedangkan aku, aku hanya sendiri. Aku hanya sendiri menghadapi takdir kehidupan ku sendir tanpa dukungan dari wanita yang ku cintai."


BUG


Rhadika meninju kaca besar di sampingnya. Itu adalah bentuk pelampiasan kemarahannya. Terlihat tangan itu mengeluarkan darah segar, sepertinya pria itu memang mengeluarkan seluruh tenaganya.


Kesabaran Rhadika tentang dirinya yang selalu di salahkan lagi dan lagi sudah mencapai batasnya. Jika di tanya apa dia tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri, tentu saja pernah dan selalu, tapi apa yang harus dia lakukan, dia juga bukanlah tidak berusaha saat itu.

__ADS_1


Rhadika keluar dari ruangan itu dan menutup kasar pintu itu. Saat Rhadika keluar, dia juga melihat Camella di sana diam mematung, membuat emosi Rhadika semakin memuncak, namun ketika Ella mendongak dan melihat wajah marah dan memerah Rhadika.


Camella terlihat takut meskipun sudah di bentengi dengan wajah dinginnya. Namun mata seseorang tidak lah bisa berbohong, mata itu menampakkan rasa ketakutan yang tinggi. Terutama saat dia menunduk tadi dan melihat darah segar mengalir dari tangan itu.


Entah mengapa, melihat mata itu, Rhadika tiba-tiba menurun amarahnya. Tapi dia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa langkah maju, Rhadika menghentikan langkahnya.


"Ingat batasan mu, kau adalah seorang pelayan. Dan kau harus manaati aturan pelayan di mansion ini, dan tau diri lah akan posisi mu" seru Rhadika tanpa berbalik lalu pergi tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


Tentu saja Camella tidak terima di katakan seorang pelayan, tapi melawan di keadaan seperti ini sama saja dengan cari mati.

__ADS_1


jangan lupa like nya 😊


Horas ✋


__ADS_2