Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 48


__ADS_3

Setelah terdengar pintu kamar tertutup, Ella bersiap dan langsung berguling ke arah samping


Tidak lupa Ella memegang selimut untuk menutupi tubuh nya. Dia berdiri dan langsung berlari ke arah walk in closet.


Dengan cepat dia mengunci pintu itu. Dia berpikir bahwa dia akan selamat dari pria itu karena sudah berada di ruangan yang berbeda.


Rhadika yang melihat itu tersenyum tipis.


"Dasar anak kecil," ucap pria itu. Dia melihat ke arah perut nya.


Dia merasa ngeri melihat luka yang ada di perut nya. "Apa kuku nya seperti kucing,' batin Rhadika. Yah, perut Rhadika terlihat mengeluar kan darah, meski pun tidak banyak, tapi itu lumayan mengeri kan di lakukan oleh wanita yang biasa nya tampak selalu dingin pada nya.


Dia bangkit berdiri dari tempat tidur dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai. "Jika kamu bertahan semenit saja di ranjang akan ku habisi kau," batin Rhadika melihat ke arah walk in closet.


Dia kemudian tersenyum tipis. Dia baru sadar, ternyata Ella berhasil memasuk kan pin kunci walk in closet. Bahkan hanya sekali klik tanpa ada kesalahan. Yah, itu adalah tanggal pernikahan mereka.


Rhadika berjalan ke arah walk in closet dan membuka pintu dengan santai nya. Di sana Ella yang sedang mengguna kan baju buru-buru mengguna kan baju santai dengan asal-asalan.


"CK, bajumu terbalik," seru Rhadika berjalan ke arah lemari milik nya.


"Kenapa kau masuk? Bukan kah tadi kau melihat aku masuk terlebih dahulu?" seru Ella.


"Apa aku perlu izin masuk ke ruangan milik ku sendiri?" tanya Rhadika. Dengan santai nya pria itu melepas handuk milik nya dan berganti pakaian di depan Ella dengan santai.


"Dasar mesum," seru Ella sambil menutup mata nya. Namun setelah Rhadika mengguna celana formal nya, Ella membuka sedikit hari nya. Dia tidak mang terlihat munafik akan keadaan saat ini.


"Kau bebas melihat nya, bahkan semalam kau menjelajahi nya sampai puas,' seru Rhadika mendekat ke arah Ella.


"Ingin melihat sesuatu?" tanya Rhadika mendekat ke arah Ella. Wanita itu mundur hingga mentok ke dinding ruangan itu.


Ella menolak dan tetap menutup mata nya. Dia bisa menebak apa yang di laku kan Rhadika, pasti nya hal mesum bukan? Itulah yang dipikir kan Ella.


Rhadika tidak memaksa. Salah satu jari nya menyentuh salah satu perut sixpack nya. Kemudian Rhadika mengarah kan hari itu ke tangan Ella yang menutup wajah nya.


Ella merasakan sesuatu yang basah mengenai tangan nya membuka mata secara perlahan. Pertama kali yang di lihat Ella adalah dada bidang pria yang sering melaku kan hal mesum pada nya.


Ella seketika terbengong. Sudah lama dia tidak merasakan dada bidang itu, bahkan menyentuh pun tidak. "Aish, apa yang ku pikir kan?" batin Ella. Pandangan nya turun ke arah perut Rhadika.


Sontak dia kaget, dia melihat ada darah di perut Rhadika. "Kenapa?" tanya nya lagi tidak peduli kedekatan nya dengan Rhadika


Biasa nya dia akan menghindar, tapi kali ini tidak.


"Kenapa bisa berdarah?" tanya Rosaline sambil menyentuh perut Rhadika.


"Tadi ada wanita yang masuk ke dalam pelukan ku dan menyebab kan luka ini. Wanita itu tidak bertanggung jawab," seru Rhadika ingin mengguna kan kameja nya.


"Stop, tunggu dulu," seru Ella. Dia baru sadar, dia melihat ke arah kuku nya yang panjang. Karena sakin marah nya tadi, seperti nya kuku nya yang panjang menancap di perut suami nya.


"Maaf," seru Ros menunduk.


"Aku akan mengobati nya, jangan memakai kameja dulu," seru Ella membawa Rhadika keluar dari walk in closet menuju kamar. Lagi-lagi Ella menunjuk kan jati diri nya. Dia langsung mengambil kotak P3k tampan bertanya letak nya pada Rhadika.


Ella membersih kan luka itu dengan telaten. Ternyata benar, setelah Ella mensteril kan luka itu, tancapan bebrapa kuku jari nya tercetak jelas di sana.


Rhadika memperhati kan wajah Ella yang sama seperti Rosaline yang dulu jika melaku kan kesalahan. Mereka sama, wajah nya akan seperti wajah penuh bersalah yang tinggi.

__ADS_1


Rhadika teringat sesuatu. "Apa kau sudah pernah melahir kan atau memiliki anak?" tanya Rhadika. "Jangan bilang tidak Baby," batin Rhadika. Rhadika takut jika suatu saat nanti jika Shine mengetahui mommy kandung nya Ella tidak akan mengakui nya. Itu sama saja Rhadika tidak berhasil mengembali kan istri kecil nya.


"Apa kau begitu penasaran tentang kehidupan pribadi ku. Kau harus membayar lebih jika ingin mengetahui masalah pribadi ku. Aku adlah wanita yang gila uang," jawab Rosaline santai.


Rhadika semakin intens menatap Ella.


"Aku tau kau tidak suka uang, kau suka kenyamanan dari orang yang kau sayang. Aku melihat ada jahitan di perut mu, di mana anak mu? Itu arti nya kau sudah pernah menikah bukan?" tanya Rhadika.


Ella membalas tatapan intens Rhadika. "Kenapa dia tau aku membutuh kan itu," batin Ella. Satu lagi, dia tidak bisa lagi mengelak karena bekas jahitan di perut nya.


"Benar, aku sudah pernah menikah dan memiliki anak.Jika bertanya tentang anak ku, dia tinggal bersama suami ku. Ahh, dan satu lagi aku belum bercerai dengan suami ku. Apa kau saat ini mulai tertarik dengan ku Tuan Rhadika. Ah, itu mungkin akan sangat sulit bagi mu untuk mendekati ku" seru Ella tersenyum penuh arti.


Rhadika terdiam sesaat. Dia tiba-tiba mendekat kan wajah nya ke arah Ella. "Benar, aku tertarik ke pada mu, bahkan aku ingin memiliki mu. Kebencian yang ada di hati mu akan ku kikis secara perlahan. Dan tentang suami mu, aku yakin diri ku sama dengan diri nya yang ingin memiliki mu" ucap Rhadika kemudian berdiri dan mengguna kan kameja nya.


"Kita makan, aku akan pergi ke kantor. Titip Shine, dia sudah menganggap mu mommy nya bukan?" seru Rhadika merapi kan lengan kameja nya.


Ella diam tidak berkutik di tempat nya. Dia tidak mengerti maksud dari Rhadika yang mengata kan suami nya yang dulu sama seperti diri nya. Dan Kenapa tiba-tiba mengatakan bahwa dia adalah mommy Shine. Pikiran itu buyar ketika mendengar ucapan Rhadika lagi.


"Aku tidak bisa memakaikan dasi ku," ucap Rhadika memegang dasi mahal nya. Ella mengingat itu adalah kegiatan nya setiap pagi. Dia mihat ke arah m ja rias yang sama persis letak nya seperti di kamar Shine..Itu adalah tempat duduk nya saat akan menuju memakai dasi Rhadika sejak dulu.


"Lakukan sendiri," seru Ella berdiri dan meninggal kan Rhadika ke luar dari kamar itu. Dia merasa sedih karena dengan mudah nya Rhadika melupa kan diri nya yang dulu.


Rhadika merasa terusik dengan reaksi Ella yang seakan ingin menangis. Dia juga ikut keluar dan menuju ruang makan di mana Ella ada di sana.


"Mom, apakah mommy sudah mulai menyukai daddy? Itu arti nya Shine akan mempunyai keluarga yang lengkap. Tenang saja Mom, aku akan ijin ke Mommy Rosaline. Mommy Rosaline tidak akan marah kan mom? Apa Shine egois karena meminta daddy untuk menikah? " tanya Shine merasa bersalah.


Ella yang mendengar itu menghenti kan kegiatan nya. Bagaimana diri nya marah? Seharus nya dia lah yang meminta maaf pada anak itu.


"Tidak Son, Mommy Rosaline tidak akan marah. Dia justru akan bangga dan senang melihat putra nya tumbuh dan dewasa dalam memilih kebahagiaan keluarga nya," jawab Ella.


"Ahem, aku sudah datang," seru Rhadika. Namun mata nya menatap intens ke arah Ella. Dia mendengar pertanyaan Shine tadi.


Mereka akhir nya makan. Tempat duduk Ella adalah tempat duduk di mana Rosaline yang dulu duduk untuk melayani suami nya. Beda nya sekarang adalah Ella harus melayani dua orang, yang satu bayi besar yang tidak bisa mengambil makanan nya sendiri dan satu lagi bayi kecil yang sangat antusias untuk makan.


Mereka semua makan dengan ocehan Shine yang di henti kan oleh Rhadika agar tidak berbicara saat makan. Setelah semua nya selesai, Shine mulai buka suara.


"Bagaimana pertanyaan ku tadi Dad?" tanya Shine dengan antusias.


Rhadika melihat ke arah Ella, begitu juga sebalik nya. "Aku sedang berusaha," jawab Rhadika singkat.


Tiba-tiba Max muncul dan menghadap ke arah Rhadika. "Katakan!" seru Rhadika.


"Klien yang dari Indonesia datang Tuan, ingin membicarakan proyek kerja sama kita," seru Max.


Rhadika mengerti dan kemudian berdiri. Dia mengambil dasi nya yang belum terpasang.


"Daddy akan pergi, bersikap baik lah ketika bersama mommy mu," seru Rhadika hendak pergi.


"Dad, wait a minute." Shine berlari kecil ke arah Daddy nya dan mengambil dasi dari tangan daddy nya kemudia berbalik ke arah Ella. Dia juga harus bisa membuat Daddy dan Mommy nya dari hal-hal kecil bukan?


"Mom, seorang pria akan lebih tampan jika memakai dasi," seru Shine memberi kan dasi itu ke tangan mommy nya.


Ella melihat ke arah Rhadika. "Tapi... Mommy..."


"Mendekat lah Dad," seru Shine menarik tangan daddy nya yang besar.

__ADS_1


"Cih, iblis kecil ini pintar juga sudah memanfaat kan situasi," batin Rhadika.


Rhadika yang lebih tinggi sangat susah untuk Ella. Kebiasaan Rhadika secara spontan keluar.


Dia mengangkat tubuh Ella ke atas meja makan. Ella mengingat kegiatan nya dulu. Dia tidak terima, ingin marah, tapia palah daya melihat anak kecil yang berdiri di sana dan menatap nya.


Dengan telaten Ella memakai kan dasi itu di kerah Rhadika. "Terimakasih," ucap Rhadika kemudian pergi dari sana.


Setelah sampai di mobil, Max dengan cepat mengemudikan mobil nya keluar dari gerbang. "Katakan, ada apa," seru Rhadika.


Dia tau ada sesuatu yang penting. Max tidak mungkin mengganggu diri nya ketika makan hanya karena masalah proyek. Dan terlebih lagi Rhadika sudah membaca jadwal nya tidak ada proyek dari Indonesia.


Max memberi kan iPad milik nya pada Rhadika. "Kita harus terlebih dahulu menyelesai kan tugas kantor terlebih dahulu Tuan, baru kita bisa ke sana. Sisa nya Odion bisa mengambil alih Tuan,' ternag Max.


Rhadika membaca data itu dengan teliti.


"Baik, malam ini juga kita akan menyelesai kan tugas kantor dan memulai perburuan," jawab Rhadika menutup iPad itu.


Dia menyandar kan kepala nya ke belakang. Dia menutup mat sejenak. "Bagaimana dengan hasil tes DNA itu Max, kapan?" tanya Rhadika.


"Seharus nya bisa tiga hari Tuan. Tapi lebih akurat jika kita menunggu satu Minggu. Jadi saya memutus kan menunggu satu Minggu saja."


Rhadika menutup mata kembali. Hari-hari berat sekaligus menyenang kan akan di mulai kembali.


Satu hari berlalu, Rhadika dan Max berjuang menyelesai tugas itu. Rhadika harus menyelesai kan timpu kan tanda tangan, sedang kan Max harus menyelesai puluhan laporan.


Tepat pukul sebelas malam, Rhadika dan Max meninggal kan kantor. Rhadika mengata kan akan pulang terlebih dahulu.


Setelah sampai di mansion, Rhadika menuju kamar Shine. Dia membangun kan anak kecil itu.


"Shine, wake up," bisik Rhadika. Anak itu secara perlahan bangund Ari tidur nya.


"Ada apa Dad?" tanya Shine, tapi mata nya belum terbuka sepenuh nya.


Rhadika menduduk kan Shine. "Dengar, Daddy ada perjalanan bisnis selama seminggu. Apa kau akan ikut atau tetap di mansion bersama mommy Ella?" tanya Rhadika.


Biasa nya jika Rhadika pergi lama, dia akan menawar kan ikut atau tidak ke pada putra nya. Dia tidak bisa egois meninggal kan putra sendiri demi bisnis, setidak nya Shien tidak akan sendiri di mansion karena perintah nya.


"Dad, aku sudah memiliki mommy, just go," seru Shine kembali tidur. Niat hati baik ingin mengajak, Rhadika justru mendapat kan diskriminasi dari putra nya. "CK, seperti nya dia lebih menyayangi mommy nya. Darah memang lebih kental dari air," batin Rhadika. Dia mencium pipi anak nya yang seperti nya langsung tertidur lelap.


Kemudian dia berjalan ke kamar Camella. Kebiasaan tidur itu tidak berubah sama sekali. Rhadika membenar kan selimut Ella yang sudah mulai turun dari dada nya.


Rhadika juga membenarkan rambut Rosaline yang saat ini sudah tidur telentang. Lampu tidur yang berada di samping ranjang itu menyinari wajah imut Ella.


Rhadika tersenyum tipis. Tangan nya terulur menyentuh wajah yang sudah berbeda namun dengan pribadi yang sama itu "Baby Rosaline, aku pergi sebentar. Jaga putra kita," seru Rhadika. Dia mencium pipi Rosaline. Rhadika tidak tahan jika hanya mencium pipi istri kecil nya. Benda kenyal yang sejak tadi terbuka langsung di tutup Rhadika dengan bibir seksi nya.


Merasakan Ella ada pergera kan Rhadika langsung melepas tautan bibir nya dan dengan cepat keluar dari kamar itu. Dia seperti maling yang akan tertangkap saja.


Max yang selalu siaga akan waktu sudah berada di depan kamar Rosaline.


"Cih, apa kau tidak bisa memberi kan aku waktu sebentar? Bagaimana jika aku mengajak istri ku ber cin ta, aku rasa kau sudah menghenti kan per cin ta an kami," seru Rhadika sambil berjalan. Max hanya biasa saja.


"Saat nya berburu mangsa," batin Rhadika mengguna kan jubah hitam nya.


Janga. lupa like nya 😊👍👍

__ADS_1


Horas ✋✋✋


__ADS_2