Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 7


__ADS_3

Setelah semua barang-barang milik Rhadika di turunkan dari kamarnya sendiri, Shine tampak tersenyum. "Kau tidak pantas Dad menempati kenangan peninggalan mommy ku," batin Shine tersenyum smirk.


"Like father like Son," batin Clasy. Felice dan juga Levi yang melihat tingkah anak itu juga merasa heran. Tapi mereka tidak bisa mengatakan apapun karena mereka tau temperamen Rhadika turun ke pada anak kecil itu.


Mereka tadi juga ikut pulang ke mansion setelah mendengar Shine juga pulang ke mansion. Mereka ingin mencoba dekat dengan anak itu.


"Shine, nanti dady marah. Jika dad pulang, dia akan selalu masuk ke kamar. Daddy mengatakan melihat kamar itu sama dengan mengenang mommy Ros," seru Aurora berusaha mengingatkan adik barunya itu.


"Aku tidak peduli Kak," seru Shine. Aurora hanya bisa pasrah saja.


Shine turun ke bawah bersama dengan Clasy yang di sampingnya. "Shine tidak boleh seperti itu sayang, bagaimana nanti jika daddy mu marah?"


"Bunda, bukankah bunda akan membuka cabang baru di Spanyol?" tanya Shine mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya.


Clasy yang sudah tau maksuda dari cara Shine mengalihkan pembicaraan hanya bisa mengangguk saja. Dia tau itu adalah kode shine untuk mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas topik itu kembali.


"Baiklah, Bunda akan pergi. Kau bersama ka Rora dulu," ucap Clasy ingin mengusap kepala Shine. Anak kecil itu menghindar dan menatap tidak suka pada tangan bundanya.


"Baik, baik Tuan kecil," seru Clasy mengerti akan tatapan itu. Dia menarik tangannya yang sudah menggantung di udara.


"Levi, Felice, Rora, saya titip Shine, aku harus mengurus cabang perusahaan dulu," ucap Clasy. Kemudian dia pergi dan meninggalkan mansion itu.

__ADS_1


Shine berjalan mengantarkan bundanya ke arah depan pintu. Setelah itu, dia pergi menuju sofa di ruang tamu.


"Shine, mmmm, kau tidak ingin berkenalan dengan aunti? Nama aunti adalah...," ucapan Felice terpotong.


"Aunti Felice, adik kandung satu satu nya dari daddy." Shine langsung memotong ucapan dari auntinya. Namun wajahnya datar saja tidak seperti wajah garangnya tadi saat bersama kakaknya Rhadika.


"Ck, ternyata kebiasaan itu turun dari Kakak ipar," batin Felice, namun dia tetap tersenyum menunjukkan keramahannya ke pada sang ponakan yang baru menunjukkan diri setelah umur beberapa tahun baru muncul.


"Bagaimana dengan uncle. Apakah kamu sudah mengenal uncle tampan mu satu-satunya ini," ucap Levi bergaya cool.


Shine yang melihat itu hanya acuh saja. Dia menatap tidak suka pada unclenya. Levi merasa terhina dengan wajah tidak mengenakkan itu.


"Shine, ini tidak adil, kenapa kau tidak suka dengan uncle?" tanya Levi.


"Uncle selalu memarahi mommy ku ketika menghabiskan stroberi milik uncle. Uncle juga selalu mengerjai mommy ku. Musuh mommy ku adalah musuh ku juga," jawab Shine dengan malas.


"Ck, sifat kakak ipar menang turun pada anak ini," batin Levi.


Malam harinya Rhadika pulang ke mansion dan segera mencari sang putra. Namun begitu ingin memasuki kamarnya di mana putranya ada di sana, Rhadika melihat semua pakaian dan barang-barang miliknya berada di luar.


Dia kemudian turun ke bawah dan memanggil paman Vill. Wajahnya saat ini sudah berubah menyeramkan. Paman Vill yang melihat wajah itu keringat dingin.

__ADS_1


"Siapa yang berani memasuki kamar ku. Aku akan membunuhnya," seru Dika dengan dingin.


"Para pelayan Tuan," jawab paman Vill dengan menunduk.


"Kumpulkan mereka, dalam lima belas menit!" perintah Rhadika. Para pelayan yang bertugas sebelumnya berkumpul di depan Rhadika.


"Ambil cambuk dan cambuk mereka sebanyak sepuluh kali," perintah Rhadika menatap tajam ke arah para pelayan.


Para pelayan itu hanya diam saja tidak memberikan komplain apapun. Perkiraan mereka sesuai dengan sebelum mereka membersihkan kamar itu bahwa mereka akan di berikan hukuman juga meskipun sudah melakukan segala perintah.


Dengan cepat paman Vill bergerak dan membawa cambuk.


Satu pelayan menunduk ke lantai dan memberikan punggungnya secara sukarela.


"Cambuk!" perintah Rhadika.


Paman Vill mengangkat cambuk tersebut.


"Benarkah Dad? Aku yang memerintahkan mereka! Apa kau keberatan Dad?" Shine turun dari tangga dengan santai dan memasukkan tangannya ke dalam saku.


Jangan lupa likenya 😊😊😊👍👍

__ADS_1


Horas ✋


__ADS_2