
Pagi hari nya Rhadika terbangun tidur nya, dia melihat sekeliling. Kepala nya terasa pusing dan berat, samar dia mendengar seorang wanita sedang menangis tersedu-sedu.
Rhadika melihat siapa wanita itu? "Sh*it apa yang terjadi?" ucap Rhadika sambil memegang kepala nya ketika dia melihat tubuh nya sedang telanjang.
Dia menyibak kan selimut dan melihat noda darah di sana. "Damn it," ucap Rhadika. Dia dengan cepat mengguna kan pakaian. Kepala nya masih pusing, tetapi melihat ponsel nya terus menyala dia langsung membuka ponsel nya.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Max.
Dia benar-benar sial saat ini. Dika melihat dengan jelas wajah wanita yang sedang menangis itu.
"Tunggu di sini!" perintah Dika dengan dingin.
Dika langsung keluar dan melihat Max di sana.
BUG
"Apa yang terjadi Max sialan," ucap Rhadika marah. Apa dia benar-benar telah mengkhianati istri nya dan merusak wanita lain. Dika dengan marah memukul perut Max.
Pria itu tetap berdiri dan tidak mengeluh sama sekali.
"Maaf Tuan, saya kecolongan," ucap Max penuh rasa bersalah. Tidak sampai di situ Max kembali berlutut.
"Saya siap menerima hukuman apa pun Tuan, bah kan jika nyawa saya menjadi taruhan nya," ucap Max sambil berlutut dan menunduk di hadapan Rhadika.
Rhadika mengusap rambut nya kasar. Jika seperti ini, pasti ada kesalahan besar yang di laku kan oleh Max.
"Kesalahan apa Max?" tanya Dika benar-benar pasrah.
"Nyonya ada di kamar sebelah Tuan," ucap Max. Dika yang mendengar itu langsung berjalan ke arah kamar samping nya.
Begitu terkejut nya Rhadika melihat istri nya sedang tidur di sana. Namun aneh nya, mereka tidak melihat seorang pria di sana, bah kan bekas baju seorang pria pun tidak ada.
Max juga ikut masuk namun dia berbalik tidak melihat ke arah ranjang.
Dia langsung menelusuri ruangan itu, hingga kamar mandi tapi tidak menemu kan apa pun.
"Nona meminum obat peran gsang Tuan dan di bawa oleh seorang pria," jelas Max dengan tegas. Dia sudah benar-benar siap jika di hukum mati sekali pun. Dia tetap harus bertanggung jawab.
Titik terendah seorang Rhadika adalah ketika melihat istri nya sedih, terutama ketika mengetahui hal buruk ini bahwa orang lain telah menjelajahi tubuh nya.
Dika tau jika Ros mengetahui diri nya sudah di jamah oleh pria lain, wanita itu tidak akan memaaf kan diri nya sendiri.
"Apa yang harus ku laku kan," ucap Dika frustasi. Dia tidak ada pilihan lain.
"Cari pakaian wanita yang sama persis seperti ini, suruh pelayan hotel memberi kan sprei baru, dan satu lagi Max bawa obat penghilang bekas sialan ini. Laku kan cepat, kita tidak ada waktu Max," ucap Rhadika melihat kissmark itu.
Max langsung melaku kan perintah Rhadika
Dika berusaha berpikir apa yang akan dia kata kan jika wanita yang sedang telanjang bulat di dalam selimut itu terbuka.
Kissmark yang jumlah nya begitu banyak jelas-jelas tercetak di sana.
Rhadika semakin berdetak jantung nya ketika merasa kan pergera kan istri kecil nya.
Untuk Mengantisipasi, Dika memilih tidur di samping sang wanita.
Rhadika mencium aroma yang familiar dari ranjang itu.
Dika Semakin mendekat kan Indra penciuman nya ke arah sprei, "kenapa aroma nya seperti aroma ku," batin Rhadika.
Rhadika tidak bisa memasti kan apa kah semalam Ros telah di perkosa atau tidak karena mereka tidak menemu kan laki-laki di ranjang Ros. Jika wanita itu merasa kan sakit di pinggang nya itu berarti Ros telah di jamah pria lain
Max yang sudah datang membawa pakaian yang sama dan sprei yang baru langsung memberi kan benda itu pada Rhadika.
__ADS_1
Pria itu langsung memakai kan pakaian Ros yang serba tertutup itu dengan cepat. Dika terpaksa menutup mata tentang kissmark yang ada di seluruh tubuh wanita itu, hati nya begitu panas tapi apa boleh buat. Dia harus bisa meredam amarah nya kali ini.
Setelah memakai kan pakaian Ros, Max yang sejak tadi berbalik tidak melihat ke arah ranjang langsung membantu Dika mengganti kan sprei yang sudah kusut.
Tiba-tiba Ros menggeliat membuat Rhadika dan Max panik. Mereka segera duduk di sofa dengan gaya gentle nya sambil membuka ponsel masing-masing.
Lagi-lagi Dika mendapat kan pesan dari nomor yang tidak di kenal.
"Sudah ku kata kan hati-hati bukan, bah kan istri mu pun tidak bisa kau jaga, bodoh!!" isi pesan itu.
Dika menelepon balik nomor itu namu sudah tidak aktif. Dia merasa si pengirim pesan mempermain kan nya namun selalu membantu nya. "Siapa sebenar nya dia," batin Dika. Bahkan orang itu sampai tau kejadian-kejadian dalam keluarga nya.
Si pengirim tau bahwa Ella adalah Rosaline istri nya, pada hal hanya Max, Clasy dan dia yang tau fakta ini untuk sekarang
"Sayang..." tiba-tiba suara Ros mematah kan pikiran Dika. Dika langsung bangun dari duduk nya dan menghampiri Ros.
"Apa kau baik-baik saja Baby?" tanya Dika khwatir. Ros merasa asing dengan sifat tiba-tiba sang suami yang sebelum nya sangat acuh pada nya.
Ros tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Di mana tas ku?" tanya Ros dengan tiba-tiba. Max yang sebelum nya sudah memeriksa tas dan ponsel Ros memberi kan tas itu.
Dia mengeluar kan beberapa kertas dan foto dari sana. "Ini bukti nya, ini bukti aku melaku kan operasi, ini aku waktu masih di mansion Browns, Ini...."
"Aku sudah tau Baby, aku hanya ingin membukti kan kau mengaku sendiri pada ku," seru Dika sambil memeluk sang istri.
Ros merasa kan ada yang berbeda dari Rhadika. "Isss, berarti kau mempermain kan aku selama ini hah, sejak kapan?" ucap Ros mencubit perut suami nya.
"Kau selalu melaku kan kekerasan dalam rumah tangga Baby," jawab Rhadika kesal sambil melepas kan pelukan nya.
"Kira-kira sebulan setelah kau masuk ke dalam mansion. Kau tidak pandai berbohong Baby. Bah kan untuk memasti kan dugaan ku, aku melaku kan tes DNA antara kau dan Shine, aku melaku kan segala nya agar bisa mengetahui diri mu. Dan aku bersyukur kau masih berada di samping ku" jelas Dika.
Ros merasa terharu dengan perkataan sang suami. Dia bergerak memeluk sang suami namun badan nya terasa sakit.
Rhadika merasa was-was, dia memutar otak nya. "Baby, semalam kau ke club bukan? Kau berkelahi dengan salah satu pelayan, kau di jatuh kan dari tangga darurat empat sampai ke tangga darurat dua. Mungkin pelayan itu membenci mu," ucap Dika dengan lancar.
Ros menutup mulut tak percaya. Wajah Ros menjadi garang, "di mana pelayan itu?" tanya Ros memaksa kan diri nya berdiri. Rhadika tertawa melihat wajah marah istri nya yang sangat imut.
**
Rosa yang berada di kamar sebelah merasa bahagia karena dia sudah bersama dengan Rhadika. Bah kan dia berharap hamil dari pria itu agar bisa menguasai harta Browns.
Tapi dia juga merasa aneh ketika melihat noda bercak darah yang ada di sprei itu.
Dia bukan lah wanita per awan, bah kan dia sangat tidak mungkin mengular kan bercak darah itu, memang tidak sebanyak darah per awan.
Biasa nya itu terjadi pada wanita yang sudah lama tidak melakukan hubungan badan, hingga area ke wanitaan nya menyempit dan mengeluar darah kembali.
Rosa merasa tidak mungkin mengeluar kan darah itu, karena dia bukan lah wanita yang jarang berhubungan dengan pria lain, bisa di katakan milik nya sangat longgar hingga muat tiga jari. "Milik siapa?" batin Rosa.
Tapi dia tidak memikir kan itu, yang terpenting dia sudah tidur bersama pria idaman nya, tapi aneh nya dia tidak bisa merasa kan kenikmatan semalam, "ah sial, pada hal aku ingin menikmati setiap momen nya," batin wanita itu.
Mendengar ada telapak kaki yang menunju ke arah kamar nya, Rosa langsung pura-pura menangis meratapi nasib nya. Ternya yang datang adalah Max.
"Ini kartu nama milik Tuan Rhadika, saya rasa saya tidak perlu memberi kan nya. Datang lah ke kantor Browns saat anda mendapat kan telepon. Jangan membocor kan hal ini ke pada siapa pun!" Max melihat ke arah sprei yang memiliki bercak noda.
"Tuan akan bertanggung jawab atas apa yang di laku kan nya," ucap Max berbalik langsung keluar dari ruangan itu.
Rosa menyelesai kan tangis kepura-puraan nya, dia mengambil ponsel nya dan melihat beberapa foto telanjang nya bersama Dika. Dia tersenyum smirk.
Kemudian Rosa menhakih kan ponsel nya ke aplikasi pesan, tidak apa pun pesan dari pria yang dia tunggu. Kemudian dia menekan tombol telepon pada nomor itu, ponsel pria itu sama sekali tidak aktif.
"Sial, kenapa tidak ada kabar dari si bodoh ini," ucap Rosa.
__ADS_1
**
Ros dan Dika telah kembali ke mansion Browns, namun wanita itu melarang Dika mengata kan bahwa dia Rosaline diri nya masih hidup ke pada penghuni mansion sekali pun itu Shine.
"Baby, apa masih sakit?" tanya Rhadika pada istri nya ketika melihat wanita itu masih pelan jalan nya. Ros menggeleng kan kepala nya. Wanita itu tampak berhenti sebentar dan menghela napas sebentar sambil menunduk.
Dia tiba-tiba merasa kan tubuh nya terbang ke atas angin. "Jangan keras kepala Baby," bisik Rhadika menghembus kan napas nya ke leher Ros membuat wanita itu meremang.
Para pelayan yang melihat Rhadika dan Ros seperti sudah suami istri saja merasa bahagia, akhir nya mansion ini kembali di hiasi wajah senyum Rhadika meskipun setipis tisu.
"Di mana Shine?" tanya Ros ketika mereka sudah sampai di depan kamar mereka.
"Dia sedang packing, paman Zevano meminta Shine tinggal di sana untuk sementara. Tapi jika kau melarang nya, aku akan bicara pada nya," ucap Rhadika lagi.
"Tidak...tidak, Shine juga kan cucu nya ayah," jawab Ros.
"Ayah? Apa kau sudah mengetahui nya?"
"Tentu saja, aku kan Avatar," jawab Ros sambil tersenyum manis. Rhadika juga ikut tersenyum melihat wanita nya senang.
Rhadika sangat lega ketika Ros tidak bertanya tentang kejadian semalam. Untung saja pakaian wanita itu tertutup semua agar dia tidak melihat bekas merah di tubuh nya.
"Tidurlah sebentar lagi, aku akan menemani mu sebelum ke kantor," ucap Rhadika. Ros menurut saja, dia juga ingin istirahat kembali karena tubuh nya serasa remuk.
Beberapa saat Rhadika menemani Ros, dia secara perlahan keluar dari kamar utama mereka.
Selangkah setelah keluar dari kamar mereka, wajah Rhadika tiba-tiba menjadi gelap dan dingin. Max yang ada di sana mulai pasrah, dia yakin ini adalah upah nya untuk kesalahan besar yang di laku kan.
Dika berjalan ke arah ruangan belakang mansion. Rhadika terlihat menuju ke salah satu ruangan tawanan di sana.
BAM
Terdengar suara pintu yang di tendang begitu keras oleh pria itu. Ternyata Dika menuju ruangan Wesly.
Pria itu langsung menyeret tubuh tua rentan itu dengan kasar hingga terjatuh dari kursi roda.
"Di mana putra biadap mu itu?" tanya Rhadika dengan dingin. Rhadika tidak mempunyai musuh yang dominan selain Timas saat ni anak dari.pria yangs wdnag berada di depan nya.
Wesly merasa kan luka nya kembali terbuka, dia meringis kesakitan, "aku tidak tau," jawab Wesly.
DUG
Rhadika menendang kuat wajah Wesly yang sudah rentan itu. "Jangan membuat kesabaran ku habis Wesly Leopard," Dika mene kan setiap kata nya.
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Jangan menyebut nama menjijik kan itu, karena kau mengingat kan ku pada wanita yang ku cintai yang sial nya kau bunuh dan meninggal kan putri yang ternyata adalah istri mu yang sudah mati," ucap Wesly.
Dor
"Apa luka mu yang kemaren semudah sembuh? Maaf tangan ku tidak sengaja menarik pelatuk nya paman," ucap Rhadika tersenyum iblis.
Wesly merasa tubuh nya saat sangat sakit, luka yang sebelum nya terbuka kembali di tambah luka yang baru sudah datang.
"Bunuh saja aku, gunakan pistol yang ada di tangan mu. Kau ingin membunuh ku sejak dulu bukan? Laku kan sekarang, agar kau mencetak rekor telah membunuh keluarga Leopard, pertama istri dari Zevano dan kedua paman kandung dari istri mu," teriak Wesly.
"Baik, seperti nya kau ingin mati," ucap Rhadika mulai mengarah kan pistol nya ke dahi Wesly. Rhadika mulai menarik pelatuk yang ada di tangan nya.
"Stop.... Henti kan!"
Rhadika langsung menghenti kan gerakan tangan nya, tiba-tiba dia merasa kaku hingga pistol itu jatuh dari tangan nya.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
Horas ✋✋✋