
Saat Rhadika berlari ke arah atas dia dia di hadiahi Thomas dengan berbagai tembakan peluru dan belati, ternyata masih ada pengawal Thomas di sana, dia tersenyum licik.
Tapi sayang, dugaan Thomas tidak sesuai dengan realita.
Dika bisa menghindari tembakan itu dengan mudah.
Dia menendang sebuah meja dan bersembunyi di sana. Setelah mendengar temba kan sudah reda, Dika langsung berdiri dan menembaki bawahan Thomas.
"Mudah bukan?" tanya Rhadika dengan santai.
Thomas juga mulai mengeluar kan pistol nya, dia harus berlari ke rooftop karena sudah ada si burung besi yang menunggu di sana,kemampuan Thomas hanya satu selalu berlari dari maut yang menanti nya.
Dika yang melihat itu mulai mengeluar kan peluru nya untuk menghenti kan pelarian Thomas. Dia tidak akan memberi kan peluang lagi kali ini.
Thomas berlari sambil menghindar. Tapi dia mengalami kesialan, kaki nya terkena peluru panas Dika.
Namun dia tetap berusaha sampai di tikungan tangga. Dika dengan berani nya mengejar terus ke mana Thomas pergi.
Dika salah langkah, ternyata itu jebakan. Asisten Thomas langsung mengarah kan senapan panjang nya dari arah belakang.
"lepas kan pistol itu! Jika tidak aku akan melubangi kepala mu!" ucap asisten Thomas.
Thomas pun keluar dari persembunyian nya.
"Wah, seperti nya kau lemah Dika, percuma penguasa bawah tanah," ucap Thomas sambil berjalan pincang ke arah Dika.
Dor
Satu tembakan di lepas kan Thomas ke kami yang sama dengan nya akibat ulah Dika. Rhadika menahan perih, namun wajah nya tidak berekspresi sama sekali.
"Balasan yang setimpal. Aku tidak ada waktu, ada pesan terakhir?" tanya Thomas dengan remeh.
"Benar kah? tanya Dika. Di balik perkiraan Dika langsung mengeluar kan benda seperti lingkaran namun bergerigi panjang dan tajam. Dia langsung melempar kan nya pada dahi asisten Thomas, sukses benda itu menancap tepat di dahi pria itu. Musuh Dika berkurang satu.
"Pengecut tetaplah pengecut," ucap Dika melihat ke arah Thomas yang sudah siap siaga mengarah kan pistol nya ke arah diri nya. Namun itu sama sekali tidak membuat Dika gentar. Tidak di lihat oleh Tomas, tangan nya meraih sesuatu dari balik Penggung nya
Tak
Dika mengeluar kan senjata kecil andalan nya.
Benda itu di lempar kan tepat ke tangan Thomas yang menodong kan senjata pada nya, "sudah ku kata kan kau adalah seorang pengecut," ejek Dika mendekat ke arah Thomas.
Thomas merasa hidup nya sudah di ujung tanduk, tangan nya mengeluar kan banyak darah, belum lagi perih di kaki nya akibat luka tembakan. Sedang kan Rhadika, dia melihat pria itu pincang namun tidak terlalu terlihat.
BUG
Wajah Thomas terhempas akibat tendangan Rhadika, wajah nya langsung tergores dan mengeluar kan darah.
"Bagaimana, kau menikmati nya. Ku dengar kau mengingat istri ku," bisik Dika di telinga Thomas.
__ADS_1
Pria itu berusaha untuk berdiri, dia tertawa dengan hambar.
"Istri, kau hanya menahan nya, bermimpi lah!" ucap Thomas.
BUG
Tendangan Rhadika kali ini adalah kaki Thomas yang terkena timah panas.
"Ahhhhh, dasar iblis!" teriak Thomas merasakan kesakitan yang luar biasa di kaki nya. Dia terhempas ke meja yang berada di sana membuat bunga yang di tanam di pot kecil terjatuh ke atas lantai.
"Satu fakta yang harus kau ketahui, Camella yang kau kenal adalah istri ku Rosaline yang hampir saja kau bunuh!"
Dika kemudian mengeluar kan pistol nya.
"Ada permintaan terakhir?" tanya Dika mendekat sama seperti yang di lakukan Thomas sebelum nya.
Burrr
Ternyata Thomas menggenggam tanah dari pot bunga itu.
Dia melempar kan tanah itu tepat ke mata Dika. Dan benar saja, Rhadika sama sekali tidak bisa melihat, mata nya tertutupi oleh tanah.
Hal ini di manfaat kan Thomas untuk meraih pistolnya yang terjatuh tadi. Setelah berhasil, Dia langsung mengarah kan pistol nya ke arah Dika.
Dor
Dor Dor Dor
empat peluru melesat tepat sasaran.
"Bagaimana rasa nya?" suara itu terdengar begitu dingin.
"Camella?"
Ternyata Thomas tidak sempat mengeluar kan timah panas nya, tangan Ros terlebih dahulu mengeluar kan peluru dan menembaki Thomas.
"Aku Rosaline," jawab Ros dengan acuh menuju suami nya yang sedang berusaha membersih kan mata.
Sebelum Thomas menutup mata, dia mengingat perkataan Clasy.
"Aku berdoa ke pada Tuhanku, kau akan mati di tangan orang yang paling kau cintai," dan benar itu terjadi saat ini.
"Tuan, waktu bom nya tinggal dua menit lagi. Kita harus keluar dari sini!" teriak Max.
Dika buru-buru menetral kan mata nya.
"Baby, cepat kita harus keluar dari sini!" ucap Dika panik. Jika hanya diri nya yang di sana, sangat tidak mengapa. Tapi istri kecil nya, dia tidak kehilangan untuk ke dua kali nya. Dika menarik tangan sang istri.
"Tidak, aku akan tetap di sini," jawab Ros sedih.
__ADS_1
"Baby, come on. Apa maksud mu?" teriak Dika.
"Nyonya, jangan bodoh!" Max juga ikut berteriak dengan tidak sopan.
Wajah Ros tetap dingin, dia tidak mau bergerak. "Baby, kumohon!" ucap Dika.
"Sayang ku mohon, Nyonya jangan bodoh!" Ros tiba-tiba tersenyum dan melihat ke arah Dika dan Max bergantian dan mengulang ucapan mereka.
Dia langsung berlari, dan menarik tangan Dika.
"Sial, kau sungguh menjijik kan Rhadika, ekspresi mu membuat ku mual," ucap Max sambil berlari.
"Awas saja kau sekertaris sialan," ucap Dika.
Roa tersenyum melihat ke kompakan dia orang yangs angkat dekat itu, dia sangat senang hari, tidak ada lagi yang perlu di khwatir kan.
BOOM
Ledakan besar terdengar begitu nyaring di markas itu. Ternyata Rhadika menitip kan bom di dalam tubuh Wesly agar Ghost Lion tidak mengetahui nya dan benar saja itu terjadi sekarang ini.
Rhadika melompat sambil memeluk sang istri dan menjadi temeng untuk sandaran sang istri. Ros ternyata menindih tubuh Rhadika.
Ros terbangun terlebih dahulu, dia melihat sang suami berada di bawah nya.
ada luka di wajah sang suami.
Rhadika yang melihat sang istri betah di atas nya malah melipat tangan nya ke belakang kepala. Tiba-tiba Ros menjilat luka sang suami dengan sensual membuat Dika terangsang.
"Jangan memancing ku Baby, ini buka tempat yang tepat," ucap Dika.
Ros tidak menghirau kan ucapan sang suami.
Dia melanjut kan aktivitas nya.
Siapa yang akan menolak jika sudah ada santapan di depan nya. Dika langsung melahap bibir sang istri dengan rakus.
"Sialan, tidak bisakah di suasana dan tempat yang suci?" batin Max menendang kayu yang di sana.
Para pengawal yang melihat itu, ada yang tertembak kau nya langsung terjatuh, yang sedang minum langsung tersedak dan yang hampir pingsan langsung benar-benar pingsan.
The last Part
See you in next novel
Akan ada novel terbaru
lanjutan dari Shine Damian Browns dengan kisah istimewa nya
Selalu pantau terus 😊✋✋👍👍💪💪
__ADS_1