Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 56


__ADS_3

"Apa kita tidak ke rumah sakit terlebih dahulu," tanya Clasy ketika Max mengata kan akan segera keluar dari kota itu dan kembali ke Spanyol.


"Untuk apa kau datang ke sana?" tanya Max dengan dingin


Bahkan tatapan mata nya kini sudah berubah gelap membuat Clasy gugup.


"Mmmm, maaf aku hanya mendapat kabar dari Tuan Rhadika bahwa kau dalam misi. Aku hanya ingin melihat saja," seru Clasy menunduk.


"Bodoh, bagaimana jika tadi kau terluka hah, apa kau begitu berharap akan kedatangan mu? Menjauh lah, aku tidak ingin berurusan dengan mu lagi!' jawab Max singkat.


Clasy juga menjadi emosi, dia menjadi tersinggung karena sejak tadi Max selalu menyuruh nya pergi dan pergi.


"Kau pikir kau sepenting apa hah? Kau merasa bahwa aku mengejar mu? Kau salah! Bahkan aku sangat m mencium pria seperti mu, tidak tau diri dan tidak tau terimakasih. Kau pikir aku tidak di ajak ke sini, aku di ajak paman Zevano. Paham!" ucap Clasy dengan menaik kan oktaf suara nya.


Kemudian dia meninggal kan Max di sana dan pergi ke kamar khusus yang ada di pesawat itu.


Zevano tersenyum kecut di sana. Setelah melihat Clasy sudah tak terlihat, dia mulai buka suara.


"CK, kami bertemu saat akan menuju ruangan Wesly, aku melihat nya mengendap-endap sendiri seperti maling saja. Mana mungkin aku mengajak seorang wanita ke sebuah peperangan, gadis itu lempar batu sembunyi tangan,' seru Paman Zevano sambil bersandar di kursi milik nya.


Tanpa di jelas kan. Max pun sudah tau, dia mengerti bahwa itu murni atas kemauan wanita itu untuk datang ke tempat ini.


Selang beberapa waktu seorang pengawal datang hendak memberitahu kan bahwa dokter sudah selesai dengan peralatan nya dan siap mengobati Max.


Sang dokter pria sudah datang lengkap dengan jas putih nya.


"Tuan, silah kan ke tempat tidur, saya akan mengobati anda," seru dokter berkacamata itu.


"Di sini saja, ada orang di sana," seru Max sambil menyandar kan tubuh nya.


"Maaf Tuan, sofa ini terlalu kecil. Luka anda semakin dalam, seperti nya ada tekanan yang mengenai ini sejak tadi. Tapi yang berada di paha anda saya bisa dengan mudah mengeluar kan peluru nya," seru sang dokter menjelas kan semua nya pada Max.


"Sial pantas saja tadi begitu perih, itu bukan pistol biasa," batin Max. Dia sama sekali tidak mendapat kan tekanan di perut nya, tapi pistol itu Memeng keluaran baru yang kemempuan nya dan kekuatan serta kecepatan nya lebih baik dari yang lain yang pada umum nya di gunakan oleh orang pada umum nya.


"Baik," putus masx.


Mereka berjalan ke arah kamar di mana pesawat di mana Clasy juga ada di sana.


"Tuan ada or...,"


"Pelan kna suara mu, lakukan saja tugas mu," ucap Max dengan dingin.


Max berbaring di samping Clasy, pria itu sama sekali tidak mengganggu tidur wanita itu.


Dengan sabar, sang dokter mengobati luka Max termasuk mengambil peluru yang bersarang di tubuh Max.


Sama seperti Rhadika, Max paling anti juga di anggap lemah, dia sama sekali tidak mengguna kan obat bius. Sang dokter sudah menawar kan tapi di larang oleh pria itu.


Setelah proses pengobatan itu selesai, si dokter di suruh keluar. Sedang kan Max dia berbaring dan tidur di samping Clasy.


**


"Apa, bagaimana? Cepat beritahu aku!" ucap Ella dengan panik.


"Simpel saja Baby, just kiss me," seru Rhadika membuat Ella darah tinggi.


"Sialan, kau terus saja bercanda!" Rhadika menghela napas.


"Aku baik-baik saja baby," seru Rhadika.


"Terus saja, terus saja kau mengata kan baik-baik saja," bentak Ella.


Perdebatan itu berhenti ketika mendengar suara ketikan dari pintu kamar mereka. Ella langsung bergegas dan membuka pintu.


"Cepat Darren, darah nya sudah banyak yang keluar," ucap Ella mendorong tubuh Ella.


Darren tentu saja tidak terima di perintah seperti itu, hanya Rhadika dan dan nyonya rumah ini yang bisa memerintah nya dan selain itu juga Max si pria kutub.


Tapi Darren lagi-lagi di buat tak berdaya, semalam dengan tidak tau sopan santun Rhadika yang menyuruh nya dengan tidak sopan, sekarang juga dia tidak berdaya yang harus di obati nya juga adalah bos nya. Jadi dia bisa buat apa?

__ADS_1


"Semalam aku sudah mengata kan agar kau di oabti sebentar, dan sial nya kau membuat ku capek bolak balik ke istana mu ini," kesal Darren.


"Aku menggaji mu," seru Rhadika santai dan bersandar di ranjang.


Darren mulai menyiap kan alat-alat untuk mengambil peluru itu.


"Apakah ini bertahan selama semalaman?" tanya Darren heran melihat Rhadika. Bukan kah biasa nya Rhadika bisa mengambil peluru jika itu di bagian yang mudah di jangkau oleh tangan?


"Iya, itu sudah semalaman maka nya hiks...hikss cepat ambil peluru nya semakin dalam!" bukan Rhadika yang menjawab melain kan Ella Yangs Edang terisak.


Rhadika tersenyum tipis dan itu bisa di lihat oleh Darren. "Ada apa ini," batin Darren. Lebih heran lagi dia melihat Ella yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu. Yang sebenar nya terkena temba kan peluru siapa? Dia tidak ambil pusing karena kerumitan yang ada, dia melanjut kan tugas nya.


Rhadika yang sudah haus perhatian mencoba trik murahan nya.


"Ah, sakit," seru Rhadika berpura-pura mengerang kesakitan.


"Bodoh, kenapa kau tidak mengguna kan bius?" sentak Ella.


Dia menaiki ranjang dan memeluk kepala Rhadika. "Tahan sebentar, hiks... ini tidak akan lama. Aku akan menyuruh Darren mengguna kan bius."


"Biasa nya memang tidak mengguna bius bukan?" batin Daren menghenti kan kegiatan nya. Dia menatap heran ke pada Ella kemudian secara perlahan melihat ke arah Rhadika yang bersandar manis di pelukan si wanita. Rhadika menatap tajam ke arah nya.


Namun Darren merasa drama tadi sangat familiar. Di mana saat Rhadika terluka, akan ada seorang wanita yang akan menangis seperti dia lah orang yang sakit bukan Rhadika yang kala itu di tangani nya. Tapi lamunan Darren buyar karena suara menjijkk kan Rhadika.


"Tidak usah Baby, sebentar lagi akan selesai. Aku hanya perlu seseorang membantu ku dalam kesakitan ini," seru Rhadika. Ella mengangguk dan menutup mata Rhadika agar tidak melihat luka nya.


Dengan penuh tanda tanya Daren menyelesai kan tugas nya.


"Selesai!" seru Darren.


"Tunggu sebentar di sini, aku akan mengantar dokter Daren dan membawa makanan untuk mu!" seru Ros turun dari ranjang.


Rhadika tidak bis memaksa kan Ella agar tetap di sisi nya saat ini, dia tidak boleh terlihat memaksa.


"Baik, cepat lah kembali," seru Rhadika dan mendapat tatapan menjijik kan dari Darren


"Ini resep obat nya, dan jangan bair kan dia dulu melaku kan hal berat seperti nge-gym atau lari. Hanya santai saja dan melaku kan olahraga kecil seperti jalan santai," jelas Darren profesional.


"Baik Dokter. Silah kan anda keluar karena masih banyak yang harus saya kerja kan. Terimakasih sudah datang," ucap Ros dengan santai lalu meninggal kan Darren yang terperangah.


"Apa-apa an, hei tunggu, aku ingin bertanya satu hal," teriak Darren mengejar Ella.


Sesampai nya di ruang keluarga Ella melihat putra di sana dengan Santai.


"Son, apa kau baik-baik saja? Apa.ada yang terluka?" tanya Ella khwatir membolak-balik kan tubuh Shine.


"No mom, no i'm fine. Seperti yang mommy lihat, i'm okay." Ella langsung memeluk tubuh Shine. Beberapa saat Ella melepas kan pelukan nya, "Kamu tidak ingin melihat daddy? Daddy terluka Son," seru Ella.


Shine sebenar marah melihat daddy nya Karena datang sangat terlambat dari waktu yang mereka sepakati.


"Baik Mom, Shine akan ke sana. Apa kah luka mommy sudah sembuh? Kenapa berkeliaran."


"I'm okay Shine, seperti yang kamu lihat!" ulang Ella seperti perkataan Shine tadi. Si kecil hanya mengangguk saja dan hendak pergi


"Mom? Gila, wanita itu sangat beruntung tapi aku tidak suka sifat nya," batin Darren di balik tembok.


"Tunggu Shine," seru Ella kikuk


"Emmm, mommy tidak pernah mendengar kabar kakak mu Aurora. Bisa kah kau menelepon nya sebentar dan menanya kan kabar nya?" tanya Ella.


"Sure mom, apa Mommy kangen dengan ka Rora?" tanya Shine sambil menekan nomor Rora. Lama berdering namun dia angkat, Shine mencoba untuk yang ke dua kali nya dan dia angkat


**


Seorang wanita yang sedang menjelajah hutan dekat tempat tinggal nya karena tidak mood berada di rumah nya melihat seorang pria yang berlumuran darah, lemah tidak berdaya bersandar lemas di sebuah pohon.


"Please help me," ucap pria itu.


Tentu saja sang wanita menolak nya, memang nya diri nya siapa yang dengan santai nya meminra tolong pada nya.

__ADS_1


Dari luka nya sang wanita sudah tau apa yang terjadi pada pria itu. Pasti nya, pria itu bukan pria biasa.


"Please, aku tidak punya tujuan saat ini. Aku sedang di buru," seru pria itu memegangi tangan nya yang terluka begitu juga seluruh badan nya.


"Apa yang ku dapat kan jika aku membantumu? Menjadi sasaran musuh mu? Kau pikir aku bodoh, hah?" seru wanita itu dengan sinis.


"Sial, wanita ini memang cantik tapi otak nya terlalu cerdas.


"Please, suatu saat aku akan membalas nya," seru pria itu.


Mau tak mau wanita itu dengan malas membantu pria itu. Dengan kasar dia menarik pria itu agar berdiri.


"Jalan sendiri, aku tidak ingin dekat dengan orang kotor seperti mu," seru wanita itu


Sekitar satu meter, pria dan wanita yang tidak saling mengenal dan bertemu di hutan itu berjalan beriringan menuju rumah Wanita itu.


Sesampai nya di sana, wanita itu langsung menyerah kan pria malang yang di temui nya ke pengurus rumah nya.


"Bersih kan dia, aku tidak ingin ada virus dari pria itu memasuki rumah ku!" perintah sang wanita.


Setelah selesai membersih kan seluruh luka nya dan sudah dalam keadaan bersih sang pria datang menemui si wanita.


Si wanita sempat melongo melihat perbedaan si pria dan yang sebelum nya.


"Apakah kamu jatuh cinta?" seru si pria.


Sang wanita hanya menatap sinis pada si pria.


Ponsel wanita itu berdering pertanda ada yang menelepon, namun dia abai saja. Karena ponsel si wanita sejak tadi dalam keadaan terbalik. Akhir nya dia mengambil ponsel nya dengan kesal, namu setelah melihat siapa yang menelepon dia menjadi senang bukan main. Di menjauh dari pria tak di kenal itu


"Halo adik ku tersayang," ucap nya dengan ruang dan tersenyum manis membuat pria yang ada di sana menjadi terpana dengan senyum manis yang ada di depan nya.


"Tadi saja seperti singa yang sedang mengaum, sekarang sudah seperti wanita paling mansi di dunia," batin pria itu.


"Halo kak Rora, apa kabar," ucap mulut kecil seorang anak kecil di seberang sana yang ternyata adalah shine.


"Kakak baik-baik saja, bagaimana dengan mu dan daddy?" tanya Rora.


"I'm fine, buat Dad ada masalah k cik dan sudah bisa di tangani. Oh ya, kak ini mommy Ella ingin bicara," seru Shine.


"Yes mommy, Kakak juga harus memanggil begitu!"


"Tapi..."


"Dad setuju kak," ucap Shine memberi kan ponsel nya ke sang mommy.


Ella merasa tegang sebentar. "Ella?"


"Ada apa, aku sedang sibuk cepat lah!" seru Ella di seberang sana dengan dingin sangat berbeda dengan sikap Shine sebelum nya.


"Apa kau baik-baik saja, mommy eh maksud nya Tante hanya ingin menanya kan itu," ucap Ella dengan grogi.


"Aku baik-baik saja, jika seperti itu sudah aku sedang sibuk. Tekan Speaker!"


Ella melaku ka. seperti yang di katakan oleh Rora.


"Jaga Dad dengan baik yah Shine, jangan buat Kakak mu yang cantik ini marah," ucap Rora dengan genit.


Ella tersenyum melihat ke kompa kan saudara beda dari itu.


"CK, henti kan kak!" ucap Shine malas.


"Permisi Nona,' drmaa itu di henti kan oleh suara pria yang di pungut oleh Rora.


"Seperti nya aku mengenal suara itu," batin Ella memutar otak nya.


Jangan lupa like nya 😊👍👍


Horas ✋✋✋

__ADS_1


__ADS_2