Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 57


__ADS_3

"Nona, anda di panggil Tuan agar lebih cepat naik ke atas," seru paman Vill dengan cepat karena sudah di tekan tadi dari ponsel sang tuan.


Ella mengangguk dan mengata kan pada paman Vill untuk menyiap kan sarapan Rhadika. Setelah itu Ella naik ke atas dan meninggal Shine yang masih berbicara dengan Shine. Setidak nya dia sudah mendengar suara putri nya.


Ella masih terngiang-ngiang dengan suara tadi. "Ah sudah lah, mungkin teman atau pengawal mungkin,' batin Ella. Dia lebih mmefokus kan diri untuk merawat sang suami.


Dia masuk ke dalam kamar dan melihat Rhadika sedang memegang leptop nya.


"Bisa kah kamu tidak hanya mikir kan kerja dan kerja?" marah Ella mengambil leptop itu dan menjauh kan nya dari Rhadika.


"Baby, ada pekerjaan yang harus di selesai kan. Berikan. leptop nya!" pinta Rhadika pura-pura tidak bisa bergerak.


"Tidak, jika kau bersikeras kau akan ku biar kan sendiri melaku segala nya, biar saja nanti paman Vill yang membantu mu!" seru Ella dengan berkaca pinggang.


Selama lima tahun ini Rhadika tidak ada yang pernah mengancam dan tidak pernah ada orang yang mengancam nya.


"Baik, baik terserah kau Baby!" seru Rhadika mengalah. Ella dengan malas Duduk di samping ranjang dan bersikap dada.


Satu kata yang tersangkut di pikiran Ella.


"Baby? bukan kah itu sebutan untuk ku dulu?" batin Ella.


"Baby? Kenapa kau memanggil ku Baby?" tanya Ellla. Dia tidak suka di panggil seperti itu karena hal itu terkesan bahwa Rhadika menyama kan nama panggilan nya dulu sebagai istri tercinta sang suami dengan orang lain yang tidak di kenal oleh Rhadika saat ini.


"Hmmm, aku hanya ingin memanggil seperti itu saja. Apa tidak boleh?" tanya Rhadika bertanya tentang sesuatu yang pasti jawaban nya.


"Apa kah kau gila? Memang nya kau siapa, hah? Kau sama sekali tidak memiliki hubungan dengan mu, aku hanya pengasuh Shine," ucap Ella.


Rhadika menghela napas sebentar. "Aku ingin makan di bawah saja!" seru Rhadika turun dari tempat tidur.


"Kau belum boleh turun dari tempat tidur. Tetap lah di sana aku akan mengambil makanan mu, aku yakin paman Vill juga akan datang," larang Ella.


"Tidak, tidak perlu," seru Rhadika abai dia tetap bangun dari tempat tidur dan mulai berjalan meninggal kan kamar.

__ADS_1


Ella merasa sedikit bersalah karena membuat pria itu kesal pada nya.


"Mau tak mau Ella mengikuti Rhadika berjalan menuju ruang makan.


Paman Vill juga yang sudah berada di pintu merasa heran karena Rhadika keluar dengan wajah dingin nya seperti seseorang yang sedang marah. Rhadika melewati begitu saja paman Vill tanpa


"Nona, ada apa?" tanya paman Vill dengan heran.


"Bawa saja ke meja makan paman Vill," ucap Ros juga dengan judes dan melewati paman Vill sama Seperti Rhadika sebelum nya.


Rhadika pergi ke meja makan dan bertemu dengan Shine di tangga yang ingin menemui diri nya. Dia bukan nya mendapat kan simpati dari anak itu, tapi dia malah mendapat kan tatapan sinis dari ank nya.


"CK, apa kah luka mu sudah sembuh, Dad? Kau membuat ku kesal," seru Shien turun dari tangga dan menuju meja makan.


Rhadika juga sama, dia abai sama seperti Shine. Dia juga tidak peduli dengan ucapan Shine dan melanjut kan jalan nya.


"Kenapa turun ke bawah? Bukan kah mommy ada di atas?" tanya Shine juga dengan sinis karena dia masih merasa marah dengan daddy nya.


"Kau menjauh lah anak kecil, kau membuat darah tinggi naik!" perintah Rhadika tak kalah sinis dan dingin.


"Kau menguji ku juga Dad? Kau pikir kau membuat hati ku yang panas ini menjadi reda. Apa kau tidak lihat Mommy mempunyai banyak luka?" tanya Shien berdiri di atas kursi karena jika di bawah dia tidak akan kelihatan.


Tatapan sinis dari kedua pihak membuat Ella yang sedang menuju ke sana merasa heran.


"Ada apa? tanya Ella.


"Tidak ada!" jawab ke dua nya serempak. Kemudian secara serempak juga Rhadika dan Shine memaling kan wajah dari sama lain.


"Baik lah, aku akan menyiap kan makan," ucap Ella tersenyum tipis melihat ke kompa kan ayah dan anak itu.


Ella pertama menyiap kan makanan untuk Shine hingga mendapat kan tatapan benci dan tidak terima dari Rhadika. Shine menatap ayah nya dengan tatapan penuh kemenangan seperti telah berhasil mengalah kan seorang Rhadika si pria kaya raya.


"Baby, aku sangat lapar," seru Rhadika pura-pura memegang perut nya yang sakit.

__ADS_1


Ella m nghela napas, dia saat ini drama apa yang terjadi di sini. Namun dia tetap mengikuti drama ke ik itu dan berusaha bersikap adil.


"Tunggu, aku akan menyiap kan nya," seru Ros setelah selesai membuat makanan untuk Shine.


Rhadika tertawa penuh ke menangan ke arah Shine. "Mom, aku ingin itu!" tunjuk Shine menunjuk kan salah satu menu sayur-sayur an pada Ella membuat wanita itu berhenti dan meletak kan piring Rhadika yang belum terisi sepenuh nya.


"Aku menang dari mu Dad," batin Shine. Seakan mengerti dengan kode yang di beri kan anak nya, Rhadika mencari cara lain agar dia lah yang di prioritas kan saat ini.


Setelah Ella menyelesai kan ke mauan Shine, dia kembali melanjut kan mempersiap kan makanan Rhadika. Ella dengan pelan meletak kan makanan Rhadika di depan nya.


"Apa kah aku akan makan sendiri Baby?" tanya Rhadika menunduk sambil memegang luka nya, dia beruntung karena luka itu berada di sebelah kanan membuat tangan nya benar-benar sakit jika mengangkat tangan nya.


"Aku akan menyuapi mu, sini!" ujar Ros hendak kursi Rhadika mendekat ke arah nya. Rhadika yang melihat itu dengan posesif menangkap pinggang Ella dan menarik nya untuk duduk di pinggang nya.


Ella melotot tak terima, namun tangan itu begitu keras menahan pinggang Ella.


Dia juga tidak bisa terlihat buruk di depan Shine dengan tidak mau dekat dengan dad nya. Kemaren dia sudah mendapat kan ucapan tidak enak dari sang putra ketika menolak permintaan Rhadika yang tidak memakai kan dasi, dia tidak mau melaku kan hal lain lagi yang akan membuat Shine menilai nya secara negatif.


Lagi-lagi Rhadika tersenyum penuh kemenangan, Shine lah yang kalah di sini.


Setelah acara makan yang penuh drama itu selesai dan Shine pergi entah kemana, Rhadika kembali ke keadaan saat berada di kamar tadi.


Ke dua manusia beda insan itu kembali ke perang dingin nya hingga Malam.


"Perban nya sudah harus di ganti, itu yang di katakan Darren," seru Ella. Saat ini mereka berada di dalam Rhadika, dia berinisiatif merawat Rhadika dan tidur di sana.


Ella membawa perban baru untuk di guna kan. Dia dengan telaten membual peralatan itu.


"Beri kan saja, aku bisa sendiri!" perintah Rhadika dengan dingin.


Jangan lupa like nya 😊👍👍👍


Horas ✋✋✋

__ADS_1


__ADS_2