Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 73


__ADS_3

"Bodoh! Menangkap satu orang wanita pun kalian tidak becus. Berapa pasukan yang di kirim ke sana,' ucap seorang pria dengan marah.


"Maaf Tuan! Ternyata mereka adalah komplotan dunia bawah yang di segani. Bantuan mereka yang datang pun lebih banyak dari jumlah kami, mereka juga tandingan yang seimbang. Kami memilih mundur ketika jumlah kami sudah sedikit," ucap salah satu pengawal yang ada di sana.


"Aku tidak butuh ocehan mu sialan!"


BUG


Pria itu menendang pengawal nya hingga jatuh ke lantai.


"Tuan Orion kami sungguh meminta maaf, kami kalah bukan karena kami tidak mampu namun jumlah kami kalah banyak," ucap seorang pengawal lagi sambil berlutut.


Yang di panggil Orion berbalik dan menatap pemandangan di belakang nya. Dia menatap sebentar ke arah luar dan mengeluar kan ponsel nya melihat wanita yang di incar nya saat ini.


Dia kemudian berbalik dan melihat satu persatu anggota nya.


"Dasar lemah," ucap Orion lalu meninggal kan anak buah nya di sana


Dia sudah mengambil kesempatan ketika melihat pria yang selalu berada di sisi wanita itu pergi, tapi tetap saja dia tidak bisa mendapat kan wanita nya.


**


Telinga Rhadika terasa panas mendengar setiap kata yang di ke luar kan oleh Ella.


Rhadika mengingat perkataan Clasy yang mengata kan bahwa dia lah penyebab Rosaline yang tidak ingin membongkar identitas nya.


Ternyata otak kecil wanita itu berpikir bahwa dia masih mencintai Lili karena dia membiar kan bunga lili itu tetap hidup di markas dan di mansion.


Rhadika tentu saja membiarkan taman bunga lili di markas tetap hidup karena ia pernah melihat Ella begitu senang ketika melihat bunga lili mekar, jadi apa salah nya.


Rhadika mendorong tubuh Ella ke ranjang dengan kasar dan memegang rahang nya. Tidak ada tekanan sama sekali yang di beri kan Rhadika di rahang wanita itu.


Dika langsung mengungkung tubuh Ella dan menatap tajam wanita yang sedang berada di bawah nya. Namun sebelah tangan nya menjaga tangan Ella yang sedang sakit.


"Sudah ku kata kan tutup mulut mu bukan? Apa kau benar-benar ingin ku habisi? Siapa kau yang meminta cerai pada ku hah, bah kan dengan berani nya kau mengatas nama kan istri kecil ku?" ucap Rhadika dengan dingin.


Ella semakin menangisi tersedu-sedu.


"Wanita sekarang benar-benar licik. Apa kah sangat ingin berc inta dengan ku dan pada akhir nya kau memegang gelar Nyonya Browns? Mari kita laku kan Nona Ella," ujar Rhadika.


Ella menolak Rhadika dengan memiring kan wajah nya ketika Rhadika ingin mencium bibir nya.


"CK, apa sekarang kau sok jual mahal?" tanya Rhadika.


"Tanpa berc inta dengan mu aku sudah memegang gelar Nyonya Browns, aku mohon sadar lah," pinta Ella dengan sangat.


Ella semakin menangis mendengar ucapan Rhadika tadi. "Aku benar-benar Rosaline Rhadika, aku punya bukti nya. Aku mengubah wajah ku karena terbakar waktu itu, aku tidak ingin menjadi wanita yang menjijik kan untuk mu," jelas Ella.


Rhadika bangkit dari atas Ella dan berdiri menghadap wanita itu.


"Aku memberi kan mu waktu dua belas jam untuk beristirahat kembali, ku harap setelah itu kau bisa menjalani tugas mu seperti biasa nya," ucap Rhadika hendak pergi.


Namun tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang memeluk nya dari belakang, siapa lagi kalau bukan wanita yang menangis sejak tadi.


Rhadika benar-benar tidak tahan dengan situasi saat ini. Dia mengambil ponsel nya dan menghubungi Max, "pasti kan tidak ada yang bisa mengetahui aku di sini, lakukan sesuatu," isi pesan Rhadika pada Max.


"Hiks... hiks..., Sayang kau benar-benar lupa dengan ku?" tanya Rosaline. Wanita itu saat ini begitu menyedih kan.


"Apa Nona Camella tidak betah lagi di mansion dan mengurus putra ku, jika anda selalu seperti ini silah kan angkat kaki dari mansion," ucap Rhadika.


Ella yang mendengar itu spontan melepas kan pelukan nya dari tubuh Rhadika. Tidak mungkin bukan, dia kehilangan sang anak kembali.


"Ba...baik... ba...ik, aku tidak akan seperti ini lagi, tapi ku mohon jangan pecat aku lagi, hiks...hanya Shine yang ku punya saat ini. Suami ku tidak mengakui ku," ucap Ella memohon sambil menyatu kan tangan nya di depan Dika.


Rhadika tidak menjawab permintaan Ella, dia ingin keluar namun lagi-lagi tangan nya di tahan oleh Ella.


"Aku masih lelah, boleh kan sebentar saja temani aku tidur?" pinta Ella menatap Dika dengan tatapan jernih dan polos nya.


Rhadika melepas kan tangan Ella dan meninggal kan wanita tanpa jawaban.


Ella bagai di tusuk hati nya ketika berkali-kali di tolak oleh sang suami. Dia menjatuh kan diri nya ke lantai dan berjongkok di sana. Dia membenam kan kepala nya dia antara lutut dan menangis sejadi-jadi nya di sana.


"Hiks...ini semua salah ku, hiks...seharus nya aku memberitahu kan ke pada dia bahwa aku adalah Rosaline. Sekarang aku harus apa? Bagaimana jika aku di usir dan di pisah kan dari putra ku?" ucap Ella menangis tersedu-sedu.


"Tidak...tidak, aku harus bisa membukti kan bahwa aku adlah Rosaline, aku tidak akan menyerah begitu saja," Ella terus saja berbicara sendiri hingga tak terasa dia tidur sendiri di atas lantai itu.


Rhadika yang sejak tadi memantau CCTV, dia langsung menuju ruangan istri nya. Dia melihat sang istri tertidur di lantai dengan air mata yang sudah mengering di wajah nya.


"Maaf," batin Rhadika sambil mengangkat istri nya ke ranjang. Rhadika menemani Ella tidur hingga beberapa jam, namun pria itu bekerja dengan laptop nya tidak tidur.


Setelah melihat melihat istri nya telah tertidur, Dika melihat ada pesan dari nomor yang sama seperti kemaren yang masuk ke dalam ponsel nya yaitu nomor yang tidak di ketahui.


Setelah melihat itu, Dika memilih membawa istri nya kembali ke mansion utama, dia tidak akan mengambil resiko apa pun lagi tentang istri nya.


Rosa yang masih bertahan di sana melihat Dika membopong seorang wanita. "Dia pasti pasangan Rhadika di pesta," ucap Rosa dalam hati.


Sejak masuk dia benar-benar memperhati kan siapa yang masuk ke ruangan itu sejak semalam, bahkan saat ada pertempuran di Club ini, Rosa juga di sana dan memantau ruangan itu.


"Siapa sebenar nya wanita itu, dia tidak mungkin hanya sebagai pengasuh untuk pria itu," batin Rosa.


Rosa sebenar nya masih tetap setia berada di dalam bar saat ketahuan masuk ke dalam ruangan itu. Dia ingin tau apa yang sebenar nya terjadi, terutama ketika melihat pasukan Black Sky yang baku hantam dengan satu kelompok tak di kenal.


Terlebih lagi asisten dari Dika selalu berjaga di dalam ruangan itu. Sekertaris itu tidak keluar sama sekali untuk membantu anggota nya yang kala itu sedang membasmi para kelompok pemberontak itu. Rosa memiliki beberapa pertanyaan dalam hati nya yang jelas-jelas mendapat kan jawaban yang buntu.


Setelah melihat Dika keluar, secara perlahan dia mengikuti belakang dan melihat Dika dengan penuh hati menaruh Ella dalam mobil dan ikut masuk dalam mobil tersebut.


Rosa begitu kesal melihat sikap Dika yang istimewa pada wanita itu.

__ADS_1


"Rosa," tiba-tiba seorang pria menepuk punggung Rosa membuat wanita itu kaget bukan main. Namun Ros begitu familiar dengan suara itu.


Awal nya dia berpikir bahwa dia telah kedapatan mengikuti Dika sejak tadi.


Rosa berbalik dan melihat siapa yang memanggil nama nya.


"Orion?" tanya Rosa. Namun dia tidak terlalu kaget lagi karena sudah melihat Orion berada di pesta tadi malam.


"Apa yang kau laku kan di sini?" tanya Orion. Pria itu meneliti penampilan Rosa yang berubah drastis, biasa nya wanita itu akan berpakaian serba hitam dan selalu memegang senjata. Hanya satu yang tidak berubah dari Rosa, wajah dingin nya selalu sama.


"Bukan urusan mu," jawab Rosa.


"Seperti nya setelah menyelesai kan misi di Afrika, kau banyak berubah. Apa misi mu kali ini untuk menggoda pria kaya?" tanya Orion.


Rosa mengabai kan pertanyaan Orion dan memilih meninggal kan Orion bersama dengan anggota nya.


Rosa baru saja mengetahui ternyata lawan dari kubu Black Sky adalah anggota dari Orion, pantas saja dia agak familiar dengan seragam dan wajah-wajah itu.


Rosa berjalan sudah agak jauh dari Orion, namun langkah nya terhenti ketika mendengar teria kan Orion.


"Aku menyukai wanita yang bersama pria sialan itu tadi. Aku juga tau kau menyukai pria sialan itu," teriak Orion.


Rosa berbalik ke belakang, Orion pun tersenyum tipis. Dia sudah menyangka wanita itu akan selalu bisa membantu nya, dia Afrika mau pun di Spanyol. Terutama Orion sudah tau bagaimana kelincahan wanita ini bekerja.


"Apa rencana mu?" tanya Rosa dengan bersungguh-sungguh. Orion hanya tersenyum tipis saja mendengar pertanyaan Rosa yang selalu to the point.


"Berhenti lah bermain-main Orion, aku tau kau adalah orang yang menyelamat kan aku, tapi catat aku sudah membayar harga tinggi atas Budi mu. Musuh mu tidak ada yang sisa bukan di Afrika, jadi jangan membuat ku membuat target baru yaitu diri mu," jelas Rosa dengan dingin, tatapan tajam nya di layang kan pada Orion.


Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Rosa mendapat pesan dari atasan nya. Dia tersenyum licik dan menunjuk kan isi pesa itu pada Orion.


"Laku kan secepat nya, aku tidak ingin membuang-buang waktu," ucap Rosa dengan senyuman licik nya.


**


Setelah sampai di mansion Dika memasti kan terlebih dahulu pada paman Vill agar shine putra nya itu tidak melihat mereka nanti nya, dan benar saja Shine sedang tidur siang di kamar nya.


Akhir nya Dika membawa Rosaline ke kamar Ella biasa nya, bukan ke kamar utama. Dia nampak menatap dalam wajah wanita nya. Setelah itu dia beranjak pergi ke ruang kerja nya di mana sudah ada Max di sana.


Dika langsung duduk di kursi kerja nya dan siap mendengar kan penjelasan Max.


"Rosa dan Orion saling mengenal Tuan, terbukti mereka berdua sudah akrab meskipun wajah Rosa sama dingin nya dengan yang lain," jelas Max.


"Dari mana mereka saling mengenal. Tapi saatbdi pesta mereka sama sekali tidak berbicara. Apa identitas Rosa benar-benar seorang yatim piatu?" tanya Rhadika memasti kan.


"Benar Tuan, tapi tidak ada informasi tentang nama dari ke dua orang tua nya," jelas Max. Rhadika menatap ke arah foto yang di tunjuk kan oleh Max.


"Dan nanti malam Tuan, kita ada pertemuan dengan Jacob Coorperation," jelas Max. Rhadika mengernyit kan dahi nya seperti kode pertanyaan pada Max.


"Benar Tuan, Rosa adalah sekertaris nya tuan Jacob, jadi saya harap anda harus berhati-hati," ucap Max. Rhadika tidak menanggapi Max, namun pandangan nya lurus ke depan seperti memperkira kan sesuatu.


"Atur saja pertemuan nya!" ucap Rhadika kemudian menyandar kan kepala nya ke sandaran kursi dan menutup mata.


Pukul lima sore akhir nya Rosaline bangun dan melihat sekeliling nya. Dia merasa perih dengan pergelangan tangan nya. Lagi-lagi dia mengingat kebodohan nya.


Tapi dia merasa sedih karena melihat di mana posisi nya saat ini, biasa nya dia akan di tempat kan di kamar utama, namu kali ini tidak, pria itu seperti benar-benar membenci nya.


Dia mengingat janji nya pada sang suami akan membukti kan siapa diri nya sebenar nya. Ros berdiri dan mulai mengumpul kan bukti-bukti itu.


Ros benar-benar akan mengumpul kan bukti bahwa dia sebenar nya masih hidup dan mengguna kan wajah baru.


Wanita itu keluar dari kamar karena sudah lapar, dia akan melanjut kan pencarian nya setalah maakn nanti, dia tidak menyentuh apa pun sejak pagi tadi karena persoalan yang sedang terjadi. Ros dengan cepat mengguna kan baju lengan panjang, agar bisa menghindari pertanyaan Shine nanti nya.


Belum sampai turun dari tangga, Ros mendengar Max dan suami nya sedanv berbicara, wanita itu langsung duduk dan bersembunyi di terali tangga.


"Di mana?" tanya Rhadika yang sedang memperbaiki dasi mahal nya.


"Di Hotel De Luna Tuan," jawab Max. Dika berdiri sambil Merapi kan dasi nya.


"Tiga jam lagi kita akan ke sana, kita harus menyelesai kan urusan di kantor terlebih dahulu," seru Dika.


Tugas nya banyak terbengkalai sejak kemaren karena permasalahan yang tidak ada habis-habis nya.


Ros yang mendengar itu langsung merekam nama hotel itu di otak nya. Setelah melihat Dika dan Max pergi, Ros langsung turun dan mengambil makanan.


Ros melihat putra nya juga sedang makan.


"Mommy, kemari bersama shine makan," ajak Shine pada mommy nya. Ros dengan senang hati ikut bergabung bersama dengan dengan putra nya.


Ros makan dengan lahap dengan sang putra, tiba-tiba saja saat mengusap kepala Shine, Ella meringis sedikit namun terdengar oleh Shine.


"Kenapa Mom?" tanya Shine sambil membuka baju lengan panjang mommy nya.


"Ahhh, tadi malam..emmm, tangan mommy keseleo saat tidur, jadi nya di perban agar cepat sembuh," jelas Ros.


"Ohhh, begitu," ucap Shine mengangguk-angguk kan kepala nya. Namun anak itu melihat bekas darah yang sudah kering di bagian tas lengan mommy nya, anak itu tidak bertanya sama sekali. Dia akan mencari tau nya sendiri nanti. Shine tau, ada sesuatu yang di tutupi oleh Dad dan mom nya.


Setelah acara makan sore itu selesai, Ros izin ke pad sang putra untuk istirahat karena kurang enak badan.


Selama beberapa jam Ros berputar-putar di sekeliling kamar nya sambil berpikir untuk mencari cara agar bisa keluar dari mansion itu. Wanita itu melihat ponsel nya, sudah pukul tujuh malam, waktu nya semakin menipis. Jangan sampai dia terlambat.


Rhadika bersama dengan Max sudah menuju hotel de Luna mana itu adlah hotel tempat membahas bisnis bersama dengan Jacob Coorperation.


Mobil mereka terkrna macet di jalanan hingga membuat mereka membuang-buang waktu ddnegan sia-sia.


Tepat pukul delapan malam, Rhadika sudah berdiri di depan Jacob sebagai mitra bisnis mereka. Max nampak duduk di samping Dika dan di depan nya adalah Rosa.


Max memperhati kan wanita itu secara sekilas, tidak ada tanda-tanda mencuriga kan, pakaian wanita itu pun tetap tertutup, tidak bis Adi katakan menawar kan tubuh nya pada pria-pria.

__ADS_1


Rosa menjelas kan secar lengkap tentang proyek kerja sama yang akan launching sebentar lagi. Rhadika mengangguk kan kepala nya tentang keuntungan yang mereka akan dapet kan.


Yah, terlihat Jacob Coorperation hanya ingin menjadi mitra kerja Ax Company, hanya ingin menaik kan reputasi saja bukan tentang keuntungan.


Banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Ax Coorperation, namun hanya untuk menaik kan reputasi saja bahwa mereka berhasil bekerja dengan perusahaan raksasa di Eropa.


Sebagai penutupan, Jacob menawar kan minuman wine pada Rhadika dan Max yang sudah di saji kan sebelum nya.


Max yang harus menyetir saat pulang nanti memilih untuk tidak minum.


Rhadika langsung meminum tandas wine itu, pikiran nya juga saat ini sedang tidak baik. Setelah beberapa menit minum wine itu, Rhadika merasa kan tubuh nya panas. Dia melihat sekilas ke arah wajah Rosa yang tampak biasa saj, sedang kan Jacob pria itu tampak nya tidak tau apa-apa, pria itu juga sudah mabuk berat.


Max melihat ke arah Rhadika sebentar, sekertaris itu juga sudah mengantisipasi yang akan terjadi, jadi dia sudah menyiap kan obat sebelum nya.


"Tuan, saya ada urusan sebentar, sudah aman bukan?" bisik Max. Rhadika mengangguk dan menunduk meminum sesuatu dari jam tangan nya. Melihat keadaan sudah aman, Max langsung bergegas, seperti nya dia melihat seseorang yang familiar.


Dika tersenyum smirk melihat perubahan wajah Rosa yang semual tenang seperti berubah pias.


Rhadika menuang kan wine kembali dari botol wine itu dan meminum nya secara perlahan.


"Seperti nya ada yang anda sembunyi kan Nona Rosa," ucap Rhadika semakin membuat Rosa panik.


Dia meminum wine milik nya dan dengan tidak sengaja tumpah ke dress nya.


Sial, Rhadika merasa kan tubuh nya mulai panas, bah kan lebih panas dari sebelum nya.


Seperti nya obat itu lebih kuat dari sebelum nya, terbukti obat itu bekerja dengan sangat cepat.


Rosa yang sudah panik melihat Rhadika yang memerah wajah nya merasa hera, "apa obat nya bekerja secara bertahap?" batin wanita itu.


Dia melihat ke arah atasan nya yang sudah tidur di meja, dia membuat kan begitu saja dan memilih membantu Rhadika, ralat, mengambil kesempatan dari Rhadika.


Rosa mendekat dan merasa kan suhu badan pria itu sangat panas, bah kan napas pria itu sudah sangat berat. Rosa tertawa dalam hati.


"Akhir nya," batin wanita itu.


"Tuan, anda kenapa?" tanya Rosa sambil membopong pria itu. Dua orang pria tiba-tiba memukul tengkuk Rosa, wanita itu pura-pura pingsan dan langsung di bopong lemah seorang pria. Sedang kan Rhadika di papah oleh dua orang pria berpakaian tertutup yang sama dengan yang membopong Rosa.


Sedang kan Orion komplotan Ros yang sudah keluar dari salah satu kamar hotel VVIP turun mengguna lift transparan hotel itu, tanpa sengaja dia melihat Ella berada di satu kerumunan yang berada di lantai khusus Club di hotel itu.


Semua pebisnis tinggi tau, hotel de Luna adalah hanya nama saja, isi nya tidak ada yang tau.


Orion langsung menelpon anggota nya dan menyuruh untuk memantau wanita itu.


"Tuhan memang sedang berpihak pada ku," ucap Orion semangat.


Dia terlebih dahulu harus menyelesai kan urusan nya dengan Rosa. "Akting mu bagus Rosa," ucap pria itu.


"Cepat lah Orion sialan, aku sudah tidak sanggup menikmati tubuh pria itu," ucap Rosa.


"Pasti kan kau mengandung benih nya agar kau bisa menikmati pria itu di kemudian hari," bIsik Orion.


Setelah sampai di kamar, Orion langsung memasti kan tidak ada lagi CCTV di sana.


"Laku kan dengan baik," ucap Orion pergi dari sana dan meninggal kan Dika dan Rosa di sana.


Setelah itu, dia langsung menuju lantai empat di mana wanita yang bernam Ella sudah berada di sana. Anak buah nya sudah memasti kan bahwa itu benar-benar wanita yang sama dengan foto yang mereka terima.


Orion melihat Ella yang seperti nya mencari seseorang. "Saya mendapat informasi dari beberapa orang, wanita itu sedang mencari pria yang bernama Rhadika Browns Tuan," ucap Salah satu pengawal nya.


"Suruh salah satu pelayan menawar kan minuman pada wanita itu, masuk kan obat ini!" perintah Orion tersenyum smirk.


"Kau milik ku malam ini Sayang," ucap Orion.


Dengan cepat pengawal melakukan tugas nya, Orion memperhati kan pelayan itu. Awal nya Ros menolak tawaran peluan itu, namun lama kelamaan Ros menerima tawaran pelayan dan meminum wine itu sedikit demi sedikit dan lama kelama Ros mulai tidak jelas berdiri.


Orion langsung menemui Ros dan mengangkat wanita itu ke dalam pelukan nya. Ros mulai nampak menggeliat seperti cacing kepanasan di dalam pelukan Orion.


"Sabar sayang, aku akan memuas kan mu," ucap Orion. Ros mulai mend esah tak tentu membuat Orion semakin panas dingin ingin menikmati tubuh wanita yang berada dalam pelukan nya.


"Bagaimana kamar nya?" tanya Orion pada pengawal yang berada di samping nya.


"Maaf Tuan, hanya ada satu kamar yang sisa, tepat di samping kamar nona Rosa tadi," ucap pengawal itu.


"Tidak masalah," ucap Odion muali merasa kan gair ah nya mulai naik karena sentuhan nakal wanita nya.


Setelah sampai di kamar, Orion langsung meletak kan Ros di atas ranjang dan langsung membuka baju nya sendiri lalu merobek pakaian Ros.


Ros dengan kesadaran yang sangat tidak bisa di andal kan dengan samar melihat wajah Rhadika yang di atas nya.


"Sayang, lakukan dengan ahh... ahhh dengan ahh..pelan," ucap Ros di tengah des ahannya ketika pria yang di atas nya muali menjelajahi tubuh nya.


Wanita itu tersenyum tipis. "Kau milik ku malam ini," ucap Rosa membawa Dika ke atas ranjang. Wanita itu tiba-tiba merasa kan tubuh nya panas terutama saat Rhadika merobek baju tertutup nya. Dia juga mulai di kabuti ga irah sama seperti Dika.


**


Merasa kan sentuhan Dika di kulit nya, Rosa semakin melayang, mata kedua nya nampak mulai di kuasai oleh kenikmatan duniawi.


Rhadika samar melihat wajah di depan nya adalah Rosaline istri nya, " Baby," ucap Rhadika mend esah, sedang kan wanita di bawah nya sudah mulai menikmati permainan Rhadika.


Sedang kan Max, dia mencari keberadaan orang yang di lihat nya tadi, mata nya tidak mungkin salah, dia benar-benar melihat orang itu dan benar saja dia melihat orang itu naik lift dan saat max sampai di pintu lift, pintu sudah tertutup.


"Sial, dia ke lantai atas," ucap Max berlari ke arah pintu darurat.


Tunggu kejutan bab-bab selanjutnya 📢📢


Jangan lupa like nya 😊👍👍

__ADS_1


Horas ✋✋✋


.........


__ADS_2