Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 20


__ADS_3

Wanita yang sejak tadi memantau dari meja bar kini sudah berdiri dan berjalan ke arah sofa di mana ada pria itu di sana.


Dia adalah Camella, sejak tadi dia sudah berada di bar ini. Dia bosan di apartemen dan langsung mencari kesenangan tersendiri untuknya. Dia butuh refreshing untuk menyegarkan otaknya. Jadi dia memilih untuk datang untuk ke bar ini.


Tapi catat selalu ada orang yang selalu mengawasi Camella kemanapun dan di manapun dia berada. Orang itu adalah tangan kanan dari pria yang menyelamatkan Camella.


Yah, namanya Samuel. Pria yang hampir di bunuh oleh Rhadika namun di tolong oleh Rosaline waktu itu.


Samuel telah menganggap Camella sebagai adik nya karena Camella adalah sahabat dari Clasy.


Pria itu selalu mengawasi Camella namun di bawah perintah Clasy. Camella sendiri tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang selalu menjaganya.


Sejak tadi juga ada banyak pria yang mendekati nya namun di tolak secara halus oleh Camella. Dia sama sekali tidak menyukai pria-pria muda atau pun kaya atau pun miliarder di sini. Saat ini dia harus fokus pada putranya yang lebih segalanya dari para pria yang sedang menggodanya.


Camella terlihat mendekat dan langsung duduk di pangkuan Rhadika. Para wanita di sana menutup mulut mereka tak percaya bahwa ada seorang wanita yang dengan beraninya memancing emosi orang terkaya yang pernah datang ke bar ini.


Pernah ada seorang wanita yang berpura-pura jatuh ke pangkuan Rhadika dan langsung saja di urus oleh pria yang selalu berada di belakang Rhadika yaitu Max. Entah ke mana perginya wanita itu namun intinya, mereka tidak pernah lagi melihat wajah wanita itu muncul di bar ini.


"Wanita itu, beraninya dia," seru wanita A.


"Hidupnya tidak akan lama lagi," wanita B

__ADS_1


"Tapi dia memang cantik. Sayangnya bertindak terlalu jauh," wanita c.


Serempak mereka melihat ke arah pria yang selalu berada di belakang Rhadika. Namun Max tidak bergerak sama sekali. Mereka melihat pria itu justru fokus dengan ponselnya dan sesekali meminum wine yang berada di depannya.


Max tidak bergerak bukan karena dia belum mendapatkan perintah. Tapi dia mengingat ucapan si tuan kecil yang di rumah tadi bahwa Rhadika ingin mencari Camella. Dia bersyukur karena satu pekerjaannya berkurang.


Meraka kembali melihat ke arah Rhadika dan wanita pemberani tadi. Tiba-tiba Rhadika menatap tajam ke arah kumpulan wanita itu.


Para pengawal yang sudah mengerti akan kode yang di berikan Rhadika langsung membubarkan kumpulan wanita seksi di sana.


Rhadika merasa gerah karena keberadaan wanita di pangkuannya. Dia juga bingung bagaimana wanita yang berada di pangkuannya ini serasa memiliki dendam untuk nya. Dia dengan benar mengingat bahwa ini pertemuan di bandara adalah pertemuan pertamanya.


"Berani nya kau?" seru Rhadika. Kini tatapannya jatuh pada wanita yang sedang berada di pangkuannya.


Camella sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Rhadika.


"Kenapa? Apa tuan Rhadika yang terhormat takut akan terpancing oleh ku?" tanya Camella dengan ekspresi menantang. Wajahnya sama seperti Rhadika, sama-sama dingin tak terbantahkan.


"Sial, wanita ini. Sebenarnya apa masalahnya dengan ku," batin Rhadika.


"Kau ikut pulang ke mansion ku, putra ku mencari mu," jelas Rhadika agar drama itu cepat selesai.

__ADS_1


Dia tidak ingin terbawa suasana. Terlebih lagi pakain wanita itu lumayan minim, jauh dari selera Rhadika. Namun jiwa seorang laki-laki tetaplah bukan?


"Tidak semudah itu tuan Rhadika," bisik Camella menghembuskan napas hangat nya ke leher Rhadika. Rhadika merasa sedang di uji kesetiaan pada sang istri.


Tidak biasanya Rhadika bisa mudah terpancing seperti ini. Dia merasakan dalam waktu beberapa menit suhu tubuhnya mulai memanas pertanda bahwa dia memang di bawah kendali Camella.


"Turun!" perintah Rhadika namun tidak di hiraukan sama sekali oleh Camella. Dengan santai dia meraih kancing kameja Rhadika namun langsung di tepis oleh pria itu.


Perlahan Camella turun dari pangkuan Rhadika dan mengambil wine yang dari botol yang berada di meja itu. Dia menuangkannya seelegan mungkin.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Rhadika. Dia sama sekali tidak menyentuh gelas yang sudah terisi wine itu.


Camella diam dan malah mengangkat gelasnya seakan mengajak Rhadika cheers. Dengan malas Rhadika mengangkat gelasnya dan melakukan cheers seperti permintaan wanita itu.


Sebenarnya ini bukan tipe Rhadika, menurut begitu saja pada orang lain terlebih wanita yang selalu merusak moodnya. Tapi dari hati nya yang paling dalam dia benar-benar ingin memanjakan hati wanita yang ada di depannya.


"Jadikan aku sekertaris mu!' seru Camella.


Jangan lupa like nya 😊👍👍


Horas ✋

__ADS_1


__ADS_2