Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 21


__ADS_3

Clasy sudah heboh mencari kesana kemari benda yang sedang di carinya. Yah, memang tidak terlalu penting, tapi itu adalah salah satu sejarah yang penting untuknya.


"Aku benar-benar ingat meletakkan benda itu di sini. Tidak mungkin benda itu berpindah sendiri.


Clasy juga melanjutkan pencariannya dan di sekitar kamar yang di tempati olehnya.


**


"Ck, mimpi mu terlalu tinggi," seru Rhadika. Camella hanya tersenyum tipis menanggapi penolakan Rhadika. Dia sama sekali tidak menampakkan wajah sedih ataupun semacamnya atas penolakan Rhadika.


"It's mean, aku tidak akan ikut ke mansion mu. Ahhh, so pity," seru Camella (sangat disayangkan). Dia juga meminum wine yang ada di gelasnya.


"Siapa kau berani memerintahkan aku," seru Rhadika. Baru sekali ini seorang manusia dengan beraninya melawan seorang Rhadika. Dia benar-benar ingin membunuh wanita yang ada di sampingnya. Tapi mengingat putranya, dia menahan rasa haus darahnya.


"Aku? Aku adalah orang yang paling penting saat ini di sini bukan? Apa aku perlu memberitahu kan mu Tuan Rhadika?" jawab Camella. Dia sudah menghabiskan satu gelas isi wine itu ketika menghadapi wajah tak bersahabat Rhadika. Wajahnya sudah mulai memerah.


"Sial, aku minum terlalu banyak," batin Camella. Yah, sebenarnya sejak tadi Camella memang minum, tapi itu adalah minuman berwarna yang di bawanya dari luar.

__ADS_1


Rhadika marah bukan main. Dia memegang tangan Camella dan membawanya ke sebuah ruangan VVIP yang sebelumnya di sediakan untuknya.


Dia menghempaskan Camella yang sudah mulai di bawah pengaruh alkohol.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rhadika. Pria itu sudah curiga sejak awal bahwa Camella bukanlah hanya sekedar wanita biasa pada umumnya seperti Clasy yang benar-benar ingin merawat Shine.


"Lucu. Kamu nanya?" seru Camella dengan mengejek. Dia juga tertawa di akhir ucapannya.


"Aku datang untuk membalaskan dendam ku pada seorang pria bajingan yang menghianati rasa cinta ku padanya. Aku ingin memberikan dia pelajaran yang setimpal pada pria sialan itu," seru Camella mulai tepar.


Dia sama sekali tidak peduli dengan urusan asmara Camella. Memangnya siapa wanita itu, apa dia juga harus mengetahui hubungan asmaranya? Tentu saja tidak, itu bukan tipe Rhadika.


"Putra mu, hahaha, kau pikir dia juga hanya putra mu?" Camella sudah mulai di luar kendali.


"Shine, dia juga adalah..," Camella terjatuh ke samping kursi yang sedang di dudukinya.


Dia bangun kembali dan menatap tidak suka pada Rhadika. "Ingat, aku, aku akan membalaskan dendam ku," seru Camella berdiri ingin meninggalkan Rhadika yang sedang duduk di sana.

__ADS_1


Jika di tanya tentang kemampuannya meminum wine, kemampuannya sebatas sebelumnya saat memegang nama Rosaline, hanya bisa minum satu atau dua gelas saja.


Di luar kesadaran Camella meminum lagi wine itu. "Kau tau aku sangat membenci mu, aku sangat membenci mu di masa sekarang dan masa la...," Camella tumbang dan jatuh ke pelukan Rhadika.


"Sial, wanita ini selalu saja menyusahkan," seru Rhadika.


Tapi ada satu yang terbesit di hati Rhadika sejak tadi.


Rhadika merasa Camella ingin mengatakan tentang putranya. Dia juga merasa Camella seperti sudah mengenalnya jauh sebelum mereka bertemu.


Tidak mungkin hanya karena tabrakan waktu itu, Camella langsung menyimpan dendam, Rhadika merasa tidak logis, namun wanita itu juga tidak menunjukkan aksi ingin merebut harta atau ingin membunuhnya.


Rhadika kembali mendapatkan teka-teki kembali.


jangan lupa like nya 😊👍👍


Horas ✋

__ADS_1


__ADS_2