
Setelah menerima pesan dari Max hati Rhadika sangat gelisah namun dia harus menyelamat kan ayah mertua nya saat ini, Rhadika segera berlari ke tempat di mana ayah mertua nya saat ini sedang g menghadapi musuh.
Setelah sampai di ruang kerja ayah mertua nya, Rhadika melihat pria paruh baya itu sudah tumbang.
Rhadika menatap tajam ke arah pria yang sedang mengangkat pisau saat ini. Rhadika berlari dan di halangi tiga orang musuh.
Dengan brutal Dika menghajar habis-habisan pria yang dengan berani nya melukai Dad nya, sebagian anggota Black Sky juga menuju ke arah mansion ini
Para musuh mulai mengeluar kan belati dari masing-masing punggung nya, sedang kan Rhadika hanya membawa pistol. Dia adalah ketua mafia yang paling di takuti membuat para musuh mulai gemetar menghadapi Rhadika.
Zevano yang hampir saja terkena tikaman langsung bergeser ke arah balik meja, dia yakin menantu nya itu akan mampu mengalah kan para tikus itu.
Dia juga tadi merasa kaget ketika mendengar ada sekumpulan orang banyak tanpa alasan langsung menerobos masuk dan menyerang mansion nya.
Bahkan ada penembak runduk yang membuat anggota nya semakin menipis, bahkan mereka langsung tau titik keberadaan Zevano membuat diri nya kewalahan melawan beberapa orang yang masuk ke ruang kerjanya. Mungkin faktor usia.
Rhadika berhasil merebut salah satu pisau dari lawan nya dan langsung merobek urat yang berada di leher pria itu.
Dia tersenyum iblis, membuat lawan nya mundur bukan maju. Tiga orang kembali maju dan melawan Rhadika, salah satu musuh nya hampir berhasil menusuk Dika dari belakang namun dengan cepat Rhadika menghindar dan membuat dia orang musuh saling menusuk satu sama lain, tidak sampai di sana, Rhadika memperdalam tusu kan dari sesama musuh itu.
Musuh tinggal lima orang lagi, mereka memilih untuk mu Dur saja, tapi bukan Rhadika nama nya jika melepas kan musuh dengan begitu mudah nya.
Rhadika mengambil pistol nya dan menembak musuh yang hampir bisa melolos kan diri, tidak ada yang selamat, mereka semua tertembak, salah satu nya masih hidup karena bukan jantung nya yang terkena peluru. Pria itu sengaja melakukan nya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Rhadika mulai menancap kan pisau itu ke paha pria yang saat ini sedang mengerang kesakitan.
"Aku tidak tau, aku hanya ikut bersama yang lain," teriak pria itu sambil menahan rasa sakit nya. Rhadika semakin gencar menyiksa pria itu. Rhadika memberi kan hadiah terakhir dengan mearik belati tadi dan menancap kan belati itu di salah satu tangan pria itu dan langsung tertempel ke dinding.
"Dad, aku harus menemui istri ku, urus sendiri urusan mu. Istri ku lebih penting!" ucap Rhadika ketika melihat anggota nya sudah sampai di mansion ayah mertua nya.
Dengan langkah cepat dan lihai, Rhadika melewati semua peperangan yang terjadi, dia berusaha menelpon Max tapi tidak ada jawaban sama sekali atau kabar terbaru sekali pun.
Max yang berada di club di kaget kan dengan pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Pintu itu terbuka begitu keras karena di banting.
"Di mana suami ku?" itu lah kalimat yang pertama kali di kata kan oleh orang sakit yang di jaga Max sejak tadi.
"Nona saya mohon ada tetap berada di kamar. Keadaan sekarang sedang tidak mendukung. Max kemudian mendekat dan mulai memapah Ella.
"Jangan membodohi ku Max. Di mana suami ku? Apa dia pergi bersama wanita lain dan membiar kan aku seperti ini?" tanya Ella lagi. Dia melepas kan tangan Max yang hendak memapah nya.
Kemudian dia mendorong Max dan membuka pintu ruangan itu. Namun sayang, ternyata Max sudah mengantisipasi itu dan mengunci pintu.
"Beri kan kunci nya Max, di mana kau letak kan kunci nya?" teriak Ella.
Tanpa menjawabMax langsung membawa Ella masuk ke dalam kamar. "Nona, sebaik nya anda istrirahat. Jika sesuatu terjadi pada Nona, saya yang akan menjadi jaminan nya," ucap Max.
__ADS_1
Max kemudian menyiap kan sepatu gelas air minum dan memasuk kan serbuk ke dalam minuman itu.
"Baik, saya akan memberitahu di mana keberadaan Tuan. Tapi Nona, anda harus minum dulu. Ini perintah dari dokter," ucap Max.
Dengan cepat Ella meminum habis air minum itu. "Cepat, beri tahu aku di mana suami ku," ucap Ella.
"Baik Nona, saat ini Tuan berada di suatu tempat. Saya lupa nama nya, nama nya adalahhhhhh...."
Bug
Ella terjatuh ke tempat tidur. Max memperbaiki posisi tidur nyonya nya dan keluar dari ruangan itu. Ternyata obat tidur yang di gunakan nya bereaksi cepat.
Dia tidak ada pilihan lain untuk menenang kan sang Nyonya
Kemudian dia keluar dengan cepat dan mengunci pintu dari luar.
Max dengan santai duduk di kursi yang ia tempat kan di depan pintu ruangan itu.
Max melihat ada orang yang berusaha membuka pintu. Terlihat dari gagang itu sejak tadi bergerak naik turun.
Max bersiap, namun dia tetap duduk santai.
Pintu mulai terdengar di dobrak dari luar.
Hampjr saja Max mengeluar kan timah panas nya, . "Bren gsek kau Max!" ucap pria yang baru saja datang yang hampir di hadiahi peluru.
"Maaf Tuan, saya hanya berjaga-jaga," ucap Max menunduk ke arah tuan nya.
"Bawa dia masuk!" perintah Max pada anak buah nya.
Terlihat seorang pria yang sudah berdarah-darah di giring oleh para pengawal Black Sky ke dalam kamar itu.
"Tugas mu mencari tahu siapa pengirim mereka!" ucap Rhadika. Kemudian dia menjauh dari para pengawal dan tahana yang ada di sana.
Dia melihat ke arah pintu kamar di mana istri kecil nya berada."Apa istri ku sudah bangun?" tanya Dika.
"Sudah Tuan, tapi saya memberi kan obat tidur agar Nyonya tenang, karena ketika
bangun tadi Nyonya langsung mencari anda," jelas Max.
Mendengar itu hati Dika terasa nyaman. Dia memasuki kamar dan melihat istri kecil nya masih tidur. Dika melihat tangan istri kecil nya yang masih terbungkus.
Dia mencium kening istri nya dan ikut masuk ke dalam selimut.
"Aku benar-benar Rosaline," suara Ella yang sedang bermimpi.
__ADS_1
"Aku tau Baby," batin Rhadika mencium kening sang istri.
Pagi hari nya, Rhadika bangun terlebih dahulu dan berjalan ke arah sofa di sana dan tidur kembali.
Ella bangun dari tidur nya dan melihat sekeliling nya, dia merasa kan tangan nya masih perih. Dia mengingat kejadian semalam dan mengutuk diri nya yang bodoh karena melukai diri sendiri.
Ella melihat sekeliling nya dan melihat sang suami tidur di sofa. "Apa sebegitu jijik nya dia pada ku," ucap Ella.
Rhadika yang berpura-pura tidur masih bisa mendengar nya. Dia tetap diam dan tidak merespon.
Ella bangun dari tidur nya dan mendekat ke arah Rhadika. Ella menhelus rahang tegas Rhadika, pandangan nya turun ke tangan Rhadika yang memerah karena darah mengering.
Ella yang semalam berpikiran negatif tentang sang suami kini tidak lagi. Dari luka yang di lihat, suami nya pasti melaku kan misi atau semacam nya.
Dia melihat ada kotak P3k di meja, dia langsung mengambil obat itu dan berusaha membersih kan luka Rhadika. Namuns angkat sudah karena pergera kan tangan kiri Ella sangat susah.
Rhadika yang melihat Ella mengalami kesusahan langsung bangun dan menepis tangan Ella yang akan mengobati nya. Obat itu bertaburan di lantai, membuat Ella kaget.
"Aku bisa sendiri, urus saja diri mu sendiri jangan menyusah kan orang lain," ucap Rhadika mengambil obat-obatan yang bersedia kan.
Rhadika membersih kan sendiri luka nya yang terkena goresan kaca.
"Aku bisa membjkti kan bahwa aku adalah istri mu Rosaline," tiba-tiba terdengar suara Ella yang sudah bergetar menahan tangis.
Tidak ada respon yang di beri kan oleh Rhadika, hanya berhenti sebentar lalu melanjut kan membalut luka nya.
"Apa yang harus ku laku kan hah, untuk membuat mu percaya?" tanya Ella mulai menangis.
Rhadika berdiri dan mendekat ke arah Ella.
"Tidak ada yang harus kau laku kan dan berhenti lah mengata kan omong kosong jika kau adalah istri ku Rosaline. Jangan sampai berita ini tersebar ke luar atau ku habisi kau!" ucap Rhadika dengan dingin. Kemudian Rhadika berjalan ke arah pintu
"Apa kau masih mencintai nya sampai mata dan telinga mu buta saat ini?" tanya Ella. Rhadika tidak merespon namun berhenti di tempat.
"Aku tau kau masih mencintai Lily bukan? Bah kan kau membuat taman bunga lili di mansion. Di.markas pun kau memperbaiki taman bunga lili itu bukan? Apa aku hanya pelampiasan untuk mu selama ini? Pertama kau berskandal dengan Maura, kemudian Lily dan kemaren kau bahkan ingin berc inta dengan wanita lain di hadapan ku. Kau memang ban gsat Rhadika. Aku membenci mu," teriak Ella. Dia menarik napas sebentar.
"Heh, aku memang sangat bodoh bukan selalu mengharap kan cinta dari orang yang jelas-jelas tidak mencintai ku bahkan memandang ku, cih menyedih kan," ucap Ella menghapus air mata nya dengan kasar.
Rhadika berbalik dan menatap Ella yang sudah menatap nya dengan benci.
"Aku Rosaline Browns, meminta cer...," ucapan Ella terpotong ketika melihat Rhadika sudah di depan wajah nya bahkan tubuh nya sudah terjatuh ke atas ranjang.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋
__ADS_1