
"Dad, aku mendapat info bahwa kakak di serang di pesawat, ah....ahhh, aku lupa nama tempat nya di....di,"
"Berbicara lah dengan jelas anak kecil. Jangan bodoh seperti ini!" Anderson berdiri dan mendorong jidat adik nya itu.
"Aishh, aku lupa nama nya. Kota itu berada di Amerika, Mi..,"
"Miami?"
"Ya."
"Bagiamana Paman, apa kita ada informasi tentang itu?" tanya Anderson.
"Aku belum tau, kita tunggu informasi tentang itu," jawab pria paruh baya itu dengan tenang.
"Zevano juga terlibat dalam penyerangan markas Ghost Lion, sebenar nya apa yang terjadi?" batin pria paruh baya itu.
"Bodoh, Anderson. Apa kau tau Clasy juga ikut dalam penyerangan markas Ghost Lion."
"Apa kau bilang anak kecil?"
"Cih," gadis itu berdecih melihat reaksi Anderson. Dari reaksi nya gadis itu bisa melihat bahwa Anderson tidak mengetahui nya.
Dia langsung bergegas ke lobi mansion yang sedang mereka tempati.
"Sial, kenapa aku terlambat mengetahui nya?" batin Anderson sambil menekan pedal gas mobil nya.
**
Di mansion Rhadika, ketegangan tetap terjadi, ralat pasukan dari Ghost Lion dan Xavier tidak berhasil menembus gerbang dari mansion Browns.
Meski pun ada satu persatu yang berhasil melewati gerbang, satu-satu orang namun berhasil di tarik kembali.
Shine, dia tidak menangis lagi karena satu pesan notifikasi berhasil menenangkan nya.
Setelah melihat Shine di sana Odion berpamitan pergi ingin membantu Ella, namun hanya di jawab gelengan kepala oleh Shine.
"Tuan kecil, keselamatan Nona Ella juga pent...,"
"Apa kau menolak perintah ku?" tanya Shine membuat Odion terdiam.
Pria itu tetap di sana, namun membuat kepala Shine pusing karena Odion terus saja mondar mandir. Tapi wajar saja, Odion tidak tau apa yang terjadi di sana.
Ella yang saat ini telentang, masih saja menutup mata. Bahkan dia merasa kan tubuh nya melayang di udara.
Tiba-tiba dia menangis. "Hiks...Hiks, apa aku sudah mati? Bahkan aku merasa kan tubuh ku melayang di atas awan, maaf kan mommy Shine," batin Ella kemudian dia pingsan.
Banyak darah yang sudah kering di tubuh Ella, luka ada di mana-mana meski pun tidak begitu dalam namun masih di kata kan luka yang lumayan.
"CK, wanita ini sifat bodoh nya sudah mulai kembali," seorang pria mengangkat tubuh Ella dan mengantar kan nya ke kamar.
Mike yang ingin menendang kaki lawan terjungkal sendiri dan itu menimbul kan candaan dari bawahan lain nya.
"Tu....tu... an, anda masih hidup?" tanya Mike. Mike meninggal kan anggota lai nya yang sedang beradu otot di sana.
Sebagian lagi sudah tidak memiliki pekerjaan karena di sana anggota lai nya hendak menyiksa musuh.
"Tahan dia, aku akan mengantar Ella ke kamar sebentar."
Mike di buat syok, bukan kah dengan jelas kemarin Max mengirim foto pemakaman ke pada nya. Sebenar nya apa yang terjadi, dia menjadi orang terbodoh di sana.
Anggota lain pun bingung melihat ke konyolan Mike ketika melihat sang tuan, seperti melihat orang yang baru meninggal saja.
"Tidur lah Baby! Your husband akan segera kembali, hmm," batin Rhadika mencium kening istri nya. Kemudian dia mengambil ponsel milik nya dan menelpon Darren si jas putih mesum.
"Cepat datang ke mansion ku, tanya Paman Vill di mana kamar ku. Jika ingin hidup jangan lewat gerbang utama," jelas Rhadika kemudian memati kan ponsel nya tanpa mendengar jawaban dari pria di seberang sana.
__ADS_1
"Sial, pria sia lan ini memang selalu membuat ku kesal. Tunggu, kenapa bukan max yang menghubungi ku? Tidak boleh lewat gerbang depan? Apa dia pindah kamar juga? Kenapa? Bukan kah kamar itu tempat dia mengenang istri nya," tanya Darren pada diri nya sendiri dan bersandar di kursi nya.
"Dokter, suami saya ingin mati! Apa kah anda bisa cepat?" Darren di kejut kan suara berteriak di depan nya. Dia lupa bahwa sedang ada pasien di depan nya ingin konsultasi tapi penyakit nya kambuh. Dengan segera Darren bertindak dan menyerah kan pasien itu ke dokter lain karena perintah iblis tadi lebih penting.
Xavier yang di beri kan tendangan oleh Rhadika tadi serasa remuk tulang nya. Tendangan itu begitu keras hingga membuat diri nya susah untuk berdiri dan lebih memalukan lagi itu semua di saksi kan oleh musuh nya termasuk Mike dan yang lain nya.
Rhadika dengan wajah dingin nya turun dari tangga. Mata tajam nya menatap ke arah Xavier yang berusaha berdiri di sana, tatapan membunuh itu membuat seisi ruangan merinding.
Berani sekali pria itu menggores tubuh istri nya, bahkan bukan hanya di satu tempat di berbagai tempat bahkan.
Dia melihat dari CCTV bagaimana perjuangan istri nya tadi. Bahkan tiap goresan luka itu di rasakan nya, tapi dia hanya bisa melihat dari layar kaca pipih di tangan nya. Penerbangan nya tepat karena cuaca yang begitu buruk, pilot mengata kan jika mereka memaksa itu sama saja mengantar kan nyawa.
"Habis lah kau pria bertopeng," batin Mike.
"Kalian ke bawah, bantu yang lain. Termasuk kau Mike" seru Rhadika tanpa mengalih kan pandangan nya dari Xavier yang sudah berdiri.
Mike awal nya hendak membantah, karena musuh selalu berdatangan dari kaca yang rusak bukan dari bawah.
"Jangan membantah ku Mike, aku tau apa yang harus ku lakukan," seru Rhadika seakan tau apa yang ada di pikiran Mike.
Pria itu pergi bersama dengan pengawal lain nya.
Begitu juga Rhadika, dia mulai melangkah dengan langkah tegap nya ke arah Xavier.
Dengan sigap, sebelum Rhadika sampai menuju diri nya pria itu dengan gerakan tak terlihat melempar pisau yang ada di tangan nya.
Namun Rhadika bisa.menghindari serangan tak terduga Xavier. Dia belum pernah berhadapan dengan Rhadika, hanya isi dari luaran sana yang ia dengar. Terlebih lagi dia masih muda dan tentu nya dia belum setara dengan Rhadika.
Sesampai nya di depan Xavier, Rhadika dengan brutal meninju tubuh Xavier hingga lemas. Anak itu sudah melaku kan perlawanan, tapi semua gerakan nya bisa di ketahui pria itu.
Setelah Xavier di sudah lemas, Rhadika melihat paha Xavier yang berdarah, dia mengingat benar di mana Ella melempar belati kecil tadi.
"Arrghhh, dia lan lepas kan kaki mu," teriak Xavier merasakan paha nya sudah mengeluar kan darah dan berembes, bahkan paha nya serasa akan patah akan ulah pria itu.
Rhadika melepas kan topeng Xavier.
BUG
Rhadika menendang perut Xavier hingga pria itu terpental kembali. Tubuh nya saat ini berada di pinggiran kaca transparan yang sudah bolong itu.
Xavier merasa kan ini lah akhir hidup nya, tapi dia berjuang untuk bangkit, "tidak... tidak, ini tidak boleh menjadi akhir nya. Dia masih hidup, aku akan membalas nya kembali suatu saat nanti,' batin Xavier.
Dia menumpukan dua tangan nya untuk berdiri. Perlahan dia m ngangkat kaki nya.
"Siapa kau dan apa mau mu?" tanya Rhadika sambil berjalan ke arah benda yang sedang tertancap di meja di sana. Dia sama sekali tidak pernah bermusuhan dengan anak bawang seperti ini.
Sejak tadi pria itu hanya diam dan hanya berbicara sedikit. Melihat musuh sudah mulai lemah Rhadika buka suara.
Pria itu berdecih.
"Cih, tidak perlu kau tau siapa aku. Dan tujuan ku adalah m mbunuh mu, sayang sekali kau tidak mati di pesawat itu. Kau tau tujuan ku...uhuk uhuk," di tengah ocehan Xavier dia muntah darah. Namun dia berusaha menyelesai ucapan nya.
"Bukan ... bukan bukan hanya tujuan ku, tujuan ku hidup adalah untuk m mbunuh mu dan keturunan mu," ucap Xavier.
Rhadika tersenyum smirk, dia mengambil belati yang tertancap dan dengan mulus melempar kan belati itu ke jantung Xavier.
Xavier tidak bisa menghindar, dan yah belati itu tertancap kembali pada dada Xavier tepat nya di sekitar jantung.
Xavier Semakin merasa hidup nya akan berakhir. Rhadika tersenyum smirk, tidak ada rasa kasihan yang tercetak di wajah pria itu.
Xavier melihat ke arah dada nya di mana pisau itu tertancap mulus, Rhadika juga melihat ke arah belati itu, tanpa di duga Rhadika Xavier mengeluar kan pistol dari pinggang nya.
DOR
Xavier mengeluar timah panas nya dan mengenai Rhadika.
__ADS_1
Xavier tersenyum penuh kemenangan, tapi itu hanya sementara karena Rhadika tetap pada posisi nya dan tidak menunjuk kan rasa sakit.
Sama seperti yang di dengar nya bisa nya bahwa anggota inti dari Black Sky adalah yang terkuat.
Xavier tidak mengetahui identitas Rhadika yang sebenar nya, dia hanya mengetahui bahwa ketua dari Black Sky adalah Levi, karena pria itu lah yang menyiksa dan membunuh orang penting di dalam hidup nya.
Dia sudah mencari keberadaan pria itu, namun dia tidak menemukan nya. Jadi dia mulai dari bawahan serta orang-orang penting di hidup Levi termasuk Rhadika karena anak buah nya pernah menangkap bahwa pria itu sangat dengan Rhadika begitu juga ank kecil itu.
"Kau salah sasaran bocah," seru Rhadika kemudian melangkah mendekat ke arah Xavier. Xavier berusaha menghindar, dia tidak boleh mati sebelum black Sky runtuh.
Dia berusaha berjalan ke arah kaca transparan, Rhadika mulai mengeluar kan pistol nya. Dia sengaja tidak mengeluar kan itu tadi karena dia menyang kan bahwa mereka akan melakukan nya secara gentle. Namun tidak ternyata.
Rhadika dengan santai mengarah kan pistol itu ke arah kaki Xavier yang tidak terluka.
Xavier hampir sampai ke pinggiran kaca transparan itu.
Rhadika berpikir bahwa pria itu akan bunuh diri dan tidak ingin menjadi tawanan nya.
Tapi Rhadi bukan lah mafia berhati malaikat, jika sudah datang ke mansion nya itu arti nya orang itu siap menerima resiko nya, terlebih menyakiti istri tercinta nya.
Giliran Rhadika mengeluar kan timah panas nya.
Dor
Kaki Xavier terkena temba kan.
Pria itu kembali berteriak kesakitan. Tapi dia berjuang, tetpa menggapai pinggiran kaca yang bolong. Setelah sampai di sana dia.menjatuh kan diri.
Rhadika merasa kan sesuatu yang janggal.
Dan benar saja ada si burung besi yang menyelamat kan musuh nya.
Dia menelepon Mike, "Apa sudah aman di sana?" tanya Rhadika dan Mike mengiya kan pertanyaan Rhadika.
"Kau lihat heli yang bergerak menjauh dari mansion?"
"Saya melihat nya Tuan!"
"Ledak kan, lakukan cepat sebelumwreka menjauh!" ucap Rhadika memati kan sambungan telepon.
Dia melihat ke Arab perut nya yang tertembak,
"sh*it," batin Rhadika.
Dia memegang ponsel nya dan mengetik kan sesuatu di sana.
Kemudian dia menuju ke arah kamar utama di mana sang istri sudah ada di sana.
Dia sudah tidak peduli dengan hal lain.
Di luar kamar, dia melihat Darren dengan wajah tak enak nya. Dia melewati pria itu begitu saja.
"Tunggu, kenapa perut mu berdarah?" tanya Darren. Sebelum nya dia ingin marah, namun melihat Rhadika seperti ini, dia tidak tega.
"Bukan urusan mu, apa kau sudah mengobati nya?" Darren ingin sekali bertanya banyak hal, tapi melihat kondisi yang tidak memungkin kan dia memilih diam saja.
"Sudah, tidak ada yang perlu di khwatir kan. Dia pingsan karena kelahan dan juga karena darah yang keluar lumayan banyak" jawab Darren.
Rhadika langsung masuk dengan wajah pucat nya tanpa mengata kan terimakasih pada Darren.
Rhadika tersenyum ketika melihat istri kecil nya sedang terlelap di alam mimpi nya.
Dia juga ikut berbaring di samping sang istri dan memeluk nya dengan penuh sayang.
"Apakah kamu akan terkejut ketika melihat ku ada di samping mu?" batin Rhadika ikut terlelap menuju alam mimpi.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋