Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 32


__ADS_3

Di belahan bumi lain, tepatnya di negara dengan dunia perbudakan tercetak jelas, seorang wanita tampak keluar dari sebuah casino. Wanita itu keluar di penuhi dengan miliaran uang yang di pegang oleh para anak buahnya.


Masih ada satu rintangan lagi yang harus di hadapi nya. Segerombolan musuh datang dari arah depan. Dia mengibaskan tangannya yang sudah mulai terasa karena terlalu banyak bergerak dan bertarung sejak tadi.


Yah, tangannya sudah mulai merasa lelah. Tangannya mulai kala itu sudah terbatas pergerakannya karena ulah seseorang. Setiap dia merasakan sakit itu dia selalu mengingat satu nama yang paling di bencinya di dunia ini.


"Bersihkan para mayat itu! Jangan meninggalkan jejak, kita masih perlu bermain di sini!" Wanita itu keluar dengan kepulan asap yang sengaja di keluar dari hidung nya.


Yah, dia bukanlah seorang wanita kaya lagi yang selalu di agung-agungkan ayahnya seperti dulu, semuanya berubah karena pria yang pernah mengirim nya ke sini.


Seorang pria tampak menunggu nya di depan mobil di sana. "Bagaimana? Beres?" tanya pria itu.


"Beres, ini uangnya dan semua obat-obatan nya!


"Bagus, ini hal yang ku tunggu-tunggu, seseorang yang bisa di andalkan. Tidak sia-sia aku menghabiskan uang untuk memungut mu!" seru pria itu dengan santai.


Wanita yang di berikan pujian di barengi dengan suara merendahkan hanya menatap datar pria di depan nya.


Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini untuk melawan pria itu, DNA dia juga tidak ada niat untuk menghancurkan pria di depannya karena nyawanya juga sudah di selamatkan oleh pria itu


"Cepat selesaikan urusan di sini, aku ingin kembali ke Spanyol. Ah, sial membayangkan wajahnya saja, jantung ku ingin senam saja," seru prai itu sambil memegang jantungnya di barengi dengan senyum bodohnya. Itulah yang di lihat oleh wanita di depannya.


Yah, wanita itu bisa melihat betapa senangnya wajah atasan nya sekaligus orang yang berjasa dalam hidupnya itu ketika membahas wanita yang di sukai pria itu.


"Cih, seberapa menariknya wanita itu," batin wanita itu. Setelah melihat atasn nya memasuki mobil dan sudah melaju, wajah wanita itu terlihat semakin datar.


"Aku akan membalas penderitaan ini. Tunggu saat nya Rhadika Browns. Cih, Akan ku buat penderitaan ini lebih dari yang kau perkira kan!"


**


"Ada apa Paman? Kenapa tiba-tiba datang?" tanya Rhadika sambil berjalan turun dari tangga dengan gaya santai namun penuh wibawanya.


"Tidak perlu berbasa-basi, di mana cucu ku?"? tanya tuan Zevano dengan marah.

__ADS_1


"Tenang Paman, ini bukan lah tipe paman!" seru Rhadika berjalan melewati tuan Zevan menuju kursi yang berada di ruang tamu.


Paman Zevano nampak mengeras wajah nya.


Dengan langkah pasti dia berjalan menuju arah menantu nya. Sejak keluar dari mansion nya tadi, dia sudah berlatih meredam amarah nya, namun tidak bisa karena ini menyangkut darah daging nya yang selama ini selalu di harapkan nya.


"Di mana cucu ku?"


"Ada, dia sedang berada di kamar nya bersama pengasuh," jawab Rhadika santai.


"Jangan terlalu terburu-buru Paman, aku tau kau marah. Simpan dulu tenaga mu, cucu mu aman bersama ku!" Rhadika masih santai menanggapi permasalahan yang sedang ada di antara mereka.


Inilah seorang Rhadika, dia tidak akan mudah terpengaruh dengan panasnya masalah yang sedang terjadi.


Pria tua itu tampak duduk, meskipun sedang marah tapi dia tetap berusaha untuk tetap tenang. "Kau pikir aku akan merelakan peninggalan putri ku untuk kau sia-sia kan? Tenang saja, aku tidak akan memutuskan hubungan kalian sebagai ayah anak, aku akan memperbolehkan kalian bertemu sesuka mu, tapi tidak merawat nya."


Rhadika tampak tersenyum smirk. Yah, benar yang di katakan oleh ayah mertuanya, tapi ini bukan lah masalah yang harus di ikut campuri oleh anggota luar. Bukan luar, maksud nya keluarga inti.


"Paman, Maksud ku Dad, kau sudah sebagai ayah mertua ku bukan saat ini. Tahan dulu..."


Rhadika mengangkat dan menindih kan kakinya satu sama lain. "Ini bukanlah masalah yang bisa di putuskan dengan kondisi emosi. Apa lagi ini bukan tentang masalah semudah ini."


"Apa yang ingin kau katakan, jangan memutar-mutar kata."


"Masalah keluarga ku, aku pikir Dad tidak perlu ikut campur. Dan juga aku tidak akan membiarkan siapapun membawa Shine ke manapun bahkan menginjak kan kaki keluar dari mansion ini tanpa adanya aku!" Rhadika sudah mulai serius tapi wajahnya tetap santai.


BRAK


"Dan kamu akan membuat cucu ku menjadi korban ke egoisan dan kebodohan mu lagi?" Tuan Zevano menggebrak meja dengan keras. Dia berdiri dan memelototi menantu nya.


"Geledah mansion ini, temukan cucu ku." Zevano merasa muak menghadapi Rhadika yang tetap bersikeras untuk mendapatkan Shine.


"Jika kau tidak bisa di minta dengan baik-baik, aku akan melakukan cara lain dan ini adalah pilihan mu!" seru Tuan Zevano.

__ADS_1


Anggotanya masuk satu persatu dari pintu mansion hendak menggeledah mansion Rhadika untuk menemukan Shine.


Tanpa di perintah atau pun di beri kode, Max langsung bergerak menghentikan semua anggota Zevano. Para pengawal mansion Rhadika menghalangi anggota Zevano.


Saat ini hanyalah ketegangan yang menguasai mansion itu, Rhadika tetap tenang, karena yang di hadapinya adalah ayah mertuanya sendiri. Tidak boleh melakukan kepala yang sedang panas karena nantinya akan menimbulkan kesalahan dan penyesalan.


Di tengah keheningan yang terjadi, langkah kaki terdengar menuruni tangga di barengi dengan suara kecil yang sedang berbicara dengan seorang wanita.


"Apa maksud dari hasil penelitian Bunda tadi? Kenapa kalian menjauh dari ku. Apa kalian menyembunyikan sesuatu? Katakan saja, Bunda tidak di sini lagi!"


"CK, ternyata anak ini memiliki rasa penasaran yang tinggi. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," batin Ella.


"Baik, aku akan menceritakannya pada tuan Kecil. Tapi ada syaratnya," seru Camella. Shine tampak berhenti berjalan di atas tangga dan menatap tajam ke arah Camella.


"Kau belum resmi ku terima, tapi kau sudah berani membuat penawaran pada ku?" Suara itu begitu dingin dan penuh penekanan.


Ella sama sekali tidak terpengaruh dengan suara itu. "Hanya satu saja, cukup Tuan kecil panggil aku Tante seperti sebelum sebelumnya, jangan Nona. Aku sudah seperti akan menjadi pacar mu di masa depan, hahaha,' Camella tertawa garing sendiri akan ucapannya.


p0pspa


"Hmmm, akan ku pertimbangan kan."


"Jadi yang kami bicara kan tadi adalah tentang Bunda mu Clasy telah.... mmm berbohong pada Tante kalau dia menghabiskan uang Tante tanpa sepengetahuan Tante dulu hingga kami bertengkar dalam jangka waktu yang sangat lama, ya begitu," jawab Ella.


"CK, Bunda ku tidak mungkin seperti itu."


"Terserah,Tuan kecil" jawab Ella.


Kedua interaksi itu tidak lepas dari pandangan orang-orang yang berada di bawah termasuk Rhadika, Zevano termasuk para pengawal yang sedang bersitegang.


Mereka menatap heran pada dua orang yang sejak tadi berbicara dengan santai di tengah ketegangan yang sedang terjadi.


"Hei apa yang kalian lakukan? Siapa kalian hah? Rame kali pun! Wow badannya besar!" seru Ella dengan pertanyaan beruntun di barengi dengan candaan.

__ADS_1


Beberapa dari pengawal yang bersitegang itu ada yang bisa bertahan dengan wajah datarnya dan sebagian lagi hampir saja tertawa.


Namun si kecil bukanlah bagian dari semua itu. "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Shine karena dari beberapa orang itu ada yang tidak ia kenal dan seragam yang di gunakan Sangat berbeda jauh dengan anggota klan Black Sky milik daddy nya.


__ADS_2