
Odion yang mendengar suara itu merinding bukan main, dia langsung pergi menjauh dari Ella dan mendekat ke arah Max.
"Max, aku mohon tolong aku. Aku sama sekali tidak berniat untuk mendekati Nona Camella, kami hanya bercanda tadi," bisik Odion memegang tangan memegang tangan Max.
"CK, kau pikir aku akan mau mati bersama mu. Bodoh, aku masih ingin hidup," balas Max berbisik.
Max dalam hati menyayang kan Odion, di sisi yang bersamaan dia hampir tertawa karena merasa kan tangan Odion sudah
sangat dingin. Pria itu juga sudah mulai keringat dingin.
"Tuan, sa...saya sangat meminta maaf, saya dengan Nona Camella tidak seperti yang anda bayang kan, kami hanya bercanda saja," jelas Odion dalam kegugupan nya.
Rhadika hanya tersenyum smirk, hal itu sukses membuat Odion semakin merinding dan ketakutan.
"Untuk apa kau menjelas kan itu Odion?" tanya Ella dengan bingung melihat Odion yang ketakutan dan berkeringat dingin.
Ella maju dan melihat Odion sudah pucat seperti orang mati. Ella mengambil tissu dan melap keringat Odion.
"Apa tadi itu karena ku? Apa memang terluka?" tanya Ella mengambil tangan Odion dan benar saja terluka.
Ella menjadi panik. "Ma... maaf Odion aku tadi hanya kesal saja karena kau tertawa. Aku akan mengobati nya," ucap Ella tanpa memperduli kan kehadiran Rhadika di depan pintu.
Orang yang berada di pintu semakin panas hati nya. Terutama ketika melihat tangan Ella menyentuh tangan Odion, dan lebih parah nya Odion tidak menolak sama sekali. Rhadika lebih panas hati nya lagi ketika melihat wanita nya mengkhawatir kan orang lain.
Odion melihat ke mana arah pandangan Rhadika. Dia secara spontan menghempas kan tangan Ella.
"No... nona, sa...saya bisa sendiri," jawab Odion. Namun pandangan nya tetap ke arah Rhadika, dia ingin menunjuk kan bahwa dia menollak bantuan dari Ella.
Namun wajah itu tidak berubah sama sekali. Dingin dan menyeram kan.
"Nyonya, kau membuat nyawa Odion semakin mudah melayang. Tipis harapan untuk hidup," batin Max ingin tertawa melihat keadaan Odion yang seperti orang bodoh saat ini.
Ella merasa aneh melihat Odion. Seperti nya pria itu ketakutan. Dan yang paling membuat Ella merasa aneh adalah Odion bersembunyi di belakang Max. "Karena apa?" batin Ella.
Dia melihat arah pandangan Odion, ternyata Rhadika sumber nya. Tatapan pria itu bagai elang yang telah di permain kan oleh Mangasa nya, ingin segera membunuh dan mencabik-cabik mangsa.
"Kenapa dia marah," batin Ella.
"Jangan bilang...?" Ella menutup mulut nya.
Dia mengingat dengan jelas saat berada di mall, di saat Leon mantan kekasih nya memeluk diri nya, Rhadika marah bukan main dan ingin menghabisi Leon, untuk nya dia bergerak cepat dan mencari kan suasana.
"Tapi itu kan Rosaline, istri nya. Sekarang apa mungkin dia juga sedang cemburu ke pada Odion? Apa dia mulai jatuh cinta pada Ella? Sial, jika begitu Odion akan habis di tangan nya," batin Ella baru sadar.
Bukan hanya Odion saat ini yang keringat dingin, tapi Ella juga. Dia juga sedang berusaha menolong Odion, karena penyebab masalah ini salah satu ny adalah diri nya.
Rhadika mulai berjalan ke arah Max dan Odion, di terlihat mengepal tangan nya hingga urat-urat di lengan mulai terlihat.
Ella semakin di bUt panik, "apa yang harus ku lakukan? Berpikir lah otak kecil! Bukan kah kau sudah berhasil membangun sebuah perusahaan dengan Clasy? Apa masalah sekecil ini tidak bisa kau dapat kan solusi nya?" tanya Ella pada diri nya sendiri.
__ADS_1
Odion sudah pasrah, dia yakin akan di cincang habis-habisan dan di beri kan pada moccha, harimau peliharaan Rhadika.
Ella mendapat kan sebuah ide, tapi menurut nya ini semua terlalu gila. Namun hanya itu ide yang masuk ke otak Ella. "Sial, apa tidak ada solusi lain?" batin Ella.
"Tidak, tidak ada lagi," Ella menjawab pertanyaan nya sendiri.
"Menyingkir dari hadapan ku Max!
Dan kau Odion, apa aku sendiri yang harus datang kehadapan mu?" tanya Rhadika dengan dingin.
Max langsung menyingkir dari Odion dan dari hadapan Rhadika. Dia juga tidak ingin mendapat kan bogeman nanti nya Karena membela Odion yang benar-benar salah.
Secara perlahan Odion mendekat ke arah Rhadika.
"Tuan, bukan saya yang pertama kali memegang Nona, tapi Nona yang melaku kan itu pada saya. Saya hanya...,"
BUG
Rhadika melayang kan tunjuk nya pada Odion.
Dika menatap Odion yang masih tetap berdiri, dia tersenyum smirk.
"Jika kau tidak melawan ku, itu arti nya kau benar-benar menantang ku," ucap Rhadika membuat Odion membeku.
Tidak melawan akan berdampak buruk, melawan itu sama saja mengantar nyawa.
Tidak ada pilihan lain, Odion memilih memasang kuda-kuda nya, apa pun yang terjadi dia akan berserah.
Rhadika tersenyum iblis melihat Odion mulai memasang kuda-kuda nya.
"Kau memang punya nyali besar Odion," seru Rhadika.
Odion serba salah, dia di minta untuk melawan tapi di katakan punya nyali besar.Tapi dia sudah mulai menantang Rhadika dengan membuat kuda-kuda nya.
"Sial, ternyata Tuan menipu ku. Ah, aku lupa siapa yang akan ku lawan," batin Odion penuh penyesalan. Ini lah seorang Rhadika penipu yang handal.
Rhadika menyerang terlebih dahulu, namun berhasil di hindari Odion. Odion merasa senang, tapi dia tidak melihat kaki Rhadika yang bekerja di bawah, dia terkena tendangan di perut.
Odion mulai merasa kan ngilu di bagian perut nya.
BUG
Rhadika tidak memberi kan jeda, dia kembali melayang kan tunjuk nya ke wajah Odion.
Pria itu tumbang, bibir nya robek dan mulai mengeluar kan darah. Rhadika kembali maju ketika Odion berdiri. Odion pasrah, semakin melawan pasti nya Rhadika akan mengeluar kan tenaga. Sebagaimana pun dia berusaha, tidak akan ada guna nya karena kekuatan mereka jelas berbeda.
Kali ini Rhadika akan memberi kan serangan akhir secara bertubi-tubi untuk mengingat kan Odion agar tidak melaku kan kesalahan. Tangan nya sudah di lemas kan.Odion semakin takut wajah nya di sana karena Rhadika sudah berlari ke arah nya.
"Sayang..." ucap Ella di sana dengan lembut.
__ADS_1
Rhadika hampir terpeleset mendengar kata dan suara lembut itu.
Kemudian ada pelukan hangat dari belakang nya. Jantung Rhadika berdetak lebih cepat di banding kan saat dia bermain bersama Odion tadi.
"Cukup, jangan berkelahi lagi," ucap suara wanita yang ternyata adalah Ella. Rhadika merasa kan kameja belakang nya basah. Dia kemudian berbalik.
"Baby, kenapa menangis? Akut tidak memukul mu, atau apa aku menyakiti mu?" Pertanyaan Rhadika setiap kali melihat Rosaline menangis.
"Ku mohon, kau sudah sadar dan mengakui siapa diri mu Baby," batin Rhadika.
**
"Lepas kan! Lepas kan aku," teriak seseorang dalam kegelapan.
Seorang pria yang sejak tadi memimpin penjagaan di ruangan itu sekaligus mansion yang besar itu merasa pusing sendiri mendengar teria kan dari seorang tawanan sejak tadi.
"Odion sialan, cepat lah kembali. Aku sudah muak mendengar teriakan wanita ini," batin seorang pria yang ternyata adalah Mike.
"Diam lah sialan, kenapa kau mencari masalah dengan Nona Camella jika tidak ingin berada di sini!" seru Odion setelah mendekat ke arah wanita itu.
"CK, Lily kau memang adalah wanita paling di cintai Tuan dulu, tapi ingat itu dulu. Sifat angkuh mu selama ini hilang kan saja heh, berhenti lah berteriak dan mengganggu telinga ku. Apa pun bisa ku lakukan untuk menyimpan mulut mu," ucap Mike.
Dia adalah orang yang paling suka ketenangan, dan jika ada keributan sebaik nya itu adalah peluru atau pun perang, dia akan ikut serta.
"Kau tidak akan berani, aku tetap penting untuk Rhadika. Bukti nya dia menghenti kan wanita gila itu yang hampir saja membunuh ku. Apa lagi kau....,"
"Bawa besi panas untuk menutup mulut nya," ucap Mike yang sudah bosan mendengar celotehan Lili.
"Sekali saja kau berbicara, satu kata pun keluar dari mulut mu, besi ini akan bersarang di mulut mu," ucap Mike membuat Lili terdiam.
Mike pergi dari sana setelah ruangan itu hening kembali.
Yah, mansion dan semua isi nya di timpah kan keamanan nya pada nya. Belum lagi iblis kecil yang harus di jaga nya, seperti saat ini dia harus menerima perintah konyol dari anak itu.
"Paman Mike, aku ingin makan stroberi yang ada di kulkas. Tolong ambil kan!" itu adalah isi pesan suara yang di terima oleh Mike.
"Ahh, sial. Lebih baik aku berperang di perbatasan dari pada harus menjaga iblis kecil itu," batin Mike. Dia dengan datar meletakk kan stroberi itu di depan Shine dengan wajah tidak stabil.
"Apa kah kau tidak ikhlas paman Mike?" tanya Shine melihat wajah Mike yang tidak ada rasa hidup nya.
"Seperti yang kau duga tuan kecil," balas Mike dengan datar. Wajah nya di buat tak terima menerima perintah dari Shine.
"Ya sudah jangan laku kan, bukan? Paman sudah besar tapi tidak bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk Paman" jawab Shine dengan biasa saja tanpa rasa bersalah.
"Dan aku akan di bunuh oleh Tuan bukan? Sungguh mulia hati tuan kecil memberi kan nasehat pada orang dewasa yang sudah besar dan melewati banyak tantangan hidup, peluru, bom, belati yang menancap pada kaki," ucap Mike menunduk memberi kan hormat pada Shine
"Hahaha, Paman kau benar juga ya. Aku terlalu mulia untuk menasehati mu" jawab Shine meledek tidak merasa di ejek.
"Sifat Nyonya rosaline memang menurun pada iblis kecil ini," batin Mike.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋