
Setelah Odion tiba di mansion bersama Max, melihat keadaan di sana, Max memberikan perintah ke pada Odion untuk mencari kebenaran tentang apa yang di dapat kan oleh Odion dari percakapan Clasy dan Anderson.
**
Selang beberapa menit saat Rhadika memasuki ruang kerja nya di mana ada Ella di sana, Max menerima informasi dari Odion.
Hal yang mengejut kan, tapi sebelum nya di dasari oleh praduga saja.
Namun saat Max memasuki ruangan itu dia justru melihat Ella dengan terang-terangan menantang sang Tuan.
Salah satu pantangan Rhadika ketika tawanan nya melawan diri nya atau menantang diri nya itu adalah kesalahan besar si tawanan.
"Baik, akan ku turuti permintaan mu Nona," seru Rhadika melepas kan tangan nya dari leher Ella.
Dia kemudian menarik tangan wanita itu hingga ke luar dari ruangan itu dan menuju ruangan khusus untuk latihan menembak.
Para pengawal yang mengerti tujuan sang tuan langsung bergerak cepat. Yah, mereka mengerti, jika ada orang lain yang di bawa ke ruangan ini, itu artinya si manusia telah melakukan sesuatu yang fatal. Mereka juga bisa melihat wajah sang Tuan yang semakin dingin.
Mereka mengikat tangan Ella di papan tembak. Tidak ada perlawanan yang di lakukan oleh Ella, hanya senyum tipis meremeh kan yang terlihat di bibir seksi itu.
Max yang mengikuti alur suasana ini sejak tadi merasa heran. "Bagaimana wanita itu hanya menurut saja? Bahkan dia tetap menantang tuan," batin Max.
"Tersenyum lah sampai maut menjemput mu," seru Rhadika dengan dingin.
Dia terlihat sudah mulai memasang senjata pistol yang ada di depan nya.
Tembakan pertama, Rhadika mulai mengangkat senjata nya dan mengarahkan nya pada Ella.
Sebenar nya Ella merasa takut, tapi dia juga ingin melihat apakah sang suami juga merasakan perasaan nya saat ini.
Dan benar, entah mengapa Rhadika merasa takut jika peluru nya salah sasaran. Namun dia benar-benar sudah di tantang secara terang-terangan dan itu adalah seorang wanita lemah menurut nya.
Dor
Satu tembakan meluncur ke arah Ella. Wanita itu nampak diam dengan pandangan kosong nya. Peluru itu memang di muntah kan, dan tepat mengenai sedikit telinga Ella.
"Sialan kau Rhadika," seru Ella. Rhadika yang sebelum nya juga merasa tegang, merasa menang karena ekspresi Ella saat ini yang sudah mulai ketakutan.
"Ternyata wanita itu takut rupa nya," batin Rhadika. Dia sama sekali tidak menjawab dan abai saja akan umpatan Ella.
Langkah berikut nya yang di lakukan oleh Rhadika adalah mengambil pisau yang ada di depan nya.
Ella yang sebelum nya diam saja ketika di awal kini sudah meronta-ronta di sana.
"Rhadika sialan, jangan lakukan itu," teriak Ella. Dia akhir nya tidak berani dan memilih untuk menutup mata.
Max yang ada di dekat pintu sejak tadi terdiam dan tidak bisa menahan tawanya lagi dan memilih keluar dari ruangan itu. Jika dia Bernai tertawa, itu artinya dia mencari mati bukan? Nyali nya tidak sekuat Ella.
Sedangkan Rhadika, dia tetap datar dan melihat Ella yang sejak tadi sudah gemetaran.
__ADS_1
Dia memberikan jeda untuk hukuman berikut nya.
Ella membuka mata dan melihat apakah pisau itu sudah menancap di tubuh nya.
Blush
Tepat saat itu pisau kecil melayang tepat menuju dahi Ella. Wanita itu nampak pasrah begitu saja. Pikiran nya tidak sampai di sana karan dia pikir pria di depan sana yang sedang memainkan nyawa nya tidak akan berani melakukan hal gila seperti itu.
Setelah beberapa saat Ella tidak merasakan apa pun.
"Apa aku sudah mati? Tidak, tidak belum waktu nya," seru Ella dengan mata tertutup. Dia sama sekali tidak berani membuka mata.
Dia meraba dahinya, dan benar ada tetesan darah. "Apa aku benar-benar mati? Oh, tidak aku belum memeluk Shine tidur," seru Ella.
"Dasar konyol," seru Rhadika dengan suara berat nya. Kemudian dia mengambil ponsel nya yang sejak tadi berdering. Sebenar nya dia ingin melanjut kan tantangan yang di berikan oleh Ella, namun ponsel nya sejak tadi sudah berdering, jika tidak penting Dika tidak akan mengangkat nya tapi masalah nya di iblis kecil yang menelepon nya.
"Katakan!" seru Rhadika.
"Dad, grandpa akan pulang. Ada sesuatu yang ingin di katakan grandpa ke pada dad. Oh iya, Tante Ella di mana? Aku tidak melihat nya sejak tadi?"
"Hmmm, aku akan datang. Dan wanita itu akan datang sebentar lagi," jawab Rhadika. Setelah itu, Dika langsung m matikan telepon dan melihat Ella yang sudah ngos-ngosan di sana berusaha melepas kan tali yang membelit nya sejak tadi.
"Lepaskan dia,' perintah Rhadika. Dengan sigap para pengawal melepas kan tali itu dari tangan Ella.
Max juga sudah memasuki ruangan itu dan melihat hanya sedikit lecet pada tubuh Ella. "Hanya sedikit?" batin Max.
Rhadika yang mendapat telepon langsung bergegas keluar dari ruangan itu menuju mansion utama.
Max mengganti kan Rhadika sebagai perantara untuk memberikan peringatan ke pada Max.
"Dan satu lagi, jangan berpikir bahwa anda adalah wanita istimewa yang ada di mansion ini. Nyonya di rumah ini tetap lah satu, Samapi kapan pun anda tidak akan bisa menempati posisi itu," seru Max dengan seirus.
"Diam lah kau Max. Dasar pria kutub es," seru Ella dengan kesal lalu berjalan dari depan Max dan menginjak kaki Max sekuat tenaga.
"Rasakan!" seru Ella. Kemudian dia berlalu dari sana, dia harus mengobati luka nya akibat ke gilaan pria yang adalah suami nya sendiri.
Max yang berada di ruang penyiksaan itu terbengong karena kejadian barusan. Dengan pelan fia menuju salah satu kursi yang ada di sana.
Para pengawal tentu saja heran, "tidak mungkin bukan injakan kaki wanita tadi sampai membuat Tuan Max merasakan sakit yang luar biasa seperti itu. Atau apakah tuan Max terkagum dengan penampilan wanita tadi?" itulah isi pikiran para pengawal yang melihat ekspresi Max.
Max melihat samar ke arah pintu, ada sesuatu yang mengganjal di hati nya.
**
"Ada apa Dad, kenapa kau harus berpamitan jika ingin pulang? Aku ada urusan yang harus di selesaikan saat ini," ucap Rhadika setelah duduk di depan Tuan Zevano.
"Apa ada tempat yang lebih aman untuk kita bicara?" tanya tuan Zevano dan melihat sebentar para pengawal yang ada di sana.
Rhadika mengerti ada sesuatu yang ingin di sampai kan oleh oleh mertua nya.
__ADS_1
Ella langsung berjalan ke arah kamar nya untuk membersih kan luka akibat ulah pria gila itu.
"Lihat saja, aku akan membalas nya. Bahkan berkali-kali lipat," seru Ella dengan kesal.
Shine yang mendengar celotehan pengasuh nya menatap aneh ke arah Ella.
"Ada apa Tante? Seperti ny kau ada masalah," seru Shine.
Ella langsung berbalik untuk tidak berhadapan dengan Shine.
"Ahhhh, itu...itu.... itu aku sakit perut karena terlalu banyak makan tadi. Tante pergi dulu, perut Tante sangat tidak nyaman," seru Ella sambil memegang perut nya dan berlari kecil ke arah kamar nya.
Shine menatap aneh Ella.
"Aneh," seru anak itu.
Sesampai nya di kamar Ella langsung berdiri di depan kaca dan melihat bekas pisau yang di lempar kan pada nya tadi.
"Si sialan itu," seru Ella sambil berjalan mengambil kotak p3k.
Ella tiba-tiba teringat dengan sang kakak.
Dia melempar kan begitu saja obat-obatan yang dia pegang.
Setelah beberapa saat berdering, akhir nya telepon Anderson di seberang sana di angkat.
"Sialan, aku ingin membunuh majikan mu itu, bisa-bisa nya dia ingin membunuh orang yang sudah menyelamat kan nyawa putra nya."
Ella bernapas lega, berati Anderson kakak nya aman.
"CK, jika begitu datang lah dan habisi dia," ejek Ella.
"Ella sialan, kalian sama saja."
"Clasy berikan ponsel nya!" Terdengar suara lemah Anderson di seberang telepon.
"Kau baik-baik saja bukan? Apa mereka melakukan sesuatu pada mu?" tanya Anderson ke pada adik nya.
"aku baik-baik saja, bagaiman dengan kaka?" tanya Ella. "Aku baik baik saja, berhati-hati lah di sana, para pria itu adalah anggota mafia kelas kakap," nasehat Anderson pada adik nya.
BUM
Tiba-tiba sebuah ledakan besar terdengar kencang hingga ke mansion Rhadika.
Ella bisa melihat para pengawal mansion langsung berlarian ke arah sana sambil membawa senjata.
Dari jauh dia juga bisa melihat ada seorang berbaju hitam di atas roof top sedang memandang ke arah bom itu seperti mengamati sesuatu
Jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
Horas ✋✋✋