Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 29


__ADS_3

Dengan bingung Ella mengambil ponselnya hendak menelepon Clasy. Tapi dia sadar dia di perintah seperti pelayan saja. Dia menghentikan tangannya.


"Shine, Tante ada urusan sebentar. Nanti Tante balik lagi," seru Ella lalu keluar dari kamar itu.


Setelah keluar dari kamar Shine, ketika Ella ingin melangkahkan kakinya kembali, dia berhenti sebentar. "Ah, pasti dia pergi ke ruang kerjanya," seru Ella lalu berjalan cepat ke arah ruang kerja Rhadika.


Rhadika yang sedang memegang ponselnya menatap tajam ke arah rekaman CCTV yang berada di di tangannya.


"Dari mana wanita ini tahu ruang kerjaku" bahkan Radika memperhatikan gerak-gerik dari Camella bahwa wanita itu tidak salah arah sedikitpun dan seperti sudah biasa memasuki ruang kerjanya.


"Siapa sebenarnya wanita ini Kenapa dia begitu tahu letak dan posisi tiap sudut di rumah ini. Bahkan dia tidak bertanya pada siapapun," batin Rhadika.


"Apa dia mata-mata yang di kirim oleh ba jingan itu?" Tapi tidak mungkin, dia sama sekali tidak menunjukkan aksi apapun." Rhadika berbicara sendiri untuk menebak jati diri Camella.


Rhadika mengambil ponselnya dan menelepon Max. "Jemput Clasy dan bawa dia ke sini!" perintah Rhadika.


Setelah itu Rhadika mendengar suara pin yang di masukkan untuk membuka pintu kerja Rhadika. "Bahkan dia tau sandi pintu ruang kerja ku," batin Rhadika.


Pintu di banting dengan kerasa pertanda wanita itu sedang marah. Yah, Rhadika pasti tau bahwa wanita yang sedang menatapnya dingin tidak akan melakukan perintahnya, hanya perintahnya saja. Berbeda dengan orang lain seperti Aurora yang langsung di kerjakan oleh Ella jika sudah di beri perintah.


"Kau pikir aku pelayan mu? Aku tidak mau melakukan apapun yang kau perintah kan. Aku di sini sebagai pengasuh Shine, tidak lebih dan tidak kurang. Dan aku mau kau mengumumkan hal itu ke pada penghuni mansion," Camella tidak terima di jadikan sebagai seorang pelayan.


"Sudah? Apa kau sudah selesai. Sekarang kau bisa pergi!" Rhadika tidak akan mengungkit tentang apa yang di lihatnya di rekaman CCTV dan tentang sandi ruang kerjanya. Dia akan bergerak licin mulai saat ini.


"Cih, menjijikkan. Kau pikir aku akan lama di sini?" seru Camella lalu keluar dari ruang kerja Rhadika.


BUG


"Sialan, beraninya wanita itu mengatakan aku menjijikkan." Rhadika melampiaskan kekesalannya pada meja di depannya. Tapi sayangnya, meskipun wanita sudah berperilaku di luar batas, dia tetap tidak ada keinginan untuk melenyapkan wanita itu tapi justru hati Rhadika seperti hidup kembali.


Selang beberapa menit, terdengar pin kunci kembali terbuka. Rhadika sudah menebak siapa yang datang. "Kenapa kalian seperti siput bergerak terlalu lambat," seru Rhadika tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang sedang di bacanya.


"Kau yang lambat seperti siput." Rhadika langsung mendongak ketika mendengar suara yang selalu melawan dan menantang nya.


"Cih, kau seperti nyonya di rumah ini saja. Masuk dan keluar tanpa izin ke ruang kerja majikan mu." Rhadika menyindir Ella dengan mulus.

__ADS_1


"Memang benar aku nyonya rumah ini. Kenapa?" Ella ingin sekali mengatakan itu dengan keras di wajah Rhadika, namun dia bukanlah orang bodoh yang membuka rahasianya sendiri.


"Cih, aku juga tidak berniat masuk ke sini, aku hanya menyangkan itu," tunjuk Ella ke arah tangan Rhadika. Yah, dia tau sumber permasalahan yang terjadi di kamar Shine adalah dirinya, jadi dia harus bertanggung jawab.


"Siapa kau dengan lancang ingin memegang tangan ku? Aku tidak butuh bantuan siapapun," jawab Rhadika. Matanya kembali fokus pada kertas yang ada di depannya.


Ella meletakkan kotak P3k yang sejak tadi di pegangnya di atas meja kerja Rhadika.


Kemudian dia mengambil salah satu kursi lain dan meletakkan nya tepat di samping kursi Dika. Kemudian dengan santai Ella memutar kursi Rhadika agar menghadapnha.


"Jika bukan karena perintah Shine, aku juga tidak akan melakukannya," seru Ella sambil mengeluarkan satu persatu alat-alat medis kecil itu.


"Sudah ku katakan tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri, keluar!" seru Rhadika. Dia berdir dan meletakkan kertas yang sejak tadi di pegangnya dan itu sedikit menarik perhatian Ella.


"Aku akan keluar setelah mengobati luka mu. Kenapa kalian para orang kaya selalu membuat orang lain kesusahan melakukan pekerjaannya?" seru Ella sambil mengambil tangan Rhadika yang terluka.


Di satu sisi memang hati Ella juga sakit melihat tangan suaminya yang seperti ini, di sisi lain juga dia merasa bersalah karena hal ini terjadi di karenakan dirinya juga.


Mau tidak mau, untuk tidak mengulur waktu, Rhadika membiarkan Camella mengobati tangannya. Tidak ada sedikit pun eskpresi kesakitan Rhadika ketika Camella menarik kaca yang tertusuk ke punggung tangan Rhadika.


"Apa tidak sakit?" tanya Ella namun tidak di tanggapi Rhadika.


"Apakah sudah selesai?" tanya Rhadika ketika Ella bengong.


"Sudah, hmmm aku...,"


"Aku tidak punya banyak waktu. Time is money, kau membuang waktu ku, sama saja membuang uang. Jika sudah selesai, kau boleh keluar."


"Ada sesuatu yang ingin ku katakan!"


"Apa, ku beri waktu satu menit," seru Rhadika.


Namun Ella masih tetap diam dan duduk di kursi di depan Rhadika.


"kau membuang wak...."

__ADS_1


"Segala sesuatunya bisa di selesaikan dengan kepala dingin dan hati terbuka. Jangan terus melakukan hal-hal bodoh yang bisa melukai diri sendiri," seru Ella memotong perkataan Rhadika dan langsung keluar dari tempat itu.


"Cih, sebenarnya apa tujuan wanita itu," seru Rhadika melihat tangannya yang sudah di di perban itu.


Selang tiga puluh menit, Clasy dan Max memasuki ruang kerja Rhadika. Rhadika saat ini sudah mulai serius untuk kembali membuat start pencarian kebenaran kejadian itu hingga kelahiran Shine.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Clasy dengan sopan.


Rhadika mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian menatap ke arah Clasy.


Clasy di baut gugup karena tatapan tajam dan mengintimidasi yang di berikan oleh Rhadika.


"Bagaimana proses kelahiran Shine? Apa dia lahir Caesar atau normal?" tanya Rhadika.


"Shine lahir di Operasi. Awalnya Nyonya mengatakan harus melahirkan secara normal, namun karena racun yang masih bersatu di tubuh nyonya, di tengah pasca melahirkan Nyonnyabtidak sadar dan pingsan. Ternyata tekanan darah nya turun dan harus segera di tangani melalui operasi. Setelah operasi nyonya pingsan dan lama kelamaan meninggal," jelas Clasy secara rinci.


Lebih baik dia menceritakan secara rinci saat ini. Jika di tanya satu persatu nantinya dia takut akan salah bicara dan membuat dia tersudut nantinya. Karena dia tau yang di hadapan nya bukan lah orang sembarangan.


"Di mana kuburan istri ku?" tanya Rhadika. Yah, ini lah salah satu hal yang paling penting untuk di tanyakan.


"Bagian itu saya kurang tau Tuan, karena yang mengurus itu adalah Anderson, pria yang menolong Nyonya," jawab Clasy.


"Baik, kau boleh keluar!"


Clasy langsung bergegas keluar karen dia juga ingin bertemu dengan Shine.


"Max, pastikan dia sampai ke apartemen nya dengan selamat atau masalah mu akan besar karna akan berhadapan dengan iblis kecil itu nantinya!"


Max hanya mengangguk saja.


"Pasti ada sesuatu di balik semua Tuan," seru Max.


"Yah benar, kita akan cari hingga ke akarnya. Temukan ayah Shine, kita akan memulainya dari sana," seru Rhadika.


Jangan lupa likenya 😊👍👍

__ADS_1


horas ✋


__ADS_2