
"Baby," ucap Rhadika sambil berlari menangkap tubuh Ella yang hampir saja ke lantai.
"Max, kenapa lama sekali?" bentak Rhadika pada Max. Dia langsung membawa Ella ke kamar yang ada di sana.
Bertepatan dengan Rhadika yang sedang panik, orang yang di tunggu-tunggu sejak tadi akhir nya datang. Butuh waktu lama untuk sampai di kamar ini.
Sesuai dengan perintah Max, Darren harus benar-benar hati hati dan jangan terlihat panik karena itu akan mengundang masalah baru.
Dia juga tidak mengguna kan jas putih nya seperti biasa. Tapi tantangan yang lebih besar yang di hadapi Darren bukan lah waktu yang singkat tapi para wanita seksi dan berisi yang selalu menggoda nya di jalan sejak tadi. Untuk saja dia bisa mengontrol milik nya jika tidak sudah di pasti kan dia akan mati hari itu juga di tangan tuan nya.
"Sial, dada besar itu benar-benar meminta untuk di pijat hingga pecah," itulah isi pikiran Darren sejak di jalan dari tadi.
"Cepat obati istri ku! Pasti kan dia baik-baik saja!" perintah Rhadika
Darren sempat terkejut mendengar kata istri, namun lagi-lagi profesi nya tidak mengizin kan dia untuk kepo tentang sesuatu yang sedang dal keadaan darurat seperti ini.
Rhadika sudah menggulung tangan Ella yang terkena darah.
"Lepas kan pelan-pelan!" ucap Darren.
Pria itu dengan telaten membersih kan tangan Ella yang berlumuran darah.
Di tengah situasi darurat itu, Rhadika mendapat pesan secara berurutan, pertama ada nama si pengirim namun yang ke dua adalah nomor yang tidak di kenal.
Rhadika melihat siapa pengirim pertama.
"Sial," ucap Rhadika membuat Max menatap ke arah tuan nya.
Darren sudah selesai memberi kan desinfektan dan beberapa obat lain nya. ke luka Ella.
Melihat itu Dika langsung mendesak Darren.
"Bagaimana keadaan istri ku?" tanya Dika tergesa-gesa.
"Tidak ada yang perlu di khwatir kan. Luka Nona ini tidak terlalu dalam, hanya saja luka itu tidak boleh terkena air ," jelas Darren .
Rhadika mendekat dan mencium kening Ella.
"Baby, aku akan kembali saat kau bangun, hmmm. Cepat lah bangun agar kita pulang. Putra kita pasti menunggu," ucap Rhadika menciumi wajah Ella.
""Max, jaga istri ku baik-baik! Aku akan pergi sendiri," ucap Rhadika segera keluar dari ruangan itu.
Sedang kan wanita tadi yang bertemu dengan Rhadika memilih duduk di salah satu meja bar di sana. Dia tadi nya sengaja mengikuti Rhadika hingga ke gerbang mansion, dia melihat mobil itu kembali keluar dan wanita itu mengikuti nya.
Dia adalah Rosa, wanita yang selalu di abai kan Rhadika. Dia mengikuti mobil itu hingga sampai ke club tujuan Rhadika.
Dia berpikir akan memiliki kesempatan untuk dekat dengan Rhadika, tapi harapan nya pupus untuk bisa bersama pria itu karena ada wanita yang selalu bersama pria itu. Bah kan hati nya lebih panas ketika melihat tangan dari ke dua orang itu menyatu.
Yah dia memilih pelampiasan nya saat ini menikmati dunia malam di bar ini meski pun tanpa pria pujaan hati nya. Dia akan mencari kesempatan lain.
Namun tiba-tiba pikiran Rosa teralih ke ruangan di mana Ella tadi membawa Rhadika. Wanita itu melihat ada dua orang pengawal yang berjaga di pintu itu membuat Rosa semakin penasaran.
Rosa terus saja memperhati kan dua pria yang menjaga ruangan itu hingga dua menit. Tiba-tiba dua orang pria datang dan mulai menghajar penjaga pintu ruangan itu.
Terjadi baju hantam di depan pintu ruangan itu. Dengan cepat dan langkah hati-hati Rosa mendekat ke arah ruangan itu dan menghindari perkelahian antar dua kelompok itu.
Dengan langkah cepat setelah sampai di tepat di depan pintu, Rosa langsung membuka pintu itu dan masuk begitu saja.
Rosa melihat sekeliling nya, tidak ada satu orang pun. "Seperti nya aku tadi tidak melihat satu orang pun keluar dari sini, bagaimana tidak ada orang di sini," Rosa berbicara pada diri nya sendiri.
Dia menemu kan sebuah pintu, Rosa berpikir itu adalah sebuah kamar dan mungkin Rhadika sedang ber cinta atau yang lain nya dengan Ella, namun dia tidak mendengar kan apa pun.
__ADS_1
Dia mendekat kan telinga nya ke arah pintu.
Max yang sejak tadi memperhati kan tingkah wanita itu mulai berdiri tepat di belakang nya.
Rosa yang merasa kan di belakang nya reflek langsung mengangkat kaki nya dan menendang ke arah belakang. Insting nya benar, ada seseorang di belakang nya.
Max juga sudah bisa membaca pergera kan wanita yang sembarang masuk ke dalam ruangan Nyonya nya. Max langsung menghindar dan mencekik Rosa.
Max menyadari wajah wanita itu, "Bukan kah wanita ini yang bertemu dengan Tuan tadi?" batin Max. Yah, dia baru menyadari nya.
Max melepas kan cengkraman nya di leher wanita itu. Rosa langsung terbatuk dan menghirup oksigen dengan rakus.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara bariton dan dingin itu di tuju kan untuk Rosa.
"Ahh, Tuan. Maaf saya salah masuk ruangan. Saya pikir ini adalah ruangan pesanan saya," jawab Rosa gugup.
"Apa club ini tidak memberi kan kunci kamar untuk setiap pelanggan?" tanya Max datar.
"Ah ya, saya meninggal kan nya di tas saya Tuan. Tas itu tertinggal di meja bar. Saya permisi," ucap Rosa langsung pergi dari tempat itu.
Max langsung berdiri di hadapan Rosa dan menghalangi wanita itu.
"Saya pikir anda bukan wanita bodoh yang masuk ke sembarangan ruangan," ucap Max menatap tajam Rosa.
"Maaf Tuan, saya benar-benar lupa," ucap Rosa menunduk sambil minta maaf lalu pergi dari ruangan itu.
Max tidak menghenti kan langkah Rosa, tapi dia merasa aneh dengan wanita itu, seperti ada sesuatu yang janggal bagi nya.
Jelas-jelas Max tadi melihat wanita itu di pesta dan bertemu dengan Tuan nya, di club pun wanita itu ada dan bertepatan bisa bertemu dengan tuan nya, bah kan ke ruangan ini wanita itu berani masuk.
Insting Max mengata kan bahwa wanita itu bukan lah wanita biasa yang bekerja sebagai anak kantoran. Bukti nya reflek wanita itu tadi bukan lah reflek seorang wanita yang hanya belajar sekilas dengan bela diri.
Max juga berfikir bagaimana wanita itu bisa masuk ke ruangan ini. Tidak mungkin di izin kan oleh pengawal karena perintah tadi sudah di turun kan agar tidak seorang pun di perboleh kan masuk ke ruangan ini tanpa seizin nya.
Ke dua pengawal itu di panggil oleh Max dan bertanya tentang kenapa wanita itu bisa masuk. Para pengawal mencerita kan apa yang terjadi sebelum nya.
Lebih detail nya Max memeriksa CCTV yang ada di depan pintu.
Max melihat ketika Rosa dari meja bar hingga masuk ke ruangan. Max juga melihat tidak ada daftar tamu yang mendaftar melalui nama Rosa. Hal itu semakin membuat Max merasa ada sesuatu yang janggal dari wanita itu.
Baru saja Max selesai memeriksa CCTV, terdengar keributan dari luar club. Di dalam ruangan itu tidak ada peredam suar kecuali di kamar Ella saat ini.
Max memeriksa sebentar ke luar dengan membuka sedikit pintu. Max langsung menghubungi dia penjaga di depan agar pergi menjauh dari mereka.
Mereka sama sekali tidak membawa banyak pengawal, hanya beberapa saja karwna Rhadika menurun kan perintah itu karena memang mereka hanya untuk bersenang-senang sejenak saja untuk melepas kan penat masalah kantor saja.
"Sial," ucap Max mengambil beberapa senjata. Dia pergi ke kamar di mana sang Nyonya sedang beristirahat.
**
Di mansion utama, Shine merasa khawatir sejak tadi mommy nya belum pulang ke mansion. Sebenar nya dia tidak terlalu khawatir karena sang Daddy bersama Mommy, tapi sejak tadi anak itu menelepon mommy nya tidak pernah di angkat salah satu dari mereka. Bagaimana anak itu tidak merasa cemas.
Mike yang selalu datar dan dingin tidak menebang kan shine sedikit pun membuat anak itu kesal bercampur khwatir.
Tiba-tiba saja dia mendapat pesan. dan sekertaris Max membuat hati nya tenang dan bisa tidur sebelum mom dan dad nya sampai di mansion.
"Tuan kecil, Tuan sedang ada urusan bersama dengan Nona Camella. Mereka di perkira kan akan pulang besok hari," isi pesan Max.
**
Sedang kan Rhadika dia menuju mansion milik ayah mertua nya. Baru setengah jalan Dika sudah di serang beberapa musuh, dia hanya sendiri.
__ADS_1
Dia nampak mengambil ponsel nya sebentar dan mengirim pesan ke pada Odion yang berada di mansion.
Ponsel itu kembali di silent oleh Rhadika agar pekerjaan nya saat ini tidak terganggu, tentang Ella Max sudah berada di sana dan Shine, Mike dan Odion sudah berada di sana, jadi dia merasa aman saat ini untuk keluarga kecil nya.
Rhadika mempercepat laju mobil nya, dia mendapat pesan bahwa mansion mertua nya tiba-tiba di serang oleh kelompok tidak di kenal, seperti nya sudah di rencana kan sejak lama, belum sampai di sana sudah ada beberapa orang yang menyerang nya.
Mobil anti peluru itu sangat membantu perjalanan Rhadika. "Sial, seharus nya aku bersama istri ku sekarang," ucap Rhadika memukul setir mobil nya.
Beberapa motor nampak ugal-ugalan mendekat ke arah mobil Rhadika. Pria itu tersenyum smirk. Sebelum dia beraksi, dia benar-benar memperhati kan terlebih dahulu identitas dari para pemotor itu dan Rhadika tidak menemu kan apa pun.
"Sial, siapa sebenar nya mereka?" ucap Rhadika mulai meroboh kan satu persatu pemotor itu.
Setelah selesai memberes kan kekacauan di tengah jalan, Rhadika mempercepat laju mobil nya dan dari kejauhan dia melihat kepulan asap dari mansion Zevano.
Dia semakin merasa was-was jika terjadi pada ayah mertua nya. Sampai di gerbang itu, Rhadika melihat anggota dari ayah mertua nya sedang melawan musuh.
Rhadika memilih jalur lain, dia memilih berhenti di depan gerbang namun menyusup dari belakang. Tujuan nya saat ini adalah memasti kan bahwa ayah mertua nya baik-baik saja.
Secara diam-diam Rhadika memanjat tembok tinggi yang di atas nya di buat pecahan kaca. Rhadika dengan lihai melompat dan melewati semua jebakan yang di pasang oleh pemilik mansion. Namun saat sampai di atas tembok, seorang penembak jitu mengeluar kan timah panas nya ke arah Rhadika.
"Fu ck, sial. Ternyata mereka lebih pintar dari perkiraan ku," ucap Rhadika. Tangan nya tergores dan menimbul kan luka yang lumayan.
Rhadika memperkira kan dari mana rah dari peluru itu. Dia terlebih dahulu mencari zona nyaman, ternyata benar perkiraan nya, peluru itu berasal dari salah satu puncak gunung yang berada di sana.
Dika juga melihat salah satu penembak jitu dari pihak Zevano, dia berguling dengan cepat agar penembak jitu dari lawan tidak bisa membidik nya.
Dia langsung membaring kan tubuh di bawah mayat yang di tuju Rhadika. Kemudian di mengambil earphone dan memberitahu kan posisi penembak jitu itu ke pada anggota Zevano.
Satu masalah terurus, namun dia belum mengetahui di mana ayah mertua nya saat ini. Dika dengan lihai memasuki mansion. Bagian dalam mansion masih aman, namun beberapa pelayan ada yang menunduk di bawah meja sambil menangis.
Sejak tadi ponsel Rhadika sudah bergetar, , namun Dika tidak memperhati kan nya Karen keadaan saat ini juga adalah keadaan darurat.
Para pelayan semakin ketakutan melihat seseorang sudah berhasil menembus mansion.
Rhadika berjalan cepat ke arah para pelayan m, "Di mana ruangan CCTV?" tanya Dika dengan dingin. Pelayan itu semakin merasa ketakutan ketika merasa kan aura membunuh dari pria itu.
"Cepat bodoh!" ucap Dika.
Salah satu pelayan pria datang dan menodong kan senjata ke arah Rhadika. Dika tersenyum smirk ketika melihat tangan pria itu bergetar.
"Lepas kan dia, atau aku akan menembak mu," teriak pria itu.
Rhadika mendekat dan meletak kan kepala nya di depan moncong pistol itu. Pelayan pria semakin ketakutan dan berjalan mundur, akhir nya dia melepas kan pistol itu begitu saja dan terjatuh ke lantai.
Rhadika mengeluar kan sebuah foto, "Kalian kenal siapa ini kan?" tunjuk Rhadika foto itu.
Semua orang mengangguk melihat foto seorang anak kecil yang juga terpampang di dinding mansion.
"Jika kalian tidak ingin bocah kecil ini kehilangan opa nya, maka cepat beri tahu aku di mana ruangan CCTV," ucap Rhadika.
Seorang pelayang langsung menunduk meminta maaf dan mengajak Rhadika ke ruang CCTV.
Dengan langkah cepat Rhadika mencari keberadaan mertua nya, dan benar saja pria tua itu sedang menghadapi par musuh di ruang kerja nya.
Dika hendak berlari namun dia merasa kan ponsel nya bergetar. "Max sialan, ada apa," batin pria itu melihat si pengirim pesan adalah Max.
BUG
Rhadika meninju meja tangan ada di depan nya begitu melihat pesan dari Max.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
Horas ✋✋✋