
Rhadika yang di tampar biasa saja. Dia tidak menanggapi sikap Ella yang memarahi nya.
"Aku hanya memberi kan penawaran pada mu, apa salah nya?" ucap Rhadika dengan datar dan dingin, tidak ada ekspresi apa pun.
Orang-orang yang berada di sana merasa heran ketika melihat Dika tidak membunuh wanita itu, jangan kan membunuh membalas perbuatan wanita itu saja Dika tidak.
"Lanjut kan!" perintah Rhadika dengan datar menatap para *** *** yang di sana.
Ella di buat semakin pusing melihat Dika yang masih belum menghenti kan hal gila itu.
Para wanita berpakaian minim itu langsung berjongkok di depan milik Rhadika. Pria itu memberi kan akses penuh untuk wanita yang sedang membuka ikat pinggang nya dan satu lagi membuka kameja milik nya.
"Sialan, menjauh dari nya, lepas kan tangan mu!" teriak Ella menjauh kan dua wanita itu. Mendorong dengan kasar para wanita itu.
"Apa masalah mu?" seru Rhadika menatap tajam Ella yang menghenti kan kesenangan nya.
"Kau masih bertanya?" Apa otak mu sudah gila saat ini?" bentak Ella lagi.
"Kalian berdua, menjauh dari sini. Atau aku sendiri yang akan mematah kan ke dua tangan kalian yang berani menyentuh suami ku," ucap Ella.
Max yang mengerti keadaan langsung mengeluar kan seluruh isi ruangan VVIP itu kecuali dua orang wanita yang di panggil Rhadika tadi. Setelah itu dia masuk kembali ke ruangan itu.
"Kamu pikir kamu siapa yang menghenti kan kesenangan ku?" ucap Rhadika. Terlihat wajah itu menatap tidak suka pada Ella.
"Aku tidak meminta mu untuk ikut bukan? Aku juga tidak meminta mu untuk membayar malam ini. Sudah ku kata kan aku akan membayar jika kau mengingin kan pria untuk memuas kan mu!" ucap Rhadika.
Ella mulai mengeluar kan air mata nya.
"Aku mohon, henti kan omong kosong ini," ucap Ella memohon ke Rhadika. Dia dengan dengan cepat membenar kan ikat pinggang dan kameja Rhadika yang terbuka.
Pria itu menbiar kan Ella melaku kan apa pun pada nya. Tapi sikap dingin dan acuh ke pada Ella tetap setia di sana.
Ini adalah milik nya, tidak boleh siapa pun menyentuh atau melihat nya sekali pun.
"Nona, seperti yang Tuan kata kan. Anda tidak berhak melarang Tuan untuk melaku kan apa pun. Seperti yang di katakan, jika anda membutuh kan pria un...,"
"Tutup mulut mu Max sialan, aku tidak bicara pada mu. Otak mu sama dengan nya sudah di penuhi dengan hal gila," teriak Ella.
"Come on, kesabaran ku ada batas nya!" ucap Rhadika mulai mengeluar kan aura dingin nya.
"Aku yang akan memuas kan mu," putus Ella pada akhir nya. Wajah mulus dengan polesan make up tipis itu sudah di banjiri air mata.
Biasa nya jika Ella sudah menangis Rhadika akan dengan sendiri nya luluh hati nya dan mengikuti kemauan Ella, namun kali ini berbeda tidak perasaan apa pun yang di tunjuk kan oleh pria itu.
__ADS_1
Wajah Rhadika sempat berubah, namun langsung di kontrol pria itu.
"Laku kan!" perintah Rhadika.
"Di mansion saja, aku akan melaku kan apa pun," pinta Ella.
"Jika tidak berkenan..,"
"Baik...baik. Akan ku laku kan," seru Ella pada akhir nya.
Dia naik ke pangkuan Rhadika dan mulai menciumi leher Rhadika. Dika bisa merasa kan ciuman itu di ikuti dengan air mata, dia bisa merasa kan leher nya basah oleh air mata.
Ella memang melakukan nya sambil terisak, dia tidak tau apa yang terjadi pada suami nya. Ella berusaha semaksimal mungkin agar membuat suami nya senang saat ini, tapi dia tidak berani untuk memegang milik suami nya, karena ini pertama kali dia dalam jangka waktu lima tahun ini.
Belum beberap menit, Rhadika mengelak dari ciuman Ella.
"Tidak menarik sama sekali. Turun!" perintah Rhadika.
"Tidak...tidak, aku bisa melaku kan yang lebih baik, beri kan aku kesempatan," bujuk Ella pada Rhadika.
"Kau yang keluar atau aku yang keluar," ucap Rhadika memberi kan pilihan pada Ella. Ella itu menggeleng kan kepala nya berulang-ulang.
"Kumohon hiks... kumohon hentikan tingkah gila mu itu, kau sudah punya seorang putra," ucap Ella sambil menangis tersedu-sedu.
Rhadika sudah menurun kan tubuh nya ke sofa yang ada di sana.
"Bagaimana dengan istri mu hah, bagaimana jika dia tau suami nya seperti ini. Bukan kah kau sangat mencintai istri mu Nyonya Rosaline? Apa itu semua bullshit saja?" tanya Ella.
Rhadika yang mendengar nama Rosaline berbalik dan menatap tajam ke arah Ella. Dia memegang lembut rahang wanita itu.
"Benar Baby, aku sangat mencintai nya. Bahkan rasa nya ingin mati ketika dia tidak ada di sisi ku. Tapi sangat di sayang kan dia sudah pergi, aku juga harus mencari seorang mommy yang peduli pada dad nya nanti bukan hanya pada putra nya," ucap Rhadika kemudian berdiri.
"Baiklah. Jika ingin pulang Max akan mengantar mu," putus Rhadika pada akhir nya.
Max sudah membuak pintj untuk Rhadika. Dia hendak melangkah kan kaki nya namun terhenti karena sebuah ucapan yang di tunggu-tunggu pria itu.
"Bagiamana jika Rosaline masih hidup? Apa kau akan tetap mencari wanita lain? Bah kan bercin ta dengan semena-mena dengan wanita lain?" tanya Ella. Dia berdiri tegak dan menatap ke arah punggung Rhadika yang membelakangi nya.
"Mustahil. Apa kau mulai hilang akal, bagaimana orang mati bisa hidup kembali" jawab Rhadika singkat.
Max mengeluar kan dia orang perempuan itu dan menutup pintu. Dia berada di pintu menjaga agar ke dua tuan nya tidak melaku kan hal-hal yang merugi kan nanti nya.
"Bagaimana jika Rosaline adalah aku. Aku adalah Rosaline, istri tercinta mu," teriak Ella. Wanita itu menatap tajam ke arah Rhadika.
__ADS_1
Hening sebentar, tidak ada suara. Max juga setia dengan wajah datar nya. Kemudian Rhadika menatap tajam Ella.
"Berhenti lah menghayal Baby, memang kemaren aku sempat tertarik pada mu. Tapi catat, itu karena putra ku Shine. Jadi bermimpi lah menjadi Nyonya Rhadika Browns," ucap Rhadika.
Ella berpikir jika dia mengungkap kan siapa diri nya pria itu akan menghenti kan aksi gila nya dan terharu bahwa istri kecil nya masih hidup, namun perkiraan Ella justru terjadi sebalik nya.
"Max antar wanita itu pulang, seperti nya dia sudah mabuk sebelum minum," ucap Rhadika malas dan berjalan meninggal kan ruangan itu.
"Mari Nona," ajak Max.
Ella langsung menerobos dan mengejar Rhadika. Langkah nya terhenti ketika seorang wanita yang mengguna pakaian tertutup sama seperti nya berbincang dengan Rhadika.
Wanita itu nampak tersenyum malu-malu ke arah Rhadika. Dengan langkah cepat Ella menarik tangan Rhadika dan membawa nya masuk ke sebuah ruangan, Max ikut dari belakang dan masuk ke dalam ruangan itu.
PRANG
Tepat di sana ada botol wine yang masih utuh. Sebenar nya itu adalah ruangan yang di tuju Rhadika bersama wanita - wanita nya untuk menghabis kan malam dan wine itu adalah salah satu wine favorit dan satu-satu nya di negara itu.
Namun hancur begitu saja di buat oleh Ella.
Sangat di sayang kan tapi pria itu boleh apa.
Ella memecah kan botol wine dan mengambil serpihan nya, bah kan dia menekan serpihan kaca itu ke tangan nya. Kemudian dia mengarah kan kaca itu ke pembuluh nadi nya.
.
"Sedikit saja kau menyentuh tubuh wanita lain, atau tubuh mu sekali pun yang di sentuh wanita lain aku tidak akan segan-segan menggores ini," tunjuk Ella pada tangan nya.
Rhadika terdiam, mulut nya seakan terkunci. Ingin rasa nya mengambil kaca di tangan wanita itu, hati nya benar-benar sakit melihat setiap tetes darah wanita nya yang menetes ke lantai.
Bahkan hanya air mata saja dia tidak pernah rela melihat wanita itu, namun dia benar-benar harus menahan diri kali ini.
Max dengan kelimpungan mengirim pesan pada Darren. Dia tidak akan tau pada yang terjadi setelah ini.
"Nona, apa yang anda laku kan. Letak kan kaca itu!" perintah Max sambil mendekat ke arah Ella secara perlahan
Tatapan Ella tertuju pada Rhadika.
"Sayang, ini benar-benar aku. Istri kecil mu Rosaline, aku mohon sadar lah," ucap Ella.
Secara tidak sadar tangan Ella sudah menggores pembuluh nadi nya. Rhadika tetap diam di tempat dan keluar dari ruangan itu.
Karena banyak darah yang sudah menetes ke lantai Ella mulai merasa kan kepala nya pusing, dunia mulai menghitam dan kemudian dia pingsan
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋