
"Bagaimana? Apa kah wanita itu cantik?" tanya seorang pria paruh baya itu pada putri nya.
"CK, dia memang cantik, sebelas dua belas dengan ku," jawab wanita itu sambil membuka baju samaran nya.
"CK, kata kan saj kau lebih jelek. Jelas-jelas Ella lebih cantik dari pada anak kecil seperti mu" ucap pria yang adalah Anderson.
"Cih, aku yang paling cantik, dari segi mana nya jelek. Mata mu memang perlu di beklin," balas wanita itu tak kalah pedas dari Anderson.
"Bukti nya kau masih jomblo bukan sampai saat ini. Apa kah itu nama nya cantik, dasar jelek," balas Anderson lagi.
Wanita itu di buat skakmat, dia terdiam.
"Kau juga tidak bisa mengambil hati kak Clasy, berarti kau juga jelek," ucap wanita itu lalu meninggal kan musuh bebuyutan nya bersama dengan daddy nya.
Pria paruh baya itu hanya menggeleng kan kepala nya. Dia sudah biasa melihat tingkah dua orang anak yang tidak pernah akur ini.
"Apa kah Rhadika baik-baik saja?" tanya pria paruh baya itu.
"Dia baik-baik saja, tapi dia sangat menjengkel kan sama seperti anak kecil itu. Bahkan di depan Shine dia terang-terangan mengusir ku, dia memang pria mafia paling dingin sedunia, hampir sama seperti asisten nya. Aku heran melihat mereka berdua, kenapa Tuhan bisa mempertemu kan ke dua pria itu," ocah Anderson.
Mengingat bagaimana perlakuan Rhadika, dia ingin menghajar pria itu, tapi sayang nya dia tidak mampu.
"Kau tidak mengetahui kisah mereka Anderson, mereka di paksa untuk kuat di usia di saat kau masih bersenang-senang dengan teman sebaya mu." Pria paruh baya itu nampak mulai menutup mata dan bersandar di sofa.
"Pergilah! Bukan kah di rumah sakit mu sudah banyak pasien yang di mengangur?" ucap pria paruh baya itu.
Mau tidak mau Anderson harus menjalan kan kewajiban nya sebagai pria berjas putih.
**
Ella membaca satu persatu halaman dokumen itu.
"Kenapa kata-kata nya seperti di bolak balik kan? Pihak ke dua harus bisa mengerja kan tugas nya dengan baik, terutama merawat putra pihak pertama, Putra pihak pertama harus di rawat dengan baik oleh pihak ke dua. Kenapa seperti ini, arti nya kan sama," tanya Ella.
"Maaf Nona, jika anda bertanya setiap yang ada di dokumen itu, Wak tu kami akan habis dan itu sama saja kami membuang waktu dan membuang uang," jelas Max.
"Saya permisi Tuan, ada yang harus saya kerja kan," ucap Max dan dia angguki oleh Rhadika.
"Ishhh, kenapa banyak sekali halaman nya. Orang yang ingin kontrak kerja di perusahaan besar selama lima tahun saja tidak setebal inj," ucap Ella.
Dia mulai merasa bosan harus membaca dua ratus halaman. Otak nya bukan lah otak jenius yang suka belajar, otak nya sudah muak.membaca tulisan di depan nya. Dia baru selesai membaca di halaman tiga puluh.
Dan aneh nya kata itu di bolak-balik kan namun memiliki arti yang sama.
__ADS_1
Ada tiga yang harus di tanda tangani, ada tiga judul bab. "Seperti skripsi saja," kesal Ella di dengar oleh Rhadika. Pria itu tetap datar dan melanjut kan tidur nya.
Ella sudah malas membaca, dia sudah mendapat kan inti dari tiga puluh l mbar itu. "Tiga bukan yang harus di tandatangani," tanya Ella pada Rhadika yang sedang menutup mata.
"Hmmm, benar Baby" jawab Rhadika.
Ella langsung menandatangani dokumen itu.
"Sudah, apa aku bisa pergi?" tanya Ella melempar kan pulpen itu dengan asal.
"Tentu saja, tapi jika kau ingin berlama-lama, boleh saja. Kantor ku terbuka untuk mu Baby," ucap Rhadika bangundari tidur nya dan menatap Ella.
"Satu syarat lagi, sebelum kau pergi,.kiss me!" pinta Rhadika.
"Dalam mimpi mu pria mesum!" ucap Ella berdiri dan meninggal kan Rhadika yang tersenyum penuh kemenangan.
Rhadika mengambil lembar kertas yang di tanda tangani Ella. Rhadika sengaja membuat banyak halaman di surat perjanjian itu, karena dia tahu Ella bukan lah tipe wanita yang suka belajar atau hal-hal yang berbau membaca, tentu nya kecuali novel.
Rhadika tersenyum melihat lembaran tanda tangan itu, tapi dia teringat dengan apa yang di kata kan Clasy. Dia belum mengerti apa maksud Clasy.
"Setidak nya aku punya pegangan," batin Rhadika. Dia kembali melanjut kan kegiatan nya.
Ella keluar dari ruangan Rhadika langsung menuju ruangan Max, dia tau Odion di sana karena melihat pria itu tadi masuk ke sana.
Ella tidak mengetuk pintu dan langsung masuk menuju ruangan Max. Max yang sedang fokus bekerja tidak melihat siapa yang masuk, tapi dia tetap bekerja dan tetap melakukan pekerjaan nya.
"Apa kah kau bekerja di perusahaan ini tanpa aturan?" ucap Max tanpa mengalih kan pandangan nya dari pekerjaan nya.
Ella tidak merasa tersinggung sama sekali karen sudah biasa mendengar hal itu.
"Apa mulut mu tidak bisa bicara?" suara max begitu dingin. Dia menghenti kan pekerjaan nya namun tetap menatap ke arah dokumen yang di depan nya.
"Cih, apa mata mu tidak berfungsi Max?" Suara itu sukses membuat Max kaget. "Sial, bukan hanya Odion yang terkena sial hari ini," batin Max tidak berani menatap ke arah Ella.
"CK, seperti nya bukan hanya mata mu yang salah Max tapi kedua telinga mu seperti nya juga bermasalah. Aku menyaran kan mu ke dokter," seru Ella berjalan ke arah Odion yang sedang tidur di sana.
"Nona, untuk apa anda datang ke ruangan ku. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Max dengan datar dan mengalih kan pembicaraan mereka.
"Wajah mu membuat ku muak Max. Aku hanya ingin memanggil Odion," jawab Ella. Max hendak bangkit dari duduk nya membangun kan Odion, tapi dilarang oleh Ella.
"Biar aku saja," ucap Ella.
Wanita itu menggoyang kan tubuh Odion.
__ADS_1
"Odion kita pulang, cepat!" ucap Ella sambil menggoyang kan tubuh pria itu. Namun Odion tidak merespon apa pun.
"isshhh, bangun ku bilang. Aku mau pang!" seru Ella lagi.
"Nona, bagaimana manusia bisa bangun dengan hanya sikap lembut mu," batin Max. Dia saat ini berada di meja kerja nya, sedetik bekerja sedetik melihat ke arah dua orang yang sedang beda alam itu.
"Odion, aku akan jalan sendiri!" ucap Ella.
"Sebel," ucap Ella.
"Max, tidak bisa kah kau memberi ku waktu untuk tidur, sebentar lagi saja. Kau selalu mengganggu ku,' ucap Odion dan kembali tidur dengan tenang.
"Nona biar sa...," ucapan Max terpotong ketika melihat Ella mengguling kan Odion dari sofa. Odion terjatuh ke lantai ruangan Max.
Kemudian Ella mengambil air minum Max dan menumpah kan air itu ke wajah Odion. Pria itu langsung bangun dan menatap tajam ke arah Ella seakan bertanya kenapa.
"Kau tidur seperti orang yang mati suri. Aku sudah membangun kan mu dari satu jam yang lalu," ucap Ella dengan wajah garang nya membuat Odion syok. Sebenar nya orang yang harus di marahi siapa?
Max hampir tertawa mendengar Ella mengata kan Odion mati suri. "Nyonya tambah menyeram kan," batin Max.
"Kenapa? Kau mau marah hah? Aku sudah menunggu mu selama satu jam," seru Ella menatap garang Odion. Yang di tatap malah tersenyum membuat Ella semakin marah.
"Kau menertawa kan aku?" Ella semakin emosi melihat Odion yang menertawa kan diri nya, pada hal dia sedang marah bukan?
"Nona, ketika anda marah sangat lucu, wajah anda seperti pemain film panda-panda itu 🐼," seru Odion.
"Kau?" Ella mendekat ke arah Odion dan mencubit tangan pria itu.
Ella tersenyum manis, namu tangan nya di tangan Odion sudah menimbul kan tanda.
Memutar kulit yang di raih nya ke atas ke bawah.
Belum pernah Odion merasa kan hal seperti ini, rasa nya lebih dari di gigit oleh singa yang memimpin di Huta sana, kulit nya serasa terkelupas dan di putar-putar bagian yang terluka.
"Nona, ampun, sakit sekali. Saya salah," ucap Odion berusaha menahan tangan Ella. Tentu nya Ella semakin keras memutar jari lentik nya. Odion juga semakin kuat menghela tangan Ella.
Odion merasa kan hawa dingin mengelilingi tubuh nya. "Aura ini begitu familiar," batin Odion tiba-tiba berhenti dengan kehebohan Ella. Mata nya beralih ke arah pintu. Odion begitu syok melihat siapa yang berdiri di sana.
Seorang pria yang diam-diam melihat dua orang yang sedang bermain-main itu mengepal tangan nya dengan kuat, wajah nya sudah sangat dingin, aura dingin nya mengalir di ruangan itu membuat suhu ruangan seakan kedatangan hantu tak terlihat.
"Odion, kau melewati batas rupa nya," seru pria itu dengan nada datar dan dingin.
Odion merasa kan hidup nya akan berakhir.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋