
"Di mana asisten ku?" tanya pria tua yang sejak tadi menunggu kabar dari sang asisten.
"Maaf Tuan, sejak tadi tuan Xavier tidak menampqk kan diri Tuan," jawab salah satu pengawal yang berjaga di sana.
Pria tua itu mengambil ponsel nya dan menghubungi Xavier asisten nya. Namun nihil, ponsel pria itu tidak bisa di hubungi sama sekali. Pria itu merenung sesaat.
"Anak itu ku rekrut tanpa mengetahui identitas nya. Tapi dia tidak pernah menunjuk kan apa tujuan nya masuk ke markas ini. Tapi dia juga tidak menunjuk kan penghianatan," batin pria tua itu.
Saat ini dia sudah mengerti, jika asisten baru nya itu hilang tanpa kabar. Di pikiran pria tua itu adalah Xavier takut menghadapi klan musuh. "Ternyata pilihan ku salah," ucap pria tua itu.
"Bawa aku ke ruang informasi!" seru pria tua itu. Salah satu pengawal mendorong kursi roda itu ke arah ruang informasi markas iru.
"Apa belum ada kabar tentang Thomas?" tanya pria tua itu ke pada salah satu orang yang berada duduk di depan komputer itu.
"Maaf Tuan, tuan Thomas belum memberi kan informasi apa pun. Dan kita juga belum menemu kan jejak Tuan Thomas,"
"Bagaimana dengan asisten ku?"
"Tuan Xavier tidak ada di markas. Kami sudah menelusuri tiap sudut markas kita, tapi kamu tidak menemu kan jejak Tuan Xavier," ucap pengawal yang sudah melaku kan pencarian Xavier.
"Sial, dia adalah salah pengecut sekaligus penghianat. Jika ada yang melihat dia tangkap dan bawa ke hadapan ku! Dan satu lagi, perketat penjagaan, wilayah kita sedang tidak baik-baik saja," ucap pria tua itu lalu pergi keluar dari ruangan itu.
Dia pergi menuju ruangan pribadi nya bersama seorang pengawal setia nya. Setelah sampai di ruangan itu, dia melihat foto seorang wanita yang masih muda.
Dia tersenyum melihat foto itu.
"Bagaimana jika putri mu tau bahwa suami nya telah membunuh mommy nya sendiri. Apakah dia akan bertahan?" ucap pria itu.
Dia mengambil ponsel nya dari dalam saku nya. Dia menelepon seseorang.
"Halo Zevano yang terhormat. Bagaimana kabar mu?" tanya pria tua itu dengan suara lemah nya.
Nampak Zevano yang di seberang sana diam sebentar. Zevano saat ini sedang berada di balkon kamar nya.
"Apa saat ini klan mu di ambang kehancuran? Seperti nya kau sedang krisis saat ini bukan, Ketua Ghost lion?" seru Zevano sambil tertawa.
"Hahaha, Zevano. Apa kau pikir kau sudah lebih kaya? Apa kau pikir aku akan meminta bantuan dari mu?" seru Wesly dari sana. Dia mengerti dari mana Zevano mengetahui kondisi klan nya sekarang karena pria itu juga memiliki koneksi yang luas.
"Wesly....Wesly. Pulang lah dan tinggal kan dunia bawah tanah mu itu. Kau sudah tua bukan. Apakah kau akan sendiri sampai mati? Sebagia saudar mu aku hanya akan memperingat kan mu! Atau kau masih setia dengan istri ku?" jawab Zevano merendah kan Wesly.
"Tu UUtup mulut mu Zevano. Aku tidak memiliki saudara seperti mu dan tidak akan pernah. Dan aku tidak pernah mengakui bahwa Legira adalah istri mu," jawab Wesly dengan membara.
Zevano tertawa di sana.
__ADS_1
"Apa kau lupa aku sudah memiliki seorang putri bersama Legira? Dan saat ini aku sudah memiliki seorang cucu. Bagaimana dengan mu Wesly? Apa kau masih setia dengan masa lalu dan yang sudah tiada? Bodoh!" seru Zevano dengan nada mengejek.
"Kau memang sudah memiliki keturunan Zevano. Ah, tapi sayang sekali seharus nya aku memberitahu kan kronologi kematian mommy nya ke pada putri mu. Tapi sayang, dia sudah tiada bukan? Ah, seharus nya aku membuat kan nya hidup lebih lama dan memberitahu nya. Yah, tapi tidak apa-apa, kau tadi dengan bangga nya memiliki cucu bukan? Masih ada sasaran lain," seru Wesly tidak mau kalah.
Zevano terdiam di seberang sana.
"Apa kau yang merencana kan itu semua?" Zevano menjadi marah bukan main mendengar penjelasan Wesly.
Itulah seorang Wesly Leopard. Dia adalah Adik dari Zevano. Kedua nya bersaudara namun mencintai satu orang wanita yaitu mommy Rosaline. Sayang nya Mommy Rosaline sudah menganggap Wesly sebagi adik nya sejak pertama kali di kenal kan pada keluarga Leopard.
Namun Wesly berusaha merebut Legira dengan cara kotor. Namun sayang, rencana itu di ketahui keluarga besar Leopard. Dia di usir dari mansion dan di coret nama nya dari keluarga Leopard. Harta warisan pun tidak tersentuh oleh nama nya.
Sejak saat itu iri dan dengki tidak pernah bersih dari diri Wesly. Dia berusaha merebut harta itu dengan cara kotor juga dari Zevano, namun sampai saat ini tidak berhasil sama sekali.
"Ya benar, aku yang sudah menyusun skenario kecil itu. Ah,, dan satu lagi. Jaga baik-baik cucu tersayang mu itu. Hanya itu keturunan mu yang tertinggal bukan?" seru Wesly.
"Jangan pernah menyentuh nya. Dan ingat! Kau akan hancur di tangan ku Wesly, sebagai musuh ku bukan saudar ku," seru Zevano memati kan sambungan telepon nya. Dia memegang kuat ponsel itu karena emosi nya terhadap saudara sedarah nya sendiri. Dia begitu miris, ternyata putri nya mati di tangan saudara nya sendiri.
"Paman membunuh ponakan nya sendiri. Bi a dap kau Wesly," seru Zevano menggertak kan gigi nya.
**
"Dad, where is mommy? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa tidak mengabari ku bahwa semalam kalian pulang? Kenapa tidak membangun kan ku?" sederetan pertanyaan itu keluar dari mulut Shine.
Bagaimana tidak? Rhadika ingin menjawab pertanyaan Shine tapi nafas nya serasa sesak, dia ingin men de sah. Wanita yang ada di dalam selimut yang dalam keadaan telanjang benar-benar mempermain kan tubuh nya.
Yah, kedua nya telan Jang karena tadi Ella secara tiba-tiba menarik Rhadika ke ranjang. Handuk yang di gunakan menutup milik nya terlepas begitu saja. Saat ini tubuh bagian bawah nya tepat mengenai kulit Ella.
Ella sangat rapat dengan tubuh nya Karen takut ketauan Shine bahwa ke dua nya ada di kamar yang sama apa lagi dalam ke adaan telanjang seperti ini.
Belum lagi tingkah Ella yang saat ini sedang menjamah perut sobek-sobek Rhadika di dalam selimut. Dan yang membuat Rhadika semakin terbawa suasana adalah gerakan tangan itu sama dengan gerakan Rosaline dulu.
Rhadika berusaha menahanan suara erangan nya. "Dad, apa kau tidak mendengar ku?" tanya Shine dengan kesal. Sudah beberapa menit dia bertanya tapi belum ada jawaban.
"Mommy mu, ahhh," Rhadika tidak tahan dan mengeluar suara yang tidak sopan itu di depan ank kecil.
Rhadika merasakan Ella saat ini sedang bermain di perut nya dengan lidah nya. Terbukti Rhadika merasakan perut nya basah.
Shine mengerut kan kening nya. "Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku atau apa sesuatu terjadi Dad, seperti nya Daddy mulai tidak bisa menjawab pertanyaan ku," seru Shine karena melihat daddy nya seperti menahan sesuatu.
Ella tertawa di dalam selimut mendengar Rhadika yang tidak bisa lancar menjawab pertanyaan putra mereka. "Rasakan, kau pikir hanya kau yang bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau bercin ta dengan ku tanpa seijin ku," batin Ella.
Sebenar nya Ella juga merasa tidak nyaman sejak tadi. Milik Rhadika yang tidak tertutupi apa pun sejak tadi menyentuh paha mulus nya membuat jiwa dewasa nya juga sedikit berimajinasi tinggi.
__ADS_1
"Hmmm, kau memang sangat nakal Baby girl. Kita lihat apa yang akan ku lakukan setelah iblis kecil ini keluar," batin Rhadika mengepal kan tangan nya agar bisa menahan siksaan gai rah yang di lakukan Ella di dalam selimut.
"Mommy mu sedang di dalam kamar mandi. Dia tadi malam sangat lelah karna kejadian itu. Jadi dia menginap di kamar ku," jelas Rhadika.
Shine nampak memicingkan mata nya.
"Apa Daddy dan Mommy tidur bersama?" tanya Shine dengan wajah serius nya.
Ella yang berada di dalam selimut kaget mendengar pertanyaan Shine. Dia langsung mencubit perut Rhadika memberikan kode agar tidak memberi tahu Shine.
Rhadika merasakan tangan kecil wanita yang di dalam selimut mencubit perut nya. Namun salah, Rhadika tidak akan mengelak tentang pertanyaan ini. Yah, biarlah Shine mengira bahwa mereka berdua sudah dekat.
"Benar, mommy mu tidur bersama ku tadi malam. Apa ada masalah?" tanya Rhadika datar. Dia menanggapi pertanyaan putranya Shine dengan santai.
Ella kaget bukan main mendengar jawaban Rhadika. Tangan nya semakin keras saja mencubit perut Rhadika. Pada hal dia sudah memberi kode, tapi tetap saja di abai kan oleh Dika.
Ella di dalam selimut merasa tegang menanti jawaban anak kecil itu. Apakah diri nya akan di klaim perempuan yang tidak baik alias murahan nanti nya? Atau shine akan membenci nya?
Sedangkan Rhadika, dia merasa kan kulit nya sudah mulai panas karena cubitan wanita yang sedang di pelukan nya.
Shine menatap sinis pertama kali ke arah Rhadika. "Benarkah Dad?" tiba-tiba wajah anak kecil itu menjadi sumringah.
"Apakah Daddy sudah berencana menjadi kan mommy sebagai istri Daddy?" tanya Shine. Wajah nya kini sudah cerah dan berwarna.
Rhadika mengerut kan kening nya. Dia heran melihat tanggapan anak kecil itu. Biasa nya dia adalah yan paling sensitif terhadap Ella. Pada hal Rhadika sudah menyiap kan pembelaan untuk Ella jika Shine memulai buruk Ella yang sudah tidur bersama nya.
Begitu juga dengan Ella. Dia seperti orang bodoh mendengar jawaban Shine. Di luar ekspektasi, jari nya juga lambat laun terlepas dari perut Rhadika.
"Benarkah Dad?" tanya Shine sekali lagi. Kali ini dia mendekat ke arah ranjang dan ingin menaiki ranjang.
"Stop, stop it," ucap Rhadika karena melihat Shine yang tiba-tiba berjalan ke arah ranjang.
"Why Dad?" tanya Shine bingung.
Rhadika diam sebentar.
"Apa kau ingin seranjang dengan laki-laki? Keluar lah aku akan memberi jawaban nanti saja," seru Rhadika.
Dia kemudian menyandar kan tubuh dan berpura-pura tidur. Shien yang melihat tingkah daddy nya yang tidak ingin di ganggu langsung keluar saja. Logika nya selalu berjalan, dia tidak ingin memaksa kan sesuat, "tetap saja aku akan mengetahui jawaban nya bukan?" batin Shine sambil berjalan ke arah pintu dan ke luar dari ruangan itu.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋
__ADS_1