
Ella yang sudah di usir dari kamar Rhadika pergi menuju kamar Shine kembali. Dia juga tidak ingin berlama-lama di ruang kerja Rhadika karena dia takut tidak akan bisa menahan diri jika lebih lama di sana.
Dia takut perasaan nya yang dulu yang mudah lemah ke pada sang suami. M mang wajahnya selalu dingin dan seperti memiliki dendam dengan Rhadika, tapi hatinya tetaplah seorang Rosaline, lembut dan selalu sayang terhadap orang yang sudah mengisi hatinya.
Dia harus bisa mengalihkan perhatiannya dari sang suami, jika tidak identitas dirinya akan mudah terbongkar. Dia terlebih dahulu menenangkan diri ke kamarnya terlebih dahulu.
Sebelum sampai di kamar Shine, Ella bisa mendengar tawa dari Clasy tapi tidak dengan Shine yang kesal dengan Clasy.
"Bunda, pokonya harus sering menjenguk Shine. Ayah juga, meskipun sibuk tapi harus menemui Shine. Biar bagaimanapun juga ayah tetap lah harus menjenguk Shine. Apa orang lain lebih penting dari Shine."
"Hahaha, kanapa kau tiba-tiba seperti anak kecil Shine? Biasanya kau lah yang lebih bijak dari bunda. Bunda, Ayah kan sedang bekerja, jasanya di butuhkan banyak orang," seru Clasy dengan meniru gaya Shine yang biasanya sok dewasa.
"Aishh, terserah bunda," seru Shine dengan kesal. Ella yang berada di luar pintu terharu mendengar Clasy yang begitu dekat dengan Shine. Dia tersenyum miris, " bagaimana dengan ku," batinnya.
Semua itu tidak lepas dari pandangan seseorang di sana. Dia semakin curiga melihat gerak gerik terutama ekspresi Ella tadi.
"Kita lihat, sampai kapan kau menunjukkan taring mu," batin orang itu.
Ella langsung membuka pintu dan melihat Shine yang sedang kesal dengan bundanya.
"Nona, bisakah anda mengetuk pintu terlebih dahulu?" seru Shine. Wajahnya terlihat semakin kesal saja.
"Hahaha, Shine. Take a deep breath," (Tarik napas dalam-dalam). Kenapa kau jadi seperti ibu hamil yang sensitif? Biasa saja Tuan muda kecil Browns," seru Clasy.
"Kau tidak boleh memarahi sahabat ku. Jika tidak kau berurusan dengan bunda mu yang cantik dengan body gitar spanyol ini," ucap Clasy sambil memeluk Ella di bumbui dengan suara sok tegasnya agar terkesan seperti marah.
"Bunda, apa perlu aku membawa kaca besar untuk kau berkaca?" Yah ini adalah Shine, slowly tapi ucapan nya menusuk.
"Cih, dasar bocah," umpat Clasy tapi tidak di tanggapi Shine.
"Sudah, sudah. Shine kau tidak ingin makan, agar Tante buat."
"Berikan waktu lima menit, kita akan turun bersama."
Anak kecil itu tampak bermain sebentar dengan iPad mininya. "Bunda, berikan sebentar telapak tangan mu!"
__ADS_1
Clasy mau saja, karena dia tau sudah sejak lama Shine mengerjakan suatu program.
"Bunda mengalami tekanan batin empat atau lima tahun lalu. Benar? Apa Bunda kehilangan seseorang yang sangat penting?"
Clasy mengangguk. "Wah, ternyata berhasil," ucap Clasy mengusap kepala Shine, namun sebelum tangan itu mendarat, kepala Shine sudah menghindar.
"Bun tidak perlu menyentuh kepala ku," seru Shine. Hening sebentar, Shine terdiam sebentar.
"Hmmm, di sini juga ada tertera sesuatu. Tapi aksi tidak mengerti," seru Shine.
Ella yang penasaran langsung mendekat.
Dia langsung menutup mulutnya tak percaya.
Matanya membola pertanda tak percaya laporan yang di lihatnya.
"Really? Apakah ini benar Clasy?" tanya Ella lagi. Namun wajahnya masih heran seperti tak percaya.
**
"Aku memelihara mu sebagai anjing ku bukan untuk mengatakan bullshit seperti itu! Cari tau secepatnya! Aku tidak ingin wanita ku berlama-lama di sana!"
Pria itu mulai mengeluarkan amarahnya
"Kali ini tidak akan ku biarkan," batin pria itu. Seorang wanita nampak memasuki ruang kerja pria itu dengan seksinya.
"Sayang, berhenti lah marah," seru wanita itu dengan nada seksi dan di buat semendayu mungkin.
"Cih, bit*ch kau selalu datang di waktu yang tepat," seru pria itu langsung menyerang wanita di depannya yangbsudah lama dia perbudak demi memenuhi hasratnya.
Dengan tidak sabar, pria itu langsung saja merobek pakaian minim yang di gunakan oleh wanita itu.
Dengan tampang menantang dengan keadaan hanya menggunakan dalaman yang tersisa, wanita itu berlaku layaknya *** ***.
"Aku menanti kan Thomas," seru wanita itu sambil membuka satu persatu kancing kameja yang di panggil Thomas.
__ADS_1
"Maura, ternyata uang bisa membuat lebih cantik dan lebih seksi," seru Thomas dengan tangan yang sudah berkeliaran ke tubuh sensitif Maura.
Maura yang sudah biasa melakukan itu dengan Thomas sudah bisa mengimbangi pria itu. Dengan tidak sabaran Thomas mengangkat Maura dan merentang tubuh wanita itu di sofa.
Kedua kaki Maura di buat mengangkang. Dalam satu kali tarikan, CD Maura Terlepas sempurna. Dengan mata yang sudah di penuhi kabut gairah, tanpa aba-aba Thomas langsung menyatukan tubuhnya dengan Maura.
Tanpa pemanasan atau apapun, Thomas menikmati tubuh itu dengan leluasa. Maura yang sudah di perlakukan layaknya *** *** hanya menikmati setiap hentakan yang diberika oleh Thomas.
"Mmmm, Thomas, bis..a.. lah lebi... h... lembut?" seru Maura di tengah-tengah Des aha nya. Bagiman tidak, Thomas melakukan di penuhi emosi Karan membayangkan wanita nya Ella di nikmati oleh Rhadika. Lagi-lagi dia jijik mengingat bahwa rivalnya dalam percintaan juga adalah musuh bubuyutannya.
"Diam lah bi tch, aku membayar mu tidak untuk berceloteh ketika ber- cinta dengan ku. Jika kau tidak tahan menjadi budak ku kau boleh out dari sini!" Thomas mengakhiri begitu saja aktivitas panas itu karena tidak selera ketika dia sadar bukan Ella yang sedang berada di bawahnya.
"Ella, akan ku dapat kan kau dengan cara apapun." Thomas begitu terobsesi dengan wanita itu entah karena apa, pandangan pertama adalah alasannya.
**
"Bagaimana, apa sudah dapat informasi tentang Thomas?" tanya Rhadika pada asisten nya Max.
"Belum Tuan, tapi saya bisa pastikan bahwa pria itu ada di negara ini."
"Apa ada info lain?"
"Maura, sepertinya wanita sudah bisa hidup normal."
"Maura? Apa hubungannya dengan wanita itu?" tanya Rhadika.
"Salah satu anggota melaporkan bahwa mereka melihat Maura di awasi dan di kawal oleh anggota Ghost Lion," jawab Max.
"Jadi wanita itu benar-benar ingin mengakhiri hidupnya rupanya. Pantau terus, tentang Thomas dia adalah yang paling utama," seru Rhadika.
Max mengangguk dan undur diri dari ruangan itu. Rhadika menarik napas sebentar, dia berdiri dan berjalan ke arah kaca besar sebagai penghalang pemandangan antara ruang kerjanya dan pemandangan luar mansion nya.
Entah apa yang di pikirkan oleh pria itu, tapi yang pasti pria itu tampak melihat jauh ke depannya seperti menebak sesuatu.
Jangan lupa likenya 😊😊😊👍
__ADS_1
hiras