
"Odion!" panggil Ella dengan kesal pada pria itu karena sejak tadi Odion tidak menghirau kan nya. "Ishhh, Odion apa kau tuli," kesal Ella pada Odion.
Ella yang dulu dan ramah kembali lagi terutama pada orang-orang mansion yang termasuk orang terdekat nya.
Odion sejak tadi sudah merasa jengkel karena Ella sejak tadi menjelek-jelek kan Rhadika. Tidak hanya itu, Ella juga sembari bercerita dengan mencondong kan tubuh nya ke arah depan membuat Odion semakin tidak nyaman.
Namun dia tidak boleh marah, seperti yang sudah di perhati kan oleh Odion Pasti ada sesuatu antara Ella dan Rhadika. Max melihat sekilas ke arah luar mobil, dia menyipit kan mata nya. Namun rasa nyaman nya kembali lagi terganggu ketika Ella memaju kan tubuh nya ke depan.
"Nona, saya sejak tadi selalu mendengar cerita anda dari awal sampai akhir. Dan saya ingin meminta satu permintaan saja," ucap Odion.
"Apa?" balas Ella. Melihat Odion lawan bicara sudah mulai merespon, wanita itu semakin bersemangat.
"Saya mohon Nona jangan tersinggung. Bisa kah Nona duduk dengan tenang di sana?" ucap Odion membuat Ella menjadi pias wajah nya.
"Cih dasar, kalian tidak asik sama sekali. Sama seperti Max si pria kutub itu," ucap Ella melipat tangan nya dengan malas dan duduk di kursi mobil dengan tenang.
Odion menghela napas mendengar wanita yang duduk di belakang nya lagi-lagi membicarakan orang lain.
Sedang kan Rhadika di kantor nya dia sedang menyusun rencana, jari nya yang lentik mengetik dengan santai selagi otak nya berputar memikir kan apa yang harus di ketik. Setelah dia menyelesai kan inti dari rencana nya, dia memanggil max.
Max yang sudah menerima dokumen itu memandang Rhadika dengan heran. "Kau tau bukan apa yang harus di lakukan," ucap Rhadika menatap Max dengan tersenyum smirk.
"Baik!" jawab Max tak peduli dengan apa maksud Rhadika yang sebenar nya. Dia hanya bisa menjalan kan tugas nya dalam kebingungan.
"Ah aku lupa Max, buat dalam dua ratus halaman!" perintah Rhadika. Mata Max melotot. Apa kah tuan nya sedang gila? Memang nya pekerjaan nya hanya ini saja.
"Dan satu lagi Max, dalam tiga puluh menit sudah siap, istri ku akan datang!" perintah Rhadika pada Max dengan santai nya tanpa melihat wajah Max yang sudah panas dan memerah menahan sesuatu yang tentu nya adalah pukulan tangan.
Di jalan, Ella memilih untuk tetap diam dari pada mengoceh, dia sudah paham sifat dari Odion di banding kan dengan Max.
Di seberang sana, orang-orang yang berada di seberang jalan mengikuti rombongan Ella mulai melapor ke pada atasan nya, setelah mereka melihat ke mana arah tujuan mobil itu mereka mulai berbelok dan meninggal kan rombongan Ella.
Odion sejak tadi sudah memperhati kan mobil itu yang mengikuti mereka dari jarak jauh sejak tadi. Namun melihat mobil itu menjauh, Odion tidak ambil pusing dan membuka kan pintu untuk Ella.
"CK, tidak perlu," ucap Ella sambil membawa dokumen di tangan nya.
Odion kembali menggeleng kan kepala nya "Tidak perlu tapi langsung ke luar, wanita memang sulit di mengerti," batin Odion.
Dia juga ikut masuk dan naik lift bersama dengan Ella. Namun Odion heran kenapa Ella bisa langsung menunjuk
lift CEO tanpa bertanya atau apa pun itu. Pengawal yan ingin melarang Ella langsung di beri kan kode oleh Odion dari belakang.
Wajah wanita itu benar-benar menjengkel kan bagi Odion.
"Nona, apa kah saya membuat kesalahan?" tanya Odion dengan jengkel.
"Kau Masih bertanya? CK, dasar tidak peka. Kau sama dengan pria mesum itu," ucap Ella tak kalah jengkel.
__ADS_1
Odion mengelus dada dengan pelan sambil menarik napas.
Setelah mendengar pintu lift sudah sampai di lantai atas, Odion langsung ke luar dengan kesal seperti anak kecil yang baru saja berkelahi dengan teman nya.
Ella tertawa melihat kelakuan lucu Odion yang seperti ini, memang biasa nya pria itu banyak bicara tapi tetap gentle bukan seperti ini. Pintu lift hampir tertutup karena Ella masih merasa lucu dengan tingkah pria yang biasa nya gentle menjadi banci.
Tujuan Odion saat ini adalah ruangan Max.
Odion langsung masuk tanpa mengetuk pintu ruang kerja Max.
"Aku sial Ahri ini,"ucap Odion menyandar kan tubuh nya ke sofa dengan kasar.
Max yang sebelum nya ingin berceramah ke pada Odion yang dengan berani nya memasuki ruangan nya tanpa izin.
"Kenapa?" tanya Max menghenti kan pekerjaan nya, karena Max tau Odion bekerja menjaga Ella selama ini dan terutama hari ini.
"Kau tau Max, Nona Ella, wanita itu begitu menjengkel kan. Lebih parah nya saat kami dalam perjalanan, dia selalu mengoceh tidak jelas, membicara kan keburu kan orang-orang. Bukan kah dia yang mengesal Kan? Bahkan saat di mobil pun aku menjawab semua ocehan nya, tapi dia malah mendiam kan ku dan mengata kan aku salah, dan tidak peka. Ah, mengingat saja membuat ku geram," cerita Odion panjang lebar.
"CK, sifat yang selalu membuat orang itu kesal sudah muncul ternyata," batin Max
"Berhenti lah bekerja agar tidak kesal," ucap Max santai kemudian melanjut kan pekerjaan nya.
"Sial, aku sudah tau jawaban mu yang tidak akan memberi ka. solusi apa pun," ucap Odion dengan kesal. Ada apa dengan diri nya hari ini yang penuh dengan hal-hal sial.
**
Ella hampir ingin masuk tanpa mengetuk. Tapi dia mengingat ucapan si kecil.
Tok Tok Tok
"Masuk!" perintah seorang pria di sana. Bahkan Ella tanpa bertanya langsung menuju ruang kerja Rhadika. Sebelum nya Ella sudah terlebih dahulu menuju ruang meeting di perusahaan namun tidak ada satu orang pun di sana.
"Tidak ada orang di ruang meeting!" ucap Ella menatap Rhadika. Pria itu saat ini sudah bersandar di kursi kerja nya seperti orang yang memiliki beban.
"Apa aku telat?" tanya Ella lagi meskipun tidak mendapat kan jawaban dari pria itu.
"Bukan masalah besar," jawab Rhadika membuka mata dan menatap Ell yang sudah memasang wajah bersalah nya.
"Maaf," ucap Ella menunduk dia memilin-milin ujung dress yang sedang di pakai nya. Rhadika menghela napas membuat Ella semakin merasa bersalah dan menunduk dan memilin baju nya semakin keras.
"Kau tau? Istri ku juga dulu seperti itu, jika dia melaku kan kesalahan dia akan melaku kan hal yang sama seperti yang kau laku kan saat ini," tunjuk Dika dengan dagu nya ke arah jari Ella.
Dika bangun dari kursi nya dan menuju sofa yang ada di sana. Dia seperti orang yangs udah kehilangan proyek besar dan perusahaan nya akan tutup.
Ella merenung sebentar. "CK, aku tau. Tapi ini proyek besar, bagaimana?" batin Ella. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat perusahaan rugi besar.
"Apa kita masih bisa mengejar klien nya, aku akan berusaha berbicara." Ella mencoba mencari solusi lain. Dia mendekat ke arah sofa dan duduk di samping Rhadika.
__ADS_1
"Tidak mereka sudah pergi mengguna kan heli, kita tidak bisa mengejar nya."
"Maaf," ulang Ella lagi.
Rhadika tiba-tiba berdiri dan wajah nya yang dingin kini tertera di depan mata Ella.
"Apa kau pikir dengan kata maaf kau bisa mengembali kan proyek itu dan membayar kerugian perusahaan?" tanya Rhadika dengan dingin.
Ella berdiri dan kembali memilin baju nya.
"A...apa. yang harus ku laku kan?" tanya Ella menunduk.
Rhadika mengambil ponsel nya.
"Bawa ke hadapan ku Max," ucap Rhadika kemudian memati kan telepon nya secara sepihak.
Max membawa dokumen yang begitu besar, dia meletak kan kertas itu di meja sofa dan berdiri di sana menyaksi kan drama rumah tangga yang tidak akan pernah usai.
"Kau di pecat jadi pengasuh Shine," Rhadika memberi kan putusan terakhir.
"Maaf mu tidak akan mengembali kan apa pun."
Ella yang mendengar itu langsung menangis.
"Tidak, tidak mau. Aku ingin tetap bersama Shine," ucap Ella mulai menangis.
"Aku tidak mau dan tidak terima. Apa kesalahan ku hah?" tanya Ella.
Rhadika memijit hidung nya sebagai kode agar Max amb alih.
"Maaf sebelum nya Nona, ini semua terjadi karena ulah anda sendiri. Hanya on time saja anda sudah sangat sulit, bahkan membuat kerugian besar, apakah anda nanti nya tidak berdampak negatif pada Shine?"
Pernyataan Max begitu menohok hari Ella.
"Hanya itu saja?" lawan Ella.
"Baik nona, baru saja anda membuat kerugian ratusan miliar, apakah anda bisa bertanya lagi hanya itu?" tanya balik Max.
"Baik, aku sudah membuat perjanjian baru. Jika kau masih ingin bertahan, silahkan di tanda tangani!" ucap Rhadika mengambil jalan tengah dan mendorong sedikit dokumen itu ke arah Ella.
Ella yang mendengar itu menjadi waspada. Dia juga dulu nya menyandang status Brows melalui sebuah perjanjian. Ella dengan kasar menghapus air mata nya.
Dia benar- benar kaget mendengar ucapan Rhadika. Ella melihat setumpu kan dokumen di sana.
"Jika anda tidak berkenan langsung menandatangani, anda bis membaca nya sebentar Nona," jelas Max.
"Gila, sebanyak ini dokumen nya. Aku yakin mereka pasti menulis beberapa yang merugi kan ku seperti dulu," batin Ella melihat sinis ke arah Max dan Rhadika.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍👍
Horas ✋✋✋