
Di mansion Browns, setelah menyerah kan Odion ke tangan teman nya si jas putih, Odion bergegas keluar dari salah satu ruangan tempat Odion di obati menuju pintu mansion.
Sayang nya, Odion sudah melihat orang yang ingin di sambut nya bersama dengan putra pemilik mansion ini.
"Paman Zevano, mohon maaf saya terlambat menyambut anda," ujar Max menunduk dengan sopan. Biar bagaimana pun, meskipun Zevano bukan lah atasan Max, tapi pria itu adalah ayah dari Nyonya nya sekaligus mertua dari atasan nya.
"Ahhhh, tidak apa-apa Max," bukan Zevano yang menjawab nya melain kan si kecil yang meniru gaya grandpa nya.
Semua orang di sana tertawa termasuk paman Vill yang selalu setia melayani Shine.
"Tidak apa-apa Max, aku juga sudah bermain bersama dengan cucu ku. Aku tau kau juga sedang sibuk bukan?" jawab Zevano.
"Paman Max, kapan Dad dan Mommy akan sampai. Mommy seharian bermain bersama dengan Dad, Shine tidak terima," oceh Shine.
"Mommy?" Zevano melihat ke arah Max.
Yang di tatap sudah mengerti atas tatapan itu, dia menunduk saja sebagai permintaan maaf karena tidak memberitahu kan apa saja yang di laku kan oleh Shine selama ini pada nya.
Zevano merasa sedikit kecewa dengan hal ini. Namun melihat kode yang di beri kan Max, karena ada Shine di sana.
"Tuan kecil, sebentar lagi Tuan dan Nona akan segera tiba. Mereka dalam perjalanan pulang," jawab Shine.
"CK, awas saja jika mommy lecet sedikit pun. Akan ku habisi Daddy," seru Shien duduk di sofa sambil melipat tangan nya.
"Memang nya cucu grandpa bisa menghabisi daddy?" tanya Zevano basa-basi.
"Kau meragu kan ku Grandpa?" tanya Shine.
"Lumayan."
"Tunggu besar maksud nya, hahaha," jawab Shine naik ke pangkuan grandpa nya. Zevano juga tertawa mendengar jawaban cucu nya.
Canda tawa itu berhenti ketika para pelayan mengambil posisi berjejer di depan pintu. Ini awal pertama Rhadika mengakui bahwa Istri kecil nya adalah Ella dan sudah kembali dan pertama kali nya kemudian menginjak kan kaki di mansion Browns.
Itulah alasan Rhadika membaris kan para pelayan. Belum juga sepenuh nya Rhadika Rhadika memasuki ruang tamu di mana Max dan lain nya berada, seseorang di bawah tepat nya di celana Rhadika ada yang menarik-narik celana nya.
Rhadika tidak melihat nya karena fokus membawa Ella dalam pelukan nya. Dia memiring kan posisi Ella dan melihat ke arah bawah.
Rhadika langsung disuguh kan wajah tidak senang dari orang yang menarik celana nya.
"Ada apa?" tanya Rhadika kesal. Jika bukan orang penting, dia tidak akan melayani orang itu. Tapi orang yang di bawah sana adalah orang yang suka memerintah dan mengatur nya.
"Apa yang Dad laku kan pada Mommy. Itulah kenapa Shine tidak suka jika Mommy dekat dengan Dady," ucap Shine kesal.
"Kau pikir aku menyakiti nya? Dia sedang tidur bocah kecil, otak kecil mu itu berpikir terlalu jauh," ucap Rhadika.
"Jongkok," perintah Shine. Rhadika menatap tajam ke arah Shine yang berani memerintah nya. Hanya ank ini dan wanita yang di gendongan nya yang selalu berani memerintah seorang ketua mafia paling di takuti di Spanyol.
Bagaimana jika hal ini tersebar di luaran sana, di antara pemimpin klan dunia bawah tanah. Bisa jatuh harga diri nya, dan paling parah bisa di sebut mafia hello Kitty.
"Dad, cepat lah. Aku masih ada pekerjaan," ucap Shine dengan nada sok memerintah.
__ADS_1
Rhadika menarik napas kasar. Dengan perlahan Rhadika berlutut di hadapan putra nya. Shine kemudian mendekat kan tangan nya ke hidung Ella, anak itu menunduk-nunduk merasa kan nafas Ella.
"Anak ini, apa dia tidak waras. Apa dia berpikir aku membunuh istri ku sendiri?" batin Rhadika.
"Satu hal lagi Dad," ucap Shine.
"Cepat lah iblis kecil, aku juga masih banyak pekerjaan," seru Rhadika. Wajah nya sudah mulai mengeras karena anak kecil di depan nya.
Shine dengan tersenyum melihat ke arah Grandpa nya. "Granpa lihat!! Belum bertarung saja Dad sudah berlutut di hadapan ku," ucap Shine dengan bangga sambil melipat tangan nya.
"Dad, sebaik nya kau tidak mengajar kan hal-hal bodoh pada ank kecil ini," ucap Rhadika kesal mendengar ucapan Shine kemudian berdiri dan meninggal kan orang-orang yang ada di sana.
Sesampai nya di kamar utama, Rhadika meletak kan tubuh Ella secara perlahan seperti meletak kan sebuah porselen antik na mewah yang seperti di junjung tinggi.
"Baby, tidur lah hmmm," bisik Rhadika ke telinga istri nya. Kemudian dia menge cup singkat bibir yang selalu membuat nya candu.
Tidak tahan dengan lembut nya bibir itu, Rhadika memperdalam ciuman lembut itu.
Meskipun Ella tidak membalas, namun Rhadika begitu menyukai ciuman saat ini. Merasa kan Ella ada pergera kan, Dika langsung melepas bibir Ella.
Rhadika tersenyum tipis melihat bibir Ella yang kembali bengkak karena ulah nya. Rhadika juga merasa kan tubuh nya mulai panas. Dia membuka baju dan memilih menikmati udara sebentar di balkon.
Dia menikmati sebatang benda yang mengandung nikotin. Semenjak Ella sudah berada di sini, Rhadika mulai jarang merokok. Dia melihat pandangan luar mansion yang dihiasi lampu-lampu.
Masih ada satu musuh nya yang belum di tangkap oleh nya. Thomas, ada dua kemungkinan, pria itu sudah mati atau masih berkeliaran di sana. Jika mati, mayat dari Thomas tidak di temukan sama sekali.
Jika hidup, keberadaan nya tidak di ketahui entah di mana. Bahkan di saat dia memburu Daddy nya Thomas, musuh bebuyutan nya itu tidak menampak kan diri sama sekali.
Seseorang di salah rooftop tertawa melihat hasil foto nya. Orang itu nampak menyimpan teropong mini nya.
Rhadika mematikan rokok nya yang baru habis setengah. Di memasuki kamar dan melihat Ella sudah berada di posisi yang beranta. Dengan sabar Rhadika memperbaiki posisi Ella. Terkahir dia meletak kan guling di samping Ella. Otomatis wanita itu langsung memeluk guling itu membuat Rhadika tertawa.
Kemudian Rhadika langsung menunju ruang tamu dan melihat Shine masih di sana bersama dengan daddy Zevano.
"Dad, apa Mommy tetap tidur?" tanya Shine berjalan menuju Rhadika. Kemudian dia meminta di gendong oleh pria itu.
"CK, kau sudah besar bukan? Hampir umur lima tahun, jangan terlalu manja!" Ucap Rhadika tetap membawa Shine ke pelukan nya.
"Apa Daddy sudah tua sehingga keberatan menggendong ku,?" Max hampir tertawa di buat oleh anak kecil itu. Namun pandangan tajam Rhadika membuat sekertaris itu terdiam.
"Apa mulut pedas mu itu bisa di kurangi?" tanya Rhadika menatap Shien yang berada di pelukan nya.
"Itu turunan dari mu Dad," jawab Shine enteng. "Terserah!" jawab Rhadika pada akhir nya.
"Dad, aku ingin mengantar kan Shine tidur terlebih dahulu," ucap Rhadika melihat ke arah Zevano. Zevano mengiyakan perkataan Rhadika.
"Dad, aku masih ingin bermain bersama dengan Grandpa," rengek Shine dengan manja.
"Dan akan ku lapor kan ke pada Mommy mu bahwa kau melawan Dad, begitu mau mu?" ancam Rhadika. Shine terpaksa mengikuti permintaan daddy nya.
Setelah setengah jam menunggu Shine tertidur, Rhadika turun dan langsung mengajak Zevano naik bersama nya ke ruang kerja nya.
__ADS_1
"Kenapa Shine memanggil pengasuh nya mommy?" tanya Zevano to the point. Dia sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi sebelum nya.
Max ingin buka suara namun di henti kan oleh gerakan jari Rhadika.
"Shine menyukai Ella, dia memutus kan untuk memanggil Ella sebagai Mommy. Dia juga mengata kan ingin mempunyai keluarga utuh dan dia bersikeras mommy nya adalah Ella," jelas Rhadika.
"Apa kau setuju begitu saja? Bagaimana jika wanita itu berdampak negatif nanti nya untuk cucu ku. Kau sebagai dad nya harus bisa menjaga putra mu!" tegur Zevano.
"Seperti yang kau lihat Dad, apa Shine semakin hari semakin buruk? Apa kau masih melihat sikap dingin dan sedikit berbicara nya? Bahkan dia sangat mudah berekspresi sekarang. Kau lihat baju nya, yang dulu hanya hitam putih sekarang sudah lebih berwarna seperti anak pada umumnya?" tanya Shine bertubi-tubi pada mertua nya.
"Meski pun aku sangat tidak suka dengan warna baju itu, seperti anak jalanan saja," batin Rhadika. Bagaimana tidak, tadi sebelum pergi mengantar kan Shine tidur, baju yang di gunakan anak itu adalah warna merah bertulis kan Spiderman dan baju itu memiliki sayap di belakang.
Mendengar itu Zevano mulai berpikir, yah Shine berubah banyak dari yang sebelum nya. Ank itu biasa nya hanya bicara sepatah dua patah kata, sekarang anak kecil itu sudah seperti anak kecil pada umum nya, ceria dan banyak bicara, hanya satu yang selalu menetap dan itu merupa kan keturunan, mulut pedas nya.
"Apa kau menyukai wanita itu?" tanya Zevano.
"Sangat, aku sangat mencintai nya," jawab Rhadika tegas.
"Apa secepat itu kau melupakan putri ku?" tanya Zevano. Ada nada tak terima dari suara pria itu.
"Aku masih tetap mencintai istri ku Rosaline," jawab Rhadika membuat Zevano bingung.
"Apa maksud mu?" tanya Zevano.
"Kau akan tau pada akhir nya Dad," jawab Dika pada akhir nya.
"Max, tolong antar kan ayah mertua, akh ingin tidur."
"Baik Tuan. Besok kita ada pesta pertemuan di acara salah satu klien kita, dan anda harus membawa pasangan. Apa saya harus mencari kan pasangan anda?" tanya Max. Dia takut tidak sempat mengata kan ini pada Rhadika karena dia akan keluar kota untuk urusan perusahaan.
"Tidak perlu, aku sudah punya," jawab Rhadika tersenyum. Kemudian dia permisi pada ayah mertua nya, dia berjalan ke arah kamar utama.
Dia melihat istri kecil nya tidur menyelami alam mimpi. Rhadika mendekat dan masuk ke dalam selimut. Dia menyingkir kan bantal guling yang selalu di peluk oleh Ella.
Otomatis Ella langsung mengangkat kaki nya dan memeluk Rhadika. Nafas teratur Ella membuat Rhadika begitu nyaman dan cepat ikut menyelami alam mimpi.
"Semoga selalu seperti ini Baby," batin Rhadika membalas pelukan Ella.
Seorang wanita sedang berusaha untuk masuk ke sebuah perusahaan yang menjadi partner bisnis sasaran nya. Kali ini dia harus berhasil, tapi haluan nya sudah berubah. Tujuan wanita itu sudah beralih ketika melihat sosok pria yang begitu di benci nya kini sangat di damba kan oleh nya.
Terutama ketika mendengar bahwa pria itu tidak memiliki istri lagi dan hanya memiliki seorang anak.
Saat ini dengan segala cara berusaha agar di terima di perusahaan itu. Dia terlebih dahulu mencari kebusukan dari para pemimpin tinggi perusahaan itu. Dan benar saja, setelah memberikan kebusukan salah satu pemimpin perusahaan itu, dia di terima dan di tempa kan sebagai sebagai sekertaris CEO pemilik perusahaan itu.
Sayang nya dia tidak mau menggoda sang CEO karena perawakan pria itu sudah mulai berumur dan sudah beristri. Buka. tipe nya menggoda atau dekat dengan pria yang lemah di ranjang.
Terutama besok dia akan mengikuti pertemuan antara partner kerja sesama perusahaan raksasa di Spanyol.
"Kita mulai besok," batin wanita itu setelah melihat daftar nama Rhadika ada di sana.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
horas ✋✋✋