
Max sejak tadi sudah menunggu laporan dari anak buah nya tapi sampai sekarang belum ada kabar sama sekali dari anak buah nya.
"Bodoh, apa saja yang di lakukan oleh bedebah itu? Kenapa lama sekali," batin Max. Sejak tadi dia tidak berkonsentrasi dengan dokumen di depan nya.
Tapi jika di hadap kan di depan Clasy, Max akan seperti pria kutub, tapi saat di belakang Clasy seperti beruang kutub yang baru selesai dari hibernasi nya mencari santapan tapi enggan memakan.
Tiba-tiba pintu di ketok dari luar, pertanda ada orang yang datang. Dan ternyata benar, itu adalah Odion, suruhan Max. Bisa di katakan Odion adalah salah satu pengawal mansion yang dapat di percaya.
"Kenapa lama sekali? Apa Karna sudah tua kau jadi lambat?" tanya Max to the point karena sudah lama menunggu.
"Kau pikir aku tidak bekerja keras. Kau tau, Clasy yang dulu bukan lah yang sekarang. Wanita itu sudah seperti agen yang bisa mendeteksi musuh. Dia mengenal ku, jadi l bih sulit untuk mengetahui isi pembicaraan mereka,' jelas Odion di tengah kekesalan nya mnghadapi Max.
"Kenapa tidak menelepon ku saja? Membuang-buang waktu ku saja," seru Max tidak mau di salah kan.
Tiba-tiba wajah Odion berubah menjadi serius, dan kode itu bisa di pahami oleh Max.
"Tadi nya aku ingin memberi tahu mu lewat telepon, tapi ini sangat penting dan berkaitan dengan nyonya Rosaline, dan Shine."
Odion dengan detail menceritakan apa yang di perbincang kan oleh Clasy dan Anderson tadi.
"Apa Clasy menyembunyi kan sesuatu?" seru Max.
"Aku tidak tau, dan seperti nya kita harus bergerak cepat untuk menemu kan kebenaran ini, Karena masih banyak yang harus kita lalui setelah ini."
"Bagaimana dengan Thomas, apa sudah terlihat pergerakan nya?" Max mengalih pembicaraan ke topik lain.
"Belum terdeteksi, tapi firasat ku mengatakan baj ingan itu sudah berada dekat dengan kita."
Max terdiam sebentar. "Jika dia sudah di sini tapi belum terdeteksi, hanya satu kemungkinan nya," Max menjeda ucapan nya.
Dia tersenyum licik, wajah haus akan darah musuh terpampang jelas di depan Odion. Odion tau, ada sesuatu yang di baru saja di dapat kan oleh Max.
**
"Baik, jika kau lebih memilih grandpa mu tidak apa- apa." seru Rhadika kemudian diam dan duduk kembali. Sebagai seorang daddy, dia tidak *** h memaksa kan kehendak nya ke pada sang anak.
Tuan Zevano terlihat tersenyum penuh ke menangan. "Jadi grandpa adalah dad nya mommy. Sayang sekali mommy belum mengenal grandpa," seru Shine.
Shine bergerak di pelukan Tuan Zevano pertanda dia ingin turun. Kemudian dia berjalan k arah sofa.
"Hai Shine, bunda datangggg," suara Clasy tiba-tiba muncul dari tembok pembatas ruang tamu dan pintu masuk. Dia sama sekali tidak tau masalah yang terjadi di mansion ini, maka dari itu dia tidak menunjuk kan rasa segan atau semacam nya.
"Lihat, siapa yang bunda baw...aa...aaa," Sura Clasy menjadi terputus ketika melihat keramaian.
Anderson juga terdiam ketika melihat keramaian yang ada di sana.
"Ayah kapan pulang, Shine sangat merindukan ayah," sifat ke kanan Kanakan shine mulai muncul ketika sudah berada di sisi orang terdekat nya.
Shine nampak berlari kecil ke pelukan Andreas, dan dengan senang hati dia merentang kan tangan besar nya.
"Dasar anak kecil, biasa nya kau lah yang sok bijak menyuruh ayah bekerja," seru Andreas tertawa kecil. Kemudian dia menatap ke arah Rhadika dan menunduk sedikit sebagai Sam hormat nya. Meski pun bukan lagi bawahan nya, namun Andreas tetap menghargai keberadaan Rhadika.
__ADS_1
Andreas membawa Shine ke sofa di mana para atasan nya, ralat orang yang di hargai nya ada di sana.
"Bagaimana Shine, apakah kita bisa pergi dari sini sekarang." Suara tak sabaran dari Tuan Zevano kembali terdengar di telinga orang orang yang berada di sana tak terkecuali Ella yang sedang berada di atas sana.
"Grandpa, maaf, tapi aku akan berada tetap di sini bersama daddy," jawab Shine. Wajah kecil nya sudah mulai tegas.
Rhadika menatap putra nya dengan dalam. "Dia lebih memilih ku," batin Rhadika. Ella juga yang di atas sana menjadi tenang hati nya.
"Aku sudah berjanji akan menuruti isi dari pesan mommy, setidak nya jika mommy tidak berada di sisi mu, aku harus bisa mengikuti ke mauan mommy."
Yah, Shine tetap pada pendirian nya, melakukan pesan yang di tinggal kan oleh sang mommy. Kenapa Shibe datang ke mansion Browns? Tentu saja karena pesan dari Rosaline yang mengatakan bahwa Shien harus tinggal bersama dengan daddy nya.
"Anak ini selalu menguji ke sabaran ku," batin Rhadika. Ternyata Shine mau tinggal karena pesan sang istri.
Zevano yang sebelum nya sudah senang, kini hanya bisa menghela napas. Dia juga pernah menjadi seorang anak, dia tau rasa nya jika sesuatu yang di paksa kan tidak akan benar hasil nya.
"Jika dad ingin bermain dan ingin bertemu dengan Shine sangat boleh," seru Rhadika mencoba menenang kan suasana.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak?" Ella turun dari tangga dan ikut andil dalam suasana itu. Clasy hanya mencibir dalam hati, "Ck, wanita ini, dia selalu saja sok kuat, lihat wajah nya aku tau ada sesuatu yang terjadi sebelum ini," batin Clasy.
"Kenapa Shine di perebut kan? Apa hubungan paman dengan Shine?" Anderson yang mendengar Shine di perebut kan tentu saja bingung.
"Orang luar tidak perlu tau," Rhadika langsung memotong pembicara itu.
"Shine, bolehkah grandpa bermain sebentar bersama mu?" tanya Tuan Zevano. Dia ingin melampiaskan rasa rindu nya selama ini pada keturunan nya. Shine mengangguk saja dan mengikuti langkah grandpa nya.
"Bawa dia ke ruang belakang," seru Rhadika kepada anak buah nya. Para pengawal langsung sigap melakukan pekerjaan nya.
Anderson juga mengerti kode yang di berikan oleh Rhadika. Dia tidak melawan sama sekali dan mengikuti arahan para pria berotot di samping nya.
Max melewari begitu saja Clasy, tidak menoleh sedikit pun dan fokus ke depan saja.
Clasy juga begitu, dia bukan lah wanita yang begitu mengharap kan cinta pria lain. Dia juga berjalan menuju arah Ella.
"Apa yang terjadi, kenapa paman Zevano ingin membawa Shine? Kenapa banyak pengawal yang bersitegang tadi? Apakah akan terjadi perang antara klan tuan Rhadika dengan kubu Tuan Zevano? Bagaiman bisa?"
Deretan pertanyaan itu sekali di lontar kan oleh Clasy membuat kepala Ella menjadi tambah pusing. "Kau sebenar nya ingin bertanya atau ingin berpuisi?" jawab Ella dengan kesal.
"Lama- lama kau seperti terlihat seperti Claire saja," tambah Ros lagi dan berlalu meninggal kan Clasy di sana.
"Claire, siapa dia? Aku sama sekali tidak mengenal nya. Mmm, aku juga baru pertama kali mendengar nama itu," Clasy berbicara dengan diri nya sendiri.
Kemudian dia berjalan ke arah kamar Ella, rasa keponya saat ini semakin tinggi.
Anderson yang berada di ruang belakang, tepat nya markas kecil yang di jadika pusat kegiatan mafia di mansion itu.
BUG
Satu pukulan melayang di wajah Anderson. Meski pun bukan pukulan keras, tapi itu bisa di katakan sangat terasa karena sudut mulut dari pria itu robek. Dia juga terpental ke tanah.
"Kenapa Tuan memukul ku?" tanya Anderson setelah dia bangun dari lantai.
__ADS_1
"Kau terlalu naif Anderson, aku tau kau berada di bawah pimpinan Ghost Lion saat itu."
Bukan Rhadika yang menjawab melainkan Max. Dia sudah berubah menjadi seorang bawahan pimpinan mafia saat ini.
"Saat pertama kali datang ke perusahaan Ax Company, aku melihat tato singa simbol ghost lion di tangan mu. Apa kau ingin berkhianat untuk ke dua kali nya?"
BUG
Rhadika kembali memberikan bogeman mentah ke pada Anderson.
"Kau tau sialan, karena kau aku kehilangan istri tercinta ku, karna kau aku harus menerima amarah dari putra ku sendiri," seru Rhadika. Namun dia tetap santai ketika menghirup oksigen yang ada di sana.
Anderson tetap diam, dia tidak buka suara.
"Anderson, seperti nya kau ingin mengalami siksaan yang sama untuk ke dua kalinya," seru Max.
"Ambil besi panas, kita akan bermain sebentar," seru Rhadika. Jiwa iblis nya sudah mulai muncul.
Dia membiar kan Anderson selama ini berkeliaran bukan karan dia tidak tau tentang apa pun. Dia harus bergerak seperti ular ketika tikus sudah mulai menampakkan diri.
"Apa yang ingin kalian ketahui dari ku?" tanya Anderson. Kenangan buruk yang sudah di alami nya dulu akan terulang kembali.
Max terlihat tersenyum smirk. "Terlambat, kau tidak perlu mencerita kan apa pun, aku ingin bermain-main saja," seru Max.
Anderson nampak mulai gemetaran. Sedangkan Rhadika menatap datar pria di depan nya.
"Aku benar- benar tidak tau apa-apa tentang ghost lion, aku... aku hanya ikut saja agar bisa membalas Budi ku ke pada nyonya Rosaline, aku hanya ingin memiliki kemampuan saja,' teriak Andreas ketika timah panas itu sudah di bawakan oleh anak buah Max.
"Hmmm, seperti nya kau terlalu lambat. Kau belum mencerita kan secara lengkap. Atau, nanti saja, setelah kita bermain-main," seru Max.
Odion di sebelah sana sudah mulai merasa ngeri. "Sejak kapan sifat iblis tuan Rhadika pindah ke diri Max," batin Odion.
Max terlihat menatap sebentar ke arah timah panas itu, lalu berlatih ke Anderson.
"Nyali mu terlalu besar untuk menipu anggota black Sky."
"Maaf, aku mohon maaf kan aku tuan. Aku hanya ingin membalas budi ku saja. Itu saja, aku tidak berhianat," seru Anderson.
Kedua tangan nya masih setia di pegang oleha anak buah Max. Keringat dingin bercampur dengan air mata sudah bercampur di wajah Anderson.
Tidak mempeduli kan ocehan tawanan nya, Max mulai mengarah kan besi panas itu ke wajah Anderson.
Dengan sekuat tenaga Anderson berusaha melepaskan tangan nya, namu sia-sia saja.
"Ini adalah hukuman yang kedua kalia akan kamu rasakan," seru Max muali mendekat kan besi itu ke wajah Anderson.
Tang tang tang
Besi itu terdengar terjatuh ke lantai. Seseorang mendorong tangan Max dengan kasar hingga besi itu terjatuh.
"Keterlaluan kau Max," ucap orang itu.
__ADS_1
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋