Perjuangan Cinta Tuan Mafia

Perjuangan Cinta Tuan Mafia
Part 69


__ADS_3

Rhadika langsung melepas kan tangan pria yang dengan berani nya menjamah tubuh istri kecil nya.


"Orion sialan," ucap Rhadika menatap tajam pria itu. Pria yang di panggil Anderson tersenyum menatap Rhadika.


Ella yang melihat ke dua kubu ingin baku hantam langsung memeluk Rhadika dan mengajak nya berdansa nya berdansa dan membalik kan tubuh Rhadika.


"Ku mohon, jangan membuat keributan. Ini bukan acara kita, jangan merusak nya," pinta Ella pada Rhadika.


Rhadika tidak menanggapi perkataan Ella.


"Naik kan kaki mu ke atas sepatu ku, aku tau kau tidak bisa berdansa Baby," ucap Rhadika.


"Jawab dulu, hmm," tanya Ella sambil mengikuti Ella.


"Apa kau membela nya?" tanya Rhadika.


Ella yang mengetahui sifat Rhadika yang membenci wanita nya memuji orang lain tentu saja tidak akan mengata kan itu.


"Tentu saja tidak," jawab Ella.


"Aku akan menghabisi nya malam ini," jawab Dika dengan dingin.


Hati nya sudah panas melihat orang lain menyentuh tubuh istri nya. Siapa yang tahan jika seperti itu, Rhadika benar-benar marah kali ini.


Ella merasa was-was, Ella juga tadi melihat anggota Anderson banyak muncul ketika ke dua nya bersitegang tadi. Max hendak mengurus anggota Anderson, namun kode yang di beri kan Rhadika benar-benar bulat.


Pria itu yang akan memimpin dan menghabisi para manusia itu.


Anderson juga menyirat kan wajah peperangan, tidak ada kata takut dalam wajah pria itu. Dia tersenyum melihat wajah dingin Rhadika.


Pesta yang awal nya meriah, kini di penuhi dengan aura menegang kan. Memang benar Rhadika adalah tamu utama di pesta ini, tapi Anderson juga merupa kan tamu penting dari pemilik acara, dan ke dua kubu itu bersitegang pada saat itu juga.


Setelah pesta dansa selesai, acara inti pesta telah di mulai, Rhadika di undang sebagai juru pembicara mewakili tamu undangan dan rekan kerja.


Tanpa di ajak Ella ikut ke panggung dan memegang tangan Rhadika. Pria itu abai dan tetap bersikap dingin ke pada Ella istri kecil nya meski pun Ella dengan inisiatif sendiri ingin berada di sisi nya.


Para hadirin terutama para kaum hawa merasa terganggu melihat wanita yang ikut bersama pria pujaan hati mereka termasuk Rosa di salah satu sudut pesta.


Setelah selesai mengata kan sepatah dua kata, Rhadika turun dari panggung, bagitu juga dengan Ella.


Ellla terus saja berada di sisi Rhadika hingga pesta usai. Tangan Rhadika tidak sekali pun di lepas oleh Ella.


"Kenapa?" tanya Rhadika dingin.


"Emmm, aku hanya ingin bersama mu. Tidak boleh kah?" tanya Ella.


Rhadika tidak menjawab, dan berjalan ke arah mobil. Max mengikuti dari arah belakang, di dalam mobil pun Ella tidak melepas kan tangan Rhadika.


"Kita pulang Max!" ucap Rhadika. Di dalam mobil tidak ada seorang pun yang memulai percakapan, semua nya hening seperti malam sunyi.


Ella menatap Rhadika yang memasang wajah datar. "Apa kau marah pada ku?" tanya Ella melihat ke arah Rhadika. Yang di tanya malah bersandar dan menutup mata nya.


Ella memilih diam karena tidak di tanggapi oleh Rhadika. Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan pintu mansion.

__ADS_1


Mereka tidak mendapati Shine yang menyambut mereka, karena sudah memasuki pukul sebelas malam.


"Beristirahat lah di mansion, aku masih ada urusan!" ucap Rhadika datar tanpa menatap Ella. Rhadika melihat ke arah tangan nya yang masih di pegang erat oleh Ella.


"Kau sudah boleh melepas kan tangan mu!" ucap Rhadika.


"Aku ikut," jawab Ella tetap tidak mau melepas kan tangan Rhadika.


Mendengar jawaban sang istri Rhadika melihat ke arah Ella.


"Jangan memaksa ku untuk bertindak kasar Baby!"


"Sayang, kita di rumah aja hmmm. Temani aku tidur," ucap Ella berharap hati Rhadika luluh.


"Max, panggil dua pengawal agar membawa Ella dari sini!" perintah Max. Ella yang mendengar itu merasa Pupus harapan nya


Dia yakin suami nya akan berperang, dan kali ini dia benar-benar tidak bisa menghenti kan masalah ini.


Dia orang pengawal datang dan membuka pintu mobil Rhadika.


"Mari Nona," ucap pengawal itu dengan sopan.


"Aku bilang aku ikut!" ucap Ella dengan suara tinggi. Dia melepas kan tangan Rhadika dan naik ke pangkuan pria itu. Dengan erat dia memeluk leher Rhadika dan mengait kan kedua kaki nya ke pinggang Rhadika, kepala nya di benam kan di dada Rhadika.


Sifat ke kanak-kanakan Rosaline kembali muncul kembali, namun Rhadika kali ini harus tegas.


"Bawa dia," ucap Dika.


"Tidak mau," seru Ella lebih kuat mengerat kan tangan dan kaki nya di tubuh Rhadika.


Lama tidak mendapat jawaban, Rhadika menghela nafas.


Dia merasa kan dada nya sudah basah. Dia bisa apa jika istri kecil nya ini sudah menangis.


Rhadika memberi kan kode ke pada anak buah nya agar pergi saja. Dia juga tidak akan membiar kan pengawal tadi menyentuh istri nya, itu hanya ancaman saja.


"Hiks...hiks, apa salah nya jika aku ikut. Aku hanya ingin selalu di samping mu apa itu salah?" jeda Ella sambil terisak. Kemudian dia spontan bangun dari dada Rhadika.


"Apa karena kau ingin bertemu dengan wanita mu? Si Rusa tadi?" tanya Ella, tatapan nya kini menjadi curiga di penuhi air mata.


"Otak kecil mu tidak perlu berkeliaran jauh, cukup pikir kan aku saja," ucap Rhadika. Ella kembali menelungkup kan kembali kepala nya ke dada Rhadika.


"Kau tidak boleh meminta pulang jika sudah sampai di sana," seru Rhadika kemudian memerintah kan Max menjalan kan mobil nya.


Ella sangat senang, entah bagai mana pun nanti perang itu akan di mulai dia harus bisa menghenti kan nya.


Dia tidak mau sang suami terluka seperti sebelum-sebelum nya.


Ella mengangguk-angguk kan kepala nya mendengar ucapan Rhadika.


Beberapa jam kemudian, mobil yang di kendarai Rhadika berhenti di salah satu club.


Ella di turun kan dari pelukan Rhadika.

__ADS_1


"Apa zaman sekarang club' menjadi tempat mafia untuk saling menghabisi?" batin Ella.


Setelah keluar dari mobil, Ella tetap memegang tangan Ella.


"Baby, tetap lah berada di sisi ku hmm, tapi jika kau ingin bersama dengan pria hidung belang dan perut buncit, silah kan!" ucap Rhadika.


Tidak ada raut wajah bercanda di wajah pria itu. Ella hanya bisa menghela napas.


Club' itu begitu ramai di penuhi oleh wanita-wanita seksi. Banyak orang yang sedang melaku kan hubungan intim di tengah-tengah keramaian itu.


Tapi aneh nya, ketika mereka masuk, suara dentuman lagi yang terdengar dari luar berhenti. Tatapan pria juga tetap dingin, membuat Ella takut berbicara.


Dia sudah mulai mual melihat sekitaran nya. Dia ingin pulang saat ini. Setelah melewati keramaian itu, Ella berhenti di tempat dan menarik lengan kameja Rhadika.


"Kenapa? Mau pulang?" tanya Rhadika menatap dingin wajah wanita di belakang nya.


Ella mengangguk kan kepala nya secara berulang-ulang.


"Terlambat," ujar Rhadika.


Ella memilih merapat ke tubuh Rhadika, dia tidak mau kecolongan nanti nya saat Rhadika ingin berperang dengan kubu Anderson. Bukan hanya karena itu, dia juga takut para pria hidung belang mendekat ke arah nya.


Dia sudah pernah pengalaman saat Leon mantan ke kasih nya dulu, hampir saja dia dulu di nikmati oleh pria itu karna keceroboha nya.


Rhadika tampak memasuki salah satu ruangan yang bertulis kan VVIP. Di sana Ella kaget melihat beberapa wanita seksi berdada besar ples pakaian minim sedang bergerilya di tubuh seorang pria.


Ella berpikir mungkin itu adalah Anderson. Namun salah, itu bukan lah Anderson melain kan seorang pria yang sudah berumur.


Wanita itu begitu heran melihat seorang wanita sedang menghisap milik pria paruh baya itu.


Melihat Rhadika sudah datang pria itu langsung menyingkir kan wanita yang sedang menghisap milik nya.


"Tuan, anda sudah datang," ucap pria paruh baya itu.


Pria tua itu mengedik kan jari nya, bebrapa Wanita yang lebih seksi dan cantik masuk ke dalam ruangan itu.


"Tuan, saya sudah menyedia kan beberapa wanita untuk anda. Silah kan anda pilih atau guna kan semua nya," ucap pria paruh baya itu membuat Ella mengernyit heran.


"Apa mata nya tidak melihat ku di sini. CK, pasti suami ku menolak nya," batin Ella dengan yakin.


"Kau dan kau, puas kan aku," perintah Rhadika. Dia tidak Sedang kan tangan nya masih menyatu dengan tangan Ella.


Wajah Ella memerah menahan amarah nya.


N"Apa maksud mu?" tanya Ella dengan marah.


"Sudah ku kata kan, jangan menyesal untuk ikut. Nikmati pertunju kan nya. Jika kau ingin pria untuk memuas kan mu aku aku akan memanggil mereka," seru Rhadika datar tanpa menoleh ke arah Ella yang di samping nya.


PLAK


"Baji ngan, kau menganggap ku wanita murahan!" bentak Ella pada Rhadika. Semua pergera kan yang sebelum nya heboh di ruangan itu mendadak berhenti.


Mereka menutup mulut tak percaya melihat seorang wanita cantik dengan pakaian tertutup berani memprovokasi seorang mafia paling kejam dan sadis di belahan Eropa.

__ADS_1


Jangan lupa like nya 😊👍👍


Horas ✋✋✋


__ADS_2