
Flashback##
Sejak pesawat mendarat, mata tajam Rhadika melihat ada mobil yang sedang mengikuti mereka. Hal itu sukses membuat jiwa mafia seorang Rhadika muncul dan benar saja ada yang mencuriga kan dari hal itu.
Pria itu melihat jam tangan nya, menghitung waktu. Saat di pesawat pun Rhadika sudah memberi kan kode ke arah Max agar mengikuti rencana nya saat-saat bom akan meledak Rhadika melempar jubah yang di pakai nya dan juga jam tangan yang sebenar nya sejak tadi tidak terpasang.
Max lebih dulu melompat dan di susul Rhadika ke arah yang berbeda. Sebuahobjl sudah ada di sana dan memberi kan Rhadika pakaian yang sama dengan pengawal lain nya. Dia menyamar menjadi sah satu anggota Black Sky.
Setelah terjadi kehebohan dan akting Max yang sudah cocok sebagai artis, Dika menyelip dan memisah kan diri dari mereka.
Dika sudah memberitahu kan jangan ada yang memberi tahu kan ke pada penghuni mansion karena itu akan merusak rencana nya nanti.
Dia juga sudah mendapat informasj dari anak buah nya bahwa ada anggota Ghost Lion yang memasuki negara Spanyol sejak sehari sebelum penyerangan markas Ghost lion.
Rhadika memilih untuk capek dan lelah demi mengikuti permainan lawan yang akan berkahir pada kemenangan diri nya. Tapi sial nya di harus menahan diri karena dia terlambat dan membuat istri kecil nya terluka.
Saat akan ke Miami juga Rhadika juga bekerja di dalam pesawat, dia belum menuntas kan pekerjaan nya yang begitu sulit, yaitu menembus pertahanan identitas Ella.
Awal nya Rhadika merasa sangat pusing dan meminta bantuan Max yang ahli IT nya tak seberapa di banding kan diri nya.
"Max, tidak bisa kah kau memaksa otak mu untuk menyelesai kan ini. Ah, sial ini semakin berlarut larut,' seru Rhadika.
"Tidak Tuan," jawab Max
"Memang kau sangat bodoh, Max" seru Rhadika.
"Apa dia mengatakan diri nya sendiri? Dia saja ahli IT tidak bisa mengatasi nya, apa lagi kami yang di bawah nya, goblok... goblok," batin Max tersenyum akan kekonyolan Rhadika.
"Nyamu hanya satu Max, berhenti lah mengumpat ku," ucap Rhadika tanpa menoleh ke arah Max.
"Sial, insting pria ini sangat kuat," batin Max kembali menutup mata tidak ingin terlibat apa pun lagi. Dia ingin take a rest sebentar sebelum berperang. namun tidak bis karena tekanan jari Rhadika di keyboard laptop. Dia lebih memilih minum saja.
Rhadika semakin serius melihat ke arah leptop nya. Semakin lama, semakin Rhadika bisa.melihat identitas Ella. Satu per satu informasi muncul secara berkala. Benar tebakan Rhadika, Ella adalah Rosaline istri kecil nya.
Ada tertera tentang operasi wajah di sana, Rhadika mencari wajah Ella yang sebelum nya, namun tidak menemu kan apa pun.
Dia juga mencari nama dari dokter yang menangani tetap juga tidak ada, nama rumah sakit juga tidak ada.
Namun Rhadika tersenyum puas ketika mengetahui istri kecil nya masih hidup, dada nya serasa plong, beban berat itu seakan terangkat entah kemana.
Max mendekat karena penasaran Rhadika tersenyum puas.
"Benar tebakan ku bukan? Aku sudah mengata kan Nona Ella memiliki kemiripan sifat dengan Nyonya Rosaline," ucap Max dengan penuh bangga.
Memang berbeda jika hanya dua pria itu yang berada di sana. Max akan lebih terbuka dari pada di ke ramaian.
"Cih berlebihan bersikap lah seperti biasa ketika di luaran sana," seru Rhadika menatap jenuh pada Max.
Max hanya acuh, hanya itu yang bisa menutup perdebatan Mereka.
"Apa tes DNA itu masih penting? Hasil nya akan keluar besok," ucap Max Max
"Tentu saja, beri kan saja pada ku jika sudah sampai di tangan mu!" ucap Rhadika.
Rhadika kembali melihat ke arah leptop nya. Rhadika di baut bingung, siapa dalang di balik semua ini.
Rhadika memperhati kan layar leptop yang penuh dengan informasi tentang Rosaline, begitu juga dengan Max.
"Ohh, seperti nya aku familiar dengan kode ini," tunjuk Max pada orang yang menyimpan informasi itu. Rhadika juga ikut memperhati kan kode itu. Kedua nya sama-sama memutar otak.
"Shine?"
__ADS_1
"Ya benar, itu adalah kode dari Shien ketika menyerang perusahaan kita sebelum datang ke RA Company," seru Max.
"What the hell? Ternyata putra ku sendiri," seru Rhadika.
"Tuan sebentar lagi kita akan landing," laporan pilot pada Rhadika.
"Kita bahas next time, jangan jadi banci di pertempuran ini," seru Rhadika dengan tegas.
Itu adalah kode untuk Max agar tidak kalah melain kan menjadi the Winner.
"Baik Tuan," seru Max dengan formal.
"Flashback end....
Ella tiba-tiba membuka mata nya karena bermimpi sesuatu. Dia menghela napas, ternyata dia bermimpi tentang Rhadika sang suami yang hidup untuk ke dua kali nya.
"Konyol," batin Ella. Dia menahan tangis nya. Dia sudah berjanji akan berjuang demi putra nya.
Dia lupa tentang bagaimana keadaan Shine.
Dia ingin bangkit, tapi ada sesuatu yang menahan tangan nya. Sejak tadi juga Ella sudah merasa kan kram di tangan itu, tapi dia berpikir itu adalah efek dari rasa sakit nya. Tapi semakin lama semakin berbeda.
Ella memutar kepala nya dan melihat ke arah samping. "Sial, masih pagi God, jangan membuat ku merasa ingin ikut mati saja," batin Rosaline.
Kenap tidak? Ella melihat sang suami tidur dengan tangan nya sebagai bantalan kepala pria namun tidak terlalu di tekan pria itu. Hanya sebagai sikap posesif agar Ella tidak lari.
"Kenapa mendatang kan orang mati di saat aku ingin bangkit dan merawat putra ku," batin Ella melihat ke atas langit-langit kamar tidur itu.
Ella tidak tahan lagi, dia menetes kan air mata nya. Dia mengingat kenangan indah nya dengan sangat suami.
Dia berputar dan saat ini tubuh nya menghadap sepenuh nya pada Rhadika.
Tangan nya terulur mengusap wajah Rhadika. Wajah itu terlihat sangat pucat dan suhu nya pun sangat dingin membuat Ella semakin yakin bahwa itu hanya ilusi saja, karena ciri-ciri Rhadika saat ini benar-benar seperti orang mati kecuali dingin tubuh nya.
"Maaf," ucap Ella memeluk tubuh Rhadika.
"Hiks...Hiks kenapa seperti nyata," batin Ella.
"Kau membangun kan ku Baby," ucap Rhadika dengan suara serak khas bangun tidur nya.
Ella dengan spontanenarik tangan nya dan berjongkok di depan Rhadika. Dia syok mendengar suar itu. Kemudian dia mencubit tangan nya, terasa sakit. Dia tidak percaya, dia membuka perban yang ada di tangan nya.
Di hendak memasti kan keadaan saat ini apa hanya halusinasi atau nyata. Rhadika yang melihat itu tentu saja khwatir.
"Apa yang kau laku kan Baby," ucap Rhadika menahan tangan Ella yang ingin menekan luka nya.
"Kau...kau benar-benar masih hidup?" tanya Ella.
"Apa orang mati bisa berbicara," Jawab Rhadika santai tetap dalam keadaan tidur.
Ella memproses sebentar keadaan ini. Dia memegang wajah Rhadika kembali dan memegang tangan Rhadika.
Benar-benar nyata, ini memang nyata.
Air mata Ella semakin deras saja membuat Rhadika panik.
"Baby, apakah luka nya sakit? Bagian mana, aku..aku akan menelepon dokter Darren," ucap Rhadika mengambil ponsel nya.
Namun ponsel itu di ambil oleh Ella dan di letak kan secara sembarangan.
Ella menggeleng, suara tangis nya semakin keras.
__ADS_1
"Apa Baby, apa aku menyakiti mu," tanya Rhadika sambil duduk di depan Ella
"Sialan kau Rhadika. Terus saja kau bertanya, apa aku menyakiti mu, itu lah yang selalu keluar dari mulut mu" teriak Ella.
Kemudian dia memukuli dada Rhadika dengan brutal.
"Yah, pukul aku sesuka mu. Lakukan apa pun pada ku untuk meredam amarah mu!" seru Rhadika tidak menghalangi sedikit pun tangan Ella. Dia akhir nya tau kenapa sang istri menangis.
Meskipun perut nya di bawah sana semakin perih karena luka tembakan itu, bahkan Rhadika saat ini merasakan basah di sana. Seperti nya Puri itu semakin dalam masuk hingga mengeluar kan darah.
"Apa kau puas hah, apa kau puas membuat ku khwatir? Kau tau rasa nya ingin mati saja," seru Ella memukul dada nya. Sifat Rosaline yang cengeng itu dulu sudah mulai muncul ke permukaan.
"Kau tau, kemaren aku ingin pasrah saja Mati di tangan pria itu, tapi aku mengingat Shine. Tapi kau dengan santai nya muncul dan membuat kematian palsu," ucap Ella.
"Maaf aku telat, ada sesuatu yang tidak bisa ku tangani," seru Rhadika menghapus air mata Ella.
"Lepas kan, aku membenci mu," ucap Ella. Luka-luka nya terasa sakit namun tidak sampai terbuka.
Ella berdiri dan hendak meninggal kan Rhadika. Tapi dia mendengar suara Rhadika yang seperti mengerang kesakitan. Seperti biasa nya, drama Rhadika akan berhasil membuat Rosaline menurun amarah nya.
Ella baru sadar, Rhadika tadi terlihat pucat dan suhu badan nya sangat dingin.
Dia berbalik ke belakang dan melihat Rhadika biasa saja. Dia tau ada sesuatu yang di sembunyi kan pria itu. Dia mendekat ke arah ranjang, ada satu yang sejak tadi tidak terlepas dari pria itu, selimut.
Ella dengan kasar menyibak kan selimut yang berada di tubuh Rhadika.
Dia langsung menutup mulut melihat cairan merah yang ada di kasur dan kameja putih milik Rhadika yang sudah berubah warna.
Dengan santai Rhadika berbaring, wajah pucat nya seperti nya hanya topeng saja bagi pria itu.
Ella kembali menangis, air mata nya luruh begitu saja, "berbaring lah dengan benar! lurus kan kedua kaki mu!" ucap Ella. Dia berlari ke arah walk in closet dan mengambil handuk kecil. "Hiks..hiks.. tekan luka nya," seru Ella sambil memberi kan handuk itu.
Rhadika tersenyum melihat Ella yang khwatir pada nya. Dulu juga seperti itu ketika Rhadika mendapat luka setelah misi, Rhadika mendapat kan luka dan dia sengaja pulang dengan semua luka itu agar Ella yang mengobati nya.
Tapi karena keras kepala sang wanita, Rhadika harus di obati oleh Darren si pria mesum berjas putih. proses nya sangat panjang, sangat dramatis. Rosaline lah yang paling merasa kan sakit di sana sedang kan orang yang terluka hanya biasa saja dan tidak merasa kan sakit sedikit pun. Saat ini juga peristiwa itu terulang.
"Hiks...hiks apakah sangat sakit? Aku...aku akan menelepon dokter Darren," ucap Ella dengan menangis tersedu-sedu.
Dengan tak tau arah Ella berputar-putar mencari ponsel Rhadika.
"Di bawah bantal," seru Rhadika ketika Ella dengan tidak jelas arah dan di penuhi air mata mencari ponsel nya.
"Baby, sebenar nya aku baik-baik sa...,"
"Halo Darren, sekarang cepat ke mansion Browns, dalam 15 menit kau harus sudah berada di sini!"
Darren tentu saja merasa bingung, selain Rosaline tidak ada yang berani mengguna kan ponsel miliarder ini. Siapa wanita yang dengan lancang nya memegang ponsel Rhadika? Itulah pertanyaan yang ada di hati Darren.
"Maaf saya bicara dengan sia..."
"Ku bialng cepat Darren sialan!" bentak Ella lalu menutup telepon.
Sifat yang sangat suka memotong pembicaraan orang muncul kembali.
"Baby, aku akan sembuh dengan satu hal saja," seru Rhadika.
"Apa?" tanya Ros mendekat berharap solusi itu berhasil setidak nya mengurangi darah yang keluar.
Jiwa mesum Rhadika muncul di tengah ke pani kan Ella.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
__ADS_1
Horas ✋✋✋