
Wanita yang sejak tadi berusaha untuk menemu kan Max untuk membantu pria itu, bahkan merasa kan khawatir yang tidak pernah seperti ini, kini dia kecewa karena di abai kan pria itu.
"Pan, bawa dia hidup-hidup ke Spanyol, ada orang yang sedang menunggu nya," seru Max dengan pelan lalu berlari dari sana.
Wanita itu tetap mengikuti Max dan membantu memapah Max tanpa di minta dan sudah di tolak beberapa kali.
"Aku tidak perlu bantuan mu," seru Max sekali lagi menepis tangan wanita itu.
"Tidak, luka mu sangat parah," wanita itu tetap bersikeras. Lagi-lagi Max menepis tangan wanita itu.
"Apa yang kalu laku kan di sini hah? Bagaimana kau bisa di sini. Sial beban ku bertambah," seru Max.
"Beban? Kau mengata kan aku beban ketika berusaha untuk sampai di sini. Bahkan aku melewati maut, mencari ke sana ke mari agar aku bisa membantu mu, tapi kau mengata kan aku beban?" ucap Clasy tersenyum getir.
"Aku sudah kata kan bahwa aku tidak butuh bantuan mu,' ulang Max sekali lagi. Bukan nya Max tidak suka Clasy ada di sini, tapi tempat ini sekarang bukan lah tempat yang cocok untuk seorang wanita yang tidak pernah bermain di dunia bawah, terlebih saat ini tempat ini adalah markas Ghost Lion, tempat pertumpahan darah saat ini.
"CK, baiklah Tuan Max, aku akan menjauh dari anda," ucap Clasy. Tepat saat itu ada pengawal yang lewat, "Tolong bantu Tuan kalian, dia sedang terluka," ucap Clasy kemudian dia pergi meninggal kan Max.
"Ke mana kau?" tanya Max.
"Aku ingin bergabung dengan yang lain nya," ucap Clasy dengan santai.
"Jangan gila Clasy, itu berbahaya. Tetap bersama ku, akan lebih aman," ucap Max dengan serius.
"Aku bisa sendiri," ucap Clasy hendak pergi.
"Aku mengata kan tetpa lah di sini bersama ku Clasy..."
Clasy yang sudah berbalik merasa kedatangan nya ke sini tidak sia-sia.
"Jika kau terluka, Nona Camella yang akan menghukum ku nanti nya," lanjut Max membuat senyum Clasy terbang terbawa angin.
"Perintah kan pengawal untuk mengawasi paman Zevano di sana," perintah Max menyuruh pengawal yang memapah nya. Paman Zevano adalah yang terpenting juga saat ini karena dia adalah ayah kandung dari Ella.
Dengan patuh Clasy akhir nya mengikuti ke mana Max melangkah. Sangat menakut banyak darah bersera kan di mana-mana.
Dia sebenar nya tidak takut, dan sudah menguasai beberapa bela diri, namun jika melihat mayat yang bersera kan seperti sampah seperti ini, siapa yang kuat? Rasa nya Clasy sudah sangat ingin muntah.
Sesampai ingat di luar Markas itu, suara peluru sudah mulai reda, orang-orang Black Sky sudah beberapa berkumpul untuk kepulangan mereka.
***
"Wesly....., adik ku tersayang. Bagiamana rasa nya duduk di kursi roda selama puluhan tahun? Dan sekarang entah bagain mana lagi yang akan patah dan butuh alat bantu untuk menopang nya," ucap Zevano mendekat ke arah Wesly.
"Aku bukan adik mu dan sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi adik mu," ucap Wesly dengan suara sakit nya.
"Kau sudah membunuh putri ku bukan? Aku sudah mengatakan jangan menyentuh sedikit pun keluarga ku, tapi kau memiliki nyali besar rupa nya," ucap Zevano dengan sinis.
BUG
Zevano dengan tidak berperasaan menendang kursi roda itu tanpa belas kasihan. Setiap Zevano melihat mata Wesly, darah nya selalu diam mendidih saat di mana dengan bangga dan tenang nya Wesly mengatakan bahwa dia lah pembunuh putri nya Rosaline.
"Aku sudah memberi kan penawaran pada mu untuk kembali, tapi kau memilih dunia mu yang menjijik kan ini."
"Cih, omong kosong mu sangat panjang Zevano sia lan. Kau sangat menyedih kan, hidup dengan kekosongan hati, istri mu mati karena kebodohan mu dan putri mu mati karena ke lalaian bodoh mu,' ucap Wesly menertawa kan kehidupan Zevano.
Meskipun saat ini dia sedang terbaring tidak etis di lantai, dia duduk di sana sambil tertawa terbahak-bahak.
BUG
Wesly mengangkat kaki nya dan menendang dada Wesly. "Tutup mulut mu sialan, istriku Legira mati karena rasa egois dan ke bodohan mu. Bahkan sampai saat ini otak sampah mu itu tidak berubah.
Wesly muntah darah, namun masih bisa tertawa dalam kesakitan.
"Aku lupa, di mana menantu mu. Ah, aku lupa, dia sudah menyusul putri mu bukan ke neraka."
__ADS_1
DOR
Zevano kembali mengeluar kan timah panas nya. Perut Wesly kembali bolong dan mengeluar darah segar.
Salah satu pengawal maju dan menahan pistol Zevano ketika pria itu hendak memuntah kan kembali timah panas nya.
"Tuan Max bersna agar kita membawa hidup-hidup tawanan ini Tuan," seru seorang pengawal.
Zevano menatap tajam pengawal yang berani memberhenti kan nya, namun detik berikut nya dia tersadar.
Apa dia benar-benar akan membunuh adik nya sendiri tadi jika tidak di henti kan. Konyol memang, emosi bisa mengalah kan semua nya.
"Bawa dia ke Spanyol, ada tangan panas yang akan menyiksa nya juga," seru Zevano kemudian meninggal kan ruangan itu.
Ternyata Wesly langsung pingsan setelah temba kan kedua tadi.
**
"Cih, Nona, apa kau benar-benar menantang ku?" tanya Xavier tersenyum remeh di dalam topeng nya. Dia menyimpan pistol yang ada di tangan nya.
Kemudian dia mengambil belati kecil yang begitu tajam dan bersinar.
"Sebenar nya aku ingin berbaik hati melepas kan diri mu Nona, tapi kau seperti pahlawan kesiangan yang untuk anak itu," seru pria itu sambil mengelus-elus Pisa nya.
Ella maju dan mengambil taplak meja yang ada di depan nya, memang dia tidak akan bisa melawan pria itu tapi setidaknya dia bisa mengukur waktu.
Dia tau kekuatan nya tidak sebanding dengan pria bertopeng itu, karena jika di lihat saja pria itu sudah sangat terlatih.
"Benar kah kau ingin bertarung dengan ku Nona?" tanya pria itu.
Tanpa gentar Ella maju dan melawan Xavier. Ella bisa menahan serangan pisau kecil itu meski pun lihai di main kan oleh Xavier, bahkan Ella berhasil memukul mundur Xavier dengan tendangan nya
"Lumayan," seru Xavier.
Bahkan saat ini lengan Ella sudah mulai tergores, darah segar mulai mengalir dar lengan itu.
Shine menatap ke arah Max dan Odion, semakin banyak lawan yang mendekat turun dari beberapa helikopter hinggamenahan mereka untuk membantu Ella.
"Mau menyerah?" tanya Xavier melihat Ella memegangi tangan nya.
"Dalam mimpi mu," seru Ella dengan garang.
Ella tidak menyerah, dia berlari ke arah Xavier, sedang kan Xavier diam di tempat dengan tenang.
"Bagus," batin Ella.
Setelah sampai di depan Xavier, pria itu dengan liahi memutar-mutar pisau di tangan nya untuk melayani Ella yang akan kembali menyerang nya.
Tapi Xavier salah, ketika Ella akan sampai di depan diri nya, tangan Ella terulur ke samping tanpa di lihat oleh Xavier, sebuah pot bunga keramik kecil yang keras di pecah kan Ella ke kepala Xavier.
Darah segar yang banyak keluar dari kepala pria itu. Dia terlalu menganggap Ella dengan Enteng.
"Wanita sial an, seharua nya sudah sejak tadi aku membunuh mu," teriak Xavier marah.
Dia menghapus darah yang mengalir ke pelipis nya. Topeng itu sudah mulai retak.
Tapi Ella tidak butuh identitas pria itu, dia hanya harus membunuh nya atau jika bisa menendang nya keluar.
"Habis lah kau," ucap Xavier menggertak kan gigi ya.
Giliran pria itu yang berlari ke arah Ella. Wanita itu sudah pasrah, puncak dri pria itu adalah saat ini, sejak tadi Ella tau pria itu sama sekali tidak mengeluar setengah dari kemampuan nya.
Dia melihat ke arah Shine, "Mommy akan berusaha Son," batin Ella mengingat bahwa sangat suami tidak ada. Jika diri nya juga tidak hari ini, bagaimana anak itu akan hidup.
Ella mengerat kan kain yang ada di tangan nya. Xavier yang sudah mendekat, Ella memperkira bahwa gerakan musuh akan menyerang dari atas.
__ADS_1
Ternyata salah, Xavier menggores kaki nya, namun Ella bisa membalas sedikit dengan menendang wajah Xavier dengan lutut nya.
Tapi dia sekarang lemah, kaki dan tangan nya terluka, namun dia tetap berusaha melawan.
Xavier kembali maju dan menendang perut Ella.
Wanita itu terpental hingga ke meja makan. Ella meremas perut nya yang sakit.
"Ah, sial jika bukan karena dia mengguna kan benda tajam itu, aku bisa menahan nya lebih lama," batin Ella mulai merasa sakit di sekujur tubuh nya.
Shien mulai menangis dalam diam melihat mommy nya. Ella juga melihat itu.
"Tenang Shine, mommy tak selemah itu," batin Ella berdiri. Dia melihat sekitaran nya. Ternyata ada pisau buah di meja makan itu.
Ella tersenyum tipis. Ada tiga buah pisau itu.
Odion meninggal kan Mike di sana.
Ada lima musuh lagi, namun melihat Ella yang sudah mulai lemah, Odion langsung bergerak ke arah Ella.
"Nona pergilah, bawa Shine," seru Odion.
"Pergilah,. lindungi putra ku, aku akan segera menyusul, aku akan menahan nya," tolak Ella.
"Nona, anda jangan keras...,"
"Cepat sial an, kita tidak banyak waktu," teriak Ella dengan keras di tengah kesakitan nya.
Bayangan nya kembali ketika Rosaline yang dulu ketika Levi di hukum oleh Rhadika. Pria itu di jadikan sebagai papan tembak sekaligus lemparan belati.
Xavier melihat ke mana arah Shine di bawa, dia kembali maju dan memain kan belati nya, dia juga tadi sudah melihat Ella memegang satu belati. Dia berlari dengan sangat semangat
Pria itu tidak tau bahwa di belakang tangan Ella ada dua belati yang tersedia.
Zep
Ella melempar belati itu dengan mulus dan mengenai paha Xavier.
Zep
Satu lagi, Ella melempar belati itu ke tangan Xavier, " Kita imabang bukan," ucap Ella maju dan melawan Xavier.
Dengan cepat pria itu melepas belati yang menempel di tubuh nya. Ini blum seberapa untuk nya, untuk menjadi saat ini berkembang dan tumbuh dari sebatang kara dari umur sepuluh tahunan dia tidak terlalu merasa kan sakit.
Xavier tersenyum iblis di topeng nya. Kedua manusia jenis itu kembali bertarung. Ella kalah kali ini, pukulan dan sayatan di berbagai tubuh nya sudah tercetak jelas.
Wanita itu terjatuh lemas di lantai.
Xavier melangkah ke tengah tubuh Ella. Saat ini Ella sudah pasrah akan kematian nya, tapi dalam hati dia berdoa agar hidup nya yang kedua kali ini tidak berakhir hari ini karena dia belum menikmati waktu nya bersama sang putra.
Xavier dengan tinggi-tinggi mengangkat belati nya untuk menusik jantung Ella.
"Ada pesan terakhir," tanya Xavier ketika dia akan menurun kan belati itu.
Hanya napas lelah Ella yang di dengar oleh Xavier. Mata itu tetap menatap tajam ke arah Xavier. "Baik lah selamat tinggal," seru pria itu menurun kan belati itu dengan kuat.
BUG
Belum sampai belati ke jantung Ella, Xavier terpental keras ke dinding.
"Ah ternyata Tuhan begitu baik, aku memiliki magic di tengah ke adaan darurat ini," ucap Ella sambil menutup mata nya.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋✋✋
__ADS_1