
Senangnya pagi ini bisa menghirup udara bebas di luar rumah sakit, terkurung selama tiga hari dua malam sangatlah tak menyenangkan.
"Sayang, sebelum pulang ke rumah kita jalan-jalan dulu ya?"
"Memangnya kau mau jalan kemana?"
"Ya pokoknya jalan -"
Aaaaaaa Rendra usil, dia langsung mencubit gemas dagu istrinya, "Ke taman saja, bagaimana?"
"Hm ... boleh," dengan senang dan semangat dirinya menyetujui, dia bersenandung ria membiarkan suaminya mendorongnya di kursi roda dari rumah sakit ke mobil.
Dengan hati-hati Rendra menggendong Embun dan mendudukkannya di jok depan, samping kemudi setir lalu memakaikannya sabuk pengaman.
"Sayang, aku bisa memakainya sendiri."
"Tidak perlu sayangku, kau adalah istriku, jadi sudah seharusnya diriku lah yang melakukannya sebagai seorang suami. Dan aku juga tidak mau kau kelelahan."
"Kan hanya memakai sabuk pengaman saja, sayang?"
"Mimi, kau pagi ini sudah cerewet ya? Mau aku menghukum mu?"
Dengan cepat Embun menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia menggeleng lalu tertawa kecil, "Hehehe... tidak, sayang."
"Maka turuti lah perkataan suami mu ini."
Peletak!
__ADS_1
"Aw, sayang kenapa malah menyentil keningku?" Embun mengerucutkan bibirnya, dan sangat imut, "Kan, sakit sayang..." mengusap kening.
"Benarkah?" muah! Ciuman hangatnya mendarat di kening Embun, dia menangkup wajahnya, "Mau melakukannya di mobil?"
Aaaaaaa dasar tuan muda Rendra, baru juga tadi di beritahukan oleh dokter Rani, jika usia kandungan masih muda maka tidak boleh sering-sering melakukannya.
Wajah Embun berubah pias, dia takut menolak karena pasti suaminya tak ingin di tolak, tetapi dia juga tak berani menerima ajakannya karena saran dari dokter Rani tadi.
Semenit kemudian Rendra pun terkekeh lalu mengusap pucuk kepala Embun sampai pipinya.
"Bercanda, lagi pula aku tidak mau jika hal buruk itu terjadi lagi... ayo, kau tadi mengatakan ingin pergi ke taman, kan?"
Embun pun mengangguk senang, "Emh, iya sayang."
***
"Sayang ramai sekali ya di tempat ini."
"Kau belum pernah ke tempat ini?" Embun menggeleng, "Meskipun dengan mantan suami mu yang dulu?"
Saat itu juga wajahnya berubah mengantung mendung, dia menundukkan wajahnya mengingat betapa menyedihkannya malam pertamanya saat itu.
"Aku bahkan tak mengenalnya, ibu yang menjodohkan ku dengan pria itu. Pria yang menceraikan ku di malam pertama kami -"
Tangan Rendra mengusap air mata yang jatuh itu, "Aku akan mencari pria itu."
Untuk apa kau mencarinya setelah mengulik luka lama ku ini? Semua sudah berlalu, "Sudah tidak perlu, itu hanyalah masa lalu ku."
__ADS_1
Rendra tersenyum seraya mengangkat dagu istrinya, "Tentu saja aku harus menemukannya, agar aku bisa berterimakasih... karena dia telah menceraikan mu di malam pertama kalian, bukankah karena itu kita bertemu lalu menikah dan menjalani bahtera rumah tangga?"
Senyum bahagia itu mengembang di wajah manis Embun, "Aku mencintaimu, sangat," wanita itu terlebih dahulu menabrakkan tubuhnya di dalam dekapan Rendra, memeluknya erat, "Terimakasih sayang, karena telah mencintai wanita seperti ku ini... terimakasih."
Tak!
Rendra menjentikkan jarinya di udara, selang satu menit kemudian terdengar alunan lagu yang begitu romantis.
🎶
I eumageul billyeo neoege na jeonhalge
Saramdeureun malhae sesangi da byeonhaetdae, em, em, em, em,
Dahaenghido uri saineun
Ajik yeotae an byeonhaenne ...
Neul hadeon sijakgwa kkeut ‘annyeong’iran mallo
Oneulgwa naeireul tto hamkke ieobojago
Meomchwoitjiman eodume sumji ma
Bicheun tto tteooreunikkan
🎶
__ADS_1