
Mely masih di dalam kamar mandi. Ia masih terpaku dengan hasil alat tes kehamilan yang ada ditangannya. Berkali kali matanya memandang alat itu. Jantungnya berdegup tidak teratur, rasanya ia ingin menangis kala itu. Mely sekali lagi melihat ke arah tangannya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"tok tok tok "
"tok tok tok"
"Sayang, bukak pintunya. Kok lama banget?" Abas susah penasaran dengan hasil tes urine Mely. Ia memandang ke arah teman lamanya Dokter Fany.
"Kamu itu gak berubah ya dari dulu. Sabar dong," ucap dokter Fany , Ia mencibir Abas.
Abas langsung melengos seperti anak kecil. Ia tersenyum kecut, ia tidak suka dengan sindiran temannya. Fany itu tidak merasakan apa yang Dia rasa saat ini. Abas membatin.
Melihat Abas yang kelihatan keki, Dokter Fany kembali mengodanya. "Masa mau jadi Papa kaya gitu Bas...Bas... !"
"Emang aku kaya apa?" Abas sedikit memincingkan matanya kembali.
"Apa bener Istriku hamil?" sambungnya.
"Kita lihat aja, sabar dikit dong!" kata Bu Dokter.
Abas mondar mandir sedari tadi. Sudah tiga menit istrinya gak keluar kamar mandi.
"Pintunya gak rusak kan Fan?" tiba tiba dikepala Abas kepikiran hal hal yang nyeleneh.
"Ya ampun abas, sabar dong!" Dokter Fany menertawakan sikap teman lamanya itu.
"Ya ya ya... " Abas agak jengkel juga.
"Krietttt...."
Mely membuka pintu kamar mandi. Abas yang berdiri sedari tadi di depan pintu langsung menyerangnya dengan bermacam macam pertanyaan.
"Gimana sayang hasilnya?"
Mely belum menjawab pertanyaan pertama.
Abas kembali bertanya.
"Positive apa negative?"
__ADS_1
Ia benar benar membrondong istrinya dengan banyak pertanyaan.
"Mana coba aku lihat alatnya tadi?"
Mely yang sedari ditanya hanya diam saja. Sepertinya bibirnya terkunci rapat. Dokter Fany menyaksikan keduanya dari kejauhan.
Ia juga turut bahagia bila kabar ini benar adanya. Ia masih ingat betul kejadian sepuluh tahun silam. Ia datang sebagai tamu undangan di acara pernikahan Abas. Dokter Fany ingat betul peristiwa yang tragis itu. Dimana saat akan diadakan Akad Nikah, mempelai Wanita hilang. Kabur entah kemana rimbanya.
Dokter Fany masih ingat betul. Ekspresi kehancuran Abas saat itu. Makanya sekarang Ia ikut senang. Melihat Abas telah menemukan tambatan hatinya. Dia mengira temannya itu akan jadi single selamanya. Hanya karena Luka pata hati yang tak bisa tersembuhkan. Ia salah, Karena Abas nampak ceria sama seperti dulu.
Ia sudah tidak seperti pria kaku setelah ditinggalkan evi. Mantan calon pengantin Abas yang juga sahabat karibnya. Dulu mereka semua adalah teman semasa kuliah.
Dokter Fany membuang napas dengan berat. Ia penasaran dimana kini evi berada. Ia pun kembali menatap dua sejoli yang sedang ribut ribut dihadapan.
"Gimana sayang. Kok diem aja?" Abas mulai tidak sabaran, Ia sudah sangat gemas dengan diamnya Mely.
Mely bukannya menjawab pertanyaan dari sang suami, Ia malah menangis haru dan memeluk suaminya dengan erat. Abas tidak mengerti arti dari tangis dan pelukan yang Ia terima. Ia hanya memeluk balik Mely.
"Aku hamil," bisik Mely di telinganya Abas.
Bak disambar petir disiang bolong. Bisikan Mely seperti setrum yang mengejutkan tubuhnya. Ia langsung melepas pelukannya. Seakan tidak percaya, Abas menatap dalam ke mata Mely. Ia ingin mencari kebenaran dari apa yang ia dengar barusan.
Mendengar penuturan sang istri, Ia yakin bahwa tidak salah dengar. Abas langsung menciumi pipi Mely, Hidung Mely, Kening Mely, Mata Mely. Terakhir Ia menciumi perut Mely yang belum membesar dengan sangat lama. Abas sangat senang dan Dia sangat bersyukur. Akhirnya Ia akan menjadi seorang Ayah.
"Fan, aku akan jadi Ayah fan...!" ucapnya riang tidak terkira. Ia hendak pamer dengan teman lamanya.
Sedangkan Fany hanya tersenyum menangapi aksi kocak temannya. Abas kembali fokus pada Istri kesayangannya. Ia mengendong Mely dan memutarnya.
"Hei... pelan pelan Bas, Babynya masih sangat muda. Kamu harus ekstra hati hati!"
Terlihat dokter Fany mengomeli Abas.
"Ah... iya iya, maaf lupa. Aku lupa... saking senengnya. Aku Excited banget Fan!!!' Abas langsung menurunkan sang istri dari gendongannya.
Mely sih seneng seneng saja, Ia juga happy banget. Apalagi melihat reaksi Abas. Tambah berlipat lipat kebahagiaan yang Ia rasakan saat ini.
"Ya sudah, Makasih ya Fan. Aku mau ke Dokter Kandungan dulu. Mau memeriksa anakku!"
Abas pamit pada teman lamanya, tidak lupa mereka berdua berterima kasih pada Dokter Fany. Mely memeluk sahabat suaminya, Ia sangat berterima kasih atas semuanya.
__ADS_1
Dokter Fany mengantar kepergian keduanya dengan senyum ramahnya.
Kini Abas mengendarai Mobil dengan sangat pelan dan hati hati, Ia mulai over protective kepada istri dan calon bayinya. Jarak Rumah Sakit Ibu dan Anak tidak jauh dari lokasi praktek Dokter Fany. Tidak butuh waktu yang lama untuk ke tempat tersebut.
Kini Abas sudah masuk kedalam Rumah Sakit Ibu dan Anak, Ia merangkul pundak Mely. Setelah melakukan pendaftaran, kini saatnya mereka masuk ke ruang konsultasi. Mely kembali bertemu seorang dokter Wanita. Sama cantik dan ramahnya seperti dokter Fany. Hanya saja dokter Kandungan Mely yang saat ini lebih Muda.
"Malam Dok!" sapa Mely terlebih dahulu.
"Selamat malam Ibu Mely!" Dokter tersebut membaca berkas yang ada ditangannya..
Kemudian ia memperkenalkan dirinya kepada Abas dan Mely.
"Perkenalan Saya Findy, Mari Kita lakukan USG ya Bu!"
Dengan ramah Dokter Findy mengajak Mely masuk keruangan yang sudah diberi sekat.
Ia mengoles jel diatas perut Mely. Setelah berhasil mengolesi secara merata, Dokter Findy melakuan langkah langkah selanjutnya.
Abas sedari tadi matanya tertuju pada layar. Dalam layar janin dalam perut Mely masih sebesar biji jagung. Dokter memperkirakan kehamilan Mely 5 sampai 6 Minggu atau setara dengan satu setengah Bulan.
"Kecil banget Dok, gak kelihatan. Hanya sebuah titik!" Celetuk Abas dengan polosnya.
"Iya Bapak, Kan pembuahan baru terjadi, Usia kehamilan pun masih awal trimesters pertama. Sabar ya Pak. Makanya usahakan si Ibu banyak makan makanan yang Kaya gizi. Biar anak Bapak dalam perut si Ibu cepat tumbuh besar!" jawab Dokter Findy.
Mely dengan tenang ikut mendengarkan obrolan antara Suami Dan Dokter Kandungan nya.
Setelah tidak Ada pertanyaan dari kedua pihak, Dokter Findy membantu Mely berdiri. Mereka bertiga meninggalkan Ruang pemeriksaan, kembali ke ruang konsultasi.
Dokter Findy memberikan saran dan masukan untuk ibu hamil, Ia juga menganjurkan keduanya ikut kelas Parenting.
Anjurannya disambut dengan hangat oleh Abas dan Mely.
Saat akan berpamitan ingin pulang, Dokter Findy memberikan foto USG perdana calon bayi mereka. Abas memandang foto USG tersebut. Meski baru terlihat satu titik. Baginya sebuah titik itu adalah hadiah yang terindah dalam hidupnya. Selepas dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Abas berniat akan pamer sama Mamanya. ish... dasar Abas... Mungkin kelamaan main sama Mely. Kepribadiannya berubah seratus delapan puluh derajad. Wibawanya ilang terkikis air hujan yang turun malam itu.
Mobil melaju menembus angin malam... Mely dengan rasa bahagianya sudah terlelap disamping Abas. Ia sudah terbang ke alam mimpi.
Good night, My love...
Abas menyetir dan sesekali melirik Mely yang terlelap di sisinya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Bersambung