
Embun bersenandung senang dia sangat bahagia, ah lupa, dia tak bisa bahagia di atas penderitaan seseorang.
"Nona mau kemana?" tanya Manda yang melihat Embun tiba-tiba mengubah arah langkah kakinya.
"Mengeluarkan adik iparku, kasihan dia."
"Nona tidak boleh kesana," tegas Manda yang langsung menghentikan langkah kaki Embun.
"Kenapa?" berbalik, menatap sendu pada Manda.
"Karena tuan muda tidak menginginkannya."
"Begitu? Lalu, apakah aku harus diam saja dan membiarkannya kesepian di ruang bawah tanah?"
"Nona tidak perlu khawatir, tuan muda tak setega itu... lagi pula tuan muda sudah meminta bibi Rita untuk mengurusi nona Thalia."
"Sungguh?" kedua manik cokelatnya berbinar.
Manda, pun, mengangguk, "Ya itu benar nona... lebih baik nona bersiap-siap saja untuk pergi kencan bersama dengan tuan muda."
"Itu benar, aku hampir lupa... omo!"
Keduanya naik ke lantai atas, Manda membantu Embun untuk bersiap rapi.
Gadis itu memilihkannya pakaian dengan warna yang senada dengan kulit putihnya.
Merapikan rambut Embun dan memintanya agar tak mengikat rambut, "Terurai seperti ini jauh lebih indah, tuan pasti sangat menyukainya."
__ADS_1
"Dia sangat suka memainkan rambutku," mencium rambutnya sendiri, "Apakah karena aroma shampoo nya?"
"Mungkin saja, nona."
"Manda, coba tolong ambilkan anting-anting ku di dalam laci itu."
Manda mengangguk dan segera mengambilkannya, "Ini, nona."
"Terimakasih, Manda."
Tiga puluh menit kemudian setelah bersiap rapi, "Manda bagaimana menurutmu penampilanku?" Embun memutar tubuhnya, memperlihatkan keseluruhan penampilannya.
"Sangat cantik, nona."
"Apakah kau yakin jika suamiku akan menyukai penampilanku yang seperti ini?"
Pujian itu membuatnya senang, dia mengelus perutnya yang masih rata. Usia kandungannya saat ini baru memasuki empat minggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendra dan Alister baru saja sampai di lantai lobi gedung Brilian Group, melihat ada banyak kerumunan di dekat meja resepsionis.
"Ada apa ini?" tanya Alister yang langsung membubarkan kerumunan, Alister mendengus kesal lalu ikut melihat layar ponsel seorang resepsionis.
Kedua matanya membulat saat melihat video romansa tuan dan nona mudanya saat di taman hijau, Cih! Lebay! "Lanjutkan kembali pekerjaan kalian, jangan bergosip!"
__ADS_1
"Ba- baik, tuan."
Kedua pria berpengaruh itu pun segera masuk ke dalam lift, "Tuan, satu jam lagi kita akan melakukan penandatangan kontrak dengan perusahaan asing yang baru saja berdiri di kota ini."
"Kau sudah memeriksa dan memastikannya?"
"Sudah, tuan. Mereka berniat untuk menanam saham di perusahaan kita. Dan salah satu pendiri perusahaan D itu adalah tuan Agra."
Alister bahkan sampai menekankan kalimat Agra yang ternyata membuat Rendra terganggu.
"Mengapa nada bicara mu seperti itu?"
"Tuan Agra adalah ... "
Pintu lift terbuka, saat Rendra mau melangkah keluar namun langkah kakinya terhenti saat tahu siapa pria itu.
"Mantan suami nona muda, pria yang menceraikan nona saat malam pertama mereka."
Angin dingin mendominasi di sekelilingnya, Rendra menyeringai senang, "Benarkah?"
"Benar, tuan, apakah tuan ingin saya menolak proposal kerja sama ini?"
"Tidak perlu, karena aku harus memberinya hadiah selamat datang, dan hadiah atas perilakunya terhadap istriku."
"Baik tuan, waktunya satu jam lagi."
Rendra menatap arloji di tangannya, masih ada waktu satu setengah jam lagi, "Lakukan sekarang, aku tak bisa membuat Bidadariku menunggu."
__ADS_1
Weeeeekkk!
Alister mau muntah saat mendengarnya.