
Hujan mulai reda, meningalan jejak basah disepanjang hamparan rerumputan. Ranting ranting pepohonan meneteskan sisa air yang turun dari langit. Udara dingin menyeruak ke semua penjuru, nampak dari jauh mobil yang dikendarai abas memasuki gerbang rumah utama.
Penjaga pintu membuka gerbangnya, para penjaga masih terlihat bersiap siaga di sekitar rumah Mama. Abas mematikan mesin mobilnya, dengan pelan dia membuka pintu mobilnya. Abas pun berjalan mengitari mobil. Kini Ia sudah ada didepan Mely yang tertidur pulas setelah pulang dari Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Dengan perlahan Abas membopong tubuh mungil Mely, tubuh yang saat ini telah memgandung buah hati dari cinta mereka berdua. Mely setengah sadar membuka separuh matanya, Ia terbangun karena sentuhan sang suami, Mely mengalungkan kedua tangannya di leher Abas. Matanya nampak masih ngantuk berat. Mely merasa sangat malas untuk sekedar membuka kedua matanya. Ia memilih kembali memejamkan mata dan tidur lelap dalam gendongan suaminya.
Abas mulai memasuki ruang tamu, disana sudah ada mama yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka berdua. Semula Abas dan Mely hanya pamit untuk cek kesehatan seperti tiap bulannya. Mama sama sekali tidak tahu kalau Putra kesayangannya dan sang mantu pergi menemui seorang Psikiater.
Abas engan mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Ia takut jikalau Mama tahu ia akan menemui Psikiater nanti malah jadi kuatir. Makanya tadi hanya pamit mau cek kesehatan saja.
"Loh, kenapa itu istrimu Bas," tanya Mama dengan paniknya.
Mama begitu panik ketika melihat Abas masuk ruang tamu dengan membopong tubuh Mely.
"Bentar Ma, nanti aku jelasin. Aku ke kamar dulu!" ucap Abas seraya meningalan sang Mama menuju kamarnya sendiri.
Abas meletakkan tubuh Mely di atas ranjangnya yang besar. Istrinya masih belum mau bangun saat Ia meletakkan di atas kasur yang empuk. Mely malah meraih guling yang telah Abas letakkan barusan.
Ia merangkul guling tersebut dan kembali melanjutkan tidurnya. Abas membelai rambut istrinya. Ia mengecup tiap inci wajah Mely. Setelah puas memberikan banyak kecupan pada Bidadarinya Ia melangkah keluar.
Perlahan kakinya meninggalkan kamar, meningalakan Mely yang tidur sendiriaan. Langkah Abas terhenti di ruang tamu yang megah, disana sudah duduk sang Mama yang siap dengan introgasinya.
"Itu kenapa Mely?" tanya Mama kembali, karena tadi belum dapat jawaban dari Abas.
Abas bukannya menjawab pertanyaan Mamanya, Ia malah menyodorkan sebuah Amplop berwarna putih. Di bagian depan amplop tersebut bertuliskan Rumah Sakit Ibu dan Anak beserta alamat rumah sakitnya.
Abas mengulurkan amplop tersebut pada Mamanya. Tidak lupa ia memberikan senyum yang terkesan menyombongkan dirinya sendiri.
"Amplop apa ini, bukan uang sepertinya?" Mama bertanya kepada Abas lagi, mata Mama kembali tertuju pada amplop yang diberikan putranya. Ia membukak amplopnya, Mama mengeluarkan isi didalam amplop tersebut.
__ADS_1
Betapa terharunya Mama, ketika Ia melihat Foto USG yang di berikan oleh Abas. Ia begitu yakin jika itu hasil USG milik Mely anak menantunya.
Tidak terasa, buliran air mata menetes di kedua pipi Mama. Ia merasa sangat senang sekaligus terharu. Akhirnya ia akan menjadi Oma. Harapannya selama ini akhirnya terkabul.
Mama langsung memeluk Abas, "Makasih Sayang, kamu udah kabulin permintaan Mama selama ini... Terima kasih sayang. Mely... mana Mely..?"
"Mely lagi tidur, besok aja Ma. Sepertinya dia kelelahan!" jawab abas.
"Iya, iya.. biarkan dia istirahat. Dia sedang hamil muda, tidak boleh capek capek. Ah.. apa Mama perlu cari asisten pribadi buat Mely, menurut kamu bagaimana Bas?" Mama dengan ide briliannya membuat Abas memberikan senyum yang meremehkan.
"Ma..., Mely itu selama ini sudah protes ke Abas. Terlalu banyak asisten di rumah ini. Sampai Mely binggung mau ngapain lagi. Semua sudah ada yang handle!"
Sejenak Abas menarik napas dalam dalam.
"Ia mengeluhkan badannya capek semua, karena tidak ada hal yang dapat Ia kerjakan. Ini malah Mama mau kasih asisten pribadi buat Dia. Bisa bisa pusing kepalaku mendengarkan keluhannya. Udalah Ma.. Mely itu Mandiri banget. Dia kurang suka kalau kita terlalu over sama Dia!" Abas menolak jika Mama mencari asisten pribadi untuk istrinya.
Abas yang sudah tahu akal akalan sang Mama, yang pura pura merajuk padanya. Akhirnya Ia mengiyakan saja.
" Tapi kita tanya Mely dulu ya Ma. Mau apa tidak, semua terserah Mely pokoknya. Jangan sampai ada yang memaksanya."
Abas meilirik Mamanya.
"Ya sudah, aku keatas dulu ya Ma. Mau tidur, hari ini capek banget," Abas pamit kembali ke kamarnya.
Sedangkan Mama, Ia terus memandangi hasil foto USG. Senyumannya mengembang merekah seperti bunga yang baru mekar. Hati Mama sedang berbunga bunga, sebentar lagi ia akan menimang seorang cucu.
Pagi hari kediaman Mama sangat ramai sekali. Padahal waktu belum menunjukkan pukul enam. Namun di area dapur dan ruang makan terlihat sangat sibuk. Para pelayan menyiapkan berbagai macam makanan yang sengaja Mama request untuk menantunya.
Ia ingin Ibu dan calon bayinya sehat. Terlihat sekali Mama begitu excited. Menyiapkan ini dan itu. Bahkan Ia hari ini mengosongkan semua jadwalnya. Ia hanya ingin menemani Mely.
__ADS_1
Abas sudah terlihat rapi, Ia sedang masang dasi didepan cermin. Mely yang juga sudah bangun dan sudah mandi. Berjalan menuju Abas. Ia hendak membantu Abas memasang dasinya. Sadar tinggi mereka yang beda jauh, Abas mencoba menundukkan kepalanya. Sikap Abas yang merunduk membuat jarak keduanya sangat dekat. Posisi mereka berdua malah terlihat seperti akan berciuman.
Suasana menjadi canggung bagi Mely. Tapi tidak untuk Abas. Pagi ini, ia malah menghujami Mely dengan banyak ciuman.
"Mel, apa aku bolos aja ya!" ucapan Abas membuat Mely bereaksi.
Mely langsung mencubit pinggang suaminya.
"Heheheh..." sedangkan Abas hanya bisa menertawakan aksinya sendiri. Ia juga tak habis pikir. Semenjak bertemu Mely otaknya seakan gampang konslet.
Tidak ingin larut dalam gelora jiwanya pagi ini, Abas mengambil Air dingin dari dalam kulkas yang ada dalam kamarnya. Ia ingin mendinginkan jiwanya yang panas, Entah mengapa ia menjadi sangat terpikat pada Istri kesayangannya. Apalagi saat ini Mely sedang hamil. Rasanya ia ingin mencumbui istrinya itu.
Berkali Kali Abas mengibaskan kepalanya.
"Sadar Bas, sadar...!" suara dalam hati mencoba menyandarkan dirinya.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padaku Mel? kehadiranmu seperti candu yang memabukkan hari hariku."
Sedangkan yang diomongin sama hati Abas, Orangnya lagi sibuk mengeringkan rambut.
Mely telah asik duduk di depan meja rias. Ia tidak menghiraukan Abas yang sedari tadi mencoba untuk menahan diri.
Menahan diri dari godaan seorang Mely.
Mely bersikap cuek. Karena Ia merasa tidak sedang mengoda siapa siapa. Haduh Mely, kamu duduk sedang mengeringkan rambut saja bagi abas sudah mengoda.
Ah.. Mungkin Abas lagi puber ke dua...
Bersambung.
__ADS_1