PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Chapter 116 Ganti Baju


__ADS_3

Semua persiapan telah di lakukan, pria arrogant yang tanpa sebab tega menceraikan Embun saat malam pertamanya kini telah tiba di ruangan CEO.


Mereka duduk saling berhadapan di atas sofa, masing-masing sekretaris sudah berdiri di belakang tuan mudanya.


Selembar surat kerja sama sudah terbungkus rapi di dalam map plastik kuning di atas meja.


"Senang rasanya bisa bekerjasama dengan anda, tuan Rendra."


"Benarkah?" Agra mengangguk dengan senyum ramah, "Tetapi tidak denganku!" tegas Rendra.


Dia meraih map plastik tersebut, mengeluarkan isinya kemudian merobeknya menjadi potongan yang kecil.


"Apa-apaan ini!!" tandas sekretaris Agra tak terima dan langsung terdiam saat Agra mengangkat tangannya.


"Tenanglah, Kloi," Agra menyandarkan punggungnya, "Bisa anda jelaskan?"


"Alister, tolong tunjukkan pintu keluarnya... jika mereka masih belum tahu, sekalian saja kau antarkan sampai ke garasi mobil," Rendra terkekeh kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan mereka bertiga di dalam.


"Tuan, ini tak bisa di biarkan! Pria itu sudah kurang ajar, selama ini tak pernah ada yang berani menolak untuk bekerjasama dengan perusaahan D."


"Pintu keluar ada di depan," imbuh Alister menimpali, membuat kedua pria itu meradang.


"Cih! Hanya seperti ini saja sudah sombong sekali dia!" pekik Agra tak terima.


"Silakan," lanjut Alister dengan menggerakkan tangannya menuju pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rendra yang baru mau masuk ke dalam lift khusus, dia bertemu dengan dewan direksi.


"Tuan muda, bisakah kita mengadakan rapat sebentar saja? Saya ingin membahas saham bulanan bersama dengan pemegang saham lainnya."

__ADS_1


Rendra menekan tombol untuk membuka lift, "Besok saja, hari ini aku sibuk."


"Tetapi ini penting, tuan, menyangkut kontrak kerjasama dengan perusahaan Anola Group."


Tak asing dengan nama itu membuat Rendra mendengus kesal, "Cih! Baiklah, setengah jam saja."


Dia mengatur waktu sebaik mungkin, mereka masuk ke dalam ruang rapat dan segera memulainya.



Duduk mendengar laporan saham bulanan membuatnya mau tak mau harus memfokuskan pikirannya, tak ingin terganggu, Rendra, pun, membisukan hpnya.


Satu jam berlalu, dia lupa waktu, aaaaa semoga saja kelinci kecilnya mau menunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Manda dan Embun baru saja sampai di kafe sebelas, pak sopir sudah di perintahkan untuk pergi, tak usah menunggu karena nantinya juga dia akan pulang bersama sang suami.


"Em, boleh."


Tangan Manda melambai ke atas meminta pelayanan.


"Selamat pagi nona, silakan."


Mereka memesan jus orange dan beberapa cemilan agar tak bosan menunggu.


Sekarang bahkan sampai jus itu hampir habis dan tak sengaja tumpah mengenai pakaian Embun, Rendra tak kunjung datang.


"Ah, astaga, bagaimana ini?"


Manda menarik tisu dan membantu Embun untuk membersihkan sisa jus namun tak bisa hilang.

__ADS_1


"Nona, nodanya tak bisa hilang."


"Omo! Aaaaaaaa bagaimana ini?" dia menoleh kesana kemari dan menemukan toko baju di sebrang jalan sana, "Manda, di sana ada toko baju, ayo, aku ingin menggantinya."


"Baik nona, ayo."


Mereka berdua pun segera pergi setelah meninggalkan selembar uang di atas meja, menyebrang dengan hati-hati menuju toko baju.


"Selamat datang di toko kumi-kumi," seru pelayan toko menyambut kedatangan mereka, "Cari apa?"


"Nona, aku ingin mencari pakaian yang simple dan mudah di gunakan untuk beraktifitas, dan sebuah topi."


"Baik, silakan ikut saya... semua yang nona inginkan ada di bagian sudut kanan belakang."


Mencari-mencari pakaian yang sesuai di hati, membuka, memilah, dan akhirnya Embun bisa mendapatkannya juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Cantik, itulah dia, Embun Larasati.


Mereka kembali menunggu di dalam kafe sebelas tadi, sudah satu jam lebih menunggu tetapi Rendra masih belum datang juga.


Embun mengambil hp dari dalam tas nya, mencoba menelefon suaminya tapi tak kunjung di angkat.


"Aigo! Awas saja kalau dia sampai lupa dengan janjinya sendiri."


Embun pun memasang wajah cemberut.


__ADS_1


__ADS_2