PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Masa Lalu yang Membelengu


__ADS_3

Rembulan telah datang bersama para bintang yang menghias langit malam. Hawa dingin menyeruak menusuk sampai menembus tulang, Bela dan Fadir nampak telah keluar dari dalam apartmen Mely dan Abas. Seharian ini keduanya bertamu sampai malam menjelang. Kini Fadir mulai menyalakan mesin mobilnya, ia hendak mengantar Bela ke rumahnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Fadir sudah terparkir di depan rumah Bela. Fadir ingin buru-buru pergi, pikirannya masih terpaut dengan bosnya, Abas. Ia masih kepikiran dengan pertemuannya di depan apartmen tadi.


"Langsung tidur ya sayang," pesan Fadir pada Bela saat ia mengantarkan Bela masuk ke dalam rumahnya.


"Iya kak, aku masuk dulu ya," jawab Bela.


Setelah memberikan kecupan di kening Bela, Fadir pun berlalu. Ia berjalan menuju mobil hitam yang ia kendarai. Fadir kembali ke apartmen milik Abas, ia masih punya urusan dengan bosnya. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia sampai kembali di apartmen Abas. Jalanan cukup lengang karena hari sudah larut malam.


Sedangkan Abas kini tengah menina bobokan sang istri. Mely telah tidur dengan pulas. Ketika Mely sudah benar-benar tertidur, Abas keluar kamar dengan langkah kaki yang cukup pelan. Ia tidak ingin membanggunkan istrinya yang tengah tertidur lelap.


Abas kini sudah menemui Fadir, keduanya telah duduk di sebuah kedai kopi tidak jauh dari apartmen yang ia tinggali. Tidak mau lama lama penasaran, Fadir langsung menanyakan isi dalam pikirannya.


"Apa perempuan tadi itu Evi?" tanya Fadir to the point pada Abas. Hubungan keduanya memang antara bos dan atasan, namun kali ini Abas dan Fadir berbicara seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling mengenal.


"Iya," Abas begitu nampak galau mengucapkan jawaban yang di nanti Fadir sekertarisnya. Ia mengambil napas dalam sesaat, menyeruput coffee late nya. Sejenak ia nampak berpikir. Bagaimana caranya ia memulai bercerita pada Fadir.


"Untuk apa kalian bertemu?" kembali Fadir bertanya dengan penuh selidik pada Abas yang duduk di depannya.


"Ia meminta maaf padaku," jawab Abas dengan pandangan mata yang kosong.


"Hanya itu?" Fadir merasa tidak percaya dengan jawaban dari Abas, baginya pria yang duduk di depannya menyimpan sesuatu yang berusaha ia rahasiakan. Fadir hafal betul dengan sifat atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Dia ingin kembali," ucap Abas dengan lirih. Matanya menerawang jauh ke depan, ia tidak matap Fadir yang tengah mengajakknya berbicara.

__ADS_1


"Gila.. Apa maksud semua ini. Tidak waras kah dia saat ini? Kamu adalah pria yang sudah menikah, untuk apa dia ingin kembali?" Fadir marah dengan tingkah laku Evi mantan kekasih Abas. Bagaimana bisa Evi datang dan pergi begitu saja, apa lagi kini malah mengharap bersama kembali dengan pria yang berstatus suami orang.


"Aku sudah mengatakannya, bahkan kami bertiga sempat bertemu secara tidak sengaja," kata Abas.


"Apa? jadi Mely pernah bertemu dengan Evi, terus apa yang terjadi ketika kalian bertemu?" tanya Fadir kembali, ia ingin mengali hubungan Abas yang ia rasa begitu pelik.


"Kami tidak sengaja bertemu di dalam lift. Evi kini tinggal di apartmen yang sama dengan kami berdua," jelas Abas.


Fadir langsung bangkit, rasanya ia ingin marah saja pada perempuan bernama Evi itu.


"Hal gila apa lagi ini? bagaimana bisa kalian tinggal berdekatan? aku rasa ini bukan hal yang kebetulan," kata Fadir dengan perasaan yang mengebu-ngebu. Pasalnya ia merasa kasihan dengan nasib teman istrinya yang juga merupakan istri Abas. Ia tidak ingin ada seseorang yang merusak rumah tangga Abas dan Mely. Selama ini ia menjadi saksi bisu perjalanan cinta keduanya. Rasanya ia tidak ikhlas ada pelakor hadir di tengah-tengah rumah tangga Abas dan Mely.


"Awalnya aku juga tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Evi, bagaimana bisa ia menemui ku dan meminta kembali. Sedangkan dia tahu kalau aku sudah memiliki istri, aku pun merasa marah seperti dirimu." Abas berhenti berkata kata, ia menarik napas lagi dalam dalam. Beberapa detik kemudian ia melanjutkan kata katanya.


"Dia bercerita alasannya meninggalkan ku waktu itu, dia menceritakan semuanya," ucap Abas sedikit galau. Raut wajahnya nampak kacau balau, entah hal apa saja yang kini bersarang di kepalanya. Fadir merasa ini tidak benar, Abas tidak boleh larut dan tengelam dalam jebakan masa lalu.


"Aku tahu Fad, aku sangat tahu. Tapi setelah aku tahu alasan Evi meninggalkan diriku. Rasanya aku tidak mampu meningalakan dirinya begitu saja," ujar Abas.


"Maksud mu apa Bas?" Fadir nampak sangat marah mendengar penuturan dari Abas.


"Kami memiliki seorang anak, dia meninggalkan ku saat tengah mengandung buah cinta kami," Abas meremas wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa hidupnya akan hancur sudah.


Fadir langsung lemas, ia duduk dengan tatapan kosong seperti Abas. Ia juga tidak habis pikir dengan takdir yang menimpa pria yang duduk di hadapannya saat ini. Seakan akan semua menjadi hancur berantakan.


"Lalu dimana anak kalain saat ini? kamu percaya begitu saja?" tanya Fadir, ia tidak ingin Abas terjebak dalam permainan Evi mantan kekasih Abas.

__ADS_1


"Tadi pagi dia menelepon, memintaku menemui dirinya,"


"Lalu?"


"Dia ingin mempertemukan ku dengan anak kami," ucap Abas.


"Memang anak yang kalian maksud sekarang berada di mana?" Fadir mengerutkan alisnya.


"Sekarang ia tinggal di Bali bersama orang tua Evi," Abas dilanda kegalauan yang berat. Jika benar anak itu adalah anaknya, lalu mengapa Evi tidak mendatangi dirinya sedari dulu. Mengapa ia baru mendatangi dirinya ketika ia kini telah hidup bahagia dengan perempuan lain.


Abas menundukkan kepalanya, rasanya beban asmaranya cukup berat. Bagaimana bisa Evi meningalakan dirinya saat tengah mengandung buah cinta mereka? Bagaimana bisa ia datang begitu saja ketika istrinya akan melahirkan buah cintanya saat ini? Abas terjebak di antara dua asmara.


Asamara masa lalu yang memburunya dan asmaranya saat ini yang telah ia bina bersama Mely istri terkasihnya. Abas berualng kali meremas kepalanya, ia merasa binggung harus bagaimana nantinya. Ia nampak prustasi berat.


Fadir tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menepuk pundak bos sekaligus sahabatnya itu.


"Aku akan pergi ke Bali untuk mengecek semuanya, kamu fokus saja dengan Mely yang akan menjalani persalinan. Aku dengar persalinannya beberapa hari lagi," kata Fadir mencoba menenangkan Abas.


"Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan mu?" tanya Abas.


"Tidak usah menghawatirkan hal itu, persiapan kami hampir finish. Bela sudah ahli dalam hal itu, tenanglah. Aku dan Bela mendukung kalian, sebisa mungkin kami akan membantu kalian,"


"Terimakasih Fad,"


Keduanya nampak larut dalam pikirannya masing-masing, Abas dan Fadir sama-sama mencari jalan keluar dari polemik yang di hadapi rumah tangga Mely serta Abas. Mereka memikirkan jalan keluar untuk memecahkan masalah yang melanda Abas. Fadir berencana akan segera ke Bali, mencari anak yang Evi katakan. Ia ingin memastikan apa benar itu anak dari Abas atau hanya jebakan Evi untuk menarik perhatian Abas agar berada disisinya, banyak tanda tanya besar yang bermunculan dalam benak Fadir.

__ADS_1


Tekadnya sudah bulat, besok ia akan terbang langsung mencari anak yang diduga anak Abas.


Bersambung


__ADS_2