
Mely sudah menyiapkan semua menu sarapan di atas meja makan. Makanan kini sudah siap untuk disantap oleh semua anggota keluarganya.
"Miko... Mika... cepat turun,"
Kedua anaknya masih belum keluar dari kamarnya masing masing.
"Pa, what's app mereka. Bilangin, ayo sarapan bersama," pintanya pada sang suami.
Abas tidak perlu berteriak kencang seperti Mely. Ia cukup mengandalkan smartphonenya, maka dengan seketika kedua putra putrinya langsung ada di hadapannya.
Miko langsung turun, ketika mendapat pesang singkat dari sang Papa.
Berbeda dengan adiknya, Mika terlebih dulu berdiri di kaca riasnya. Sekadar meyakinkan penampilannya, apakah sudah oke. Hari ini ia ada janjian sama Nathan. Mika tidak ingin terlihat biasa saja di depan kekasih hatinya.
"Mana Kakak?" tanya Mely pada anaknya yang paling ganteng.
"Tuh, paling juga masih dandan,"
Baru Miko bersuara, Mika kini menyusul dirinya menuju meja makan. Ia tampak manis dan cantik. Pipinya cubby sama persis ketika dia bayi dulu.
"Mau kemana anak Mama, pagi pagi sudah cantik bener?" goda Mely.
"Ih...Mama, apa-apa'an sih. Cuma mau jalan sama temen. Mumpung lagi di Indonesia, Mika mau puas puasin muter ibu kota."
"Sama siapa?" tiba tiba suara Papa muncul dari balik tubuhnya. Membuat Mely sedikit berpikir. Tidak mungkin ia jawab mau jalan sama cowok, dengan ragu ia menjawab keluar bersama teman SMA nya dlu.
"Sama temen SMA Pa, Mika mau reuni sama temen temen di kafe."
Tanpa rasa curiga Abas tidak melanjutkan sesi tanya jawab bersama Mika. Ia sudah percaya dengan putrinya seratus persen. Terbukti selama kuliah di luar negeri, Mika tidak pernah tersangkut masalah satu apapun.
"Ya sudah, makan dulu. Disana gak ada soto kan? ini Mama masakin khusus buat kamu," ucap Mama sembari menyodorkan semangku kuah soto yang masih mengepulkan asap.
"Wah, dari baunya enak banget sepertinya Ma. Lama juga aku gak makan masakan khas kota kelahiran Mama," kata Mika.
"Kalau ngomongin tempat kelahiran Mama, kira kira kapan kamu mau ke rumah kakek dan Nenek?" tanya Mely.
"Iya Ma, nunggu waktu luang. Aku lagi sibuk belakangan ini,"
"Kak Mika sibuk main sama cowok Ma," sahut Miko.
__ADS_1
"Apasih Miko, ku jitak baru tau rasa kamu ya," canda Mika. Ia berusaha tersenyum, tidak ingin orang yang ada dalam meja makan menaruh curiga pada dirinya.
"Cowok apa? Mika jangan berkencan dengan sembarang orang. Papa sudah ngobrol sama Om Fadir, sepertinya lebih baik kamu berteman dekat dulu dengan putra on Fadir." Entah dirasuki datuk maringgi dari mana, tiba-tiba Abas ingin menjodohkan putrinya dengan Dirly putra dari Fadir dan Bela.
Mama kemudian ikut menyahut obrolan suaminya.
"Iya Mika, Sabtu depan Dirly pulang dari Aussie. Kamu ikut tante Bella jemput ke bandara ya, biar lebih akrab. Kamu ingat kan, kalian waktu kecil gak bisa dipisah," ucap Mama.
"Ya ampun, apa sih Ma. Itu kan masa lalu. Mika masih kecil, sekarang Mika udah gede Ma," ujar Mika.
"Iya Ma, Kak Mika udah gede tuh. Pacaran terus.Yakin deh dia enggak ke reuni, tapi pergi kencan," ucap Miko tanpa takut padahal mata kakaknya sudah membulat menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Ko, jangan mulai deh. Apa perlu aku bilangin ke Papa sama Mama, berapa gadis yang hatinya kamu patahin," ucap Mika tak kalah sengit terhadap kata kata adiknya.
"Jangan nuduh kalo gak ada buktinya Kak, aku gak pernah sekalipun mematahkan hati para gadis. Salah mereka saja, terlalu mengharap pada diriku ini. Resiko menjadi orang keren kak."
"Keren apa, aku yakin. Kalau mereka tahu sifat asli kamu, dijamin para fans bakalan berbalik jadi hater."
"Aneh banget Kakak ini, punya adek ganteng bukannya didukung. Eh Kakak malah bully Miko. Mungkin kebanyakan mayones Kakak selama di Amerika."
Miko tertawa berhasil meledek sang Kakak. membuat raut muka kakaknya menjadi merah padam.
"Tuh Pa .. Ma... Kakak kalau pulang suka bikin onar, belum genap seminggu lebam semua pasti badan Miko," ia merajuk pada kedua orang tuanya.
Sementara Abas dan Mely hanya memberikan senyuman untuk tingkah laku putra putri mereka berdua. Meskipun sudah menginjak dewasa, putri mereka akan nampak seperti bocah bila berhadapan dengan adiknya.
"Puas Kak?" tanya Miko sembari mengusap telinganya yang terasa sedikit panas.
"Puas, puas banget malahan. Hahhaaha..."
"Dosa apa yang aku perbuat ya Tuhan, hingga Engkau karuniakan padaku seorang Kakak yang jahat,"
"Dosamu banyak Mikoooo," jawab Mika dengan lantang, seakan dia belum puas menyiksa adik kesayangannya.
Semua yang ada di meja makan tertawa renyah, menyaksikan perdebatan sengit antara dua bersaudara.
Tidak terasa hidangan di meja sudah masuk dalam perut masing-masing penghuni rumah. Kini semuanya kembali melakukannya aktifitas nya kembali.
Pertama kali yang buru- buru meningalakan rumah adalah Mika, ia rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan pria yang sudah menghuni hatinya.
__ADS_1
Mika mengeluarkan ponsel dari dalam tas imutnya. Ia mencari nomor ponsel Nathan, setelah berhasil mencari nomor kekasihnya. Mika menelepon Nathan.
Lama sekali pangilan tidak tersambung, Nathan tak kunjung mengangkat telephone dari Mika.
Dimana sekarang Nathan? Pria itu masih asik tertidur pulas di sebuah kamar hotel. Nampak hanya sebuah selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Disamping Nathan terdapat tubuh lain, seorang wanita yang ia kenal di sebuah klab malam menemani Nathan semalaman.
Ternyata, selepas dari rumah Mika semalam. Nathan pergi ke sebuah klab malam. Disana ia minum-minum sepuasnya, sampai datang seorang wanita yang menawarkan untuk menemani malamnya.
Nathan menyambut wanita yang datang padanya, ia pun mengajak wanita tersebut pergi ke sebuah hotel bintang lima.
Disana Nathan meluapkan semua yang tidak bisa ia lakukan pada Mika malam itu. Dengan garang ia membuat wanita asing menemaninya semalaman.
Saat paginya, seeing ponsel membangunkan wanita yang menemani Nathan semalam. Melihat pria disamping dirinya tak kunjung bangun, makan wanita itu mengangkat telpon yang masuk berkali kali.
"Hallo," ucap wanita di dalam hotel.
Seketika Mika terkejut, mengapa ada wanita lain yang mengangkat telpon dari ponsel Nathan?
"Hallo, bisa bicara dengan Nathan?" tanya Mika memberanikan diri.
"Oh, sebentar. Dia sedang tidur."
Nathan yang mendengar ada orang berbicara di sampingnya, perlahan mulai tersadar. Kepalanya masih pusing, akibat sisa mabuk semalam.
Tanpa memperdulikan wanita disamping dirinya, Nathan langsung menyambar ponsel dari tangan wanita tersebut.
Matanya menatap marah, seakan berbicara. Lancang sekali wanita itu mengangkat telpon yang bukan miliknya.
Dengan jengkel, Nathan mengambi dompetnya. Ia mengeluarkan lembaran uang yang banyak. Nathan melempar uang tersebut tepat dihadapan wanita itu.
Tanpa berbicara, wanita itu memungut uangnya. Dan segera memakai pakaiannya. Secepat kilat, setelah mendapat uang wanita tersebut langsung lenyap dari pandangan Nathan.
Kini tinggalah Nathan dengan Mika yang bertanya- tanya, siapa gerangan wanita yang mengangkat telpon darinya?
Bersambung
***
Para pembaca sekalian, mohon dukungannya ya.. Dukungan kalian sangat berarti bagi author. Terimakasih untuk semuanya...
__ADS_1