
Mentari pagi bersinar begitu hangat, setelah semalaman awan mencurahkan tangisnya. Musin kemarau telah berlalu, dedaunan kering berubah jadi hijau pupus yang asri. Bunga-bunga tumbuh segar dan bermekaran, terlihat cantik di kebun mini kepunyaan Mely. Beberapa tanaman kaktus milik sang penghuni berjajar rapi. Semua nampak cantik tersusun selaras berdasarkan warna.
Pemilik bunga-bunga yang cantik kini tengah melakukan senam ibu hamil. Sunguh Mely terlihat kesusahan mengikuti gerakan yang ia lihat lewat layar kaca. Rasanya tubuhnya sudah tidak bisa bergerak bebas, ruang gerak Mely kini sangat terbatas. Bagaimana tidak, ini semua karena berat badannya meroket sangat tajam.
Mely tidak ingin berleha-leha di rumah saja. Semenjak memasuki trimester akhir, ia kini rajin mengikuti senan online. Kadang juga Abas suaminya mengundang instruktur senam ke tempat tinggalnya. Ini demi kelancaran saat persalinan nanti.
Mengingat berat badannya yang naik begitu drastisnya, ia bahkan mendapat saran dari dokter. Dokter memintanya sedikit mengerem nafsu makannya, ini semua demi janin dan demi kesehatan Mely sendiri. Pertambahan berat badan Mely sudah melebihi ambang batas. Ia jadi malu sendiri setiap seminggu sekali menimbang berat badannya. Angkanya meloncat jauh, meski hanya berjarak tujuh hari dari timbangan terakhir.
Kedua pipi Mely kini bertambah cuby, karena perubahan fisik tersebut membuat suaminya selalu mengoda dirinya. Abas selalu memangil dirinya bakpao, julukan yang sudah dipatenkan Abas satu bulan terakhir ini. Hal itu tak lekas membuat Mely berkecil hati, sejalan dengan perutnya yang kian membesar ia juga berhati besar memaafkan sang suami yang super jahil.
Bagi Mely hidupnya kurang komplit kalo tidak dijahilin sang suami, malah bagi Mely itulah yang ia rindukan dari sosok Abas. Ketika Abas mengoda dirinya maka kedua pipinya akan merah merona, hatinya berbunga bunga. Namun kali ini Abas sangat terlihat sibuk, ini karena Fadir sekertarisnya mengambil cuti. Sudah dua hari ini Fadir tidak bekerja. Ia mengambil cuti untuk menikah.
Siapa pasangan Fadir? siapa lagi kalau bukan Bela. Gadis itu, dengan segala usahanya berhasil membuat Fadir melamar dirinya. Entah jurus apa saja yang sudah Bela kerahkan, yang jelas kini Bela telah menang. Sebentar lagi ia akan berhasil membuat Fadir menyematkan cicin perkawinan di jari manisnya.
Mely merasa senang, akhirnya Bela menyusul dirinya. Akhirnya Bela melepas masa lajangnya. Mely masih melakukan senam hamilnya ketika Bela menelepon.
"Mel..." sapa Bela dari ujung telephon. Bela nampak mencoba gaun pengantinnya di sebuah butik. Fadir terlihat terkesima ketika memandang calon istrinya yang sedang berkaca.
"Iya Bela. Apa kabar?"
"Aku baik Mel, baik banget malah... hahaha, eh ini aku lagi nyoba gaun pengantin. Bagus gak menurut kamu? aku kirim fotonya ya!" Bela langsung meminta pacarnya memotret dirinya full dengan gaun pengantinnya yang saat ini sefang ia kenakan. Ia hendak memamerkan pada Mely sahabatnya, betapa cantiknya dirinya dan betapa bahagianya ia saat ini.
Fadir tanpa komentar apapun, ia mengambil ponsel yang di ulurkan Bela, dirinya hendak memotret calon istri yang terlihat anggun mempesona. Setelah beberapa kali mengambil potret Bela, ia memberikan handphon Bela kembali.
"Makasi sayang," ucap Bela dengan centilnya. Melihat tingkah Bela membuat Fadir gemas, ia mencubit ujung hidung calon istrinya. Setelah mendapatkan handphonenya kembali, Bela langsung mengirim beberapa foto pada Mely.
__ADS_1
Mely dan Bela sibuk saling berkirim pesan, hingga Bela melupakan Fadir yang duduk di sisinya. Bela mengabaikan Fadir yang sedari tadi memandangi dirinya. Fadir sedang terpesona dengan paras cantik kekasihnya.
"Ayo!" ucap Bela membuyarkan lamunan Fadir.
"Eh.. iya!" jawab Abas.
"Sedang ngelamun apa sih?" Bela mulai penasaran.
"Gak ngelamunin apa-apa, aku hanya sedang mengagumi berbie hidup yang ada dihadapanku saat ini," Fadir mulai mengeluarkan jurus gombalannya. Rupanya ia sudah tertular oleh penyakit Abas, sang Raja gombal.
"Gombal, mana ada berbie bisa buang angin," ucap Bela dengan ceplas ceplos.
"Ada, ini buktinya," jawab Fadir seraya menunjuk Bela dengan kedua tangannya. Alhasil membuat Bela kesal, tangan Bela pun sukses mendarat di lengan Fadir dengan keras membuat Fadir meringis seketika.
Keduaanya kini selesai mencoba gaun pengantin, kali ini Bela berniat memberikan kejutan pada Mely. Ia akan datang ke tempat tinggal sahabatnya tanpa mengabari terlebih dahulu. Bela ingin membuat sahabatnya terkejut. Ia bersama Fadir saat ini telah menuju Apartmen Abas dan Mely. Mobil yang mereka kendarai melewati sebuah toko bunga. Bela langsung tertarik.
Bela membuka pintu mobil yang ia tumpangi, matanya memandang ke kanan dan kiri. Ia hendak menyebrang menuju toko penjual bunga. Satu persatu ia mencium aroma bunga yang ia temui.
"Cantik ya kak," Matanya melirik ke arah Fadir yang sedari tadi mengikuti dirinya dari belakang.
"Hemm... cantik, seperti kamu!" jawab Fadir spontan. Membuat Bela langsung memajukan ujung bibirnya. Rasanya ia sudah kenyang dengan gombalan calon suaminya.
Bela melangkahkan kakinya, ia berjalan menuju ke sebuah bunga yang menarik perhatiannya.
"Kak, aku mau yang ini. Tolong kemas yang cantik ya kak!" pinta Bela pada pemilik toko bunga Floris tersebut. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanannya sudah siap.
__ADS_1
Setelah selesai mendapatkan bucket bunga yang cantik nan indah, Bela bergegas kembali ke mobil. Rasanya ia sudah tidak sabar berjumpa dengan sahabat yang kehadirannya selalu ia rindukan. Teman di kala suka maupun duka. Bela sangat menghargai dan menjaga persahabatan mereka. Karena mencari sahabat sejati seperti mencari jarum di tengah jerami, sangat susah mencari sahabat yang benar-benar berteman dengan kita tanpa mengambil keuntungan didalamnya. Sahabat sejati yang selalu ada bahkan saat kita dalam keadaan terpuruk.
Kali ini Bela akan menemui sahabat sejatinya, saat suka maupun duka keduanya selalu melengkapi. Ada untuk saling menguatkan, saling berbagi kebahagiaan dan berbagi kesedihan.
Ketika akan memakai sabuk pengaman, Bela dikejutkan dengan aksi Fadir yang tidak ia duga. Di atas dashboard mobil yang ia tumpangi, terdapat bucket bunga tulip merah dengan pita warna senada dengan bunga. Bela meraih bunga tulip merah tersebut, ia mengalihkan pandangan dari bunga menuju pria yang sedang berada di sampingnya.
"Kak, ini buat aku?" Bela sudah baper duluan. Pasalnya ia mengetahui, arti bunga tulip merah yang sekarang berada dalam pangkuannyan.
"Yes, special for you.."
Senyuman langsung terkembang sempurna di wajah Bela, rona pipinya nyaris sama dengan warna bunga yang ada dalam gengamannya.
"So sweet banget kak, thanks ya kak. I loved it,"
"Hemmm.. Jika bisa ku berikan, hati ini juga buat kamu kok," Fadir memegang dadanya dengan satu tangan.
"Udah kak, nanti aku meleleh. Mobil kaka bisa-bisa nanti kebanjiran ," ucap Bela menangapi gombalan Fadir kekasihnya.
"Iam seriously,"
"Aku juga serius kak, ayo cepet jalan. Kita gak punya waktu buat acara raja gombal," kata Bela dengan terkekeh. Mendengar ajakan Bela, Fadir langsung menyalakan mesin mobilnya. Mereka berdua kini bersiap menuju kediaman Mely dan Abas. Kendaraan mereka melaju membelah jalanan Ibu Kota yang padat.
Bela sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan temannya, ia menciumi aroma dua buket bunga yang ada ditangannya secara bergantian. Bunga Alstroemeria khusus untuk sahabat baiknya, dan bunga tulip merah spesial pemberian dari calon suami yang menandakan cinta yang abadi untuk mereka. Bela larut dalam lamunan sepanjang perjalanan menuju kediaman Mely dan Abas.
Sedangkan Fadir masih tetap fokus pada kemudinya. Sesekali ia melirik Bela lewat ekor matanya, ia ingin mencuri sedikit keindahan yang berada di sampingnya saat itu. Pesona Bela begitu menyilaukan pandangan matanya. Seorang gadis cantik yang akan menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Bersambung