
Di sebuah kamar yang besar, tidak begitu banyak cahaya di dalamnya. Hanya lampu tidur yang menerangi ruangan. Mely meraba raba, mencari handphonnya yang sejak tadi berbunyi. Bunyi alarm yang membangunkan tidur nyenyaknya."Ketemu," batinnya.
Handphonnya berada di bawah bantal yang ia pakai untuk tidur semalam.
Ia mematikan alarm handphonnya. Mely mengusap usap kedua matanya. Ia masih merasa ngantuk, "Jam berapa ini?" tanyanya dalam hati. Mely bangkit dari ranjang dengan pelan dan hati hati, seakan tidak ingin membanggunkan suaminya yang terlelap di sampingnya.
Mely berjalan ke arah kamar mandi, bangun dari tidur ia selalu merasa ingin buang air kecil belakangan ini. Mendengar suara keran air dari kamar mandi, Abas menjadi terbangun dari tidur. Ia menoleh kesamping, tidak ada sosok Mely disisinya. "Sayang, lagi apa?" tanyanya dalam kondisi masih mengantuk. Kedua mata Abas masih setengah terbuka.
"Mandi," Mely setengah berteriak. Orang ini, kalau dengar istrinya lagi dikamar mandi meskipun dalam keadaan setengah ngantuk kejahilannya gak hilang hilang. Matanya langsung terbuka lebar. Hilang sudah rasa kantuk yang menderanya saat ini.
"Bukak dong," kini ia sudah menyusul Istrinya didepan pintu kamar mandi.
Mely langsung membuka pintunya, Ia langsung keluar dan mempersilahkan Abas masuk. Mely pikir mungkin Abas ingin buang air kecil juga seperti dirinya.
"Loh, katanya tadi Mandi?" Abas setengah kecewa, Mely berhasil mengerjai dirinya. Mely sendiri tersenyum sumringah. Kapan lagi bisa ngerjain kucingnya. Makan tuh ikan dalam kamar mandi.
"Hihihihihi" Mely cekikikan. Menjulurkan sedikit lidahnya ke arah Abas.
"Oh, gitu ya kamu sekarang. emm... Awas yaaa..." Abas mengelitiki pinggang istrinya. Sampai Mely menjerit beberapa kali.
"Tok tok tok"
"Tok tok tok"
Tiba tiba ada yang datang mengetuk pintu kamar mereka berdua. Mereka berdua saling melirik.
"Iya bentar" Abas berjalan menuju pintu, Ia penasaran siapa yang menganggu dirinya pagi buta seperti ini.
"Mama..." Suara abas memekik memanggil sang Mama, Abas heran kenapa mamanya datang ke kamarnya.
"Ada apa Ma, pagi pagi begini?" tanya abas kembali.
__ADS_1
"Mama mau berangkat ke Medan pagi ini, Mama denger ada suara berisik dari dalam kamar kalian. Jadi Mama Kira kalian pasti sudah bangun," Terang Mama yang jelas tidak bermaksud menganggu momen berduaan putranya.
"Aku antar ya Ma, Aku cuci muka sama ganti baju bentar, Mama tunggu saja dibawah gak bakalan lama kok," Abas langsung masuk kedalam.
"Siapa tadi yang ngetuk pintu?" Mely ingin tahu siapa pagi pagi yang bertamu ke kamarnya.
"Mama, mau berangkat ke Medan. Aku mau nganter sekarang. Ikut yuk... sepulang bandara nanti kita jalan jalan," ajak Abas kepada Mely.
"Tapi Aku belum mandi?" Mely takut mereka akan telat dan ketingalan pesawat jika harus menunggunya mandi dulu.
"Gak usah, Udah cantik kok. Cuci muka sama ganti baju saja. Jalan jalannya kita nanti cuma olah raga, selama dirumah sakit lama gak olah raga. Badan aku rasanya kaku semua. Cepet ganti baju ya, Aku tunggu dibawah sama mama"
Abas menuruni tangga, ia berjalan ke ruang tamu. Mama sudah siap dengan kopernya.
"Bentar ya Ma, Mely ikut katanya," Abas duduk disamping Mamanya.
"Iya, Eh nanti Mama agak lama perginya!" Mama melihat memo di handphonnya.
"Emangnya berapa hari Ma?" tanya Putranya.
Mama memang Wanita karir super sibuk, Usia tidak menjadi halangan bagi Mama. Pekerjaan sudah mendarah daging dalam jiwanya. Selepas kepergian Papa Abas, Mama memang memilih menengelamkan dirinya dalam pekerjaan.
"Mama gak capek keluar Kota terus?" Abas mencoba memancing sang Mama. Sebenarnya Ia ingin Mamanya menikmati masa tuanya saja dirumah.
"Mama lebih capek kalau cuma diem dirumah saja" Jawab Mama, sambil menurunkan setengah kaca mata yang ia kenakan.
"Mama kan bisa berkebun. Menanam bunga, atau ikut Geng sosialita Mama arisan!" Abas berusaha memberikan pilihan pada Mama bila Mama nanti berhenti kerja.
"Buatkan Mama cucu, Nanti Mama melepas semuanya!" Mama menatap tajam kearah Abas.
"Mama kira bikin cucu kayak bikin kue, Tepung ,telur ,gula ,margarin disatuin jadi Roti?" Abas agak kesel dengan Mamanya.
__ADS_1
Ia ingat betul, waktu belum menikah. Mamanya gentol banget menjodohkan dengan semua Wanita yang dikenalnya. Ia sampai tidak enak hati menolak mereka satu persatu. Bukan karena sombong atau pilih pilih. Waktu itu memang hatinya belum merasa pas.
Belum lagi sekertaris yang direkomendasikan sang mama, Rata rata cantik, Berpendidikan tinggi, Seksi dan pasti genit. Abas memecat semuanya. Pilihannya jatuh pada Fadir, yang sampai sekarang setia menemani dirinya. Sampai sampai beredar rumor bahwa dirinya gey, homo dan sejenisnya. Tapi ia tidak pernah ambil pusing dengan rumor miring itu.
Sekarang Dia sudah menikah, Mama maunya langsung dibikinin Cucu. Mama kira Ia dan Mely setiap malam gak usaha Kali ya? Abas ngendumel sejak tadi. Mamanya hanya meliriknya sedikit. Mama merasa Masa bodo. Mama gak mau banyak alasan. Mama hanya mau bukti nyata. Yaitu seorang cucu.
"Ayo Ma!" tiba tiba Mely membuyarkan ketegangan antara anak dan orang tua itu.
"Ngobrolin apa sih, kok mukanya serius gitu!". Mely menyengol bahu suaminya.
"Mama pingin cucu!" jawab Abas sedikit jutek. Sebenarnya juteknya itu ingin ia tunjukkan pada Mama. Tapi Mama memilih tidak meladeni putranya. Mama juga sedang Bete sama Abas, Memang dimana salahnya.
Mama kan hanya ingin dibuatkan cucu. pikirnya. Mely yang tadinya gak tahu apa apa, perlahan lahan pikirannya mulai konek.
"Iya Ma, Mely juga sedang usaha kok. Iya kan Sayang," Ia menyolek kembali suaminya. Abas tersenyum kecut. Masih ngambek sama Mamanya.
Mama hanya tersenyum kecil, Ia berdoa semoga cepat diberikan cucu.
"Nanti habis nganterin Mama ke dokter kandungan ya. Mama akan Kasih kamu rekomendasi Dokter terbaik, Abas nanti antar istrimu. Ingat jangan nyetir sendiri!" ancam Mama.
"Iya Ma," ucap Mely dan Abas bebarengan.
Mobil melaju membelah jalanan ibu Kota yang lengang karena hari masih cukup gelap, Mereka tadinya berangkat pagi pagi buta. Kemacetan belum nampak dimana Mana.
Di sebuah Bandara, Mama memeluk Mely dan Abas bergantian." Inget pesan Mama ya Mel"
"Iya Mama...." Mely menjawab dengan senyum yang malu malu. Mama masih saja membahas Cucu.
Mereka melambaikan tangan kepada Mama. Mereka kembali kedalam mobil ketika bayangan Mama sudah tak nampak.
"Mau kemana Tuan?" tanya Pak supir pada Abas. "Kita cari sarapan dulu ya Pak, nanti lanjut ke Taman. Aku mau olah raga bentar," jawab Abas.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Mely dan Abas kini sudah berada di sebuah taman. Mereka berdua menikmati udara yang sejuk pagi ini.
Bersambung