PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Kehilangan


__ADS_3

Semilir angin menembus kulit, menambah rasa dingin pada tubuh. Udara Puncak yang sejuk membuat sebagian orang memilih menghabiskan liburannya di tempat ini. Begitu juga dengan rombongan Abas. Ia beserta istrinya dan teman temannya akan menghabiskan liburan di salah satu Vila miliknya.


Namun, sepertinya bukan liburan yang berkesan yang akan mereka dapatkan. Karena saat ini, nasib mereka bagai telur di atas tanduk. Bahaya mengancam nyawa keduanya.


Abas masih menutup kedua mata dengan rapat, Ia menarik tubuh Mely. Abas memeluk tubuh kecil yang sedang memgandung buah hatinya. Di seberang jalan, Bela masih berteriak histeris memanggil keduanya. Fadir hanya bisa terdiam tanpa bisa berbuat apa apa.


Mely, Entah perasaan apa yang saat ini menderanya. Hanya satu yang Ia takuti, Mely takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada janinnya. Ia pun mempererat pelukannya pada Abas. Mely mencari perlindungan untuk janin yang belum Ia lahiran.


Sekian detik kemudian, kembali terdengar suara jeritan Bela dari kejauhan.


"Tidakkkk......!!!!!" suara Bela mengema.


Bruakkkkk....


Pengendara motor terpental jauh, tubuhnya terguling guling di atas aspal jalanan. Motor yang Ia tumpangi berputar putar, motor baru berhenti setelah membentur trotoar. Sedangkan Abas, tubuhnya terlempar tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Dengan setengah sadar Ia mencari cari keberadaan Mely yang semula dalam dekapanya.


Pelukan mereka terlepas, ketika motor melaju dengan kencang ke arah mereka berdua. Terlihat darah terceceran dimana mana. Entah ini darah punya siapa aaja, mata Abas masih mencoba menyusuri jalanan di sekitarnya. Belum juga Ia menemukan sosok Mely. Abas telah pingsan duluan. Darah segar nampak menetes dari belakang kepalanya.


Bela berlari menghambur ke arah Mely. Tubuh sahabatnya itu terpental tidak jauh dari tubuh suaminya. Jika Abas lebih jeli melihat, Ia pasti dapat melihat sosok Mely yang tergeletak di belakang tubuhnya. Bela meraih tubuh sahabatnya itu. Ia menjerit tidak ada hentinya, Bela menangis sejadinya. Ia tidak bisa bayangkan kejadian tragis terjadi tepat di hadapannya. Ia mendekap tubuh Mely yang penuh akan darah pada pakaian yang Ia kenakan.


Fadir langsung menghubungi Ambulan. Kedua suami istri dan pengendara motor tadi kini telah dibawa oleh Mobil ambulan. Fadir dan Bela mengikuti Mobil ambulan dari belakang.


Setelah beberapa saat kemudian, semua ambulan telah sampai di sebuah Rumah Sakit. Bela mengikuti Mely yang tengah dibawa oleh beberapa orang perawat. Sedangkan Fadir, Ia mengikuti Abas. Fadir sedang berusaha memberikan kabar pada Ibu Abas.


Di Ruang UGD, Bela dengan gemetar berusaha berbicara pada Dokter dan perawat yang menangani sahabatnya. Dengan berlinang air mata Ia mulai berbicara.

__ADS_1


"Dok, selamatkan sahabat saya. Dia sedang hamil Dok... Tolong selamatkan sahabat saya... Tolong selamatkan Janin dalam perutnya Dok... Tolong teman saya...!!!"


Bela terbata bata dalam berbicara, Ia masih sangat terguncang dengan peristiwa yang terjadi saat ini. Salah seorang perawat memberikan Ia minum. Perawat tersebut menyuruh Bela untuk duduk dan tenang. Ia meminta pada Bela untuk menunggu dan banyak berdoa. Perawat tersebut lalu meningalakan Bela sendirian.


Ruang UGD lainnya. Abas nampak sedang di perkisa oleh Dokter dan beberapa perawat yang sedang membersihkan luka lukanya. Luka yang Abas dapat tidak terlalu parah. Fadir masih setia menunggu di sisinya.


Selang beberapa jam, Mama sudah muncul di depan kamar Abas. Ia langsung masuk menerobos ke dalam. Dilihatnya kepala putranya telah diperban. Ia menanyakan pada Fadir bagaimana kronologi kejadian yang menimpa mereka.


Fadir menceritakan kejadian yang sesunguhnya, Mama langsung mencari kamar Mely, menantunya. Ia juga sangat kuatir pada keadaan Mely serta Janinnya calon cucu Mama. Kini Mama sudah berada di depan kamar Mely. Berbeda dengan putranya, sepertinya Mely mengalami luka yang lebih serius. Mama meremas remas kedua tangannya. Ia terlihat sangat cemas.


Mama tidak bisa bayangkan kemungkinan-kemungkinan yang buruk yang akan menimpa Mely serta Janin yang ada dalam perutnya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ada seseorang dokter yang keluar. Mama langsung menemui Dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi putri saya Dok?" tanya Mama.


"Maaf Ibu. Kami ingin berbicara pada wali pasien!"


"Putri saya mengalami kecelakaan bersama suaminya. Sekarang suaminya juga belum sadar sampai detik ini!" tambah mama untuk meyakinkan Dokter bahwa Ia benar Wali dari pasien.


Dokter pun meminta Mama masuk ke dalam ruangannya. Setelah dilihatnya wali pasien tengah duduk dengan tenang, Dokter tersebut mulai berbicara.


"Sebelumnya kami memohon maaf, Kami mencoba melakukan usaha semaksimal mungkin. Kondisi dari pasien saat ini sangat kritis, Ia banyak kehilangan darah. Jika Kita memamaksa untuk menpertahankan Janin dalam Kandungan pasien. Maka sangat beresiko bagi nyawa Ibunya!"


Mama seperti tersambar petir ketika mendengar penejelasan Dokter, Ia sangat menginginkan seorang cucu. Tapi Beliau juga tidak ingin kehilangan menantunya. Mama hanya punya satu pilihan. Ia memilih Mely atau calon cucunya.


Mama dilanda keraguan yang amat berat, Ia seakan akan tidak bisa merelakan anak Abas begitu saja. Dengan tatapan yang nampak kosong Mama telah mengambil keputusan.

__ADS_1


"Selamatkan keduanya Dok!"


Permintaan Mama seperti sebuah perintah, Dokter pun menatap Mama dengan penuh keraguan. Apa betul pasien yang Ia tangani saat ini adalah putrinya? namun itu hanya ada dalam hati Dokter. Rasanya tidak etis jika Ia menanyakannya secara langsung.


"Sangat beresiko bagi si Ibu, jika kita memaksa menpertahankan Janin dalam Kandungan pasien, Bu!"


Dokter mencoba memberi pengertian kepada wali pasien yang duduk di hadapannya saat ini. Ia merasa seakan akan sang wali tidak perduli dengan keselamatan sang ibu.


Mendengar penuturan Dokter lagi, Mata Mama mulai berair. Ia juga tidak habis pikir dengan apa yang barusan Ia ucapkan. Betapa egois dirinya, yang hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri. Tanpa memperhatikan keselamatan istri dari putranya.


Mama kini larut dalam kesedihan, Ia harus merelakan calon cucu yang belum sempat Ia jumpai. Mama menangis cukup lama. Setelah Mama kembali tenang, Dokter kembali bertanya.


"Bagaimana keputusan Ibu? Kami berpacu dengan waktu. Lebih cepat lebih baik."


"Selamatkan putri Saya." Kata Mama mantap. Ia sudah mengikhlaskan Janin yang ada dalam kandungan Mely.


"Tolong, selamatkan putri Saya!" Pintanya lagi pada Dokter.


Pak Dokter langsung bangkit dari kursinya, Ia bersiap menuju ruang pasien. Beberapa saat kemudian Mely telah dibawah keruang operasi. Mama menyaksikan tubuh Mely yang melewati dirinya. Seakan Ia ingin mengucapkan salam perpisahan untuk cucunya yang belum sempat lahir di dunia ini.


Mama kembali hanyut dalam tangisannya, tangisnya terhenti saat Ia menatap sosok Abas yang berjalan mendekatinya. Abas telah siuman dari pingsannya. Begitu bangun, Ia langsung mencari keberadaan istri yang sangat Ia kuatirkan.


Ketika mendapat jawaban dari Fadir dimana istrinya sekarang. Abas langsung bangkit dari ranjang, melepas selang infus yang menempel di tangannya. Saat ini, Ia hanya ingin melihat kondisi istrinya. Hanya ingin memastikan dengan kedua matanya.


Melihat Mama yang menangis di depan ruang operasi, raut muka Abas berubah. Ia dapat membaca apa yang menimpa istri dan calon anakknya. Mata Abas memerah, bukan karena Ia marah. Abas turut menangis bersama Mamanya, Ia menangis tanpa suara. Tangisan kehilangan yang menyakitkan hatinya. Dadanya sangat sesak. Rasanya Ia harus merelakan sesuatu yang sangat Ia inginkan.

__ADS_1


Ia belum rela, Abas masih belum bisa menerima kenyataan. Belum lagi apa yang harus Ia katakan pada Mely nantinya? Abas kembali tengelam dalam tangisannya.


Bersambung


__ADS_2